RSS

Telanjang, Benar-benar Bersih

13 Sep

Jendela Hati Hari ini

ADALAH Nabi Musa As orang yang tidak bisa menyaksikan ketidak-adilan di depan mata kepalanya sendiri. Sungguh jika melihat ketidak-adilan, sakit teramat perih dalam hatinya.  Ia pun mengajukan protes kepada Tuhan, dan meminta keadilan kepada-Nya.

Tuhan mengabulkan permohonan Musa As, dengan memerintahkan ia bersembunyi di tepi sebuah danau, seraya memperhatikan peristiwa-peristiwa yang terjadi di tempat itu, dengan catatan Musa As tidak boleh campur tangan apapun yang terjadi.

Pada suatu siang yang terik, tatkala Musa As telah asyik mengintip di balik rerumputan yang tumbuh di tepi danau, tiba-tiba muncul seorang pemuda gagah dan tampan menghentikan kuda tunggangannya. Ia beristirahat di bawah pohon dan tertidur walau hanya sekejap. Begitu terjaga ia langsung melompat ke atas kudanya dengan tergesa-gesa, sampai bungkusan yang dibawanya tertinggal.

Tidak berapa lama kemudian datang dua orang anak gembala. Melihat bungkusan yang tak bertuan, langsung saja mereka bawa pergi. Mereka tidak tahu apa sebetulnya isi bungkusan tersebut. Yang jelas dari pemiliknya yang tampaknya putra saudagar kaya, pasti isinya benda-benda sangat berharga.

Musa As hanya bisa memandang diam. Ia tidak berani menegur dan mencegah, sebab begitulah kesepakatannya denga Tuhan.

Matanya kemudian terbelalak penuh keheranan karena tidak lama kemudian, seorang kakek tua terseok-seok pergi ke tepi danau. Saking letihnya kakek itu pun beristirahat di bawah pohon persis di pohon tempat peristirahatan pemuda sebelumnya. Belum sempat sempat si kakek memejamkan mata, pemuda tadi datang dengan wajah berang. Ia melompat turun dari kudanya langsung menghardik orangtua itu, “Hai orangtua, kembalikan bungkusan milikku!”

Tentu saja si kakek tidak tahu menahu, kaget. Dan Nabi Musa As berdiam menjadi saksi “bisu” bahwa orangtua tersebut tidak mengambil bungkusan dimaksud. Sayang, ia tidak boleh menampakkan diri. Tetapi pemuda hartawan itu tetap menuduh si kakek yang tak berdaya itulah yang telah menyembunyikan bungkusannya di suatu tempat untuk diambil setelah ia pergi. Saking marah dan emosi meluap, karena berharganya isi bungkusan tadi, pemuda itu lepas kendali, lantas memukul si kakek sampai babak belur dan akhirnya meninggal dunia. Malang benar nasibnya.

Kini Musa As tak mampu lagi menahan diri. Ia menggugat Tuhan. “Sungguh, Engkau tidak adil wahai Tuhanku, seandainya Engkau tidak berkenan menjelaskan peristiwa tadi kepadaku. Siapa mereka sebenarnya? Kenapa orangtua yang tak bersalah itu harus menjadi korban?”

“Dengarkan baik-baik wahai Musa,” firman Allah SWT. “Pada zaman sebelum kamu, ada dua orang bersahabat yang bekerja sama membangun suatu usaha. Sesudah kaya raya, malah mereka saling bersengketa. Karena salah seorang dari mereka memiliki sifat serakah dan pendengki, orang ini lalu menyewa penjahat untuk membunuh teman usahanya. Setelah itu ia merampas semua kekayaan milik bekas sahabatnya itu sampai anak-anaknya terlunta-lunta.” Karena kurang puas, Musa As bertanya, “Apa hubungan mereka dengan peristiwa yang kusaksikan siang tadi?” Jawab Tuhan, “Ketahuilah wahai Musa! Kedua anak gembala yang mengambil bungkusan si pemuda itu adalah anak-anak pengusaha yang telah terbunuh. Sedangkan bungkusan tersebut berisi permata berlian kepunyaan ayah mereka.” Musa As terus mengajukan pertanyaan, “Lantas bagaimana dengan si kakek yang menjadi korban?”

Allah SWT berfirman, “Musa, camkanlah, bahwa hukum-Ku sangat adil. Aku tak akan sewenang-wenang menghukum manusia tanpa sebab. Ketahuilah bahwa si kakek itu adalah penjahat yang disewa untuk membunuh ayah dari kedua anak yatim tadi.” Musa As terkejut, tetapi ia masih penasaran dengan terus bertanya, “Lalu siapa pemuda itu, ya, Tuhanku?” Allah  SWT melanjutkan, “Dialah putra dari pengusaha yang jahat itu. Kelak setelah anaknya pulang tanpa membawa bungkusan berisi permata berlian tadi, ia tak kuat menahan kekecewaannya, sampai akhirnya terkena serangan jantung dan tewas seketika pula.” Nabi Musa As terangguk-angguk, tanda paham. Ia lebih tertunduk malu tatkala Tuhan mengingatkan, “Karena itu wahai Musa, mulailah belajar agar kau mudah mengenalikan dirimu sendiri dan mudah pula mengenali Tuhanmu. Sehingga kamu tidak ragu-ragu menerima kebenaran tindakan-Ku dan memahami keadilan keputusan-Ku.”

Barangkali inilah tamsil bagi orang-orang yang telah bertahun-tahun bahkan puluhan tahun tidak berani ‘menelanjangi’ diri sendiri, sebelum akhirnya Allah SWT yang ‘menelanjangi’ mereka. Mereka yang selama ini lebih banyak menipu diri sendiri setelah puas menipu orang banyak, sambil dengan santai menikmati kemewahan hidup, di atas keringat dan air mata orang lain. Hei, mengerikan.

“Apakah kamu mengira bahwa ketidak-adilan yang diperbuat oleh orang-orang itu tidak mendapat ganjaran yang setimpal dari Allah? Apakah kamu menyangka bahwa Tuhan telah mati bersama dengan kematian nurani para penjahat kemanusiaan itu? Tidak. Sekali-kali janganlah kamu meragukan kehadiran Tuhan di sisi umatnya yang tertindas dan teraniaya. Tuhan akan selalu hidup di hati mereka yang bersih, di jiwa meraka yang jujur, dan di nurani yang tulus. Tuhan pun akan selalu hidup melalui tangan-tangan mereka yang kurus tak terurus, melalui kekuatan air mata mereka yang di‘yatim’kan dan melalui kefasehan lidah mereka yang di’miskin’kan. Di saat itulah mereka merasa senasib sepenanggungan akan berjuang bersama-sama untuk menuntut hak-hak mereka yang selama ini disia-siakan.”

Terbentang luas, dan tinggal pilih, jalan mana yang harus ditempuh. Jangan tunggu masa,ketika kata-kata tak lagi bermakna, pidato tak lagi didengar dan nasehat tak lagi dipatuhi. Yang dibutuhkan hanyalah kerja nyata.

Bagi mereka yang hidup  bersama nasi putih dan singkong rebus, jauh lebih bermakna daripada makan roti dan keju, namun hanya ada dalam janji-janji belaka. Mereka butuh hidup sejahtera dan masa depan anak cucunya lebih baik dari mereka. Kalau itu pun tidak ada, maka janganlah kamu salahkan mereka jika mereka harus berteriak di jalanan tanpa memperdulikan teriknya matahari, tanpa merasakan dinginnya hujan di malam hari. Heran, mengapa ada orang bicara banyak atas nama kami, tetapi justru orang itu telantarkan kami?

“Kita mesti telanjang dan benar-benar bersih, suci lahir dan di dalam batin…” begitu bait sair Ebit G. Ade mengantarkan kita untuk menuju keadilan hakiki.

Wallahu a’lam

 
Tinggalkan komentar

Ditulis oleh pada 13 September 2010 in Uncategorized

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: