RSS

Maknai Arti Hidup

22 Nov

Maknai Arti Hidup
Sudah kurasakan manusia itu lahir, tumbuh dan berkembang menjadi anak-anak, remaja, dewasa lalu tua dan akhirnya meninggalkan dunia ini. Ini perjalanan anak manusia yang normal. Hakekat hidup adalah menjalani. Sebagian orang sering berkata dengan landai, sudahlah hidup ini “Jalani saja”. Mungkin sebagian kita bertanya, mengapa tidak berusaha sekuat tenaga? Dua-duanya pada hakekatnya adalah benar, hanya di letakkan pada situasi yang tepat di mana ungkapan itu dituturkan. Manusia merupakan makluk paling sempurna di muka bumi, kesempurnaanya di letakkan dalam akal dan pikiran. Sedangkan akal dan fikiran memiliki kekuatan karena adanya Zat Mulia dari Allah yang sering disebut dengan Zat Ilahi atau Ruhul Qudus yang ada dalam diri manusia. Lalu manusia dikatakan Wali di muka bumi, wakil Allah untuk memelihara dan memanfaatkan bumi dan isinya. Sebagai catatan saja bahwa manusia dalam memelihara dan memanfaatkan bumi dan isinya harus sesuai dengan aturan yang telah ditetapkan sebagaimana firman Tuhan dalam kitab-kitab-Nya.
Bila sebagian manusia berujar ” Hidup ini jalani saja… atau hidup ini tinggal menjalani…”. mungkin mereka mendasari dengan keyakinan yang sangat tinggi bahwa apa yang terjadi kepada diri kita dan semua manusia, itu merupakan “ Kejadian yang terbaik ”, dan sesuai ketentuan yang telah ditentukan oleh Tuhan. Tentunya hal itu sesuai dengan amal perbuatan masing-masing manusia. Sehingga dalam firman-Nya “Sekecil apapun perbuatan manusia, walaupun sebiji zarah, maka akan dibalas,” Artinya juga bisa dimaknai “ Baik dengan baiknya, buruk dengan buruknya”.
Penyederhanaan ungkapan “hidup ini jalani saja,” sesungguhnya mengadung makna yang sangat dalam, di mana ungkapan tersebut terdapat perilaku sederhana, jujur, iklas dan legowo. Tentunya dalam ungkapan tersebut mempunyai implikasi “Mencoba menikmati detik demi detik seiring perjalanan waktu “. Nah dalam kesadaran yang demikian tinggi itulah sesungguhnya manusia mampu berfikir dengan tenang, arif, lembut dan teliti. Akhirnya manusia bisa menikmati hidup dan mengurai persoalan demi persoalan, sehingga mampu mendapatkan hakekat peristiwa yang dialami yang akhirnya mendapat manfaat dan berkah dalam setiap langkah, inikah wujud ibadah sesungguhnya? Lantas apa yang dimaksud dengan persoalan hidup? Sesungguhnya tergantung dari mana sisi pandang serta bagaimana menyikapinya. Mungkin demikian?
Yang diangankan dan yang dicita-citakan manusia adalah bahagia, selamat di dunia dan di akhirat. Dan yang ditakuti adalah persoalan. Padahal keduanya merupakan untaian setali tiga uang. Satu keping uang yang bernilai sama, hanya berbeda gambaran. Apakah akan mempersoalkan gambarnya? Atau mencoba memanfaatkannya sesuai nilainya, untuk mencapai tujuan? Sebagai renungan saja, ketika nyawa dijemput ketika itu itu permasalahan dunia tertutup habis. Lalu apakah benar-benar habis?

 
Tinggalkan komentar

Ditulis oleh pada 22 November 2010 in Uncategorized

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: