Kisah Nabi Ayyub Imam Orang-orang Sabar

Nabiyullah Ayyub, Imam Orang-Orang Sabar

Ayyub adalah hamba shalih dan teladan kesabaran. Kisahnya diceritakan untuk menghibur orang-orang yang ditimpa musibah, baik pada diri mereka, keluarga, dan harta. Dia dulu sehat lalu sakit, dulu kaya lalu miskin, pemilik keluarga dan anak, lalu Allah mengambil keluarga dan anaknya. Dia menjalani semua itu dengan kesabaran yang baik, tidak mengaduh, dan tidak meratap. Ujiannya berlangsung lama. Semangatnya tidak berkurang karena ujian yang panjang itu. Kemudahan datang dari Allah ketika Ayyub memanggil-Nya dan berdoa kepada-Nya. Allah mengembalikan kesehatannya, mengembalikan harta dan anaknya dua kali lipat dari yang sebelumnya. Kisahnya menjadi cerita yang menghiasi bibir orang-orang yang sesudahnya. Kisah seorang imam orang-orang yang sabar, Ayyub Nabiyullah.

Teks Hadis

Dari Anas bin Malik bahwa Rasulullah bersabda, “Sesungguhnya Nabiyullah Ayyub ditimpa musibah selama delapan belas tahun. Orang dekat dan orang jauh menolaknya, kecuali dua orang laki-laki saudaranya yang selalu menjenguknya setiap pagi dan petang hari. Suatu hari salah seorang dari keduanya berkata kepada temannya, ‘Ketahuilah, demi Allah, Ayyub telah melakukan sebuah dosa yang tidak dilakukan oleh seorang manusia di dunia ini.’ Temannya menanggapi, ‘Apa itu?’ Dia menjawab, ‘Sudah delapan belas tahun Allah tidak merahmatinya dan tidak mengangkat ujian yang menimpanya.’

Manakala keduanya pergi kepada Ayyub, salah seorang dari keduanya tidak tahan dan tidak mengatakan hal itu kepada Ayyub. Maka Ayyub berkata, ‘Aku tidak mengerti apa yang kalian berdua katakana. Hanya saja, Allah mengetahui bahwa aku pernah melewati dua orang laki-laki yang bersengketa dan keduanya menyebut nama Allah, lalu aku pulang ke rumah dan bersedekah untuk keduanya karena aku khawatir nama Allah disebut tidak dalam kebenaran.’

Nabi Shallallahu Alahi wa Sallam bersabda, ‘Ayyub pergi buang hajat. Jika dia buang hajat, istrinya menuntunnya sampai di tempat buang hajat. Suatu hari Ayyub terlambat dari istrinya dan Allah mewahyukan kepada Ayyub, ‘Hantamkanlah kakimu, inilah air yang sejuk untuk mandi dan untuk minum.’ (Shad: 42). Istrinya menunggunya cukup lama. Dia melihat dan memperhatikannya sedang berjalan ke arahnya, sementara Allah telah menghilangkan penyakitnya dan dia lebih tampan dari sebelumnya. Ketika istrinya melihatnya dia berkata, ‘Semoga Allah memberimu berkah, apakah kamu melihat nabiyullah, orang yang sedang diuji? Demi Allah, kamu sangat mirip dengannya saat dia dalam keadaan sehat.’ Ayyub berkata, ‘Sesungguhnya akulah Ayyub.’

Ayyub memiliki dua tempat untuk mengeringkan hasil bumi, yang pertama untuk gandum dan yang kedua untuk jemawut, lalu Allah mengirim dua gumpalan awan. Ketika awan yang pertama tiba di atas tempat pengeringan gandum, ia memuntahkan emas sampai melimpah, dan awan yang lainnya menumpahkan di tempat pengeringan jewawut sampai melimpah pula.”

Takhrij Hadis

Syaikh Nashiruddin Al-Albani berkata tentang takhrij hadits ini dalam Silsilah Al-Ahadis Ash-Shahihah (1/24), “Diriwayatkan oleh Abu Ya’la dalam Musnad-nya (1 176-177), Abu Nuaim dalam Al-Hilyah (3/374-375) dari dua jalan dari Said bin Abu Maryam. Nafi’ bin Yazid menyampaikan kepada kami, Aqil memberitakan kepada kami dari Ibnu Syihab dari Anas bin Malik secara marfu’.” Dan dia berkata, “Gharib dari hadis Az-Zuhri, tidak ada yang meriwayatkan darinya kecuali Aqil. Rawi-rawinya disepakati keadilan mereka. Naïf meriwayatkan secara sendiri.”

Aku berkata, “Dia adalah rawi tsiqah(terpecaya) sebagaimana yang dikatakannya. Muslim meriwayatkan hadisnya, rawi-rawi lainnya adalah rawi-rawi Syaikhain. Jadi, hadis ini shahih. Ia dishahihkan oleh Adam-Dhiya’ Al-Maqdisi. Dia meriwayatkannay dalam Al-Mukhtarah (2/220-221) dari jalan ini. Hadis ini diriwayatkan oleh Ibnu Hibban dalam Shahihnya (2091) dari Ibnu Wuhaib. Nafi’ bin Yazid memberitakan kepada kami.”

Penjelasan Hadis

Ayyub adalah salah seorang Nabi Allah yang mulia. Allah mewahyukan kepada Ayyub, “Sesungguhnya Kami telah memberikan wahyu kepadamu sebagaimana Kami telah memberikan wahyu kepada Nuh dan nabi-nabi yang kemudiannya, dan Kami telah memberikan wahyu (pula) kepada Ibrahim, Isma’il, Ishak, Ya’qub dan anak cucunya, Isa, Ayyub, Yunus, Harun dan Sulaiman. dan Kami berikan Zabur kepada Daud.” (An-Nisa: 163).

Ayyub termasuk keturunan Ibrahim. Firman Allah, “Dan Kami telah menganugerahkan Ishak dan Yaqub kepadanya. Kepada keduanya masing-masing telah Kami beri petunjuk; dan kepada Nuh sebelum itu (juga) telah Kami beri petunjuk, dan kepada sebahagian dari keturunannya (Nuh) yaitu Daud, Sulaiman, Ayyub, Yusuf, Musa dan Harun. Demikianlah Kami memberi balasan kepada orang-orang yang berbuat baik.” (Al-An’am: 84).

Allah telah menceritakan kisahnya di dua tempat dalam kitab-Nya, pertama dalam surat Al-Anbiya. Firman Allah, “Dan (ingatlah kisah) Ayub, ketika ia menyeru Tuhannya, ‘(Ya Tuhanku), sesungguhnya aku telah ditimpa penyakit dan Engkau adalah Tuhan yang Maha Penyayang di antara semua Penyayang.’ Maka Kamipun memperkenankan seruannya itu, lalu Kami lenyapkan penyakit yang ada padanya dan Kami kembalikan keluarganya kepadanya, dan Kami lipat gandakan bilangan mereka, sebagai suatu rahmat dari sisi Kami dan untuk menjadi peringatan bagi semua yang menyembah Allah.” (Al-Anbiya: 83-84).

Kedua dalam surat Shad. Firmannya, “Dan ingatlah akan hamba Kami Ayyub ketika ia menyeru Tuhan-nya, ‘Sesungguhnya aku diganggu syaitan dengan kepayahan dan siksaan.’ (Allah berfirman), ‘Hantamkanlah kakimu, inilah air yang sejuk untuk mandi dan untuk minum.’ Dan Kami anugerahi dia (dengan mengumpulkan kembali) keluarganya dan (Kami tambahkan) kepada mereka sebanyak mereka pula sebagai rahmat dari Kami dan pelajaran bagi orang-orang yang mempunyai fikiran. Dan ambillah dengan tanganmu seikat (rumput), maka pukullah dengan itu dan janganlah kamu melanggar sumpah. Sesungguhnya Kami dapati dia (Ayyub) seorang yang sabar. Dialah Sebaik-baik hamba. Sesungguhnya dia amat taat (kepada Tuhan-nya).” (Shad: 41-44).

Dalam sunah Rasulullah terdapat keterangan tentang kisah Ayyub yang lebih jelas dan terperinci. Dari seluruh keterangan dalam Al-Qur’an dan hadis dapat diambil kesimpulan bahwa hidup Ayyub penuh dengan kenikmatan sebelum memperoleh ujian, kehidupannya makmur. Allah menganugerahkan harta, keluarga dan anak kepadanya, kemudian Allah berkehendak untuk mengujinya. Maka dia mengambil harta dan anaknya, badannya pun berpenyakit. Orang-orang yang dikumpulkan oleh nikmat di sekelilingnya mulai menjauhinya. Orang dekat dan orang jauh menghindarinya. Yang masih baik kepadanya hanyalah istrinya dan dua orang dari sahabatnya yang mulia. Kedua orang ini sering mengunjunginya dan Ayyub terhibur karenanya.

Salah seorang dari keduanya memikirkan keadaan Ayyub yang telah diuji sekian lama. Ayyub menanggung ujian itu selama delapab belas tahun dan Allah belum mengangkat apa yang menimpanya. Terbesit di pikiran orang ini bahwa cobaan Ayyub itu mungkin dikarenakan dosa besar yang pernah diperbuat oleh Ayyub. Orang ini mengatakan apa yang ada di pikirannya kepada temannya, dan temannya ini pun tidak kuasa menyimpan apa yang dikatakan oleh rekannya. Dia mengatakan hal itu kepada Ayyub. Hal ini membuat Ayyub sangat bersedih, maka dia menceritakan keadaannya secara terbuka dan menepis anggapan tersebut. Pada waktu Ayyub sehat dan bugar, dia melihat dua orang saling bertikai dan keduanya menyebut nama Allah. Ayyub pulang ke rumahnya dan bersedekah atas nama keduanya, karena dia khawatir nama Allah disebut kecuali dalam kebenaran.

Di sanalah Ayyub menghadap kepada Tuhannya denagn doa memohon dari-Nya agar ujiannya diangkat, “(Ya Tuhanku), Sesungguhnya aku telah ditimpa penyakit dan Engkau adalah Tuhan yang Maha Penyayang di antara semua Penyayang.” (Al-Anbiya: 83). “Dan ingatlah akan hamba Kami Ayyub ketika ia menyeru Tuhan-nya: “Sesungguhnya aku diganggu syaitan dengan kepayahan dan siksaan”. (Shad: 41).

Allah menjawab doanya dan mengangkat ujian yang menimpanya. Allah Maha Berkuasa atas segala hal. Jika Dia menghendaki sesuatu, pastilah terjadi. Tidak ada sesuatu pun di langit dan di bumi yang mampu menghalangi-Nya.

Sudah menjadi kebiasaan Ayyub jika dia pergi buang hajat, dia diantar dan dituntut oleh istrinya karena badannya yang lemah. Jika Ayyub telah tiba di tempat yang dituju, istrinya membiarkannya menunaikan hajatnya. Setelah itu dia kembali menuntun suaminya pulang ke tempat tinggalnya. Pada hari ketika Ayyub berdoa kepada Allah, dia terlambat kembali kepada istrinya yang sedang menunggunya. Allah mewahyukan kepada Ayyub agar menjejakkan kakinya yang lemah ke tanah, maka dari tempat yang dijejakkannya itu memancarlah air. Allah meminta Ayyub agar minum air itu dan mandi darinya. Air itu menghilangkan penyakit di tubuhnya, lahir dan batin. Ayyub kembali sehat dan bersemangat pada saat itu juga. Kesehatannya dan kekuatannya pulih seperti ia tidak pernah sakit.

Ayyub menemui istrinya dengan penuh semangat dan gairah seperti sebelum dia diserang penyakit. Ketika istrinya melihatnya, dia tidak mengenalinya walaupun dia melihatnya seperti suaminya yang dahulu sehat wal afiat. Dia bertanya kepadanya tentang suaminya, seorang nabi yang sakit-sakitan. Dia menyebutkan apa yang pernah dilihatnya dari suaminya pada saat suaminya masih sehat dan kuat. Dia sama sekali tidak menduga bahwa suaminya bisa sehat dan sembuh dari penyakitnya dalam waktu yang sesingkat itu, yaitu sewaktu dia terlambat untuk kembali kepadanya. Kebahagiannay begitu besar manakala dia melihat nikmat Allah kepada suaminya dalam bentuk kembalinya kesehatan dan kekuatan kepadanya.

Sebagaimana Allah mengembalikan kesehatan dan kekuatannya, Allah juga mengembalikan hartanya yang hilang sebanyak dua kali lipat, serta menganugerahkan anak-anak kepadanya dua kali lipat pula. Alalh mengirimkan dua awan yang tidak membawa hujan, tetapi membawa emas dan perak. Ayyub memiliki dua tempat penyimpanan hasil bumi. Yang pertama untuk gandum dan yang kedua untuk jemawut. Awan pertama menumpahkan emas di tempat penyimpanan gandum dan awan kedua menumpahkan perak di tempat penyimpanan jemawut.

Pada waktu sakit Ayyub pernah marah kepada istrinya. Dia bernadzar, jika dia sembuh, dia akan memukulnya seratus kali. Setelah sembuh Ayyub merasa berat memukul istrinya yang selama dia sakit begitu sabar merawatnya, tetapi dia juga merasa berat karena tidak menunaikan nadzar kepada Tuhannya. Maka Allah memberikan jalan keluar dan kemudahan. Dia memerintahkan Ayyub agar mengambil seikat batang gandum atau jemawut dan memukul istrinya dengan itu satu kali pukulan, dengan itu Ayyub telah menunaikan nadzarnya dan tetap tidak menyakiti istrinya. Allah berfirman untuk Ayyub, “Dan ambillah dengan tanganmu seikat rumput, maka pukullah dengan itu dan janganlah kamu melanggar sumpah.” (Shad:44).

Imam Ahmad berpendapat bahwa dibolehkan memukul orang yang melakukan dosa yang terancam hukuman had, seperti orang yang berzina yang belum menikah dan orang yang melakukan dosa qadzaf (menuduh) dengan pukulan seperti pukulan pukulan Ayyub, jika yang bersangkutan sakit sehingga ditakutkan akan celaka setelah dia dipukul. Rasulullah Shallallahu Alahi wa Sallam telah memerintahkan para sahabat untuk memukul seorang laki-laki yang sakit yang telah berzina dengan seorang wanita dengan sebuah janjang kurma yang terdiri dari seratus cabang sebanyak satu kali pukulan. (Lihat Ighatsatul Lahfan, Ibnul Qayyim (2/98). Hadis yang disinggung di atas dinisbatkan oleh Syaikh Nashiruddin Al-Albani di Silsilah Al-Ahadis As-Shahihah (6/1215) dengan no. 2968 kepada Nasai di Sunan Kubra, Ibnu Majah, Baihaqi, Ahmad dan lain-lainnya).

Ayyub adalah soerang yang gesit, dermawan dan humoris dalam kejujuran. Rasulullah Shallallahu Alahi wa Sallam telah memberitakan kepada kita di dalam hadis yang diriwayatkan oleh Bukhari dan Nasai dari Abu Hurairah yang berkata bahwa Rasulullah Shallallahu Alahi wa Sallam bersabda, “Manakala Ayyub sedang mandi telanjang, sekelompok belalang dari emas jatuh kepadanya, maka Ayyub memunguti dan menyimpannya di bajunya. Maka Tuhan memanggilnya, ‘Wahai Ayyub, bukankah Aku telah membuatmu kaya seperti yang kamu lihat?’ Ayyub menjawab, ‘Benar, ya Rabbi, akan tetapi aku selalu memerlukan keberkahanMu’.” (Jami’ul Ushul, 8/521).

Mungkin anda membayangkan keadaan Ayyub ketika dia melompat dalam keadaan telanjang, mengumpulkan dan memunguti belalang emas, lalu meletakkan di bajunya. Maka Tuhannya memanggilnya, “Bukankah Aku telah membuatmu kaya sebagaimana kamu lihat?” (Yakni, melalui dua awan yang menuangkan emas dan perak di tempat penyimpanan hasil buminya). Ayyub menjawab, “Siapa yang tidak memerlukan keberkahan-Mu, ya Rabbi?”

Versi Taurat

Barang siapa membaca kisah Ayyub di dalam Al-Qur’an dan hadis yang shahih lalu membaca kisah ini dalam Taurat, maka dia akan meyakini bahwa salah satu sasaran pemaparan versi dalam Al-Qur’an dan penjelasan detail-detailnya di dalam hadis adalah untuk membongkar penyelewengan kisah ini menurut versi Bani Israil dan membebaskan Nabiyullah Ayyub dari tuduhan palsu dan dusta oleh orang-orang yang menyeleweng lagi zhalim.

Klaim pertama yang harus diluruskan dan dikoreksi adalah klaim para penulis kisahnya dalam Taurat bahwa Ayyub hanyalah seorang laki-laki shalih lagi lurus. Dia bukan seorang nabi. Klaim kedua yang harus diluruskan dan dikoreksi adalah apa yang dikatakan oleh Taurat bahwa Ayyub marah kepada Tuhan-nya ketika menjalani cobaan. Kemarahan Ayyub kepada Tuhannya ini dipaparkan dipaparkan lewat perbicangan panjang antara Ayyub dan ketiga orang temannya. Walau Ayyub dengan imannya dan kepercayaannya kepada Tuhannya, dia tetap berbicara panjang kepada teman-temannya untuk menampakkan penderitaannya karena cobaan dari Allah, walaupun dia tetap baik, lurus dan melakukan kebaikan.

Dialog yang terjadi adalah dialog yang panjang. Melalui dialog ini para pengarangnya bermaksud untuk mengatasi masalah akidah, yaitu sebab-sebab Allah menurunkan ujian-Nya kepada orang shalih dan hamba-hamba-Nya yang bertakwa kepada-Nya dan teguh di atas perintah-Nya. Dialog itu mengangkat masalah ini dengan bahasa filsafat dan bahasa syair. Oleh karena itu, orang-orang Yahudi menganggap bahwa Safar Ayyub adalah salah satu Safar hikmah.

Aneh jika Ayyub dalam Taurat adalah seorang pemarah dan pengeluh yang jauh dari pemahaman yang lurus, menolak berserah diri kepada qadha dan qadar, dan bahwasanya teman-temannya adalah orang-orang yang mengerti dan mengetahui sehingga berusaha sepenuh daya guna untuk memberi pengertian, pelajaran dan mengembalikannya ke jalan yang benar.

Kedustaan semua itu ditunjukkan oleh hadis yang disampaikan oleh Rasulullah Shallallahu Alahi wa Sallam tentang kesabaran Ayyub dalam keteguhannya untuk menerima apa yang menimpanya tanpa berkeluh kesah, sampai-sampai seorang temannya menduga sesuatu pada diri Ayyub. Dia melihat lamanya ujian yang menimpa Ayyub sebagai bukti bahwa Ayyub telah melakukan dosa besar sehingga dia berhak menerima hukuman panjang ini. Ayyub membantah hal itu dengan menyebutkan kepada mereka tentang ketaqwaan dan kebersihan hatinya semasa dia sehat wal afiat.

Apa yang ditetapkan oleh hadis menunjukkan bahwa Ayyub lebih memahami, lebih bertaqwa, dan lebih mengetahui. Dia tidak bimbang. Bimbang ini tidak datang darinya, tetapi dari salah seorang temannya.

Adalah benar ketika Taurat menyebutkan bahwa Ayyub mengerti, bertaubat, dan kembali kepada Allah. Akan tetapi, apa yang disebutkan oleh Taurat bahwa Ayyub mengeluh, merasa sempit dan marah, ini tidaklah benar sama sekali. Taurat sesuai dengan Al-Qur’an dalam memberitakan bahwa Ayyub dulunya adalah orang yang kaya sebelum ditimpa musibah. Dia memiliki keluarga dan anak, dan bahwa Allah mengambil harta dan anaknya sebagaimana ujian menimpa jasadnya, lalu Allah mengembalikan keluarga, anak, serta hartanya kepadanya setelah Ayyub sembuh.

Akan tetapi, Taurat menyembunyikan hakikat manakala mengklaim bahwa Allah memberi ganti harta kepada Ayyub melalui hadiah dari saudara-saudara dan kawan-kawannya. Padahal, dari hadis Rasulullah Shallallahu Alahi wa Sallam kita mengetahui bagaimana Allah melimpahkan harta kepada Ayyub dalam bentuk emas dan perak melalui awan. Kembalinya harta kepada Ayyub bukan melalui hadiah dari kerabat dan teman-temannya.

Taurat sesuai dengan Al-Qur’an dalam urusan penyakit yang menimpa tubuh Ayyub, yaitu dari setan. Namun perincian-perincian yang disebutkan oleh Taurat dalam perbincangan antara Allah dengan setan tidaklah benar. Hal ini menyelisihi kaidah-kaidah syariat yang pokok lagi baku. Allah tidak berbincang dengan setan setelah Dia mengusirnya dari rahmat-Nya, walaupun terkadang Dia mengizinkan untuk menimpakan penyakit kepada hamba-hamba-Nya karena sesuatu perkara yang diinginkan oleh-Nya.

Pelajaran-Pelajaran dan Faedah-Faedah Hadis
Keutamaan Nabiyullah Ayyub dalam kesabarannya atas ujian dari Allah; lenyapnya harta, keluarga, dan anak, ditambah penyakit dan menjauhnya teman-teman darinya.
Akibat dari kesabaran adalah kebaikan dunia dan akhirat. Allah menyembuhkan Ayyub setelah penyakit yang berkepanjangan. Dia mengembalikan kekuatan dan kesehatannya, memberinya harta yang melimpah dan anak-anak shalih.
Tingginya ta’dzim (pengagungan) Ayyub kepada Tuhan-nya. Dia menebus dengan bersedekah atas nama dua orang yang bersengketa dan keduanya menyebut nama Allah, karena takut nama Allah disebut kecuali dalam kebenaran.
Besarnya kesetiaan istri Ayyub kepada suaminya dan pengabdiannya kepada Tuhannya. Begitu pula kedua temannya. Kesulitan hidup membuka kualitas orang, walaupun orang-orang dengan kualitas bersih semakin sedikit, akan tetapi di setiap masa dan kota akan selalu ada, kecuali apa yang dikehendaki oleh Allah.
Kemampuan Allah untuk menghapus ujian dan menyembuhkan orang sakit hanya dalam sekejap, sebagaimana Allah mengembalikan kekuatan dan kesehatan kepada Ayyub.
Kodrat Allah memberi rizki kepada hamba-hamba-Nya dengan cara yang tidak umum. Ayyub mendapatkan harta yang banyak dalam bentuk emas dan perak yang dibawa oleh dua awan dan belalang emas yang jatuh kepadanya.
Allah memberi kemudahan dan jalan keluar bagi Ayyub dalam nadzarnya. DIa bisa memenuhi nadzarnya tanpa merugikan istrinya. Ibnul Qayyim menyatakan bahwa dalam syariat mereka tidak ada kaffarat(denda). Jika dalam syariat mereka terdapat kaffarat, niscaya Ayyub akan melakukannya tanpa memukul istrinya. Sumpah bagi mereka adalah sesuatu yang wajib, seperti hukuman had. Dan yang pasti adalah bahwa jika pelaku kesalahan yang mengakibatkan hukuman mempunyai alasan, maka hukumannya diringankan darinya dan istri Ayyub memiliki alasan. Dia tidak mengetahui bahwa yang berbicara dengannya adalah syetan. Dia hanya bermaksud untuk berbuat baik, maka dia tidak berhak untuk dihukum. Allah memberikan fatwa kepada Ayyub agar memperlakukannya sebagai orang yang berudzur, ditambah kasih saying dan kebaikannya kepada Ayyub. Maka Allah mengumpulkan untuknya antara memenuhi sumpah dan berlamah-lembut kepada istrinya yang baik yang mempunyai alasan dan tidak berhak untuk dihukum. (Ighatsatul Lahfan min Maqashidisy Syaithan, 2/97).
Hadis ini membebaskan Ayyub dari kebohongan-kebohongan yang dinisbatkan oleh orang-orang Yahudi kepada Ayyub. Hadis ini meluruskan dan mengoreksi sejarah Ayyub yang mereka ubah dan selewengkan.
Sumber: diadaptasi dari DR. Umar Sulaiman Abdullah Al-Asyqar, Shahih Qashashin Nabawi, atau Ensklopedia Kisah Shahih Sepanjang Masa, terj. Izzudin Karimi, Lc. (Pustaka Yassir, 2008), hlm. 189-199.
Terakhir kali diperbaharui.

2 thoughts on “Kisah Nabi Ayyub Imam Orang-orang Sabar

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s