RSS

Isteri Shalehah

08 Okt

Isteri Shalehah

Kembali ‘JH’ berbagi khasanah, kali ini menyinggung isteri shalehah. Semoga menjadi renungan bagi kaum hawa untuk mengambil i’tibar dalam hidup dan kehidupan sehari-hari.
Menjadi Isteri shalehah bukanlah perkara gampang di tengah arus modernitas saat ini. perlu keikhlasan dan keistiqomahan untuk menjalankan perannya. sebagai istri, tugas merapikan urusan rumah tangga, seperti menyapu lantai, mencuci pakaian, memasak dan menyetrika memang terkesan tidak bergengsi. Tak boleh malu, jika ikhlas dan amanah, akan menjadi tabungan pahala yang sangat besar. Bukankah seorang istri melakukannya tida henti selama hidupnya? Sabda Raullullah SAW: “Seorang wanita adalah pengurus rumah tangga suaminya dan anak-anaknya, dan ia akan dimintai pertanggung jawaban atas kepengurusannya”(HR. muslim)

Isteri solehah selalu menjaga kehormatannya. Caranya : tidka mengumbar aurat atau tabarruj, tidak sembarangan menerima tamu laki-laki, tidak keluyuran ke tempat-tempat maksiat, tidak menghabiskan sebagian waktunya untuk ngerumpi, menonton televisi atau sekedar jalan-jalan di mal tanpa tujuan.

Ia amanah menjaga harta suami. Caranya : tidak berfoya-foya, tidak menggadaikan barang tanpa izin, memberi utang tanpa sepengetahuan suami atau kredit ini-itu diluar batas keungan keluarga.

Ia pun melayani suami dengan ikhlas. Caranya: menyediakan keperluan suami, berdandan hanya untuk suami, tidak menolak permintannya selama suami tidak memerintahkan maksiat atau melarang melakukan perintah Allah SWT.

Bagi isteri yang dikaruniai anak dan menjadi seorang ibu, bertambah lagi hukum-hukum syara’ yang harus ia jalankan untuk menjadi isteri solehah. Ia diamanahi Allah SWT untuk menyusi darah dagingnya selama dua tahun. Wanita shalehah tak akan enggan melakukannya, apalagi jika dalihnya hanya karena takut keindahan bentuk tubuhnya memudar. Menyusui anak dengan ASI adalah tugas utama seorang ibu shalehah.

Lalu, ia wajib mendidiknya agar mengenal Sang Pencipata, mengajarinya mengenal berbagai benda -benda, menghitung, membaca hingga usia baligh tiba, Ia wajib mempersiapkan anaknya agar mengenal syariat Islam. Ia wajib mendidiknya hingga mampu mandiri.

Sebagai anggota masyarakat, seorang muslimah memiliki tanggung jawab sosial terhadapa lingkungannnya. Ia hidup di tengah-tengah masyarakat yang bisa jadi membutuhkan tenaga atau ilmunya. Ia wajib mengaplikasikan ilmunya jika itu membawa kemaslahatan bagi lingkungannaya. Ia wajib turut menciptakan lingkungannya yang kondusif bagi perkembangan seluruh masyarakat, termasuk anak-anaknya.

Wanita Sholehah selalu kritis terhadapa kondisi lingkungannya. Ia tak akan segan menasehati tetangga, teman bermain anaknya atau siapa saja di lingkungannya jika mereka melakukan kemakasiatan atau perbuatan yang merugikan. Ia mengajarkan agar masyarakat cerdas.

Muslimah berkewajiban untuk berdakwah, menyeru kepada Islam, menginngatkan kepada kebajikan. Sabda Rasullullah SAW : “Siapa saja yang bangun pagi-pagi tetapi tidak memperhatikan urusan kaum muslimin, maka ia bukanlahgolongan mereka” (HR Ath-Thabari). Wallahu a’lam…

 
Tinggalkan komentar

Ditulis oleh pada 8 Oktober 2010 in Uncategorized

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: