RSS

Menabur Kehijauan di Bumi, Meneduhkan Penghuninya

04 Jun

Menabur Kehijauan di Bumi, Meneduhkan Penghuninya

Cinta, bagi sebagian orang sering diartikan hanya saat sedang jatuh cinta terhadap kekasih, ayah, ibu, keluarga dan teman. Itu benar dan seharusnya seperti itu.
Makna cinta yang lebih luas adalah “Cinta terhadap Sesama dan Lingkungan Sekitar Kita”. Di mana makna cinta yang satu ini sering dilupakan, diabaikan dan hanya segelintir orang yang bisa mencintai terhadap sesama dan lingkunganya lebih tinggi dibandingkan dengan cintanya dengan kekasih.
Ironisnya inilah yang sekarang terjadi. Kita pernah mendengar seorang meninggal dunia hanya lantaran kelaparan. Apakah mungkin di kampung tempat orang yang meninggal ini tidak ada orang yang mampu untuk memberikan sesuap nasi untuknya? Andai saja jalinan cinta kasih terhadap sesama terjalin baik, tentunya peristiwa yang miris ini tidak akan terjadi.
Di sisi lain kita melihat para pemimpin dan pejabat negeri ini seolah hanya saling berebut kekuasaan dan melupakan sumpah jabatan yang mereka ikrarkankan di bawah kitab suci saat mereka berjanji dan bersumpah untuk mementingkan kepentingan rakyat di atas segala-galanya. Tapi lihatlah sekarang yang terjadi, semua dari mereka saling berebut kekuasaan, saling menjelek-jelekan, saling menuduh, dan di sana seolah tak terlihat mana orang yang mengaku beragama atau tidak. Seperti tanpa batas pemisah.
Unsur keterkaitan dengan lingkungan sekitar kita juga sudah sangat memprihatinkan, banjir bandang, tanah longsor adalah bukti bagaimana tingkah dan perilaku manusia yang kurang mencintai dan menjaga lingkunganya sendiri. Hutan yang seharusnya dijadikan sebagai paru-paru bumi ditebang dan dibakar secara membabi buta tanpa ampun, Akibatnya bencana banjir dan tanah longsor terjadi dan melanda di berbagai wilayah negeri ini.
Pada sisi lain kita juga melihat betapa manusia saat ini begitu mudahnya menyakiti bahkan sampai membunuh sesama hanya karena sesuatu hal yang sepele. Terkadang hanya gara-gara masalah berebut kekasih, saling ejek, sakit hati nyawa harus melayang. Seolah-olah urusan nyawa tidak ada harga dan nilainya di hadapan mereka.
Kita juga sering memikirkan diri kita sendiri, memperkaya diri sendiri, tanpa mau melihat orang-orang sulit di sekitar kita. Kita sering menghambur-hamburkan uang untuk membeli sesuatu yang sebenarnya tidak begitu penting dan hanya untuk sebuah kepuasan diri sendiri, sedangkan di luar sana masih banyak orang disekitar kita, jangankan untuk bersenang-senang, makan dan memenuhi kebutuhan pokok untuk bertahan hidup saja sulit.
Hilangnya rasa cinta kasih terhadap sesama bangsa ini memang mulai terkikis. Dan sudah saatnya mulai hari ini kita saling koreksi diri kita masing-masing dan mencoba merubah untuk jauh lebih peduli dan mencintai terhadap sesama dan lingkungan sekitar kita, di bumi tempat kaki diinjakkan.
Sebenarnya kita bisa menyebarkan rasa cinta, persaudaraan dan kepedulian terhadap lingkungan sekitar, kapan dan dimanapun. Dengan meningkatkan rasa kepedulian itu, maka bumi kembali hijau meneduhkan penduduk yang bermukim di dalamnya. (gb Pembimbing LCC 4 Pilar SMAN Titian Teras H. Abdurrahman Sayoeti Jambi)

 
Tinggalkan komentar

Ditulis oleh pada 4 Juni 2012 in Uncategorized

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: