RSS

Hakikat Silaturahim

11 Sep

Hakikat Silaturahim

‘Jendela Hati’ hadir kembali, dengan tema hakikat silaturahim. Secercah penyejuk jendela hati lebih memahami makna silaturahim, yang sedang kita laksanakan ketika 1 Syawwal bersua.

Idul Fitri 1431 H akhirnya tiba juga. Identik dengan hari lebaran ajang silaturahim saling mengunjungi, saling maaf sebagai aplikasi perintah agama untuk senantiasa menjalin silaturahim.

 “Dan bertakwalah kepada Allah yang dengan (mempergunakan) nama-Nya kamu saling meminta satu sama lain dan (peliharalah) hubungan silaturrahim (Arham). Sesungguhnya Allah selalu menjaga dan mengawasi kamu”. (QS. An-Nisa[4]:1)

Silaturahim secara bahasa bearsal dari dua kata yaitu silah (hubungan) dan Rahim (Rahim perempuan)yang mempunyai arti Hubungan nasab, sebagaimana ayat diatas kata al-Arham (rahim) diartikan sebagai Silaturahim. Namun pada hakikatnya silaturahim bukanlah sekedar hubungan nasab, namun lebih jauh dari itu hubungan sesama muslim merupakan bagian dari silaturrahim, sehingga Allah mengibarat kan umat Islam bagaikan satu tubuh. Sebagaimana firman Allah, “Sesungguhnya orang-orang mu’min adalah bersaudara, karena itu damaikanlah antara kedua saudaramu dan bertakwalah kepada Allah supaya kamu mendapat rahmat.” (Al-Hujurat[49] :10).

Hubungan persaudaraan inilah yang menjadikan sesama muslim mempunyai kewajiban untuk saling membantu, saling menghormati, menjenguk ketika sakit, mengantarkan sampai ke kuburan ketika meninggal dunia, saling mendoakan, larangan saling mencela, menghasud dan lain sebagainya.

Alqur`an telah banyak menceritakan kisah terputusnya silaturahim, padahal mereka mempunyai hubungan nasab. Diantaranya, Nabi Ibrahim AS menjadi jauh dengan dengan bapaknya dikarenakan bapaknya seorang Musyrik. Malah doa nabi Ibrahim untuk bapaknya sendiri tidak dikabulkan oleh Allah SWT, sebagaimana firman-Nya, ‘Dan permintaan ampun dari Ibrahim (kepada Allah) untuk bapaknya tidak lain hanyalah karena suatu janji yang telah diikrarkannya kepada bapaknya itu. Maka, tatkala jelas bagi Ibrahim bahwa bapaknya itu adalah musuh Allah, maka Ibrahim berlepas diri dari padanya. Sesungguhnya Ibrahim adalah seorang yang sangat lembut hatinya lagi penyantun”. (QS At-Taubah[9]:114).

Nabi Luth AS harus berpisah dengan istrinya dikarenakan tidak mau mengikuti ajarannya, sehingga Allah SWT mengadzabnya bersama kaum yang lainnya, Nabi Nuh AS harus berpisah dengan anaknya Kan`an dikarenakan tidak mau mengikuti ajarannya, sehingga Allah SWT menenggelamkannya bersama umat yang lainnya. Begitupun dengan Nabi Muhammad SAW tidak bisa bersama-sama didalam surga bersama pamannya Abu Thalib, padahal pamannya sangat menjaga dan menyayangi beliau.

Untuk menghindari terputusnya silaturahim, Allah SWT mengajarkan sebuah doa supaya senantiasa ada dalam keimanan,”Ya Tuhan kami, janganlah Engkau jadikan hati kami condong kepada kesesatan sesudah Engkau beri petunjuk kepada kami, dan karuniakanlah kepada kami rahmat dari sisi Engkau; karena sesungguhnya Engkau-lah Maha Pemberi (karunia).” (QS Ali Imran[3].

Selamat bersilaturahim, supaya umur kita lebih panjang, rezeki kita lebih murah dan urusan kita senantiasa dipermudah.

Wallahu a`lam bi ash-Shawab.

 
Tinggalkan komentar

Ditulis oleh pada 11 September 2010 in Uncategorized

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: