RSS

Perceraian, Halal Tapi Sangat Dibenci Allah

Perceraian, Halal Tapi Sangat Dibenci Allah

Kita mengupas hal ini agar kita dapat menghindarinya dan sekaligus kita mencari lebih jauh mengapa lantas terjadi perceraian ? Mengapa kita sering mendengar begitu gampang orang kawin dan begitu gampang cerai ? Kalau orang gampang untuk kawin, itu bagus, tapi jangan sampai menggampangkan perceraian.

Rasulullah bersabda “Sesuatu yang halal tetapi paling dibenci Allah adalah perceraian”. Ini menunjukkan di satu sisi bahwa terkadang perceraian itu tidak bisa dihindari sehingga jika ada satu pasangan yang memang tidak ada kecocokan masih dipaksakan untuk terus, itu akan merugikan semua pihak. Maka dibolehkan perceraian, tetapi diingatkan bahwa perceraian itu halal tapi paling dibenci Allah.
Karena itu, kalau masih bisa hidup bersama tanpa perceraian, maka pertahankan perkawinan itu. Bahkan ada yang berkata seperti berikut , “Singgasana raja itu kita ketahui betapa kokohnya. Terlebih singgasana Allah, kokohnya tidak dapat terbayangkan. Jika terjadi perceraian maka singgasana Allah yang demikian hebat kokohnya itu bergetar. Hal itu dapat diilustrasikan bahwa Allah sangat membenci perceraian dan menahan amarahnya sehingga bergetarlah singgasananya. Bukankah orang yang menahan amarahnya, tubuhnya gemetar dan singgasana tempat bersemayamnya bergetar?”
Nah, perceraian itu menyebabkan “bergetar Singgasana Allah (Istazza asrurRahman)” karena Allah sangat membencinya. Tetapi kalau ada kebutuhan yang mendesak yang tidak dapat terelakkan karena sifat-sifat dan kekurangan2 manusia, maka diperbolehkan perceraian.
Jadi kalau kita berbicara perceraian, yang ingin saya (pak Quraish) bicarakan :

1. Ketika Al Quran membolehkan perceraian, bahwa jangan beranggapan dia (Al Quran) menganjurkan perceraian. Jangan beranggapan ketika Allah menetapkan adanya perceraian bahwa itu sesuatu yang dengan gampang boleh dilakukan. Perceraian itu bukan anjuran tetapi kalau ada kebutuhan mendesak yang tidak dapat terelakkan, apa boleh buat.

2. Pernah diuraikan tentang PERKAWINAN, bahwa Allah swt memberikan tuntunan2 agar perkawinan itu dapat langgeng, bahkan kelanggengannya bukan hanya sampai di dunia, tapi sampai di akhirat. Diberi tuntunannya, sebelum melamar, bagaimana sewaktu kawin, dan bagaimana mengusahakan agar kehidupan rumah tangga itu tenang, damai, sakinah, mawaddah wa rahmah.
Al Quran meminta kepada suami yang di tangannya diberi wewenang untuk mencerai isteri, bahwa berpikirlah sebelum menjatuhkan cerai. Dalam QS. An-Nisa (4) ayat 19 : “Kalau kamu tidak senang, ada dibalik sesuatu yang tidak kamu senangi sesuatu yang baik”. Itu sebabnya perceraian masih diberi kemungkinan untuk kembali sampai 2 kali bercerai. Ada talak 1, talak 2, nanti ketika talak 3, sudah putus boleh kembali tapi -ada pelajaran yang begitu keras bahwa- isterimu harus kawin dulu dengan orang lain, kemudian jika dia bercerai, kamu dapat rujuk. Itu juga sebabnya Allah melalui RasulNya menetapkan bahwa ada perceraian yang tidak bisa dinilai jatuh kalau dalam keadaan-keadaan khusus. Perceraian itu dua kali. Talak Pertama jatuh cerai, lalu diberi kesempatan kepada suami dan isteri untuk berpikir. Itu indah bukan ?

Begitu sulit persyaratan untuk jatuhnya perceraian ini, tapi begitu mudah setelah talak 1 untuk kembali. Saya beri contoh, ada di Surat Ath-Thalaq, dan kita anut pula dalam Undang-undang Perkawinan, bahwa perceraian itu dapat dinilai jatuh kalau di dalam pengadilan atau ada saksi.
Jadi kalau suami begitu marah sehingga berkata cerai, namun kalau tidak ada saksinya masih tidak jatuh cerai. Begitu sulitnya syarat terjadinya perceraian. Dalam agama juga berkata demikian, ada orang yang tidak bisa kuasai dirinya, mata gelap sehingga berkata cerai, itu dianggap tidak jatuh perceraian.
Tapi untuk kembali lagi itu mudah sekali selama masih dalam iddah. Karena Allah berkehendak demikian.
Misal seseorang sudah menceraikan isterinya, lantas orang itu melihat, tersenyum kepada isterinya dan dipegang tangan isterinya, itu sudah dianggap rujuk. Mudah bukan ? Karena Allah tidak mau ada cerai. Sekali lagi, talak 2, itupun sulit syaratnya. Namun sangat mudah untuk rujuk tetapi sangat sulit untuk cerai. Allah beri tenggang waktu. “Boleh jadi sekarang kamu benci, boleh jadi besok kebencian kamu hilang”. Sehingga Allah menciptakan sesuatu yang baru di dalam hatinya. Oo, menyesal kenapa dulu begini ? Karena Allah sangat benci perceraian.

Itu juga sebabnya. Hitunglah masa iddah itu. Kebiasaan di masyarakat kita, iddah tidak sering dihitung. Suaminya meninggal, isterinya tidak mau beriddah, Hitung iddah. Telitilah dalam perhitungan iddahnya.
Bahkan keretakan hubungan sebelum perceraian terdapat tuntunan Quran, QS. An-Nisa (4) ayat 35 : “Hai kamu (yang ada di dalam masyarakat di tengah keluarga) kalau kamu melihat ada sepasang suami isteri ada tanda-tanda percekcokan, cepat-cepat turun tangan, jangan biarkan”. Utus seorang dari keluarga isteri dan seorang dari keluarga suami, perbincangkan apa yang bisa diselesaikan. “.. kalau memang dua-duanya masih mau, Allah akan beri jalan supaya mereka baik lagi”. Kadangkala suami isteri itu saling gengsi, tapi hati kecilnya masih mau.
Kalau memang dua belah pihak keluarga memang mau untuk menyatukan kembali mereka, itu bisa terjadi. Allah akan memberikan taufiq. Kesulitannya adalah kalau pihak keluarga malah mengompori atau kipas-kipas. Itu yang tidak benar, kita tidak ikuti tuntunan Al Quran. Karena kalau memang mereka mau, Allah akan memberikan taufiq. Tuhan akan mencocokkan. Taufiq itu adalah persesuaian.
Kita sering mendengar ada hidayah dan ada taufiq. Taufiq adalah persesuaian antara kehendak saya dan kehendak Allah. Allah yang akan menyesuaikan diantara mereka berdua. Ini ditempuh agar kita jangan bercerai. Saya (pak Quraish) pernah katakan bahwa pernikahan itu dijalin oleh Allah dengan kalimatNya. Orang baru sah nikah kalau menggunakan kalimat Tuhan. Kalimat Tuhan itu luar biasa, luar biasa besarnya, luar biasa agungnya.

Kalimat Tuhan itu penuh kejujuran, penuh keadilan, tidak bisa terganti. Dengan kalimat Allah, Nabi Isa lahir tanpa ayah. Dengan kalimat Allah, Nabi Yahya lahir padahal kedua orang tua beliau sudah sangat tua. Kalimat Allah, itu buah perkawinan.

Allah ini berkehendak agar pernikahan itu langgeng. Seakan-akan orang yang bercerai, membatalkan kalimat Allah. Tapi sekali lagi, kalau memang ada kebutuhan yang mendesak, apa boleh buat.
Jadi Al Quran (Islam) tidak melarang atau tidak menutup pintu perceraian. Tapi perceraian itu pintu darurat. Kita naik pesawat, ada pintu darurat. Perlu tidak pintu darurat itu ? Perlu. Bagi yang seringkali naik pesawat, pernahkah menggunakan pintu darurat ? Belum pernah malah jangan sampai. Tapi pintu itu perlu. Sebab kalau tidak ada bagaimana ? Perlu disiapkan pintu darurat. Perceraian persis seperti itu. Itu perceraian dalam pandangan agama.

Kalau sudah cerai, bagaimana selanjutnya hubungan yang sudah bercerai ini ? Apakah bermusuhan ? Allah berpesan dalam QS. Al-Baqarah (2) ayat 229 : “Kalau sudah dua kali, maka kesempatan yang ketiga atau kesempatan berikutnya hanya ada dua, menahan dengan melanjutkan perkawinan dengan baik sesuai dengan adat kebiasaan (ma’ruf), atau melepasnya dengan ihsan”. Apa itu ihsan ? Apa bedanya dengan ma’ruf ?

Ada namanya ihsan dan adil. Adil yaitu menuntut semua hak kita dan memberi semua hak orang. Misalkan, si A punya hak atas si B 100 ribu, maka si B bisa menuntut 100 ribu tidak lebih dan tidak kurang pada si A. Kalau ihsan yaitu menuntut lebih sedikit dari hak kita dan memberi lebih banyak dari hak orang. Saya punya hak 100 ribu pada si C, saya menuntut hanya 90 ribu saja pada si C. Itu Ihsan.
Saya punya hak 100 ribu pada si D, kemudian si D memberi saya 110 ribu. Itu Ihsan. Jadi bercerai itu baik-baik. Jangan lantas bercerai dengan berkata “oo memang dia dasar begini, dasar begitu”. Tidak seperti itu. Bahkan anjurannya, “beri dia haknya lebih”. Jangan tuntut melebihi dari hak Anda, bahkan harus ihsan, tuntut sebagian saja, itu yang diperintah untuk ihsan.

“…Jangan lupakan hari-hari indah yang pernah berlalu”. Nah, ada jasa dia kan ? Jangan lupakan itu. Ada hari-hari bahagia, jangan lupa hari-hari bahagia kamu bersama dia. Ini tuntunan Allah. Seringkali orang yang cerai itu kan lupa, udah cekcok, keluarga ikut cekcok. Tidak, bukan begitu yang benar. Kita terpaksa bercerai tetapi perceraian yang baik.

Kalau dia kembali rujuk, dia tuntut untuk adil, tapi kalau cerai, dia dituntut untuk lebih dari adil, yaitu ihsan. Jadi seakan-akan berkata, kita pisah baik-baik, saya tidak lupa jasa-jasa kamu. Ini tuntunan agama, kenapa seperti ini ? Sekali lagi, karena perceraian terkadang dibutuhkan. Saya beri contoh saja, kita punya anak, kita didik bersama, hidup bersama kita, tabiatnya sama atau tidak dengan kita? Ada anak yang periang, ada yg lain. Bagaimana pola yang sama tapi hasilnya beda ?

Apalagi dengan orang lain, yang hidup dibesarkan oleh orang tua yang lain, sehingga perbedaan itu akan ada. Terkadang ada perbedaan yang tidak bisa ketemu. Sudah diusahakan tapi tetap saja tidak bisa ketemu. Apa boleh buat ? Kamu punya tabiat seperti itu dan isterimu punya tabiat yang lain, dan tidak bisa ketemu. Pikiranmu tidak bisa bertemu dengan pikirannya. Sehingga pada akhirnya, , suami pilih jalannya dan isteri pilih jalannya sendiri pula, tetapi pisah secara baik-baik. Namun kalau masih bisa Anda mengusahakan, yakinlah bahwa pasti Anda bisa ketemu asal mau ikuti tuntunan agama.
Pertanyaan :

1. Bagaimana dengan orang yang kawin-cerai, kawin-cerai ?
Kita bertoleransi dengan orang yang cerai sekali, sehingga punya pengalaman. Tapi kalo kawin-cerai, kawin-cerai itu namanya dia tidak pandai memilih dan dia tidak mau mengikuti tuntunan agama. Perkawinan itu bukan percobaan. Kenali calon sebelum maju untuk menikah. Kita ini manusia dan ingin menciptakan generasi, kita ingin menciptakan masyarakat yang rukun.

2. Tadi disebutkan bahwa perceraian itu halal tapi dibenci oleh Allah, apakah orang-orang yang bercerai itu juga dibenci oleh Allah ? Kemudian kalau terjadi perceraian, ada anak, upaya apa untuk membiayai membesarkan anak karena mantan suaminya tidak mau memberikan biaya ?
Orang-orang yang bercerai akan dibenci Tuhan apabila mereka tidak berupaya terlebih dahulu untuk menghindari perceraian. Seperti kita jangan dulu membuka pintu darurat pesawat sebelum keadaannya mendesak. Jadi kalau menggampangkan perceraian itu dibenci Tuhan. Lalu, mengenai anak bagaimana ? Itu problem terjadi jika perceraian tidak dilakukan secara baik-baik. Anak itu kan bukan anak ibu, itu anaknya bapak, membawa nama bapaknya. Jadi bapak musti membiayai anaknya. Kalau cerainya baik-baik, mantan isterinya akan tetap dianggap sahabat, paling tidak dia dianggap orang lain. Orang lain saja harus dia bantu, apalagi mantan isteri itu adalah ibu dari anak bapak, dia harus bantu. Persoalannya adalah karena perceraiannya tidak mengikuti tuntunan agama. Bercerai dengan bentrok, maki-makian, membawa dendam. Begitu juga dengan si isteri. Jika perceraian yang terjadi mengikuti tuntunan agama, pasti suami mau memberikan biaya untuk anaknya, pasti hubungan akan tetap baik, hanya sudah bukan hubungan suami isteri lagi.

3. Ada satu keluarga yang mempunyai anak angkat yang sudah cukup besar disamping ada 5 anak kandungnya. Isterinya baru tahu bahwa dia berhubungan tidak normal (pria-pria) dengan anak angkatnya tersebut. Isterinya mengusir anak angkatnya ini, tapi oleh suaminya anak angkatnya ditampung di suatu tempat, sehingga suami masih berhubungan dengan anak angkatnya tersebut. Lama kelamaan isterinya menuntut cerai, karena suami tidak mau dan dia masih sayang dengan isterinya, bagaimana dengan kejadian ini ?

Apa yang dilakukan oleh suami itu sangat terlarang dan terkutuk oleh agama, jelas kalau isteri tidak setuju, dan memang mustinya tidak setuju dengan kebiasaan suaminya. Hemat saya, sangat bisa dibenarkan isteri menuntut cerai. Kasusnya bisa dilaporkan ke pengadilan agama. Walaupun dia cerai, saya khawatir hubungan suami yang tidak normal masih terus berlanjut. Sikap ibu ini sangat wajar apalagi jika ingin memelihara anak-anaknya yang kandung disamping memelihara dirinya dari pengaruh suaminya yang buruk itu.

4. Ada isteri sudah bercerai karena suami selingkuh. Tapi suami masih sering datang ke rumah mantan isterinya dan masih menuntut hak rumah bila rumahnya dijual ?
Kalau suami datang dengan terhormat, dan ada orang yang melihat, itu mirip seperti kedatangan seorang tamu. Ini masih dalam batas-batas agama, asal jangan berdua-duaan, karena kalau sampai berduaan bisa timbul yang bukan-bukan. Jadi hubungan masih tetap baik. Soal rumah, rumah itu hak suami ataukah hak isteri ? Rumah itu hak isteri. Ada ayat Quran yang berkata dalam QS. Ath-Thalaq (65) ayat 6: “berikanlah mereka tempat tinggal”. Jadi sebenarnya orang yang dicerai, ada yang memperbolehkan dia menuntut rumah pada suaminya. Bukan sebaliknya, hak isteri, lantas suami mau minta. Bisa-bisa saya (pak Quraish) berkata, dia berkewajiban menyiapkan rumah untuk isteri yang diceraikannya, jangan sebaliknya.

Kesimpulan :
1. Perceraian adalah sesuatu yang sangat dibenci Allah, perlu dihindari sedapat mungkin.
2. Kalaupun terjadi perceraian secara terpaksa, maka itu bukan berarti hubungan mantan suami isteri menjadi hubungan permusuhan, tetapi tetap hubungan yang baik. Saling menyebut dan mengingat-ingat kebaikan-kebaikannya, saling menyebut jasa-jasanya sehingga tidak terjadi kekeruhan diantara mereka atau antar keluarga mereka. Wallahu a’lam. (Kiriman Putri Rahayu Gen XVI)

 

36 responses to “Perceraian, Halal Tapi Sangat Dibenci Allah

  1. joni

    26 Januari 2011 at 8:43 am

    saya menghormati semua pendapat orang…karena perbedaan bukan membuat perpecahan tapi perbedaaan pendapat membuat persatuan dengan menghormatinya…
    bagi saya CERAI DIBENCI ALLAH..ALLAH adalah pasti YA diatas IYA …TIDAK diatas TIDAK…jadi yang dibenci ALLAH sudah pasti tidak HALAL..jika dikata HALAL berarti itu menurut pemikiran manusia..disini dikatakan yang bilang HALAL bukan ALLAH berarti itu bukan kehendak ALLAH (karena bukan sesuai FIRMANNYA) bagaimana jika ada orang mau cerai..??? DIA SANGGUP…MEMBUAT MUKJIZAT , jika kedua suami istri BERSERAH DAN PERCAYA kepada DIA..DIA sanggup melakukan MUKJIZAT PERCERAIAN TIDAK AKAN TERJADI,,, kedua suami istri dekat dengan TUHAN, merasakan HADIRATNYA..SBAB DIA SUNGGUH BAIK dan TIADA YANG MUSTAHIL BAGI DIA, SEBAB RANCANGANNYA BUKAN RANCANGAN KECELAKAAN TAPI RANCANGAN DAMAI SEJAHTERA

     
    • salwintt

      8 Februari 2011 at 11:27 am

      trims… hidup tidak untuk menghindari masalah, tapi berlatih dan mencoba untuk mengurai benang yang kusut, jangn coba-coba hidup jika hanya ingin menghindar dari masalah, Islam-lah “figur” penyelemat

       
  2. newnine

    6 Maret 2011 at 11:54 am

    betul perceraian adalah hal yg tdk mudah…apalagi bila kita mengingat orangtua…mertua….keluarga besar…yg semuanya akan ikut ‘terluka’ dengan adanya perceraian….
    Tapi sampai kapan sebuah hati bisa bertahan dengan pernikahan tanpa cinta….tanpa ada kata2….

     
    • salwintt

      7 Maret 2011 at 7:58 am

      Pekerjaan halal, tapi dilaknat Allah adalah perceraian, jadi perceraian itu boleh jika memang sudah tidak mungkin dipersatukan kembali, terima kasih kunjungan dan tanggapannya

       
  3. Nurfaizin Failika

    8 Maret 2012 at 8:18 pm

    Subhanallah..ilmu yg sangat bermanfaat…syukron

     
    • salwintt

      15 Maret 2012 at 10:59 pm

      Amiiiin… FINE…

       
  4. Harry

    20 Maret 2012 at 9:46 am

    Islam telah menyiapkan rambu2 ini jauhh dari yang kita fikirkan… dikatakan halal disini kalau menurut saya adalah… islam sangat menghormati hak-hak permpuan dan laki-laki… dikatakan perbuatan yang paling dibenci menurut saya adalah semoga kita senantiasa bisa untuk menjaga rumah tangga kita dari hal tersebut…

     
    • salwintt

      21 Maret 2012 at 1:07 am

      setuju…

       
  5. Amat arief

    29 Maret 2012 at 7:25 am

    Sayah juga sering cekcok sama istri dan benci tpi saya coba menguasai emosi karna takut menimbulkan kata2 perceraian yang sangat di benci ALLAH.
    Buat temen2 yg sudah berumah tangga. Jagalah dengan baik2 dan jangan sampai bercerai.

     
    • salwintt

      29 Maret 2012 at 10:13 pm

      amiiiin…

       
  6. sandibumi

    7 Maret 2013 at 4:36 pm

    pak salwin, saya mau tanya. apakah cerai dalam pikiran itu sah, dalam arti membayangkan bahwa dia sudah bercerai. apakah sudah termasuk talak……

     
    • salwintt

      22 Maret 2013 at 8:42 am

      talak akan jatuh jika diucapkan (ikrar) jika hanya dalam hati belum jatuh talak, trims

       
  7. Cy afifah

    2 Mei 2013 at 9:45 pm

    Astaghfirulloh..,Saya baru saja bercerai,smua karena tidak ada dukungan keluarga utk tdk bercerai.benar kata salwan.

     
    • salwintt

      24 Juli 2013 at 10:26 pm

      tkash

       
  8. kakau

    28 Mei 2013 at 4:30 pm

    Kalau di benci manusia tidak menjadi masalah, tapi kalau di benci Allah, apapun kebaikan yang kamu perbuat setelah itu tidak akan di tilik Allah.

     
    • salwintt

      26 Juni 2013 at 10:00 am

      betul, terima kasih

       
  9. rahmatsudrajat

    24 Desember 2013 at 7:25 pm

    subhanalloh

     
    • salwintt

      9 Februari 2014 at 11:50 pm

      smg bermanfaat trims

       
  10. rahmatsudrajat

    24 Desember 2013 at 7:27 pm

    mohon bimbingannya

     
    • salwintt

      9 Februari 2014 at 11:50 pm

      ikuti sj nasehat org2tua kita trims

       
  11. rahmatsudrajat

    24 Desember 2013 at 7:28 pm

    mohon bimbingannya biar keluarga saya tetap utuh

     
    • salwintt

      9 Februari 2014 at 11:49 pm

      ikuti saja nasehat orgtua dan pr guru trims

       
  12. erlina

    25 April 2014 at 9:24 am

    Gimana hukumnya jika suami menelantarkan anak dan istri nya??? Apa yang harys saya lakukan???

     
    • salwintt

      24 Mei 2014 at 9:34 pm

      hukum suami, doas. jika tidak ditemukan solusi, silahkan pikir2 untuk minta ditinggalkan saja secara resmi

       
  13. gina ayu s

    30 April 2014 at 1:18 am

    seorang istri hanya bs pasrah dengan apa yang sudah diputtuskan suami, yaitu perceraian…. sakit memang tp aku jg tidak mungkin menyungkur untk tidak diceraikan…. menjadi jjanda adalah mimpi buruk tp ini jalan yang dipilih suami… haaahhhh sakitt

     
    • salwintt

      24 Mei 2014 at 9:32 pm

      sabar, ada hikmah dibalik cobaan ini

       
  14. halimah

    22 Mei 2014 at 11:35 am

    Tolong sarannya.. sya sring brtngkar dgn suami,bhkan dlm sminggu tdk prnah tdk ada prkelahian.. sya sadar sya punya kkurangan dia jg sprti itu.. nmun bkan it mslah yg trbesar,maaf sbelumnya dia snang skali nnton video mesum dn mngkonsumsi barang haram sprti sabu sabu dn sjenisnya,sdh brulang kali dia lakukan it namun msih sya maafkn dn mmberikan dia ksempatan nmun blakangan ini dia ketahuan lgi mngkonsumsi barang hram it lg… hati ini mrintih rasanya sllu dikhianati.. lalu sbgai istri yg hrs sya lakukan.. seringkali trpintas dibenak sya ingin mnggugat cerai krna hal trsbut bahkan org tua sya pun mndukung,tpi sya msih memikirkan bgaimana nasib anak kelak.. dia msih mmbutuhkn figur seorang ayah,usianya baru mnginjak 2thn..

     
    • salwintt

      24 Mei 2014 at 9:28 pm

      masa Allah berat cobaan yang anda hadapi, solusi dari saya coba konikasikan bersama keluarga dan orang-orang terdekat dulu, terima kasih

       
  15. ikhwan

    15 Juni 2014 at 1:17 am

    sudah 2 bulan saya tdk dinafkahkan suami,,suami saya kerja diluarkota,,saya tinggal bersama orgtua saya,,tapi suami tdk suka dgn kluarga saya,,bahkan saya diblg membela klrga saya,,memberi makan klrga saya,,sampai suatu hari dia ingin membawa anak kami tanpa ikut saya kerumah kluarga nya,,anak kami masi 1,5 thun..saya bingung,,selama ini saya juga merasa gk pernah dianggap istri olehnya,,masalah ku masalah ku,,masalah mu masalah mu,,seperti itu saya dibuat..sakit rasanya,,

     
    • salwintt

      10 Juli 2014 at 8:07 pm

      musyawarah sama keluarga, suami dan orangtua, seperti keluarga ada lebih baik hidup memisah dari orangtua, cari rumah atau kontrakkan, trims.

       
  16. Anonim

    25 Juni 2014 at 10:55 am

    Tolong diberikan solusinya,
    Sy menikah yg tdk direstui mertua, shingga mrk jd bahan mslh buat rmhtngga kami, ampir tiap hari kami bertengkar krn mrk, dan bkn krn itu sj suami dipengaruhi oleh mertua, dan sy pun sering tdk dinafkahi pdhl suami berpenghasilan cukup yg ternyata malah membiayai mertua. Saya udh ckp sabar, suami sy sering kabur ketika sy minta diperlakukan adil, hingga akhirnya sy minta cerai sm suami (krn emosi tdk tertahan), dan suami mengucapkan cerai sm sy lewat media sosial tp dia lsg minta rujuk, kemudian perceraian kembali dikatakan suami scara langsung dan sudah tanda tangan di atas pernyataan. Apakah sah atau tidak cerainya? dan termasuk talak ke berapa? sy berusaha mempertahankan krn kami sdh mempunyai anak, yg kurang suami sayangi dan tdk mertua sayangi.

     
    • salwintt

      10 Juli 2014 at 8:45 pm

      berat nian beban yang anda hadapi. kasus anda sudah jatuh talak satu. artinya kalau mau rujuk harus menikah kembali, ada yang menikahkan dan 2 saksi. kalau jatuh talak 3, baru bisa menikah kalau si isteri menikah dengan laki2 lain dan berhubungan suami isteri, cerai dan baru boleh nikah pada mantan suami pertama. berusahalah rujuk dan damai kembali. jika nanti terulang lagi penderitaan seperti yang anda ceritakan, hemat saja tinggalkan saja dia. hidup di dunia mencari kedamaian dan ketengan, mengapa harus setiap hari ribut sama suami dan mertua. wallahu ‘alam trims.

       
  17. sony

    1 Juli 2014 at 9:36 am

    Bila perlu laporkan ke BNN agar mendapatkan rehabilitasi dan semoga bisa menyadarkan suami anda

     
    • salwintt

      10 Juli 2014 at 8:46 pm

      terima kasih tanggapannya

       
  18. harsdy tawaang

    17 Juli 2014 at 7:43 pm

    saya ga mengerti apa maksud dan arti dari dibenci Allah…??? bgmn jika kita membenci seseorang dgn sangat, apa kita mau menegur atau menyapanya ??? melihat saja rasanya sdh ga mau kali ya….bgt jg jika Allah membeci, bahkan sampai menggetarkan singgasanaNya…..disinilah kita umat muslim yg memprediksikan dibenci Allah dgn prediksi yg baik utk dirinya saja….

     
    • salwintt

      26 Juli 2014 at 11:10 am

      kebencian Allah insya Allah akan sirna, jika kita segera beristighfar dan taubat.
      Dari Ubadah bin Shamit ra berkata : Rasulullah Saw hendak menyampaikan ketetapan waktu lailatul qadr. Karena ada dua orang sahabat bertengkar, berita itu tidak jadi disampaikan. Perbuatan buruk sehingga penetapan lailatul qadr diangkat dan penyebab terhalangnya keberkahan selama-lamanya.
      Rasul Saw bertanya “Maukah kamu aku beri tau amalan yang lebih baik dari shalat, puasa dan sedekah” Beritahulah kami. “Menjalin hubungan baik atar sesama adalah amalan yang paling mulia dan pertengkaran antar sesama adalah pengikisan agama, bagaikan pisau mencukur rambut, bersih seketika.
      Rasul bersabda “Siapa yang memutuskan tali silaturahim lebih dari tiga hari, kemudian ia mati dalam keadaan demikian, maka ia langsung masuk neraka.”
      Setiap Senin dan Kamis amalan manusia dibawa ke hadapan Allah dan dosanya akan diampuni, kecuali dosa dua orang uang sedang bertengkar. wallahu a’lam

       

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

%d bloggers like this: