RSS

Lebih Dekat Dengan ‘ISO’

10 Des

LEBIH DEKAT DENGAN “ISO”

SEDIKIT memang pengetahuan masyarakat tentang ISO. Tapi dalam dunia pendidikan terutama sekolah yang ingin menyandang SBI (Sekolah Bertaraf Internasional) maka ISO adalah hal yang tidak asing lagi. Karena syarat untuk menjadi SBI harus mengantongi sertepikat ISO. Lalu apa itu ISO?

ISO berasal dari bahasa Yunani yang berarti ‘sama’. Bukan singkatan dari The International Organization for Standardization. Dia adalah sebuah organisasi internasional yang mempunyai badan anggota di 141 negara, berkedudukan di Jenewa Swiss, didirikan pada tahun 1946. Merupakan badan standar dunia yang awal pembentukkannya bertujuan meningkatkan perdagangan internasional yang berkaitan dengan perubahan barang dan jasa. Anggota organisasi internasional ini adalah lembaga-lembaga standar nasional yang berada di setiap negara. Indonesia diwakili oleh Badan Standar Nasional (BSN). ISO adalah satu-satunya Standar Sistem Manajemen Mutu yang paling banyak diakui dunia dan bersifat global.

Ada beberapa keluarag ISO dengan kriteria masing-masing. Sebuah institusi bebas memilih jenis yang mana sesuai dengan kebutuhan, di antarnyanya ISO 9000 : 2005 tentang azas-azas dan kosa kata Sistem Manajemen Mutu (SMM), ISO 9001 : 2008 tentang persyaratan-persyaratan SMM, ISO 9004 : 2000 tentang panduan untuk peningkatan kenerja SMM dan ISO 19011 : 2002 tentang panduan untuk audit dan Sistem Manajemen Lingkungan (SML).

Manajemen adalah upaya sistematis untuk mencapai tujuan melalui fungsi PDCA (Plan, Do, Check and Action), terhadap semua unsur organisasi, baik internal maupun eksternal yang tercakup dalam dimensi material, metode, mesin, dana, manusia, lingkungan dan informasi. Plan, menetapkan tujuan, proses dan sumber daya yang diperlukan untuk memperoleh hasil sesuai persyaratan pelanggan dan kebijakan organisasi. Do, melakukan proses. Check, memantau dan mengukur proses serta produk (layanan) terhadap tujuan, syarat produk dan kebijakan organisasi. Action, melakukan tindakan perbaikan untuk memperbaiki kinerja proses dan SMM.

SMM adalah suatu sistem manajemen yang mengarahkan dan mengendalikan organisasi dalam hal mutu. Tujuan SMM adalah meningkatkan kupuasan pelanggan melalui penerapan sistem secara efektif, termasuk proses perbaikan berlanjut dari sistemnya dan kepastian kesesuaian dengan persyaratan yang ditetapkan pelanggan dan peraturan yang berlaku. SMM digunakan untuk menetapkan kebijakan (policy) atau pernyataan resmi oleh manajemen puncak berkaitan dengan perhatian dan arah organisasinya di bidang mutu dan menetapkan sasaran mutu segala sesuatu yang terkait dengan mutu dan dijadikan sasaran (target) pencapaian dengan menetapkan ukuran atau kriteria pencapainnya.

Mutu didefinisikan sebagai kemampuan untuk memenuhi persyaratan-persyaratan kebutuhan atau harapan yang ditetapkan secara langsung (eksplisit) atau tidak langsung (implisit), oleh organisasi atau perorangan yang menerima suatu produk (layanan) berdasarkan karakteristik yang dimiliki oleh suatu produk. Karakteristik produk (layanan) meliputi fungsional yaitu terkait dengan kegunaan, temporal, seperti tepat waktu, ketersediaan, keakuratan dokumen dan lain-lain, sensory yaitu berkaitan dengan panca indra, behavorial yaitu berkaitan dengan sifat seperti sopan santun, disiplin, kejujuran dan lain-lain, ergonomic yaitu berkaitan dengan keselamatan, kenyamanan dan kesehatan.

Mutu dapat pula diartikan sebagai upaya untuk memuaskan pelanggan, kemampuan untuk digunakan, sesuai dengan kebutuhan. Kemampuan dari suatu kelompok karakter atau ciri-ciri dari suatu produk (layanan), sistem atau proses untuk memenuhi persyaratan pelanggan atau pihak lain yang berkaitan.

Manfaat menerapkan ISO di sebuah organisasi, pertama sebagai upaya memberdayakan organisasi melalui aspek peningkatan mutu produk (layanan) dan kepuasan kepada pelanggan. Kedua adanya jaminan organisasi untuk menerapkan SMM (Sistem Manajemen Mutu). Ketiga adanya kejelasan tanggung jawab dan wewenang setiap pesonil serta hubungan antar unit kerja yang terlibat dalam pelaksanaan pekerjaan. Dan keempat dapat mengarahkan personil untuk berpola pikir menuju kepada peningkatan mutu dan kepuasan pelanggan.

Ketika sebuah sekolah misalnya, telah menerapkan manajemen ISO maka seluruh pelayanan yang ada di sekolah itu dapat memberikan kepuasan kepada seluruh pelanggan yang membutuhkan. Misal seorang guru harus melaksanakan tugas dengan penuh rasa tanggungjawab, mempersiapkan segala perencanaan dan evaluasi pembelajaran secara optimal. Sehingga siswa, salah satu item pelanggan, terdorong motivasinya untuk terus berkarya dan akhirnya bisa menelorkan hasil yang memuaskan. Demikian pelayanan tata usaha atau akademik, ketika orangtua atau wali siswa, item lain sebagai pelanggan, ingin mengetahui suatu informasi maka dengan mudah mentransfernya dan informasi lengakap dapat dikantongi pelanggan untuk dibawa pulang.
Jika manajemen ISO sudah diterapkan di suatu institusi, katakanlah sekolah tadi, dan semua warga sekolah sudah mefahami makna ISO lalu mengaplikasikan dalam pekerjaan sesuai dengan syarat-syarat yang terkandung di dalamnya, maka nuasanya kebijakan mutu dan sasaran mutu akan mudah tercapai. Namun budaya kita sebagai orang yang sudah terbiasa kerja tanpa rencana, hasil pekerjaan tidak pernah direkan dan didokumentasikan dengan baik maka pada tahap awal memang berat mengikuti kriteria ISO. Karena prinsip ISO adalah tulis apa yang akan anda lakukan, tulis apa yang sedang anda lakukan dan tulis hasil dari apa yang telah anda lakukan. Itu dilakukan setiap unit kerja. Sekali lagi gampang dan mudah diucapkan, tapi faktor budaya tadi barang kali yang memberatkan untuk diterapkan. Tapi hasrat untuk melangkah lebih maju, kita harus mencoba. Bagaimanapun mencoba jauh lebih baik daripada tidak melakukan sama sekali.

Tapi setara dengan RSBI (Rintisan Sekolah Bertaraf Internasional) bisa menjadi Rintihan Sekolah Bertaraf Internasional, jika hasil audit jauh dari sasaran tim auditor. Sertipikat ISO yang sudah diimplementasikan bahkan di pajang di mana-mana sebagai tanda keberhasilan dan rasa kebanggaan, bisa saja dicabut paksa oleh yang punya jika item-itemnya tidak dijalankan sesuai dengan kesepakatan. Ternyata tetap berlaku statemen lama mempertahankan jauh lebih sulit daripada merebutnya. Tapi yang penting bagi kita ISO ora’ ISO, ISO! Wallahu a’lam bishshawab.

 
Tinggalkan komentar

Ditulis oleh pada 10 Desember 2010 in Uncategorized

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: