RSS

Dengan Hikmah Halal Bi Halal, Menghalalkan Dosa Masing-masing

17 Sep

Dengan Hikmah Halal Bi Halal, Menghalalkan Dosa Masing-masing

“Halal bi halal adalah suatu bentuk ungkapan khusus pada waktu dan tempat tertentu sebagai pengganti dari kata silatu rahmi yang terjadi pada hari raya Idul Fitri dan telah membudaya di Indonesia. Jika kembali pada sejarah Islam, sejak zaman Rasulullah Saw, sahabat, para tabi’ dan tabi’ tabi’in bahkan hingga saat ini, maka kita tidak akan mendapatkan istilah halal bi halal kecuali silatu rahim. Istilah halal bi halal ini berasal dari bahasa Arab yang berarti halal dengan yang halal atau sama-sama saling menghalalkan atau kadang pula diartikan dengan saling maaf memaafkan atau saling menghalalkan dosa masing-masing. Dan istilah ini asal muasalnya dari negeri kita.”

Memaafkan orang lain sebagaimana yang telah dipraktekkan oleh baginda Rasulullah Saw di setiap dakwahnya, bahkan beliau selalu mendoakan mereka yang ingkar, agar mendapat ampunan Allah SWT dan terhindar dari azab neraka. Hal ini merupakan suatu kesabaran dan keteguhan hati dalam meningkatkan ketakwaan kepada Allah SWT. Sama halnya dalam berpuasa Ramadhan, dimana dengan berpuasa akan melatih kesabaran dan membentuk keperibadian dalam meraih tujuan utama dari puasa tersebut yaitu agar menjadi orang yang bertakwa.

Bersilatu rahmi setelah ied merupakan refleksi dari pembentukkan keperibadian di saat berpuasa sehingga orang yang menjalin silatu rahmi dalam keadaan suci, sadar dan ikhlas untuk memaafkan dan dimaafkan serta memperbaiki hubungan yang telah kusut.

Makna dari halal bi halal ini akan lebih bermakna jika puasa yang dilakukan benar-benar sempurna dan mampu meraih tujuan utama dari puasa itu sendiri yaitu meningkatkan kualitas ketakwaan kepada Allah SWT. Begitu pula halnya dengan berpuasa, dimana niat berpuasa bukan sekedar melaksanakan kewajiban sebagai seorang muslim, malu dengan tetangga atau takut dihina. Tujuan berpuasa bukan karena ingin sampai dan tiba di pelabuhan idul fitri saja melainkan masih banyak tujuan utama lainnya yang akan menjadikan kita sebagai orang yang bertakwa.

Kesadaran akan niat dan tujuan inilah yang akan mendukung pelaksanaan puasa guna membentuk keperibadian yang sebelumnya mati rasa menjadi sensitive dalam merasa dan memperoleh banyak bekal lahir maupun batin sebagai tabungan di tempat tujuan. Di saat tiba di pelabuhan Idul Fitri, begitu kaget dan tercengang akan kebesaran, kemegahan dan kemuliaan Allah dan dilanjutakan dengan rangakain acara silatur-rahmi ini, menambah rasa keakraban di antara kita.
Silatu rahmi umum yaitu silatu rahmi kepada siapa saja, seagama maupun tidak seagama, kerabat dan bukan kerabat. Di sini kewajiban yang harus dilakukan adalah: menghubungi, mengasihi, berlaku tulus, adil, jujur, berbuat baik dan hal-hal yang bersifat kemanusiaan. Silatu rahmi ini di sebut juga dengan silatu rahmi kemanusiaan. Silatu Rahmi khusus yaitu silatu rahmi kepada kerabat dan kepada yang seagama yaitu dengan cara membantunya dengan harta, tenaga, menolong dan menyelesaikan hajatnya, berusaha menolak kemudharatan yang menimpa serta berdoa dan membimbing agamanya. Dengan bersilatur rahmi, maka akan timbul rasa kasih sayang di antara sesama, dan kasih sayang ini akan menyempurnakan keimanan.

Meskipun mudah namun kadang sulit untuk diterapkan, padahal Rasulullah SAW bersabda :
“Kebaikan yang paling cepat balasannya adalah berbuat kebaikan dan silatu rahmi”
Sungguh agung dan mulia ajaran Islam yang menyeru ummat Islam untuk saling kenal mengenal dan menjalin hubungan persaudaraan dan menggalakkan sikap peduli terhadap sesama.

Semua itu menunjukkan bahwa amal dan peribadatan seorang hamba tidak akan sempurna tanpa memperbaiki hubungan silatu rahmi. Dengan kata lain, hubungan antara Allah dan seorang hamba (hablun minallah) akan sempurna jika hamba itu menjaga dan menjalin hubungan antar sesama (hablun minannas).

Dengan bersilatur rahmi akan menyempurnakan keimanan kepada Allah SWT, terutama jika silatu rahmi yang dijalin benar-benar atas dasar saling menghalalkan dosa-dosa atau memaafkan masing-masing dengan ikhlas. Maka bekal atau modal yang telah kita peroleh selama bulan Ramadhan tidak berkurang bahkan akan bertambah banyak.

Semoga segala kekurangan amal perbuatan pada bulan Ramadhan dapat tertutupi dan ditingkatkan di bulan Syawal ini dengan silatu rahmi ataupun Halal bi Halal serta meningkatkan amal ibadah lainnya demi menyempurnakan keimanan menjadi insan kamil yang benar-benar bertakwa kepada Allah SWT.

 
Tinggalkan komentar

Ditulis oleh pada 17 September 2012 in Uncategorized

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: