RSS

Semangat Proklamasi

31 Agu

Semangat Proklamasi

salwinsahPERINGATAN kemerdekaan memompa semangat nasionalis untuk menggelorakan kembali motivasi pengisi kemerdekaan di tengah hingar-bingarnya aktivitas masyarakat. Semua diwujudkan dalam aneka kegiatan bernuansa tradisional yang telah merakyat.
Setidak-tidaknya itulah yang dilakukan keluarga besar SMAN Titian Teras H. Abdurrahman Sayoeti melampiaskan rasa syukur, kemerdekaan yang telah diraih 68 tahun silam. Lomba-lomba sederhana, memeriahkan suasana, pun digelar bersama, dari, oleh dan untuk mereka. Katakan saja lomba balap karung, paku botol, koin kates, futsal berdaster, tarik tambang, balap kelereng, makan kerupuk, joget lari balon, panjat pinang dan sebagainya, bisa mereka laksanakan dengan penuh kebersamaan, karna budaya gotong-royong tetap berakar walau arus modernisasi merajai segalanya.
Mencoba menghilangkan tradisi, ketika kegiatan 17 Agustusan selesai digelar, masyarakatpun lupa akan semangat nasionalisme. Perjuangan itu seolah lenyap terbang bersama angin. Bahkan riuh gema kata merdeka, kibaran sang merah putih yang dulu mencolok meriah di setiap sudut kota dan perkampungan, sekarang terlihat ‘ramai’ tapi terasa hambar.
Makna kemerdekaan mengalami penurunan drastis, sedikit sekali yang benar-benar merenungkan arti kemerdekaan sejati. Betapa para pejuang tempo ‘deoloe’ begitu gigih mengupayakan kemerdekaan, merelakan segenap jiwa raga, harta dan nyawa melayang demi merebut kebebasan dari belenggu penjajah, meskipun sadar sepenuh hati bahwa mereka toh akhirnya tidak dapat ikut menikmatinya. Prinsip mereka biarlah menderita, mengecap pahit getirnya gasakan penjajah yang teramat dahsyat, asal anak cucu ‘tak ikut mengalami hal serupa di kemudian hari. Yang penting generasi berikutnya bisa hidup damai dalam kemerdekaan, terserah mau mereka apakan kemerdekaan ini. Persetan!
Andai saja mereka masih ada. Niscaya mereka akan menangis setelah melihat kenyataan hari ini. Wujud kemerdekaan yang telah mereka raih, jauh dari harapan. Korupsi yang membudaya, bangsa yang kaya tapi tetap menjadi budak dan penonton di negeri sendiri. Kemiskinan moral dan materi semakin tak terperi, adalah secercah potret negeri yang belum ada tanda-tanda untuk ditebang habis. Lupa, ataukah pura-pura tidak ingat bahwa para pendahulu kita, dulu pernah sama-sama tidak makan, mereka kehausan, terpisah dari keluarga, hidup terasing, dihimpit penderitaan, berselimutkan kesedihan, hanya ingin mencapai satu tujun, satu kata, “Merdeka!”.
Tapi tentu tidak semua bersikap seperti itu. Lihat saja generasi muda kebanggaan bangsa yang berkiprah di kampus SMAN Titian Teras H. Abdurrahman Sayoeti Jambi, kembali menanam spirit kemerdekaan di jiwa masing-masing sebagai bekal resolusi di tahun ke-68 Indonesia merdeka untuk mengantongi semangat 45 persis seperti nenek moyang mereka miliki zaman dulu. Memberi kesadaran bahwa sesungguhnya peringatan kemerdekaan bukan hanya sebuah perayaan ulang tahun rutin atau kenangan perjuangan masa lalu saja, tetapi menjadikan renungan tentang apa yang telah dilakukan dalam upaya mengisi kemerdekaan ini serta resolusi menuju masa depan yang lebih gemilang, biar emas banyak terdulang.
Happy Birthday Indonesiaku, semoga kami generasi muda bangsa bisa memikul amanat, apa yang telah menjadi cita-cita sucimu. Semoga!

 
Tinggalkan komentar

Ditulis oleh pada 31 Agustus 2013 in Uncategorized

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: