RSS

Sifat Muraqabah Melahirkan “Permata Negara”

22 Nov

Sifat Muraqabah Melahirkan “Permata Negara”

Kisah 1
Diriwayatkan oleh Abdullah bin Dinar r.a bahawa pada suatu hari beliau berjalan dengan Khalifah Umar bin al-Khattab r.a. dari Madinah menju ke Makkah. Di tengah perjalanan mereka berjumpa dengan seorang budak gembala yang sedang turun dari tempat pengembalaan dengan kambing-kambingnya yang banyak.

Khalifah ingin menguji sifat amanah budak pengembala tersebut. Khalifa berkata, “Wahai pengembala, juallah kepadaku seekor anak kambing dari gembalaan ini.” Jawab budak gembala, “Aku ini hanya seorang budak hamba sahaya.” Maka berkata Khalifah lagi, “Katakan saja pada tuanmu, anak kambing itu telah dimakan oleh srigala.” Budak gembala itu menjawab, “Kalau begitu dimana Allah?”

Jawaban anak muda yang ringkas tersebut meremangkan bulu roma dan menyebabkan air mata Khalifah Umar r.a menetes. Kemudia beliau telah membeli hamba pengembala itu dan memerdekakannya.

Kisah 2
“Khalifah Umar al-Khattab r.a sangat terkenal dengan kegiatannya meronda pada malam hari di sekitar daerah kekuasaannya. Pada suatu malam beliau mendengar dialog seorang anak perempuan dengan ibunya, seorang penjual susu yang miskin.

Kata ibu, “Wahai anakku, segeralah kita tambah air dalam susu ini supaya terlihat banyak sebelum terbit matahari”. Anaknya menjawab, “Kita tidak boleh berbuat seperti itu ibu, Amirul Mukminin pasti melarang dan akan menghukum kita jika berbuat begitu.”

Si ibu masih mendesak, “Tidak mengapa, Amirul Mukminin tidak akan tahu lebih-lebih lagi di malam gelap begini”. Balas si anak, “Mungkin ibu benar… Tapi jika Amirul Mukminin tidak tahu, Tuhan Amirul Mukminin tetap tahu!”

Umar r.a yang mendengar dialog tersebut kemudian menangis. “Betapa mulianya hati anak gadis itu,” gumamnya.

Ketika pulang ke rumah, Umar r.a menyuruh anak lelakinya, Asim menikahi gadis itu.
Kata Umar, “Semoga lahir dari keturunan gadis ini bakal pemimpin Islam yang hebat kelak yang akan memimpin orang-orang Arab dan Ajam.”
(Asim yang taat tanpa banyak tanya segera menikahi gadis miskin tersebut. Pernikahan ini melahirkan anak perempuan bernama Laila yang lebih dikenal dengan sebutan Ummu Asim. Ketika dewasa Ummu Asim menikah dengan Abdul Aziz bin Marwan yang melahirkan Khalifah Umar bin Abdul-Aziz yang hebat itu.)

Dua peristiwa di atas adalah contoh ‘modal insan’ yang hebat hasil dari pendidikan yang menanamkan kejujuran sesuai dengan risalah Islam. Mereka bukan sekadar beriman kepada Allah tetapi memiliki ihsan (Muraqabah) dengan meyakini bahwa Allah sentiasa bersama di manapun mereka berada. Mereka sungguh telah benar-benar meresapi makna ayat, “Dan Dia bersama kamu di manapun kamu berada (dan melihat apa yang kamu perbuat)…” (Al-Hadid : 4). Wallahu a’lam.

 
Tinggalkan komentar

Ditulis oleh pada 22 November 2010 in Uncategorized

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: