RSS

Pengaruh Napoleon terhadap Pembaharuan di Mesir

Pengaruh Napoleon terhadap Pembaharuan di Mesir

BAB I

PENDAHULUAN

A. KATA PENGANTAR

Masyarakat Mesir adalah masyarakat religius yang sangat menghormati agama. Mereka memandang agama di atas segala-galanya, sebagai bagian integral dari budaya, adat istiadat, dan masyarakat. Kelompok-kelompok Islam, masing-masing menurut doktrinnya, memanfaatkannya dengan menggunakan semua kekuatan untuk menrongrong negara dan meraih tujuan bersama, penerapan hukum Islam (syariah) dan menegakkan pemerintahan Islam yang terbebas dari segala pengaruh Barat. Demikianlah kelompok-kelompok itu yakin pada masa Nabi Muhammad dan para pengikut awalnya. Mereka mengidealisasikan periode awal Islam dan menurut ajaran mereka hanya kembali ke zaman keemasan inilah Mesir modern bisa sembuh dari segala penyakit. Dengan berdalih bahwa pengaruh Barat yang dimulai dari invasi Napoleon sebagai akar segala kebobrokan, mereka mendukung tulisan-tulisan dan deklarasi-deklarasi mereka dengan tafsir Al-Qur’an dari Ibnu Hanbal dan Ibnu Taimiyah yang keduanya menyeru untuk membaca Al-Qur’an secara tekstual, sembari menolak semua penafsiran, filsafat, dan teks-teks yang menyertai.
Di makalah ini kami membahas tentang pendudukan Napoleon dan pengaruhnya terhadap pembaharuan di Mesir. Untuk lebih jelasnya lagi anda bisa membaca hasil pembahasan kami mengenai ini.

BAB II
Napoleon dan Pengaruhnya
Terhadap Pembaharuan di Mesir

Sebelum membahas tentang pendudukan Napoleon dan pembaharuan di Mesir, kami akan membahas terlebih dahulu sedikit tentang mengenai perkembangan modern di Mesir sebelum gagasan Modernisme.

B. Perkembangan Modern Di Mesir Sebelum Gagasan Modernisme
Memulai sejarah Mesir, akan lebih menarik dilacak dari munculnya (kekhalifahan) dinasti Fatimiyah, sebab pada masa inilah dibangunan Universitas Al-Azhar sebagai Perguruan Tinggi Islam besar tertua yang dianggap mewakili peradaban dan basis ilmiah-intelektual pasca-kalsik sampai modern, yang kini dianggap masih ada dan tidak terhapus oleh keganasan perang, berbeda dengan Universitas Nizamiyah di Bagdad yang hanya tinggal kenangan. Setelah keruntuhan Bagdad, Al-Azhar dapat disimbolkan sebagai khasanah pewarisan bobot citra keagamaan yang cukup berakar di dunia Islam. Tonggak inilah yang membawa Mesir memiliki aset potensial dikemudian hari dalam gagasan-gagasan modernisme.
Setelah Dinasti Fatimiyah dan penerus-penerusnya dilanjutkan lagi oleh Sultan Mamluk, yang pertama adalah Aybak (1250-1257 M), salah satu yang termasyhur diantara pemimpin dinasti ini adalah Sultan Baybars (1260-1277) yang sanggup mengalahkan panglima Hulagu Khan di ‘Ain Jalut. Dinasti Mamluk berkuasa di Mesir sampai tahun 1517 M. mereka inilah yang terkenal sanggup membebaskan Mesir dan Suriah dari peperangan Salib serta yang membendung kedahsyatan tentara Mogol di bawah pimpinan Hulagu dan Timur Lenk, dengan demikian Mesir terbebaskan dari penghancuran terutama dari pasukan Mogol sebagaimana yang terjadi di dunia Islam yang lain.
Mesir di bawah kekuasaan Kaum Mamluk kian menurun pamornya, sampai bangkit Kerajaan Turki Usmani yang mengadakan penyerbuan militer ke arah Kerajaan Bizantium di Asia Kecil. Setelah ia meninggal, ekspansi militer ini diteruskan oleh anaknya Orkhan I (1326-1389 M) yang sanggup menaklukkan bagian Timur dari Benua Eropa, benteng Tzimpe dan gallipoli jatuh ke tanganya dan masih banyak penerus-penerusnya setelah Orkhan I.
Situasi kekuasaan dan pemerintahan di Mesir pada waktu itu sudah tidak dapat lagi dikatakan stabil. Kekacauan, kemerosotan sosial-kemasyarakatan sebagai wilayah yang selalu diperebutkan dan diincar oleh negara-negara Islam kuat sungguh-sungguh membuat rakyat Mesir diliputi rasa ketakutan. Perhatian untuk membangun pun sangat lemah, sebab setiap saat selalu dihantui oleh perang. Dengan keadaan sedemikian lemah posisi Mesir, datanglah tentara Napoleon yang melebarkan sayap imperialnya ke wilayah-wilayah lain yang mempunyai potensi kekayaan alam, peradaban dan warisan-warisan historis yang memungkinkan untuk dijadikan batu pijakan bagi kejayaan mereka dalam membangun impian menguasai dunia.
Metode penguasaan ilmu yang sangat doktrinal seperti menghafal di luar kepala tanpa ada kengkajian dan telaah pemahaman, membuat ajaran-ajaran Islam seperti dituangkan demikian rupa ke kepala murid dan mahasiswa. Para murid dan mahasiswa tinggal menerima apa adanya. Diskusi dan dialog menjadi barang langka dalam pengkajian keislaman. Selain itu filsafat dan logika dianggap tabu sebagai mata kuliah di perguruan tinggi dan madrasah. Sebagaimana dikatakan Muhammad Abduh, ia merasa jenuh dengan cara menerima ilmu dengan metode menghafal luar kepala.[1]
Belum lagi realitas sosial-keagamaan secara umum yaitu berkembangnya pengaruh paham keagamaan dalam Tarikat yang membuat klaim Islam makin terorientasi kepada akhirat. Zuhud ekstrem dari metode Tarikat membuat ummat Islam lebih berusaha mengurusi alam ghaib, ketimbang dunia realitas. Pelarian kepada dunia akhirat membuat umat Islam tidak mempunyai semangat perjuangan melawan dominasi kezaliman disekitarnya, termasuk kezaliman penguasa. Guru-guru tarikat akhirnya menjadi top figur dalam kepemimpinan agama.
Setelah meninggal dunia pun kuburan para syaikh Tarikat ini masih dimuliakan dan dianggap sebagai wali yang selalu diziarahi. Namun ummat Islam yang menziarahi itu tidak benar-benar menginsyaratkan kepada akhirat, tapi hanya meminta berkah dan mengais keberuntungan material terhadap makna kekeramatan yang dihajatkan mereka. Pada klimaksnya, timbullah pengkultusan individu berlebihan yang membuat seseorang akan mudah terpuruk kepada perilaku mensyariatkan Allah. Karena mereka lebih mengutamakan meminta kepada para wali yang ada di dalam kubur sehingga mengabaikan berdoa langsung kepada-Nya.
Kondisi sosial-keagamaan demikian, sebagaimana dilukiskan oleh Muhammad al-Bahy telah membuat rakyat Mesir dan dunia Islam pada umumnya lebih mementingkan tindakan individual. Ukhuwah Islamiyah yang menekankan kepada kebersamaan, persatuan, dinamisme hidup, rasionalitas berpikir dalam lapangan keagamaan, dan sebagainya telah hilang dikalangan ummat Islam. Termasuk di kalangan Universitas Al-Azhar sendiri, yang digambarkan oleh Muhammad Abduh sudah kehilangan roh intelektual dan jihad keagamaan yang berpijak kepada kebenaran Al-Qur’an dan Sunnah Nabi.[2]
Lebih jauh Muhamamd Abduh menggambarkan bahwa metode pendidikan yang otoriter juga merupakan salah satu pendorong mandegnya kebebasan intelektual, sehingga ia sendiri merasa tidak begitu tertarik mendalami agama pada masa kecil lantaran kesalahan metode itu, yakni berupa cara menghafal pelajaran di luar kepala.[3]

C. Pendudukan Napoleon dan Pembaharuan di Mesir
Setelah selesai revolusi 1789 Prancis mulai menjadi negara besar yang mendapat saingan dan tantangan dari Inggris. Inggris di waktu itu telah meningkat kepentingan-kepentingannya di India dan untuk memutuskan komunikasi antara Inggris di Barat dan India di Timur, Napoleon melihat bahwa Mesir perlu diletakkan di bawa kekuasaan Prancis. Di samping itu Prancis perlu pada pasaran baru untuk hasil perindustriannya. Napoleon sendiri kelihatnnya mempunyai tujuan sampingan lain. Alexander Macedonia pernah menguasai Eropa dan Asia sampai ke India, dan Napoleon ingin mengikuti jejak Alexander ini. Tempat strategis untuk menguasai kerajaan besar seperti yang dicita-citakannya itu, adalah Kairo dan bukan Roma atau Paris. Inilah beberapa hal yang mendorong Perancis dan Napoleon untuk menduduki Mesir.
Mesir pada waktu itu berada di bawah kekuasaan kaum Mamluk, sungguh pun sejak ditaklukkan oleh Sultan Salim di tahun 1517, daerah ini pada hakikatnya merupakan bagian dari Kerajaan Usmani. Tetapi setelah bertambah lemahnya kekuasaan sultan-sultan diabad ke 17, Mesir mulai melepaskan diri dari kekuasaan Istambul dan akhirnya menjadi daerah otonom.
Sultan-sultan Usmani tetap mengirim seorang Pasya Turki ke Kairo untuk bertindak sebagai wakil mereka dalam memerintah daerah ini. Tetapi karena kekuasaan sebenarnya terletak di tangan kaum Mamluk, kedudukannya di Kairo tidak lebih dari kedudukan seorang duta besar
Kaum Mamluk berasal dari budak-budak yang dibeli di Kaukasus, suatu daerah pegunungan yang terletak di daerah perbatasan antara Rusia dan Turki.
Bagaimana lemahnya pertahanan Kerajaan Usmani dan kaum Mamluk di ketika itu, dapat digambarkan dari perjalanan perang di Mesir. Napoleon mendarat di Alexandria pada tanggal 2 Juni 1798 dan keesokan harinya kota pelabuhan yang penting ini jatuh.sembilan hari kemudian, Rasyid, suatu kota yang terletak di sebelah timur Alexadria, jatuh pula. Pada tanggal 21 Juli tentara Napoleon sampai di daerah piramid di dekat Kairo. Pertempuran melawan terjadi di tempat itu dan kaum Mamluk karena tak sanggup melawan senjata-senjata meriam Napoleon, lari ke Kairo. Tetapi di sini mereka tidak mendapat simpati dan sokongan dari rakyat Mesir. Akhirnya mereka terpaksa lari lagi ke daerah Mesir sebelah selatan. Pada tanggal 22 Juli, tidak sampai tiga minggu setelah mendarat di Alexandaria, Napoleon telah dapat menguasai Mesir.
Usaha Napoleon untuk menguasai daerah-daerah lainnya di Timur tidak berhasil dan sementara itu perkembangan politik di Prancis menghendaki kehadirannya di Paris. Pada tanggal 18 Agustus 1799, ia meninggalkan Mesir kembali ke tanah airnya. Ekspedisi yang dibawanya ia tinggalkan di bawah pimpinan Jendral Kleber. Dalam pertempuran yang terjadi di tahun di tahun 1801 dengan armada Inggris, kekuatan Prancis di Mesir mengalami kekalahan. Ekspedisi yang dibawa Napoleon itu meninggalkan Mesir pada tanggal 31 Agustus 1801.[4]
Kedatangan Napoleon tersebut secara umum membawa semangat imperialisme (kolonialisme) untuk menaklukkan Mesir agar menjadi daerah jajahannya. Namun ada beberapa hal yang dianggap positif dan meniupkan angin segar bagi persentuhan antara dunia Arab (Islam) dengan Eropa, yaitu terbukanya mata dan pengetahuan tentang ketinggian peradaban Perancis. Hal ini membersitkan isyarat bahwa Mesir dan Dunia Arab umumnya saat ini berada di alam kegelapan dan keterbelakangan. Yang menguntungkan bagi Mesir, Perancis ketika datang di bawah komando Napoleon juga menyertakan kaum cerdik pandai dan kalangan ilmuwan. Di dalam rombongan itu terdapat 500 kaum sipil dan 500 wanita. Di antara kaum sipil itu ada 167 pakar yang menguasai pelbagai disiplin pengetahuan. Ekspedisi ini memang berorientasi militer namun juga mengandung nilai ilmiah. Semangat dan keperluan ilmiah ini meliputi antara lain: dibentuknya lembaga ilmiah bernama institut d’Egypte yang mempunyai empat bidang bahasan; Bagian Ilmu Pasti, bagian Ilmu Alam, Bagian Ekonomi-Politik dan Bagian Sastra-Seni. Sebagai sarana pendukung rombongan tersebut juga membawa peralatan yaitu dua set percetakan huruf Latin Arab, dan Yunani. Alat-alat perlengkapan Ilmu Alam seperti teleskop, mikroskop dan percobaan-percobaan kimiawi dan sebagainya. Ditambah dengan sarana bantu berupa perpustakaan besar yang menghimpun buku-buku dalam berbagai bahasa eropa dan buku-buku agama dalam bahasa Arab, Persia dan Turki yang amat lengkap.
Institut d’Egypte boleh dikunjungi orang Mesir, terutama para ulamanya, yang diharapkan oleh ilmuwan-ilmuwan Prancis yang bekerja di lembaga itu, akan menambah pengetahuan mereka tentang Mesir, adar istiadatnya, bahasa dan agamanya. Disinilah orang-orang Mesir dan umat Islam buat pertama kali mempunyai kontak langsung dengan peradaban Eropa yang baru lagi asing bagi mereka itu.
Abd al-Rahman al-Jabarti, seorang ulama dari Al-Azhar dan penulis sejarah, pernah mengunjungi lembaga itu di tahun 1799. yang menarik perhatiannya ialah perpustakaan besar yang mengandung buku-buku, bukan hanya dalam bahasa-bahasa Eropa, tetapi juga buku-buku agama dalam bahasa Arab, Persia dan Turki. Diantara ahli-ahli yang dibawa Napoleon memang terdapat kaum orientalis yang pandai dan mahir berbahasa Arab. Merekalah yang menerjemahkan perintah dan maklumat-maklumat Napoleon ke dalam bahasa Arab.
Alat-alat kimiah, seperti teleskop, mikroskop, alat-alat untuk percobaan kimiawi, dan sebagainya, eksperimen-eksperimen yang dilakukan di lembaga itu, kesungguhan orang Perancis bekerja dan kegemaran mereka pada ilmu-ilmu pengetahuan, semua itu ganjil dan menakjubkan bagi al-Jabarti.
Kesimpulan tentang kunjungan itu ia tulis dengan kata-kata berikut:
“Saya lihat di sana benda-benda dan percobaan-percobaan ganjil yang menghasilkan hal-hal yang besar untuk dapat ditangkap oleh akal seperti yang ada pada diri kita”.

Demikianlah kesan seorang cendekiawan Islam waktu itu terhadap kebudayaan Barat. Ini menggambarkan berapa mundurnya umat Islam si ketika itu. Keadaan menjadi berbalik 180 derajat. Kalau diperiode Klasik orang Barat yang kagum melihat kebudayaan dan peradaban Islam. Di periode Modern kaum Islam yang heran melihat kebudayaan dan kemajuan barat.
Ada hal-hal baru selain kemajuan materi yang dianggap sebagai ide-ide hasil revolusi Perancis yang dibawah Napoleon, yaitu memperkenalkan:
1. Sistem Pemerintah Republik.
Selama ini belum ada dikenal seorang kepala negara dipilih oleh parlemen yang berkuasa dalam masa tertentu dan harus tunduk kepada Undang-Undang Dasar. Sedangkan UUD itu sendiri dibuat bukan oleh kepala negara atau raja melainkan oleh parlemen. Parlemenlah yang menentukan kredibiltas seorang kepala negara, yang kalau menyimpang dari kedudukannya. Sedangkan sistem pemerintah Islam selama ini bersifat absolut.
2. Ide persamaan (egalite)
yaitu adanya persamaan kedudukan antara penguasa dengan rakyat yang diperintah, serta turut berperan aktifnya rakyat dalam pemerintahan. Sebelumnya rakyat mesir tidak tahu menahu dalam soal pemerintahan, maka ketika Napoleon mendirikan suatu badan kenegaraan yang terdiri dari ulama-ulama Al Azhar dan pemuka-pemuka dalam dunia bisnis dari Kairo dan daerah-daerah. Tugas badan ini membuat UU, memelihara ketertiban umum dan menjadikan perantara penguasa-penguasa Perancis dengan rakyat Mesir. Disamping itu dibentuk pula suatu badan yang bernama Diwan Al Ummah yang pada waktu tertentu mengadakan sidang untuk membicarakan hal-hal yang bersangkutan dengan kepentingan nasional.
3. Ide kebangsaan yang terkandung dalam maklumat Napoleon bahwa orang Perancis merupakan suatu bangsa, dan kaum Mamluk adalah orang asing yang datang ke Mesir dari Kaukasus, jadi sungguh pun orang Islam tapi berlainan bangsa dengan rakyat Mesir.[5]

Beberapa gambaran ide-ide Napoleon tersebut merupakan kontak pertama antara Mesir dengan Barat (Eropa) dan walaupun belum mempunyai pengaruh nyata yang kuat kepada rakyat Mesir, namun lambat laun telah membuka mata ummat Islam tentang kelemahan dan kemunduran mereka selama ini. Dan di abad ke 19 ide-ide ini makin dapat diterima karena terdapat nilai-nilai positif di dalamnya yang kalau dipraktikkan akan mendorong kemajuan bagi dunia Islam khususnya rakyat Mesir.
Keuntungan positif inilah nantinya yang menghidupkan gairah intelektual untuk banyak-banyak menyerap peradaban Barat dalam semua aspeknya. Khusus bagi kemajuan pemahaman dinamika beragama, bangkitnya kesadaran bahwa selama ini umat telah salah kaprah dalam mengapresiasi komitmen roh yang terkandung dalam al-Qur’an. Artinya Barat yang tidak secara langsung diilhami oleh spirit al-Qur’an pun dapat maju dan jaya karena pola hidup dan orientasi akal yang benar, sedangkan ini hanya sebagian kecil dari isi kandungan al-Qur’an yang bisa diserap oleh Barat dalam mencapai kemajuan-kemajuannya.
Setelah persentuhan peradaban Eropa terhadap Mesir itulah, kondisi umat Islam kian menata diri memperhitungkan kemungkinan langkah-langkah modernisme yang bisa mengangkat citra kaum muslimin secara umum nantinya sebagai negara maju melalui pemikiran-pemikiran cemerlang dan tercerahkan pada modernis seperti Jamaluddin Al Afghani, Muhammad Abduh dan murid-muridnya.
Setelah membahas tentang pendudukan Napoleon kami akan menambahi sedikit tentang ekspedisi-ekspedisi yang dibawah oleh Napoleon:
a. Ekspedisi Napoleon
Pendudukan negeri Mesir merupakan penduduk campuran dari bermacam-macam ras, agama, budaya dan peradaban. Di samping itu daerah Mesir masih merupakan daerah di belahan Timur yang terbanyak dikunjungi dan derasnya arus gelombang pengaruh Barat dengan bibit-bibit peradaban Eropa.[6]
Mesir sebelum ditaklukkan oleh Napoleon berada di bawah kekuasaan Turki Usmani dan sebagian di bawah pengaruh/kekuasaan Mamluk.
Asal-usul kaum Mamluk berasal dari daerah pengunungan Kaukasus yaitu daerah dipengunungan yang berbatasan antara Rusia dan Turki. Mereka didatangkan ke Istambul atau Mesir untuk dididik menjadi militer. Dalam perkembangan selanjutnya kedudukan mereka dalam kemiliteran meningkat bahkan di antara mereka ada yang dapat mencapai jabatan militer yang tinggi.[7] Akhirnya di antara mereka ada yang mengambil alih daerah kekuasaan Turki Usmani dan tidak tunduk pada Istambul.
Pemimpin Mamluk disebut Syekh Balad, akan tetapi Syekh Balad ini sering bertabiat kasar, sehingga hubungan mereka dengan rakyat Mesir tidak baik. Hal ini salah satu faktor yang memudahkan tentara Napoleon menguasai daerah-daerah yang dikuasai Mamluk.[8]

b. Penaklukan Napoleon Terhadap Mesir
Napoleon menyerbu Mesir pada tanggal 2 Juli 1798. mula-mula mendarat di Iskandariyah dan dalam waktu tiga minggu Napoleon dapat menguasai seluruh Mesir. Setelah menguasai Mesir Napoleon terus menyerang Palestina. Akan tetapi setelah sampai terus menyerang Palestina, akan tetapi setelah selesai di Palestina sedang berjangkit penyakit kolera, sehingga banyak tentara Palestina yang meninggal dunia.
Walaupun Napoleon menguasai Mesir hanya dalam waktu sekitar tiga tahun, namun pengaruh yang ditinggalkannya sangat besar dalam kehidupan bangsa Mesir.

c. Tujuan Ekspedisi Napoleon ke Mesir
Perancis adalah salah satu negara yang cukup besar dan menjadi saingan Inggris yang telah menguasai India untuk memutuskan hubungan Inggris dan India. Napoleon berpendapat, Mesir harus dapat dikuasai. Dengan penguasaan Mesir maka hubungan Inggris ke India terhambat dan di samping itu Mesir merupakan daerah yang cukup baik untuk pemasaran baru hasil-hasil produksi industri Perancis.
Selain dari tujuan tersebut di atas, tampaknya Napoleon mempunyai tujuan tertentu pula yaitu ingin mengikuti jejak Alexander yang pernah menguasai Eropa dan Asia sampai ke India. Tempat yang strategis untuk maksud harus menguasai Mesir, bukan Roma atau Paris yang dapat dijadikan basis ekspansi ke India.

d. Pengaruh Ekspedisi dalam pembaharuan di Mesir
Walaupun Napoleon menguasai Mesir hanya sekitar tiga tahun saja (1789 – 1801) namun pengaruhnya besar sekali terhadap hidup dan kehidupan bangsa Mesir.
Takkala Napoleon menyerbu Mesir ia membawa dua set alat percetakan (alat cetak Bahasa Arab Latin) hasil rampasan Napoleon di Vatican, di samping itu dibawa pula 600 orang sipil yang diantaranya terdapat 167 orang ilmuwan-ilmuwan dalam berbagai disiplin ilmu.
Untuk keperluan ilmu pengetahuan Napoleon membentuk lembaga ilmiah yang diberi nama “ Institut de Egypte” di dalamya terdapat empat bidang pengetahuan, yaitu Ilmu pasti, ilmu alam, ekonomi, politik dan seni sastra.
Lembaga ini telah meneritkan majalah “le Courie’d Egypte” yang ditertibkan oleh seorang pengusaha perrancis yang ikut rombongan ekpedisi napoleon.
Alat percetakan dibawa Napoleon tersebut di atas menjadi perusahaan percetakan Balaq, perusahaan tersebut berkembang sampai sekarang. Peralatan moder pada Institut ini seperti mikroskop, teleskop, atau alat-alat percobaan lainnya serta kesungguhan kerja orang Perancis merupakan hal yang asing dan menakjubkan bagi orang Mesir.
Keberhasilan lainnya yang telah dicapai oleh orang sipil Perancis:
a. Membuat saluran air di lembah Sungai Nil, sehingga hasil pertaniannya berlibat ganda.
b. Di bidang sejarah, ditemukan batu berukir yang terkenal dengan Rossetta Stone.
c. Di Bidang pemerintahan, merambahnya ide sistem pemerintahan yang kepala negaranya dipilih dalam waktu tertentu dan tunduk pada perundang-undangan. Hal ini tentu saja sulit diterima oleh para menguasa.[9]

KESIMPULAN

Setelah kami membaca dari beberapa referensi yang bisa kami pergunakan sebagai landasan kami dalam membahas makalah, dan telah kami baca dapat ditarik kesimpulan bahwa:
• Metode penguasaan ilmu yang sangat doktrinal seperti menghafal di luar kepala tanpa ada pengkajian dan tela’ah pemahaman membuat ajaran-ajaran Islam seperti dituangkan demikian rupa ke kepala murid dengan mahasiswa.
Para murid dan mahasiswa tinggal menerima apa adanya, sehingga Muhammad Abduh menggambarkan bahwa metode pendidikan yang otoriter juga merupakan salah satu mandegnya kebebasan intelektual, sehingga ia sendiri merasa tidak bagitu tertarik mendalami agama pada masa kecil lantaran kesalahan metode itu, yakni berupa cara menghafal pelajaran di luar kepala.
• Napoleon dapat menguasai Mesir ketika mereka bertempur dengan Kaum Mamluk di daerah Piramid di dekat Kairo, karena kaum Mamluk tidak sanggup melawan senjata-senjata meriam Napoleon. Tetapi, usaha, Napoleon untuk menguasai daerah-daerah lainnya di Timur tidak berhasil.
• Ada beberapa hal baru selain kemajuan materi yang dianggap sebagai ide-ide hasil revolusi Perancis yang dibawa oleh Napoleon diantaranya : Sistem pemerintahan republik, ide persamaan (legalite) ide kebangsaan yang terkandung dalam maklumat Napoleon, sehingga ide-ide Napoleon tersebut adalah gambaran yang merupakan kontak pertama antara Mesir dengan Barat (Eropa).
• Ekspedisi Napoleon, terdapat asal-usul kaum Mamluk yang datang ke Istambul atau Mesir untuk dididik menjadi militer sehingga kedudukan militer mereka meningkat, bahkan antara mereka mendapat jabatan militer yang tinggi.
• Dalam waktu tiga minggu Napoleon dapat menguasai seluruh Mesir, tetapi Napoleon dapat menguasai Mesir hanya dalam waktu sekitar tiga tahun.
• Tujuan ekspedisi Napoleon ialah ingin mengikuti jejak Alexandr yang pernah menguasai Eropa dan Asia sampai ke India.
• Pengaruh Napoleon dalam pembaharuan di Mesir sangat besar sekali, terhadap hidup dan kehidupan bangsa Mesir, yaitu Napoleon membentuk lembaga ilmiah yang diberi nama “Institut de Egypte” yang terdapat empat bidang pengetahuan, yaitu ilmu pasti, ilmu alam, ekonomi, politik dan seni sastra.

DAFTAR PUSTAKA

Asmuni, Yusran, 1998, Pengantar Studi Pemikiran dan Gerakan Pembaharuan dalam Dunia Islam, Jakarta : PT. Raja Grafindo Persada

Nasution, Harun, 2003, Pembaharuan dalam Islam, Jakarta : Bulan Bintang

——————-, 1975, Sejarah Pemikiran dan Gerakan, Jakarta : Bulan Bintang

Sani, Abdul, 1998, Lintas Sejarah Pemikiran, Jakarta : PT. Grafindo Persada

Rais, M. Amien dan David Sagiv, 1997, Islam Orientalis Liberalisme, Yogyakarta : Bulan Bintang

________________________________________
[1] Harun Nasution, Pembaharuan dalam Islam, Bulan Bintang, Jakarta, 1986, hlm. 59
[2] Muhammad Al-Bahy, Pemikiran Islam Modern, Pustaka, Panjimas, Jakarta, 1986, hln. 90-92
[3] T. Al-Tanawi, Muzzakir Al-Imam Muhammad Abduh, Qahirah Darul Hilal, t.t. hlm. 29
[4] Harun Nasution, Pembaharuan Dalam Islam Sejarah Pemikiran dan Gerakan, cet. Ke-14 PT. Bulan Bintang, Jakarta, 2003, hlm. 21-22
[5] Ibid., hal. 27-29
[6] Drs. Sucipto Wiryosuparto, Sejarah Dunia II, Balai Pustaka, jakarta, 196, hal. 29
[7] Dr. Harun Nasution, Op.cit., hal. 29
[8] Drs. H.M. Yusran Asmuni, Pengantar Studi Pemikiran dan Gerakan pembaharuan dalam Dunia Islam, PT. Raja Grafindo Persada. 1998, hal. 65-66.
[9] Ibid., hal. 68

(Pajri)

 

Berikan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

%d blogger menyukai ini: