RSS

Menikah tanpa Ridha Orang Tua

Menikah tanpa Ridha Orang Tua

Masalah ini bisa kita bedakan dari dua sisi. Pertama, dilihat dari sisi akhlaq. Kedua, dilihat dari sisi hukum hitam putih.
Secara akhlaq, sungguh merupakan sebuah tindakan yang amat menyakitkan, bila seorang anak melakukan tindakan yang tidak berkenan di hati orang tua. Apalagi bila tindakan itu sebuah pernikahan. Secara akhlaq, tidak pada tempatnya seorang anak yang sejak kecil dilahirkan, diasuh, dijaga, dididik dan dibesarkan oleh orang tuanya, dengan sepenuh hati, berkorban jiwa raga, tiba-tiba melakukan hal-hal yang membuat orang tua sakit hati. Atau malah mengecawakannya.

Dari sisi akhlaq, anak yang tega menyakiti atau menentang kehendak orang tuanya adalah anak yang durhaka, tidak tahu balas budi dan kurang ajar. Buat apa sejak kecil diurusi, kalau setelah besar tidak mau hormat dan menjaga perasaan orang tua? Kemudian seenaknya mau mengatur diri sendiri, sampai menikah tanpa mendapat restu dan ridha dari orang tuanya.

Anak yang begini kelakuannya, hingga menyakiti hati orang tuanya, boleh dibilang akan sengsara hidupnya. Jalannya akan tidak lurus, kehidupannya akan sepi dari keberkahan, meski sekilas hartanya berlimpah, rumahnya bertingkat, gajinya berlipat, mobilnya mengkilat, badannya sehat.

Tapi kalau dengan orang tua kualat, jiwanya akan sekarat, jalannya akan sesat, hidup jadi tidak nikmat, tidak punya semangat.
Baik anak laki-laki atau pun perempuan, sebisa mungkin jangan sampai menikah tanpa restu dan ridha orang tua. Sebab kalau untuk membalas jasanya tidak mampu kita lakukan, paling tidak sekedar tidak menyakiti hati mereka, sudah merupakan nilai tersendiri.

Dari Sudut Pandang Hukum
Sedangkan bila kita lepaskan masalah bakti atau kualat dengan orang tua, bila ada seorang laki-laki menikah, memang tidak memerlukan peran orang tuanya sebagai wali. Sebab pernikahan seorang laki-laki memang tidak membutuhka wali.

Sebaliknya, seorang wanita tidak boleh menikahkan diri sendiri. Yang menikahkannya harus ayah kandungnya sebagai wali. Dirinya sendiri justru tidak punya peran apa-apa dalam akad nikah, sehingga kalau pun tidak hadir dalam pernikahannya sendiri, secara hukum nikahnya tetap sah.

Maka seorang wanita yang menikah tanpa izin, restu dan ridha dari ayah kandungnya, secara hukum nikahnya tidak sah, selain itu dia juga mendapatkan dosa atas ulahnya yang kualat terhadap orang tuanya.
Wallahu a”lam bishshawab, dari berbagai sumber

 

72 responses to “Menikah tanpa Ridha Orang Tua

  1. Aini

    23 Mei 2011 at 10:11 am

    Tapi jika keadaanya memeng harus melakukan pernikahan tanpa restu dari orang tua pria itu terpaksa bagaimana?
    Kronologisnya: pada awalnya orang tua pihak pria sudah melamar/meminang ke pihak wanita, namun pada suatu saat terjadi salah faham antara pria & wanita itu, kemudian tanpa diniati si wanita melepas cincin pertunangan dengan harapan si pria bisa berubah karena sudah waktunya dia belajar mandiri & bertanggung jawab agar bisa terbiasa dalam menjadi kepala rumah tangga (selama ini kehidupan sang pria itu selalu diatur oleh orang tuanya, sampai2 untuk bicara ke orang tua tidak berani kalau tidak ditanya namun untuk mengemukakan apa yang diingin itu tidak bisa karena perintah orang tua mau tidak mau harus dilakukan oleh anaknya dalam kata lain kata orang tua itu mutlak tidak boleh ditolak). Mengetahui perbuatan si wanita tersebut orang tua pria tersebut tanpa memberi kesempatan langsung memutuskan kalau si wanita ini berkelakuan buruk dan mencari-cari kesalahan si wanita tanpa memandang kebaikannya sama sekali jadi intinya yg di lihat adalah keburukannya saja. Si wanita sudah berusaha untuk menemui orang tua pria tersebut tapi hasilnya tetap nihil. Hingga akhirnya si pria memutuskan menikah dengan si wanita tersebut tanpa memberi tahu ke dua orang tuanya.

     
    • salwintt

      25 Mei 2011 at 9:48 am

      Perjalanan hidup akan lebih banyak dijalani oleh sepasang suami isteri dan keturunannya. Dengan niat yang baik, dan ingin mencapai perubahan hidup yang lebih baik boleh-boleh saja melakukan itu. Tapi yakinkan dalam hati suatu ketika nanti kita akan buktikan pada keluarga bahwa apa yang dilakukan hari ini tidak salah. Tidak bisa dipungkiri, dalam menjalani hidup terkadang kita harus bertentangan dengan orangtua. Tapi orangtua adalah raja segala raja yang tidak boleh dilawan. Oke sekarang kita melakukan pelanggaran, namun nanti pada saat yang tepat kita kembali bertemu raja, minta maaf dan sekali lagi buktikan, bahwa kita berjalan di jalan yang lurus. Ingat… sebuas-buas macan di hutan belantara, tidak pernah memangsa anaknya… Wallahu a’lam…

       
  2. fawzi

    3 Juli 2011 at 10:35 pm

    apa dalil2 nya??

     
    • salwintt

      6 Juli 2011 at 7:18 pm

      nnt kt cr y

       
  3. Hamba Allah

    30 Oktober 2011 at 12:29 pm

    Assalamu’alaikum ustadz,

    adik perempuan saya mengakui bahwa pernah khilaf dan berzina dengan pacarnya, kemudian mereka saling menjaga jarak karena takut perbuatan tsb terulang kembali. beberapa bulan kemudian, si pria meminta izin pada keluarganya untuk menikahi saudara saya dengan alasan untuk bertanggung jawab dan takut melakukan dosa/berzina lagi. tetapi orang tua dan keluarganya menolak dengan alasan bahwa saudara perempuan saya tidak sekufu (bukan dari keluarga berada & bukan keturunan orang terpandang), selain itu mereka juga masih kuliah semstr 6 dan belum bekerja.
    hampir 1 thn si pria melobby orang tuanya, tetapi tak kunjung direstui. mereka justru menyuruh pria tsb untuk segera meninggalkan adik saya dan kelak menikahi perempuan lain. karena si pria merasa tidak cocok dengan jalan pemikiran keluarganya, dia nekat meninggalkan rumah dan melamar adik saya sendirian. tetapi orang tua kami belum ‘mengiyakan’ karena tidak ada satupun pihak keluarga si pria yang ikut melamar. pacar adik saya juga bercerita bahwa dia dianggap sebagai anak durhaka karena tidak menuruti keinginan orang tuanya. di sisi lain dia juga merasa harus bertanggung jawab pada adik saya.
    adik saya sering curhat pada saya sambil menangis, dia merasa takut ditinggalkan pacarnya. tetapi dia juga tidak tega karena pacarnya dianggap sbg anak durhaka. si pria juga mengatakan bahwa dia bingung, jika tidak segera menikah mereka akan terus-terusan tergoda untuk berzina (durhaka pada Allah SWT). tetapi jika dia tetap memaksa menikah, dia durhaka pada orang tuanya.
    menurut ustadz, apa yang sebaiknya mereka lakukan?
    terus terang sebagai kakak, saya juga merasa serba salah dan bingung dengan kondisi yang dialami adik saya.
    terima kasih sebelumnya

    wassalamu’alaikum wr.wb.

     
    • salwintt

      2 November 2011 at 9:57 pm

      Waalaikumsalam warahmatullahi wabarkatuh…
      Terima kasih pertanyaannya, suatu kasus yang dari dulu sampai sekarang selalu terjadi seperti ini. Kalau dari keluarga laki-laki yang menjadi masalah tidak terlalu rumit. Karena yang menikahkan adalah orangtua yang perempuan. Seorang anak perempuan tidak syah perkawinannya tanpa dinikahkan oleh orangtua kandungnya sendiri yang masih hidup, kecuali berhalangan. Bayangin kalau dari keluarga pihak perempuan yang tidak setuju, tidak mungkin keduanya bisa menikah tanpa ada kesepakatan. Demi keselamatan adik saudara dan “temannya” sebaiknya segera dinikahkan. Karena demi menghindari perzinaan, hukum nikah segera dilakukan. Masalah ketidaksetujuan pihak keluarga si laki-laki, suatu ketika nanti lambat laun akan dingin sendiri. Yang penting kita harus menghargai rasa tanggung jawab teman adik saudara itu. Karena pergaulan mereka jika ditinjau dari segi agama dan hukum adat, mereka memang sudah wajib dinikahkan. Masalah masih kuliah, juga tidak jadi masalah, rezeki sudah diatur oleh Allah SWT…. demikian, semoga bermanfaat, terima kasih wassalamualaikum warahmatulaahi wabarkatuh

       
  4. Delisa

    31 Oktober 2011 at 10:50 am

    assalamu’alaykum..afwan sy mau tanya.
    Bagaimana jika kondisinya sudah ada khitbah, laki-laki sudah mengkhitbah wanita yang disaksikan oleh keluarga besar kedua belah pihak. Namun setelah khitbah tersebut, ternyata ibu dr pihak laki-laki tiba2 tidak merestui karena masalah harta. Bagaimana hukumnya jika tetap memperlangsungkan pernikahan?

     
    • salwintt

      20 Januari 2012 at 11:36 pm

      wa’alaikum salam ww…
      Hukum nikahnya syah, jika memenuhi rukun dan syaratnya. Masalah keluarga bisa diselesaikan dikemudian hari, apalagi masalahnya hanya tentang harta.

       
  5. mauliya

    17 November 2011 at 7:47 am

    Assalamu’alaikum ustad..
    jika seandainya orangtua dari perempuan merestui akan tetapi kurang ikhlas dikarenakan si pria bukan berasal dari kelauarga yang berada,,alias sederhana..dan si perempaun menjadi takut di do’akan yanga jelek..bagaimana ustad apa yang harus dilakukan ???

     
    • salwintt

      5 Desember 2011 at 8:01 am

      Waalaikum salam ww… usaha pertama yang terpenting adalah orangtua mau menikahkan, perjalanan selanjutnya dibuktikan bahwa kita sebagai anak yang baik, patuh pada orangtua mampu membina keluarga sakinah, waddah dan rahmah. Insya Allah orangtua akan merestui perkawinan kita.

       
  6. wita

    27 Desember 2011 at 4:11 am

    assalamualaikum pak ustadz
    bagaimana jika seorang laki2 ingin menikah sedangkan kedua orang tuanya sudah meninggal..wali penggantinya sudah tentu abangnya. tapi abangnya yg paling besar tidak setuju dengan pilihan si laki2 itu sendiri sedangkan abang yg lainnya setuju2 aja,abangnya ingin adik nya dengan wanita yang hafiz alquran dan wanita bercadar.sedangkan pilihan si laki2 hanya berjilbab saja ustadz ..bagaimana pak ustadz, dosakah jika si laki2 meninggalkan abagnya dan menikah tanpa restu abang kandungnya yang pertama..satu lagi pak ustadz..dalam islam kan tidak ada yang namanya paksaan..bagaimana hukumnya keluarga calon laki2 menyuruh si calon wanita harus memakai cadar klo mau nikah sama adiknya…bagaimana ini pak ustadz…masa gara2 cadar dan tidak hafizh alquran tidak di setujui…

     
    • salwintt

      11 Januari 2012 at 8:18 pm

      Wa’alaikum salam ww… Urutan Wali, ayah kandung, kakek dari ayah, saudara laki2 kandung, saudara laki-laki seayah dst… kalau ayah dan kakek sudah tidak ada lagi yang jadi wali otomatis saudara laki-laki kandung. Tapi ingat wali yang dimasksud adalah dari pihak perempuan bukan laki-laki. Karena yang menikahkan itu adalah wali dari perempuan.
      Keinginan abang si-laki-laki, yang “dianggap” terlalu berlebihan, harus seorang hafizah dan mengenakan cadar, hal ini bisa diabaikan. Sudah memakai jilbab bagi muslimah yang tinggal di negara kita sudah memadai sebagi seorang wanita yang baik dipandang dari segi busana. Nikah saja dengan wali saudara laki-laki yang lain, masalah yang paling tua atau yang paling muda tidak jadi masalah, yang penting ada persetujuan. Yang penting masa2 berikutnya jalin kembali silaturahim dengan semua keluarga, insya Allah lambat laun akan kembali ahrmonis…

       
  7. Hamba Alloh

    27 Desember 2011 at 5:29 pm

    Asslkum…
    Kalo orgtua wanita nya yg tidak setuju, akan tetapi mereka sdh melkukan hubungan yg diluar batasan, lalu sang laki2 mau bertanggung jawab dengan menikahkan, sudah pernah mau menikah akan tetapi digagalkan oleh ibu nya sang perempuan karena sang laki2 dirasa nya tidak pantas untuk anaknya.dan sang anak sekarang merasa depresi, dan merasa hidupnya sudah tak ada artinya lagi..mohon di bantu pak ustad

    wassalamuaikum

     
    • salwintt

      11 Januari 2012 at 7:54 pm

      Wa alaikum salam ww… kalau maksud melakukan hubungan di luar batas itu, hub suami isteri, utk menebus dosa besar itu harus nikah. Perkara orangtua setuju atau tidak bisa dimusyawarahkan dikemudian hari. Upayakan ayah kandung perempuan sebagai wali mau menikahkannya. Suatu ketika kita memang harus berani “melawan” orangtua dalam jangka waktu yang sesingkat-singkatnya, tp tidak berniat untuk memusuhi. Suatu ketika kita harus berani menceritakan perbuatan salah kita kepada orangtua, apapun resikonya, sebagai akibat perbuatan kita tersebut. Kalau dibiarkan berlarut-larut, perasaan yang menakutkan terus bersarang di dada. Suatu ketika kita harus mendengar secara terpaksa amarah orangtua terhadap kita. Itu akan lebih baik dari pada dipendam. Yakinlah setelah itu secara berangsur-angsur akan reda. Asal kita sebagai anak, tidak pernah berniat durhaka. Ingat pepatah, sekejam-kejamnya macan di hutan belantara, tidak pernah memangsa anaknya sendiri.
      Seakarang…Tentukan sikap, cari waktu yang tepat untuk mengemukakan segala2nya pada orangtua, dan siap-siap menerima resiko apapun. Hidup harus berani dan tegas…. Diiringi Usaha (ikhtiar) dan do’a (ibadah) kemudian tawkkal (hasilnya diserahkan kepada Allah) insya Allah permasalahan ini bisa teratasi. Mohon maaf jika tidak mengena. trims

       
  8. Hamba Alloh

    27 Desember 2011 at 5:30 pm

    Asslkum…
    Kalo orgtua wanita nya yg tidak setuju, akan tetapi mereka sdh melkukan hubungan yg diluar batasan, lalu sang laki2 mau bertanggung jawab dengan menikahkan, sudah pernah mau menikah akan tetapi digagalkan oleh ibu nya sang perempuan karena sang laki2 dirasa nya tidak pantas untuk anaknya.dan sang anak sekarang merasa depresi, dan merasa hidupnya sudah tak ada artinya lagi..mohon di bantu pak ustad

    wassalamuaikum

     
    • salwintt

      30 Januari 2012 at 8:18 am

      Waalaikum salam… ‘melakukan hubungan diluar batas’ yang dimaksud tidak tau persis spt apa, namun kalau yg dimaksud itu sdh melakukan hub suami isteri, sebaiknya segera nikah. Kalau ditunda, atau nikah dengan orang lain, permasalahannya nanti akan menjadi tambah rumit. Masalah perselisihpahaman dengan ortu, nanti insya Allah perlahan-lahan kembali akan harmonis, asal si anak punya inisiatif untuk sll mencintai ortunya, dgn cr pendekatan. trims

       
  9. anonim

    28 Desember 2011 at 7:20 pm

    bagaimana kalau orang tua menikahkan hanya sebagai ambisi agar memiliki menantu yg dipilih?bagaimana jika akhlak&kelakuan dr orang yg dipilih orang tua jauh lebih buruk daripada orang yg dpilih oleh anaknya?yang merasakan kecocokan kan anak,lagipula lahir,jodoh,mati kan hak mutlak Tuhan,orang tua berkewajiban menikahkan,urusan masa depan biarkan diatur oleh jalan Tuhan.justru orang tua yg menghalangi keinginan suci anaknya adalah orang tua EGOIS.

     
    • salwintt

      11 Januari 2012 at 7:27 pm

      ya begitulah dramatika kehidupan, yang jelas tidak syah nikah tanpa wali, biar orangtua tidak setuju, tp beliau mau menikahkan, aman. tapi kejadian spt zaman siti nurbaya, kawin paksa, banyak persepsi penyelesaiannya. yang penting jangan samapi durhaka pd orangtua. semoga anda kelak mampu menjadi orangtua yang tdk egois…!

       
  10. okky dokky part II

    11 Januari 2012 at 1:55 pm

    assalamu’alaikum,sya perempuan tinggal merantao luar negara.mau tanya.saya mau menikah di luar negara,tapi orang tua calon imam saya tidak merestui karna status sosial.apa boleh saya tetap melangsungkan pernikahan itu?dan apa pula hukum nya.trimakasih.wassalam.

     
    • salwintt

      11 Januari 2012 at 7:12 pm

      wa alaikum salam ww, tidak syah nikah jika tanpa wali, (urutan wali, ayah kandung, kakek dari ayah, saudara laki-laki kandung, saudara laki-laki seayah, anak lk2 dr saudara lk2 kandung…. sampai ke-12. saudara lk2 dr kakek, seayah dgn kakek) kalu smua itu tidak ada lagi baru wali hakim. Boleh nikah jika semua wali di atas tidak ada, nikahnya dengan wali hakim, trima ksh

       
  11. nana

    14 Januari 2012 at 6:46 pm

    bgmn kl orang tua tdk setuju krn calon suami beda kewarganegaraan, ttp orrg tua sudah 3X menolak proposal calon2 sebelumnya krn beda tingkat pendidikan. sedangkan sy sudah umur 30thn. terimakasih sebelumnya

     
    • salwintt

      19 Januari 2012 at 11:31 pm

      Begitulah… orangtua memang punya hak “veto” terhadap anak2nya. Melawan? takut kita durhaka. Menuruti 100%? Apakah menjamin kebahagian kita? Harus bijak menyikapi sifat orangtua seperti ini, jangan sampai tersinggung dan sakit hati. Perlahanlah untuk memberikan pengertian pada orangtua, sabar, ikhtiar, do’a dan tawakkal. Insaya Allah nanti orangtua kita akan mengerti apa yang terbaik untuk anaknya. Namun jika anda berani untuk membuktikan bahwa apa yang dilakukan itu adalah benar, dan yakin akan mendatangkan kebahagian, silahkan saja mencari jalan sendiri, mengingat umur. Tapi jangan lupa jalinan silaturahim ikat kembali, terutama kepada orangtua….

       
      • nana

        20 Januari 2012 at 12:11 am

        insyaalloh masih ttp bersabar dan berdoa uztad. Kadang ibu terlihat membenci sy krn calon sy itu, tp jg kadang spt sayang banget sm sy. Sy tau, ibu sy begitu krn takut nanti bila kami anak2 menikah, akan lupa beliau. Apalagi beda negara, tp insyaalloh kami tdk spt itu, krn calon sy memiliki pemahaman yg baik ttg agama.
        mohon doanya uztad spy jalan kami di mudahkan…..

         
      • salwintt

        20 Januari 2012 at 11:21 pm

        amiiiin… alhamdulillah… semoga sukses….

         
  12. nana

    31 Januari 2012 at 9:06 pm

    terimakasih …ustadz….. :)

     
  13. aurel

    6 April 2012 at 12:57 pm

    ass..wr..wb
    ustadz, saya mau tanya…
    saya ingin sekali menikah dg laki2 yg saya sukai.. menurut saya dia laki2 dewasa dan tanggung jawab sm keluarganya… tapi ibu saya tidak setuju dengan alasan tidak cocok dengan keluarganya.. 2 kali dia berusaha meminta restu pada ibu saya tapi selalu ditolak…
    sampai akhirnya karena takut kehilangan saya dia hampir saja berbuat nekat ingin menggauli saya… tetapi belum sempat terjadi hal yang dilarang itu,karena saya menolaknya… dia sudah minta maaf kepada saya karena khilaf… saya maafkan dia, saya bener2 tidak bisa dan tidak tega meninggalkan dia.
    karena dalam hati saya ingin secepatnya menikah denga dia, takut kalau kami sampai khilaf melakukan hal yang dilarang itu, tetapi sampai saat ini keluarga saya terutama ibu saya tidak setuju sampai2 ibu saya sakit karena memikirkan saya.
    yang saya tanyakan, apa yang harus saya lakukan? apakah saya harus menurut pada ibu saya, atau saya mempertahankan laki2 yang saya sukai itu? tetapi saya takut terjadi sesuatu hal yang mengganggu kesehatan ibu saya…
    terima kasihh…
    wass..wr..wb

     
    • salwintt

      7 April 2012 at 11:37 am

      Waalaikum salam wawa….
      Terima ksh pertanyaannnya. Sebelum berkeluarag org yg paling dihormati adalah seorang ibu. Setelah menikah org yg paling dihormati adalah suami. Status anda belum menikah, artinya wajib menghargai ibu sbg org nomor satu. Dalam hal mencari jodoh kita tidak bisa mengemyampingkan pendapat kedua orgtua, karena pernikahan harus mendapat restu orangtua.
      Tapi kasus anda, terhalang tidak restunya orangtua, walau jalinan sudah berjalan serius, sampai2 khawatir terjadi hal yg tdk diinginkan. Salut terhadap anda mampu membentengi diri, tidak masuk ke jurang itu, dan teruslah dipertahankan, dan beri sll pengertian pd teman anda utk tdk mengulang2 ajkn itu, mudharatnya besar.
      Banyak pertanyaan senada dengan anda, cb bc komentar2 sblumnya di bwh artikel ini. Artinya kasus serupa, bkn hnya menimpa anda, tpi bnyk tmn lain yg memiliki kisah serupa. Smua mencri ti2k temu, dan ujungnya jls berbd antr satu sm lainnya. Kasihan ibu anda smpi2 hrs sakit hnya memikirkan calon jodoh putrinya. Begitulah ksh syng seorng ibu terhdp sang anak, tntu menginginkan anknya hdup sejahtera d ms yg akn datang. Tp kdg orgtua belum percya sepenuhnya kpd ank utk mencari clon suaminya, ya itu td, khwatir hdiupnya klk menderita. Padahal yg tau persis adalah kt yg bkl menjalaninya. Tp ingat jg, orgtua jauh lbh bnyk pengalamanny dr kita sbg anak.
      Jd intinya adalah kekhawatiran. Perlu jg di renungkan bahw hukum nikah itu wajib, haram, sunah, makruh, mubah. Wajib, jika pnya keinginan, sudah mampu dan takut berbuat zina. Haram, jk diserta niat yg jelek, sunah, jk ada kemauan, mampu dan siap lahir bathin, mudah, belum mampu tp khawatir teledor, mubah adalah hukum asala pernikahan.
      Penyelesaian 1. Jika cinta pd orgtua, tdk mau dia menderita lahir dan bathin, cari jodah yg lain
      Penyelesaian 2. Jika khawatir terjadi hal yg tdk diinginkan td, dan secepatnya mampu membuktikan pd orgtua bhw pilihan anda tdk salah, mampu membw kebahagian berkeluarga besar anda, yakin tdk berlarut2 orgtua anda kcw, yakiiin,,, menikahlah dgn pilihan anda sekarang.
      Wallahu a’lam bissawab… Wassalam WW

       
  14. aurel

    22 April 2012 at 9:01 am

    terima kasih atas sarannya pak ustadz,,,
    yang menjadi pikiran saya saat ini, teman laki-laki saya itu tidak mau meninggalkan saya, padahal saya sudah memutuskan untuk menurut pada ibu saya..
    berkali-kali saya jelaskan ke dia, tetap saja dalam waktu 2-3 bulan kedepan teman laki-laki saya itu masih ingin berusaha meyakinkan ke ibu saya lagi…
    sikap apa yang harus saya ambil… ap saya harus menjauhi dia dan benar-benar memutuskan untuk tidak berkomunikasi dengan dia lagi…
    atau saya memberi dia kesempatan untuk meyakinkan ibu saya?
    mohon sarannya pak ustadz…
    Wassalam WW

     
  15. nana

    29 April 2012 at 6:36 pm

    assalamualaikum
    Uztadz, alhamdulilah Alloh memberikan petunjuk bagi saya….membukakan tabir yg selama ini sy tidak ketahui, dan itulah mengapa mungkin sebab org tua sy tidak menyetujui.
    Setelah kami berpacaran Indonesia-malaysia, tyt…dia masih punya istri…
    Alhamdulillah sy tidak berbuat yg lebih jauh lg….
    Alangkah baiknya para tmn2 yg hubungannya dg org tua, sebaiknya mempertimbangkan saran org tua…Insyaalloh, feeling org tua ada benarnya…
    Semoga kita semua dilindungi dr org2 yg berniat keji…
    terimakasih

     
    • salwintt

      8 Juni 2012 at 12:03 am

      Wa’alaikum salam ww…
      Anak yang mengabdi kepada kedua orangtua, balasannya adalah surga. Anak yang durhaka tidak bisa mencium bau surga. Mencium baunya saja, tidak bisa, apalagi mau bermukim di dalamnya. Semoga keputusan anda adalah yang terbaik… Amiiin…!

       
  16. Nurani

    25 Mei 2012 at 12:11 pm

    Assalamualaikum wr.wb
    Pak ustadz , saya adalah seorang wanita yang menjalin suatu hubungan dengan pacar saya , tetapi semua anggota keluarga saya tak merestui , terutama orang tua saya pak ustadz. Karena ini :

    1. alasan kita berdua dalam aturan jawa bertemu 25 jika dalam jumlah weton dan orang tua saya bisa meninggal jika saya menikah.

    2. alasan yang kedua kakak laki-laki saya kan sudah menikah ,dan istrinya itu tinggalnya satu kampung dengan pacar saya, jadi kita berdua tidak boleh menikah karena kakak saya sudah mendapatkan istri dari kampung pacar saya.

    Menurut saya , orang tua saya kan terlalu kolot dalam dunia itu pak ustadz.
    Percuma saja mereka semua tidak percaya akan adanya Alloh . Bagi saya semua hari baik kan pak ustadz …?
    Mati , jodoh ,dan rejeki Alloh sudah atur.
    Tapi kenapa orang tua saya bilang seperti itu. Saya tidak bisa terima alasan itu pak ustadz.

    Hingga mertua kakak saya akan menceraikan istri dari kakak saya jika saya menikah dengan pacar saya. Karena mertua kakak saya tidak mau anaknya meninggal. Padahal kakak saya sudah mempunyai 2 anak.

    Keluarga saya yang tak mau menerima penjelasan saya dan orang tua saya yang suka main tangan , kakak saya sering juga main tangan dengan saya jika ingin bertemu pacar saya. Mereka semua berniat akan memisahkan kami berdua karena alasan itu.

    Saya minta tolong solusinya pak ustadz
    Terima kasih .
    Wassalamualaikum wr.wb

     
    • salwintt

      7 Juni 2012 at 11:55 pm

      Wa’alaikum salam ww…
      Memang pemahaman dan kefanatikan orang Indonesia, khususnya Jawa, terhadap tradisi, budaya dan kepercayaan lama tidak mudah pudar dari kehidupan mereka. Semua itu terpengaruh dari budaya Hindu dan Budha yang terlebih dahulu berakar dalam tradisi kehidupan nenek moyang kita, sebelum Islam masuk. Padahal presentasi kebenaran keyakinan itu tidaklah sebesar kenyataan yang terjadi, walau tidak selamanya meleset. Karena sebagian kebenaran itulah, akhirnya selalu menjadi momok yang selalu menghantui bayangan kehidupan mereka.
      Sulit memang memposisikan diri, bagi kita yang hidup di alam modern dengan pemikiran pluralis, jika berhadapan dengan permasalahan ini. Satu sisi kita berhasrat untuk membuktikan bahwa kepercayaan-kepercayaan lama tidak akan terbukti. Tapi belum itu terkabul, kita dihadapkan dengan ancaman berat dan mengelisahkan diri kita sendiri. Sama halnya kasus anda.
      Harus direnungkan kembali, kehidupan kita tidak bisa terlepas dari jalinan kekeluargaan. Salah satu tujuan berumah tangga adalah mempererat rasa kekeluargaan antara kedua belah pihak. Kalau anda berani dan yakin, jika meneruskan hubungan dengan kekasih sampai titik pernikahan, ancaman dan keyakinan keluarga tidak akan terjadi sesuai dengan apa yng mereka yakini, dan anda bisa membuktikan bahwa anda berdua bisa hidup rukun dan damai serta kelak bisa menyatukan keluarga dengan baik, saran saya, teruskan hubungan anda. Tapi kalu ragu-ragu, kalau-kalau apa yang dikhawatirkan bisa terjadi dan hubungan anda belum terlalu “jauh”, dengan alasan demi keluarga, anda juga bisa pikir-pikir.
      Bagaimanapun keputusan final anda di tangan anda. Apapun yang diambil, yakinlah itulah petunjuk yang baik yang diberikan Allah SWT. Cukup yaa…!

       
  17. ninani

    23 Juli 2012 at 2:17 pm

    Pak Ustadz,
    Saya sedang menjalin hubungan dengan seorang pria, tapi Ibu saya belum memberikan restu. Sebelumnya sy pernah menjalin hubungan dg orang lain dan ibu saya tidak setuju karena berbeda agama, maka sy pikir wajar ibu tdk setuju. Untuk yg satu ini sekarang sudah satu agama dan sejauh ini pun baik kepada saya dan keluarga. Sy dan orang tua tinggal di kota yg berbeda. Ibu tidak setuju tanpa alasan yg jelas, sy pernah tanya tapi alasan ibu selalu berubah2. Ibu pernah bilang karena masalah materi di mana pasangan sy memiliki penghasilan di bawah sy, tp sy bilang rejeki bisa dicari dan diusahakan. Kemudian ibu juga bilang karena sy dan pasanganberbeda suku. Sebelumnya ibu sangat marah dg sy bahkan sampai sy telp juga tidak diangkat. Sekarang ibu sudah membaik kepada sy tp masih tidak menyetujui hub sy dengan pasangan dan tdk mau bertemu pasangan sy. Padahal adik laki2 sy sangat merasa cocok dengan pasangan sy juga. Pasangan sy tahu kalau ibu sy tdk menyetujui hub kami, tapi dia msh bersikap baik pada ibu sy dan percaya suatu saat nanti ibu pasti merestui. Akan tetapi pertimbangan sy adalah saat ini usia sy sudah tdk muda juga. Sudah hampir 30 tahun dalam hitungan bulan. Sy tdk tahu sampai kapan harus menunggu restu sementara usia sy sudah tdk muda lagi. Oya ibu sy pun pernah bilang bahwa dia takut sy tdk bahagia meskipun dia sndiri pun tdk yakin apakah pemikirannya itu benar atau tidak. Bagaimana ya ustadz apa yg hrs sy lakukan?

     
    • salwintt

      25 Juli 2012 at 12:07 am

      Terima kasih,
      Menikah lain agama jelas tidak syah, sebelum calon pasangan masuk agama kita. Pilihan tepat jika orangtua kita melarang hubungan seperti ini. Yang kurang arif, membedakan status, apakah itu ekonomi, keluarga, dsb. Benar kata anda, rezeki bisa dicari di kemudian hari dan sudah diatur oleh Tuhan. Kasus yang anda alami juga banyak dirasakan oleh orang lain. Senada saja saya sampaikan, kalau posisinya sudah seperti ini, saya menyarankan lanjutkan saja hubungan anda pada jenjang pernikahan, asal di mata anda pasangan ini adalah terbaik, bertanggung jawab, bisa dibuktikan kepada keluarga, terutama ibu anda. Jangan lupa pendekatan kepada orangtua terus dirajut, nanti Insya Allah dia akan baik pada anda dan lama-kelamaan senang pada pasangan anda. Kita harus banyak bersabar menghadapi orangtua. Karena walau kita lahir dari rahimnya, pendapat dan keinginan pasti beda-beda. Tujuannya sangat suci, tidak mau melihat anaknya hidup menderita, tapi mendabakan kebahagiaan. Padahal kita tau, mencapai kebahagian tidak semata-mata dinilai dari materi. Kunci kebahagian itu berada pada rasa kasing sayang, cinta dan saling pengertian. Selagi tujuan kita baik, tidak untuk melawan dan menentang, ada ikhtiar untuk membujuk hatinya agar bisa mengerti, maka apa yang akan anda lakukan…., lakukanlah! Wallahu a’lam bissawab…!

       
  18. umar

    3 November 2012 at 2:31 pm

    assalammualaikum ustad…..
    saya ingin menikah ustad, tetapi orang tua (ibu) pacar saya tidak setuju dgn alasan yang kurang saya pahami…..( kata pacar saya beliau tidak setuju jika anaknya menikah dgn orang bagian timur, tepatnya pacar saya anak ngawi dan saya orang banyuwangi, takut jika tidak bahagia ), yang saya mau tanyakan, apakah kami akan menjadi anak durhaka karena tidak taat sama orang tua? apakah kami akan hidup sensara jika menikah tanpa ridho ortu? terima kasi ustad

     
    • salwintt

      6 November 2012 at 8:49 am

      waalaikum salam… terima kasih pertanyaannya… karena pertanyaannya senada dengan penanya2 sebelumnya silahkan baca penjelasan di bawah tulisan ini, insya Allah terjawab, tksh

       
  19. Hamba allah

    27 April 2013 at 3:35 pm

    Asalamualaikum ustaz,,
    saya ingin hubungan saya ini diterima oleh ibu saya,,
    tapi saya masih bingung cara pendekatan kepada ibu saya,, sebab ibu saya orang yang pendiam dan saya pun kalau berbicara kadang seperlunya,,
    mohon sarannya pak ustaz?
    Wasalamualaikum

     
    • salwintt

      24 Juli 2013 at 10:29 pm

      wassalam ww, tkah, kalu blum mendesak sbr2 sj dlu, tnggu reaksi ibu. itu tndanya ibu sangat sayang dngn anda.

       
  20. wira

    6 Mei 2013 at 11:22 am

    asslam ustad…..saya mau bertanya,saya seorang pria umur 29 thn,saya ingin menikah dgn seorang wanita….tetapi kedua orang tua saya tidak stuju,dkarnakan dia mantan narapidana….saya sangad mncintai pacar saya,niat saya baik…ingin merubah kehidupan ke jalan lbih baik,tetapi orang tua saya tidak merestui dgn alasan pacar saya org tidak baik,,,minta tolong jawabannya pak ustad,smoga dapat jalan yg diridhoi allah dan kedua orang tua saya…trima kasih…asslam…

     
    • salwintt

      24 Juli 2013 at 10:25 pm

      wassalam kalau dr pihak lki2 g trllu jd masalah, krn yg menikahkan suatu perkawinan adalah ayah kandung si wanita. tp pikir2 dlu sebelum melangkh, jngn sampi gr2 pernikahan ptus hub kelg. tp klu tdk memungkinkan, nikah sj, lmbt laun jalinan kelg nnt baik kembali insy Allah.

       
  21. debi maulana

    9 Mei 2013 at 8:19 am

    asslm,,,,
    jd ksimpulanya prempuan tdk bsa nikan tnpa ortu laki2 kndung,jd sya hrus gmna pak,kmi ttap hrus nikah,

     
    • salwintt

      24 Juli 2013 at 10:20 pm

      wassalam ww hrus cri org ke3 agar orngtuanya mau membuat surat wali hakim

       
  22. lisa

    13 Mei 2013 at 8:09 am

    asslamnualaikum,,
    saya mau tanya ustad,, kpan waktu yang tepat ngobrol ma orang tua untuk menyakinkan bhwa calon saya itu pantas buatku?

     
    • salwintt

      24 Juli 2013 at 10:18 pm

      wassalam ww, sptnya anda yg lebih tau karakter orgtua kpn saat pling tpat

       
  23. devitahermawan

    25 Juni 2013 at 8:25 pm

    asalamualaikum
    sya mo menanyakan sah/tdk pernikahan apabila BPK dr pihak wanita tdk setuju dgn berbagai alasan,sedangkan IBU dr pihak wanita setuju…karna kesal IBU dari pihak wanita memberikan jln keluar utk KAWIN LARI…
    alasan BPK dr pihak wanita tdk MERESTUI karena
    1.sya orang jauh?
    2.jabatan kurang tinggi?(PNS gaji 3jt/bln)
    3.dari keluarga miskin!?
    yg ingin ditanyakan
    1.apakah sah nikah hya direstui ibu dr pihak wanita?
    2.krna largan tsb sdh sering mlakukan hub.suami istri!siapa yg salah?

     
    • salwintt

      21 Juli 2013 at 9:45 pm

      Salah satu rukun nikah ada wali. Wali dimaksud adalah orgtua si calon wanita. Walilah yang meningkahkan suatu perkawinan. Kalau wali tidak mau menikahkan, boleh wali hakim (diwakilkan) dgn catatan ada izin tertulis dari wali pertama (ayah si wanita). Kalau tdk memenuhi itu tidak sah pernikahannya.

       
  24. hasibuan

    5 Juli 2013 at 6:20 pm

    orangtua saya melarang saya menikahi wanita yang saya sukai, alasannya hanya karena dia anak angkat dan sedikit lebih tua dari saya dan jugaayah saya bilang kalau saya di dukun2 i calon saya, sangking tidak setujunya ayah saya sampai2 ayah saya mengancam jika saya tetap menikahi dia di kota tempat saya tinggal,maka saya juga calon istri saya akan di bunuh oleh tangan ayah saya sendiri, setelah itu saya berniat untuk menikahi calon istri saya di luar kota tempat saya tinggal(kabur), dalam hal ini apakah saya salah, dan apakah saya berdosa,,,,? dan apa yang mesti sya lakukan, karena saya benar2 tidak bisa meningalkan dia, dan kami saling menyayangi,

     
    • salwintt

      24 Juli 2013 at 10:16 pm

      wallahu a’lam bish-shawab, cari ketenangan dulu, dekatkan diri pada Allah, insya Allah akan ada jalan keluarnya

       
  25. dhintaaa

    2 Juni 2014 at 5:28 pm

    asslamua’laikum

    pa ustadz say a mnta sarannya..

    saya seorng wnita brumur 24 th,
    sejak lulus Dr sma sya mnjalin hubungan DG laki-laki yg masih satu kmpung DG sya..bhkan adiknya puns shbat say a sndiri..
    hubungan kmi sudah brjln 6th..sbg prempuan yg sdh mtang dr sisi umur dan mlhat lmanya hubngan kami..kami sma 2 memiliki niat utk msnyempurnakan hubungan INI mnjadi lbh bail DG pernkhan tapi psangan sya d bingungkan DG ke khwatiran ortunya yg d khwatirkan TDK terlalu suka jika anaknya mnikah DG satu kmpung krna kk Dr psangn sya tu jga mnkah DG org Dr satu kmpung dilihat bnyak mmberikan kekecewaan…
    yg sya pikirkan adalh knpa sya dianggap sma jga..apa yg hrs kami lakukan..

    sbelumnya trimaksih

     
    • salwintt

      10 Juni 2014 at 10:27 pm

      waalaikumsalam ww… kalau sudah ada kecocokan silahkan saja menikah. Belajarlah menghilangkan mitos2. Kalau kita terus memikirkan itu, kapan mau maju. terima kasih

       
  26. kahar mirza

    21 Juni 2014 at 2:19 pm

    Assalamu’alaikum.
    Saya mohon saran,
    Saya adalah lelaki berumur 25 tahun, mengenal seorang gadis berumur 21 tahun dari tempat saya bekerja. Saat berkenalan saya ada ketertarikan kepada gadis itu, dan diapun juga. Awalnya saya tertarik dengannya karena fisiknya, dana dia seorang gadis non-muslim (katholik) berdasar omongan salah satu teman kerja. Saat itu saya mulai urungkan niat untuk mengenalnya lebih jauh, namun hati ini mendorong saya untuk melihat fotonya di jejaring sosial… dan saya tertegun melihatnya memakai hijab. Dan tidak jarang dia mengucap salam, dan alhamdulillah, juga toleran dengan aktivitas ibadah saya wktu d tempat kerja. Setelah itu, saya beranikan untuk mengenalnya lebih jauh, apakah dia punya ketertarikan dalam Islam. Setelah beberapa minggu saya beranikan bertanya kepadanya tentang keimanannya dan keluarganya, ternyata dia berasal dari keluarga broken home, ibunya seorang mualaf dan ayah kandungnya beragama islam, ayah kandungnya sudah men talaq berkali2, namun tidak menceraikannya dengan baik-tetapi meminta harta sebagai syarat utk cerai. Sejak kecil ayahnya tidak membimbing ibunya tentang islam, dan sejak kelas 3 SD si gadis ini mengikut kakek nenek yg beragama katholik sampai selesai SD, dan tinggal sendiri (kos) sejak SMP sampai Kuliah (gadis ini belum dibaptis&berktp islam) dan hanya pulang ke rumah ibunya, sedangkan hub dgn ayahnya tidak harmonis dan tidak mengakuinya sebagai anak kandung. Si gadis ini sebenarnya tertarik dengan islam sudah lama, namun bingung karena kondisi keluarga dan takut tidak dibimbing dengan baik. Dia semakin tertarik dalam bbrp bulan terakhir, karena ibunya dan adik mulai belajar islam dengan ayah angkatnya. Si gadis pun, mengutarakan ketertarikannya denganku, dan bersedia menjadi mualaf asalkan saya bimbing dengan baik dan berkeinginan membina keluarga denganku kelak.. hatiku sangat bahagia saat itu, dan sempat berucap kepadanya bahwa aku akan menikahinya, dan dalam hati ini sangat ingin membimbingnya dalam nikmat iman dan Islam. Setelah pisah tempat kerja, kami hub jarak jauh lewat telpon, kadang dia tanya2 soal Islam dan shalat, namun dia saat saya tanya kapan akan mengucap syahadat? Dia menjawab, ingin lebih memantapkan hati.. dan sebenarnya dia takut bila ibuku tidak setuju dan dia hanya inginkan aku sebagai imamnya kelak.
    Perasaan dan hati ini semakin gundah, saat aku utarakan kedekatanku dengan gadis ini terhadap ibuku, ibuku langsung tidak merestui dengan dasar melihat latar belakang agama gadis ini, latar belakang keluarga, pekerjaan,tempat tinggal dan juga ekonomi.. aku berasal dari keluarga yg terpandang d kotaku, alm. ayahku adalah seorang yg aktif dalam dakwah dan agamis, dan aku seorang dokter sedangkan dia yg aku dekati adalah seorang perawat. Ibuku takut kalau di tengah jalan dia berubah iman, takut diduakan oleh anak (saya adalah anak paling akhir), dan takut kehidupanku akan bermasalah dengan keluarga perempuan (pdhl dari org tua, bahkan kakek neneknya merestui hub kami), dan takut malu akan cibiran org lain.
    Dalam hati ini gundah antara memilih menikahi gadis ini dan berjuang di jalan-Nya untuk memantapkan Islam dalam diriku dan dirinya dengan memilih ibuku yg sudah byk berkorban sejak ayahku meninggal..
    Aku sudah shalat istikharah, mohon petunjuk selama 7 hari… namun hati ini tetap berniat menikahinya karena ingin menjadi imam yg baik untuknya, akan tetapi ibu tetap tidak setuju, ibuku cemburu saat aku mengenal gadis ini, ibadahku semakin giat(hal ini aku lakukan karena ingin menjadi imam yg baik baginya kelak)….ibu mempertimbangkan pengalaman dan omongan org lain, menganggap mualaf itu bisa kembali murtad sewaktu2, dan menganggapku hanya dimabuk cinta.

    Apa yang harus saya lakukan? Durhaka kah saya bila tetap ingin menikahi perempuan ini dan menjadikannya mualaf yg baik? Dalam hati ini, saya ingin membuktikan kepada ibuku, bahwa setiap org dpt berubah asal ada niatan yg kuat dan baik…
    Apakah bila saya mengkhitbah perempuan ini sebelum menjadi mualaf tanpa sepengetahuan ibu saya, dianggap sah?
    Bagaimanakah cara meluluhkan hati ibuku agar mengerti tujuan dan keinginanku menikahinya, ibuku selalu memasang harga mati… pilih dia atau ibu..

    Terima kasih,
    Wassalam.

     
    • salwintt

      10 Juli 2014 at 8:20 pm

      wassalam ww… tidak bisa dipungkiri hingga hari ini masih banyak orangtua kita masih mendikte masa depan anaknya yang sudah dewasa, termasuk masalah jodoh. saya salut dengan teman dan kepribadian mas kahar mirza (km). semoga Allah dalam waktu dekat memberikan petunjuk terbaik. menurut hemat saya kalau memang niat suci mas km ingin menjadi imam terbaik untuk isteri dan keluarga, niat ini terus dipertahankan dan diperjuangkan. masalah hubungan dengan orangtua, kalau nanti terbukti mas km dan isteri harmonis insya Allah akan membaik kembali. niat suci untuk menikah walau bukan pilihan orangtua, tidak membuat anak durhaka, selagi kita terus mendekati dan mengabdi kepadanya, nikah yang syah adalah sesama islam, maka islamkan dulu. selalu mendekat, sopan santun, bisa membuktikan apa yang diniatkan dan diucapkan, ibu suatu ketika akan luluh juga. trims smg bermanfaat.

       
  27. Daffa

    22 Juni 2014 at 3:25 am

    Assalamu alaikum.. Saya menjanlin hubungan dengan seorang gadis (IR) karena dia menjadi perantara dalam 5x istikhoroh saya dalam hal rencana kuliah. IR sebenarnya adalah teman SMA namun selama SMA hanya mengenal nama saja. Setelah rangkaian istikhorohitu, saya memberanikan diri untuk mengenal IR lebih jauh. 3,5 tahun dekat, saya berniat meminangnya tapi IR menyarankan agar saya menyelesaikan kuliah dulu. Sambil nunggu saya lulus, IR mengambil kursus bahasa di Kediri. Sejak di Kediri, komunikasi kami berkurang hingga muncul berbagai masalah yang mengancam hubungan kami. Istikhoroh sudah kita lakukan. Saya yakin tetap melanjutkan hubungan. Sedangkan istikhoroh IR menyarankan agar minta pendapat ibu IR. IR cerita pada ibunya tentang saya yang berencana meminangnya. Lalu ibunya menyarankan agar saya menyelesaikan kuliah dulu, kata IR. Setelah itu IR memutuskan hubungan kami. Saya menghadap ibunya IR untuk bertanya langsung. Dan secara implisit beliau meminta saya melanjutkan hubungan. Setelah kedatangan saya, ternyata ada pria (PIL) yang juga datang meminang IR. Ternyata ibu IR menceritakan kedatangan saya kepada bapak IR. Lalu bapak IR berisikhoroh dan meminta 2 orang ustadz untuk istikhoroh juga. Semua istikhoroh itu memilih saya. Tapi IR sudah terlanjur yakin pada PIL. IR menolak hasil istikhoroh dan tidak mau melaksanakan nasihat orang tuanya agar memilih saya sebagai pendampingnya. Seiring waktu, sikap IR semakin keras dalam menolak perminataan orang tuanya. IR googling dan mencari dalil2 agama tentang “hukum menikah karena terpaksa” dan yakin bahwa nikah tanpa seizin gadis yang bersangkutan hukumnya adalah batal. Saya sudah menasihati IR tapi IR menolak semua pendapat yang bertentangan dengan pikirannya sekarang. Itu yang membuat saya khawatir IR nekat melakukan hal buruk. Apa yang harus saya lakukan? Mempertahankan IR atau melepaskannya? Apakah hasil istikhoroh bisa dikatakan sebagai jodoh? Terima kasih atas perhatian ustadz, saya mohon bimbingannya.

     
    • salwintt

      10 Juli 2014 at 8:27 pm

      wassalam ww… terima kasih dan salut terhadap kepedulian anda terhadap teman. selama ini kasusnya saling cinta, tpi terkendala ketidaksetujuan orangtua. yang anda alami si teman yang kurang simpatik terhadap anda. ya silahkan tidak perlu diperpanjang, biarkan dia mencari jalan hidupnya sendiri, istikhorah bukan survey perjodohan, wallahu ‘alam. trims

       
  28. none

    24 Juni 2014 at 12:10 am

    Assalamualaikumm pak ustad,, saya ingin menanyakan tentang pernikahan tanpa restu orang tua,, saya dan pasangan sudah menjalani hubungan selama hampir 4 tahun,, namun pihak keluarga saya tidak merestui saya untuk menikah padahal pasangan saya sudah beberapa kali meminta saya kepada orang tua saya,,dan pasangan saya ingin segera mengesahkan hubungan ini dikarenakan dia ingin bertanggung jawab dng apa yg slama ini telah kami perbuat dan menghindarkan kami dari dosa yg terlalu jauh,, dikarenakan selama ini kami selalu melakukan hubungan layaknya suami istri,,dan orang tua saya telah mengetahui semua itu,,namun keluarga saya tetap tidak mau merestui dikarenakan pasangan saya bukan orang kaya dan mereka menganggap saya seharusnya mendapat yg setara dengan keluarga saya,, namun saya tetap ingin menikah dengan dia dan diapun ingin melaksanankan tanggung jawabnya,,bahkan saya pernah kabur dengannya dan ayah saya menjanjikan juka saya pulang maka akan segera dinikahkan,,namun setelah sekian lama saya menagih janji tersebut ayah saya justru mengancam akan membunuh ibu pasangan saya,,sedangkan orang tua psangan saya tinggal satu2nya,,bahkan ibu saya pun pernah mengatakan saya seperti seorang purel;;,, bgaimana saya harus bersikap dalam hal ini??

     
    • salwintt

      10 Juli 2014 at 8:34 pm

      wasslam, masya Allah…. jika menyimak begitu dalamnya hubungan dengan teman anda, maka menikahlah dan hormati rasa tanggung jawab teman anda. hubungan dengan orangtua lambat laun insya Allah akan membaik selagi anda terus melakukan pendekatan. buktikan anda selalu harmonis, karena suatu ketika jika anda tidak harmonis, bumerang lebih dahsyat akan terjadi. wallahu ‘alam bissawab trims.

       
  29. hamba allah

    3 Juli 2014 at 10:39 am

    Assalamu alaikum..
    Pak z seorg ank permpuan,,z mempunyai calon org yang z zyank,,alhamdulillah z dan k’luarga.y dekat,,tp orang tua z yaitu ibu zy tdk mnyukainya,,kbtulan z org jawa,,namun calon z org dri suku lain,,ibu z tdk mnyukai suku laki” plihan z dgn alsan krn kta.y lw suku lki” plhan z org.y gni” dll,,tp mnurut z zmw suku sm pak trgntung dri pribadi.y masing”sj mw bgmn,,n alhamdulillah laki” plhan z akhlak.y baik dri k’luarga yg baik n taat beribdah,,tp d sisi lain z tdk ingn durhaka trhdap ibu z apa yg hrus z lkukan ?? N ibu z maunya punya menantu dri org militer smntra z zndri dk suka dgn org yg punya kerjaan sprti itu,,apa yg hrus z lkukan pak ?
    Trus pak ibu z org.y keras,,sebaik appun org i2 lw dia tw qt dri suku berbeda dia lgsung tdk mnyukai.y tnpa mndkati org i2 dlu n mngnal.y,,tp wlaupun org i2 ru d kenal tp lw sesama suku zy ibu zy lgsung suka,,apa yg hrus z lkukan pak ? Z jg ingn mnikah dgn org yg z zyank,,z ingn mnikah dgn restu ortu z tlong jwbn.y pak..
    Wassalamu alaikum wr.wb

     
    • salwintt

      10 Juli 2014 at 9:04 pm

      wassalam…. memang sulit memutuskannya lantaran z adalah anak perempuan. oke jika dilanjutkan ke jenjang pernikahan bisa hidup rukun dan harmonis dengan suami, jika tidak, tentu tekanan batin akan bertambah. dan perlu diingat tipe orangtua seperti ibunya z tidak sedikit di zaman sekarang ini. posisi sebagai anak serba salah, diikuti, tidak sesuai dengan hati dan tertekan batin. tidak diikuti, takut jadi anak durhaka. yang terbaik minta petunjuk Allah, shalat malam banyak2, nanti akan terbuka sendiri jalan mana yang harus ditempuh. memilih jodoh tanpa restu orangtua, tidak dikategorikan anak durhaka. tetapi seorang anak perempuan yang akan nikah yang akan menjadi walinya adalah bapak kandungnya, jika berhalangan baru saudara laki2nya, datuknya, dsb. bagaimana si gadis mau menikah sementara bapak kandungnya tidak mau menikahnya (menjadi walinya)…? wallahu a’lam bissawab, trims

       
  30. none

    14 Juli 2014 at 8:02 pm

    Sejak pulangnya saya setelah saya pergi dari rumah tersebut saya telah melakukan semua yg orang tua saya mau,, saya menuruti segala perintahnya dgn maksid supaya orang tua saya luluh,, bahkan pasangan saya tersebut sudah mencari pekerjaan yg layak,, alhamdulillah dgn gaji 3jt/bln insaallah cukup untuk kebutuhan sehari* ,, namun orang tua saya tetap tdk mau karena psangan saya blm menjadi bos dan hanya bekerja pada orang lain,,sedangkan ibu saya pernah bersumpah tidak akan menerimanya sebelum dia menjadi bos besar,, bagi sy rzqi sudah ada yg mngatur,, namun org tua saya sllu menentang bahkan pergi ke dukun untuk memisahkan saya,, memang dikeluarga saya agama bukanlah hal yg harus dan wajib di jalankan dan bukan menjadi panutan mereka dalam bersikap,,bahkan yg mengajarkan saya sholat pun adalah pasangan saya,,

     
  31. none

    14 Juli 2014 at 8:08 pm

    Lalu bagaimana dengan wali saya pak ustad?? sedangkan ayah saya pun tidak mau menikahkan saya,, kaka laki* saya juga tidak berani menjadi wali saya karena dia sendiri belum menikah dengan alasan yg sama,, yaitu tidak di restui,, tentang ayah saya bukankah seorang muslim yg mninggalkan shalat dalam jangka waktu tertentu adalah seorang kafir?? Dan secara otomatis hak perwaliannya batal??

     
  32. hamba Allah

    14 Juli 2014 at 10:33 pm

    assalamualaikum ustad..saya mau bertanya..
    dulu sebelum menikah ortu saya g mnyetujui kami utk mnikah..padahal niat saya menikah utk menuntun suami saya yg dulu seorang pemabuk..saya kasih tahu niat saya mnikah utk itu & mnghindari hal” yg mngandung dosa..tapi tetap saja ortu tdk setuju walopun pada akhirnya pas hari H menikah itu ayah sya mau jadi wali.kadang saya merasa kalo saya ini amat sangat durhaka ke ortu saya..karena baru kali ni saya g nurut mereka.mohon pencerahannya ustad bagaimana caranya kita utk mmperoleh ampunan dr Allah..stiap ingat tentang RIDHO ALLAH ITU RIDHO ORTU..saya merasa takut..tapi alhamdulillah sekarang ortu sudah mulai mnerima pernikahan kami..tapi hati ini tetep aza masih merasa bersalah

     
    • salwintt

      26 Juli 2014 at 11:23 am

      wassalamu ‘alaikum wb wb alhamdulillah pada diri anda mencerminkan pengabdian yang tinggi kepada orangtua. usaha saja terus menerus untuk mendekati orangtua. sadari sesungguhnya apapun yang dilakukan kedua orangtua hanya demi anak” dan keluarganya. selalu bercerita tentang kebahagian rumah tangga anda, jangan menceritakan yang jelek”. apalagi nanti kalau putra anda lahir selalu dekatkan pada mereka, insya Allah hubungan keluarga akan harmonis kembali. untuk saat ini lebih perbanyak ibadah, zikir, tafakkur, baca qur’an dan do’a. obat mujarab bagi penyakit hati (gundah gulana) adalah membaca al-qur’an, karena al qur’an adalah ash-shifa’ (obat penawar). terima kasih, wallahu a’lam….

       
  33. seera

    25 Juli 2014 at 11:55 am

    Assalamuailaikum wr wb..ustadz saya ingin bertanya…si A (perempuan) menikah dg si B (laki laki)..mereka melakukan pernikahan secara siri..si A dijadikan istri ke 2,,pada saat si A menikah,A meminta diwalikan dg org lain sbagai wali nikahnya padahal orang tua khususnya ayah si A masih hidup..menurut ustadz bagaimana hukum pernikahan mereka?..

     
    • salwintt

      26 Juli 2014 at 11:00 am

      Wa’alaikum salam ww… Urutan Wali, ayah kandung, kakek dari ayah, saudara laki2 kandung, saudara laki-laki seayah dst… kalau ayah dan kakek sudah tidak ada lagi yang jadi wali otomatis saudara laki-laki kandung. Tapi ingat wali yang dimasksud adalah dari pihak perempuan bukan laki-laki. Karena yang menikahkan itu adalah wali dari perempuan. tidak boleh melangsungkan pernikahan jika diwalikan pada orang lain tanpa sepengetahuan (izin) wali yang syah. terima ksih.

       
  34. Pru Beni Subianto

    26 Juli 2014 at 12:21 am

    assalamualaikum ustadz.. saya Beni umur 26 jalan…
    saya sudah lama kenal dengan ikhwat saya smnjak kuliah kira” hampir 3 thunan,, alhamdulillah kami bisa saling menjaga dari zina fisik (senggama) yaa wlw terkadang sering tak terlewat dari zina mata, lisan dan hati. calon saya sudah lulus kuliah dan saya msh dalam kuliah tapim kami 1 angkatan yg sma dan umur kami beda 3 tahunan.. keterlambatan saya untuk lulus kuliah karena saya terlalu sering berjibaku dalam dunia bisnis dan sering lalai dengan kuliah saya,,, tapi saya tetap meelanjutkan kuliah saya sampe selesai karena saya sadar itu akan jadi kado terindah untuk ortu saya nanti.
    calon saya ingin cepet menikah dan saya pun begitu karena terlalu lama berkenal dan zina” kecil yang tak terhindarkan… saya berniat untuk melamar dia dan menikah cepet kemudian agr tak ada lagi dosa kecil yang kami lakukan.. hanya saja orantua saya mengharuskan kuliah selesai dulu baru setelah itu terserah,, tabungan untuk memberikan cincin sebagai mahar in.allah seidikit lagi tercapai karena calon ikhwat tidak terlalu meminta macem” (tidak neko”). calon saya menganjurkan untuk menikah secara agama dulu (nikah siri).
    tapi saya bingung dengan kondisi orantua saya gimana,,, pertanyaan saya :

    1. bagaimana saran ustadz jka saya dan ikhwat saya menikah siri tanpa saya memberitahu dahulu ortu saya.. (keluarga dari ikhwat menganjurkan kami cepat menikah)???
    2. bagiamna saya harus bertindak ya ustadz dalam situasi ini..?? saya terus istikharah kpd Allah..
    3. durhaka kah saya yang menikah tanpa izin ortu dulu (tapi ortu saya sudah kenal dan ketemu dengan calon ikhwat saya)??

    mohon nasihat nya ustadz,, saya bener” dilema,,
    Semoga Allah selalu memurahkan rizky nya kpd ustadz. amiinn…

     
    • salwintt

      26 Juli 2014 at 10:44 am

      wasslam, terima kasih, tidak jauh berbeda. dulu saya juga ingin cepat menikah dengan alasan serupa. saya menikah umur 23 th semester vii. dua tahun kemudian anak pertama kami lahir dan waktu itu saya belum memiliki pekerjaan. betul masalah rezeki Allah yang mengaturnya, alhamdulillah kehidupan kami biasa2 sj bahkan ketika anak kami berusia 7 bulan ibuny pun berhasil menyelesaikan kuliahnya. dalam situasi seperti itu jika dilandasi rasa cinta yang benar” datang dari dalam qalbu, semua liku” kehidupan terbawa indah. apalagi kita sebagai seorang laki” yang bakal menajd pemimpin rumah tangga wajib mampu mengendalikan perahu yang kita bawa. jika posisi anda sebagai seorang wanita memang agak rumit, karena yg menikahkannya adalah wali (orangtua kandungnya), sementara kasus ini malahan keluarga mereka yang mendesak agar anda segera menikah. ya lanjutkan saja ke jenjang pernikahan resmi g’ usah pakai siri” segala. masalah hubungan dengan orangtua, karena dilandasi rasa cinta, patuh pada agama dan niat untuk membangun keluarga sakinah mawaddah dan rahmah, yakinlah suatu ketika insya Allah tidak hubungan keluarga akan harmonis kembali, dan terhindar dari kedurhakaan. SEMOGA! wallahu a’lam bissawab terima kasih

       
  35. deni

    2 Agustus 2014 at 1:28 am

    Assalamu’alaikum pa ustad
    nama saya deni laki2…… umur saya 39thn,
    saya mempunyai seorang pacar dan saya sdh berpacaran slama 2thn, sy ingin sekali melamarnya, dan dia juga ridho dg lamaran saya, kami saling mencintai, kami sdh tdk mau berpisah lagi, saya dan dia ingin beribadah sungguh2, kami ingin menikah, jujur kami sdh sering melakukan berbuat zinah, kami sdh tdk sanggup lg melawan godaan zinah, kami ingin bertobat dg cara menikah, pcr sy anak yatim, dia mempunyai kaka laki2 dua, tapi permasalahannya seluruh kluarga dia tdk setuju dg sy, dg alasan umur yg jauh, materi, tampang, dll, malah kluarganya pnh mengancam ingin membunuh saya, bahkan kakanya pnh mengajak sy berantem, sy sering di fitnah, di caci maki, dihina, dihujat, diancam keselamatan sy oleh kluarganya, pdhl scara sosial kluarga sy jauh lbh baik dri kluarganya, kluarga sy kluarga berada, terpandang, kluarga dia sering ke dukun, rentenir, tdk paham agama, bahkan ibunya suka mencaci maki anak kandungnya sendiri, keluarganyapun dipandanh tetangganya jelek, ternyata kluarganya bkn ke saya aja menghujat, memaki, menghina, memfitnah, kpd org lain yg mrk tidak senangi akan berbuat hal yg sama, didalam kluarganya kata2 kotor, binatang udah menjadi hal biasa, sebenarnya juga termasuk pacar sy, suka memaki sy, menghina saya, tapi sy berpendapat mungkin setelah menikah dan hdp dg saya, sy ada niat tulus ingin membimbing dia ke arah yg benar, prilaku kluarganya sangat jauh dg prilaku kluarga saya, skr kami sedang menunggu surat dari Pengadilan Agama utk wali adhol, saya ingin meminta nasehat dari pa ustad ttg hal ini, apakah saya tetep harus menikahi dia atau tidak, tapi kami saling mencintai….sebelum nya sy ucapkan terima kasih, Wassalamu alaikum wr wb

     
    • salwintt

      8 Agustus 2014 at 10:04 pm

      Wassalamualaikum WW…! Terima kasih. Hukum nikah itu wajib, sunah, mubah, makruh dan haram sesuai kondisinya. Melihat kasus anda, mampu, usia sudah matang, tidak bisa menahan nafsu maka hukumnya wajib nikah. Apalagi, masya Allah… anda dengan jujur menceritakan telah melakukan hubungan suami isteri. Maka sebagai rasa pertanggungjawaban anda terhadap pasangan anda dan kepada Allah SWT maka sebaiknya anda segera menikah. Masalah-masalah dengan keluarga teman anda diabaikan dulu. Nanti setelah menikah baru dilakukan pendekatan secara baik-baik dan penuh kesabaran. Yakinlah jika nikah diiringi niat ingin ibadah, taubat, dan menciptakan keluarga sakinah, mawaddah dan rahmah, Allah akan selalu memberi petunjuk dan suatu ketika keluarga di antara kedua pihak akan harmonis kembali. Wallahu a’lam bishshawab…!

       
  36. hamba Allah

    3 Agustus 2014 at 1:32 am

    Assalamualaikum ustadz…
    Sudah 3 tahun saya menjalin hubungan dengan seorang pria.. jujur saja dia seorang duda beranak 1. Akhir tahun ini kami berencana menikah.kebetulan ayah saya sudah meninggal dunia…yang menjadi permasalahan…
    Ibu saya adalah seorang janda . Beliau suka berpakaian seksi dan keluyuran malam … hal itu pula yang membuat calon suami saya membenci ibu saya… dengan alasan ibu saya bukan ibu yang baik. Apakah salah jika saya menikah dengan nya ustadz? Masalah yang ke 2 calon suami saya berencana melamar saya dengan uang seadanya…namun ketika saya mhon izin dengan ibu saya. Beliau menolak dengan alasan tidak cocok dg suami saya. Dan memberi syarat yg mengharuskan membawa uang lamaran yang banyak. Hal itu tentu saja membuat saya terpukul..beliau bilang jika ingin membahagiakan dia tolong jadikan resepsi pernikahan..tapi kalau saya tidak melakukan resepsi pernikahan ibu saya bilang …saya anak yang tidak bs membahagiakan org tua. Apa yg hrs saya lakukan? Sedangkan calon pendamping sy org yg sederhana…saya benar2 bingung.apa kah saya berdosa jika saya tetap menikah tanpa restunya?

     
    • salwintt

      8 Agustus 2014 at 9:47 pm

      Wassalamualaikum ww… terima kasih. Jika terpenuhi rukun dan syarat nikah maka syahlah nikah itu. Tidak pernah ada kewajiban untuk mengadakan resepsi pernikahan. Resepsi hanya sekedar saksi kepada keluarga dan teman-teman bahwa kita telah menikah. Menyimak kasus anda memang suatu dilema yang perlu diselesaikan secara serius. Tetapi melihat kondisi ibu anda jangan terlalu dikhawatirkan, dalam artian anda tetap sopan dan patuh padanya. Bagaimanapun, dia adalah ibu anda. Tentang larangan agar anda tidak menikah dengan teman anda, abaikan dulu, karena alasannya tidak terlalu mendasar. Jika anda yakin akan bahagia jika menikah, silahkan menikah dengan sederhana saja sesuai kemampuan dan kesepakatan. Dengan catatan ibu anda terus didekati secara perlahan, insya Allah suatu saat nanti akan membaik. Menikah dengan tujuan suci, tidak berniat menyakiti dan meninggalkan orangtua, Insya allah tidak tergolong dosa, sesuai kasus yang anda alami. Semoga dengan pernikahan anda nanti ibu anda mendapat hidayah, meninggalkan kebiasan seperti yang anda ceritkan, endingnya terciptalah keharmonisan keluarga besar anda dari kedua belah pihak. Wallahu a’lam bissawab.

       
  37. Jery Marisa

    26 Agustus 2014 at 12:44 pm

    Assalamualaikum Ustad..
    Saya seorang wanita berumur 23 tahun dan seorang yatim. Tepatnya 1.5 tahun yang lalu saya dilamar seorang pria yang dijodohkan oleh ibu saya dan si ibu mengiyakan dengan mahar tertentu. Sedangkan saya dan keluarga tahu bahwa saya sudah menjalin hubungan dengan teman lain yang saya ridhoi baik fisik maupun batinnya.
    Sekarang tepatnya 2 minggu yang lalu, Teman lelaki saya melamar kepada wali saya (kakak ayah) saya dan merestui jalan kami. Kami sudah melakukan berbagai upaya untuk meluluhkan hati ibu saya. Bahkan dengan niat mengganti mahar tersebut yang sudah diberikan oleh laki-laki lain kepada saya.
    Yang mau saya tanyakan pak Ustad apakah saya berdosa apabila saya tetap ingin menikah dengan pilihan saya sendiri sedangkan ibu tidak merestui karena ibu memandang hal duniawi yang saya dan calon saya belum sanggup menyangupinya. Sedangkan kami ingin terhindar dari zina.
    Maaf pak Ustad saya sudah menanyakan ke banyak ulama di tempat saya tapi mereka menyarankan untuk tetap melanjutkan pernikahan. Hanya saja pa Ustad yang mengganjal adalah kata-kata ibu saya bila saya menikah tanpa restunya beliau menghardik saya adalah anak yang durhaka dan celaka dunia akhirat.

    Wss.. Thanks

     
    • salwintt

      30 Agustus 2014 at 1:59 am

      waalaikum salam…. terima ksh. banyak pertanyaan sejenis. coba2 baca2 jawaban sy ats pertanyan2 sebelumnya di artikel ini, semoga bs terjwb. trimaksih

       

Berikan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

%d blogger menyukai ini: