RSS

Memaknai Hijriyah ‘Tepo’ Kini

07 Des

Memaknai Hijriyah ‘Tepo’ Kini

Hari ini tepat tanggal 1 Muharram 1432 H berbarengan tanggal 7 Desember 2010. Artinya hari ini segenap umat Islam menyambut dan merayakan tahun barunya. Tentu berbeda dengan kehadiran tahun baru masehi, tahun baru hijriyah disambut dengan lebih pendekatan diri kepada Allah SWT lantaran menyadari bahwa jatah umur kita jadi berkurang satu tahun. Kita menyaksikan begitu kumandang magrib menggema di angkasa kemaren petang, shalat Maghrib didirikan di masjid-masjid, mushalla dan tempat-tempat lainnya umat Islam ramai mengadakan pengajian, membaca ayat-ayat al-Qur’an, zikir dan mendengarkan tausiah khitmah tentang hijriyah. Berikut secercah hijriyah.

Hijrah Nabi Muhammad SAW hampir memiliki kesamaan dengan peristiwa hijrahnya Musa dari negeri Firaun. Peristiwa ini juga menjadi catatan sejarah suci bagi umat Yahudi yang diperingati dengan perayaan Paskah. Sejarah dimulainya peradaban baru Yahudi juga dimulai pada titik hijrah ini. Tampaknya hijrah menjadi hukum sejarah yang wajib dilalui dalam rangka membangun sebuah peradaban baru.

Ibrahim meninggalkan rumahnya di Ur untuk “hijrah” ke Kan’an. Di situlah Ibrahim membangun peradabannya. Zaman kebesaran Yusuf dimulai ketika beliau hijrah ke negeri Mesir. Di situ pula Yusuf mengukir kebesarannya. Atau mungkin seorang Buddha harus rela hijrah meninggalkan kerajaannya yang berlimpah harta hanya semata-mata untuk membangun peradaban spiritual baru. Dengan tanpa membesar-besarkan rentetan peristiwa hijrah tersebut tampaknya hijriyah seakan menjadi semacam syarat utama untuk menggapai sebuah perubahan. (http://oshie.wordpress.com)

Kita telaah bangsa Indonesia saat ini telah digoncang oleh berbagai penderitaan. Pelbagai bencana alam tak kunjung reda. Terakhir tsunami di Mentawai (Sumbar), Gunung Merapi meradang (Jateng), tanah longsor, banjir, kemarau, puting beliung, kecelakaan tranportasi baik di darat, laut dan udara silih berganti. Wabah penyakit menggurita di mana-mana. Enam puluh juta lebih rakyat Indonesia berkubang dalam jurang kemiskinan. Akibat penderitaan yang multidimensi inilah konflik sosial yang mengarah pada tindakan brutal dan anarkhisme mudah sekali terjadi. Dan itu terjadi di mana-mana.

Realita kondisi negeri ini tampaknya harus menjalani hukum sejarah dari sebuah peradaban anak-anak manusia negerinya sendiri. Penduduk mayoritas Islam Indonesia kiranya tidak memaknai “hijrah” dengan perpindahan fisik layaknya “hijrah”nya nabi meningalkan Makkah menuju Madinah. Lebih dari itu yang harus dilakukan adalah hijrah maknawi. Artinya, bangsa Indonesia butuh semangat “hijrah” dari kemerosotan akhlak, ekonomi, sosial, politik dan hukum menuju peradaban yang mencerahkan. Peradaban yang lebih menjamin kesejahteraan masyara-kat, keterbukaan dan penghargaan terhadap nilai-nilai luhur kemanusiaan.

Roh hijriyah sudah semestinya menjadi momentum untuk merenungkan kembali eksistensi bangsa Indonesia di titik paling nadir. Untuk itulah, hijriyah yang diperingati oleh umat Islam dan juga bangsa Indonesia kali ini diharapkan menjadi refleksi panjang bangsa ini untuk merajut perubahan yang sebenarnya, yang subtantif, produktif dan populistik. Semangat hijrah akan menjadi modal untuk mengembalikan kegairahan inisiatif perubahan tersebut. Oleh karenanya, sangat rugi dan sia-sia apabila hijriyah yang sedang kita peringati hari ini hanya sebatas pada refleksi seremonial.

Angka 1432 kiranya mampu memberi motivasi bagi bangsa Indonesia berkesempatan untuk menguak makna dan semangat hijriyah bagi keberadaban dirinya sendiri. Hijrah berarti pula berubah untuk membangun peradaban baru seperti Nabi meninggalkan Makkah dan membentuk komunitas baru yang berperadaban. Semoga bangsa Indonesia mampu “hijrah” dari penderitaan yang membelitnya menuju bangsa yang ‘berdikari’, berkeadaban, dari bermoral yang menjurus bejat menjadi santun, ramah, damai dan kompak, seramah dan sekompak kaum muhajirin dan anshar ‘tempo doeloe’. Wallahu a’lam bishshawab.

 
2 Komentar

Ditulis oleh pada 7 Desember 2010 in Uncategorized

 

2 responses to “Memaknai Hijriyah ‘Tepo’ Kini

  1. tika

    7 Desember 2010 at 8:34 am

    pak salwiinnn🙂

    apakabar pak?

     
    • salwintt

      16 Desember 2010 at 6:07 am

      abah insya allah sll dlm keadaan sehat, jbi aman tt damai

       

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: