RSS

Mengais Karakter Di Tengah Globalisasi

19 Feb

Mengais Karakter Di Tengah Globalisasi

OLEH LILIK MULYANA*

lilikmulyana,sagTUJUAN pendidikan adalah mengembangkan pribadi seseorang menjadi mandiri, dewasa dan bertanggungjawab. Pendidikan yang baik mampu menanamkan nilai-nilai kemanuisaan menjadi darah daging bagi peserta didik. Ketertiban, kedisiplin dan konsistensi adalah unsur utama agar subyek didik memahami tujuan demi ketercapaian pendidikan. Tanpa disiplin dan konsistensi, pendidikan hanya akan menghasilkan pribadi yang semu. Mendidik generasi saat ini memang butuh energi ekstra tanpa mengenal lelah, karena mereka telah terkontaminasi oleh hasil ilmu pengetahuan dan teknologi (iptek) global. Itulah tantangan tugas mulia dari seorang pendidik.

Era globalisasi telah menjadikan kehidupan dunia begitu cepat berubah. Berbagai penemuan di bidang iptek bertubi-tubi membuat laju dunia menjadi tak terbendung. Namun seiring dengan berkembangnya iptek itu, kerusakan peradaban pun mencapai tingkat yang mengejutkan. Dengan ramainya lalu lintas tayangan media lewat berbagai jalur, generasi sekarang dikeroyok aneka budaya memikat namun mengandung racun mematikan. Masyarakat tidak enggan meniru, mengimplementasikan dalam kehidupan, sehingga praktek pergaulan telah menyimpang dari kodrat kemanusiaan  dan ironisnya, ini sudah mengakar.

Praktek adopsi kultur asing, kemudian dipompakan kepada masyarakat baru dengan bermacam cara, seperti pemaksaan secara halus, menyeragamkan busana para wanita penjaga toko, super market dan sebagainya, dengan pakaian serba minim, transparan dan menonjolkan aurat, membuat masyarakat sekarang terhanyut dengan balutan kehidupan baru, efek dari tontonan sampai pada praktek ‘paksaan’ tadi. Alhasil kekerasan, tawuran, rampok, penyalahgunaan obat terlarang dan pergaulan bebas bukan sebuah pemandangan yang aneh lagi di negeri ini. Situasi yang saling kontradiktif dan tidak tertebak ini membuat orang sulit membayangkan kehidupan seperti apa yang akan dihadapi di masa mendatang.

Pemaknaan Karakter

Indonesia identik dengan keramahan, sopan, murah senyum dan suka bergotong royong sebagai ciri khas budaya ketimuran. Tradisi inilah pembeda antara kita dengan bangsa lain. Tetapi sekarang karakter itu telah memudar dari kehidupan masyarakat. Kemana perginya almamater kebanggaan bangsa kita itu?

Sangat miris, Indonesia dahulu adalah bangsa dengan segudang karakter memikat, namun sekarang kenyataannya terbalik. Entah apa dan siapa yang patut dipersalahkan dan dijadikan tersangka atas kesalahan ini, yang apabila dibiarkan bisa membuat bangsa ini akan kehilangan jati dirinya.

Undang-undang nomor 20 tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional, pasal 3 menyebutkan bahwa pendidikan nasional berfungsi mengembangkan kemampuan dan membentuk karakter serta peradaban bangsa yang bermartabat dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa. Berdasarkan fungsi dan tujuan pendidikan nasional, pendidikan di setiap jenjang harus diselenggarakan secara sistematis guna mencapai tujuan tadi. Hal tersebut berkaitan dengan pembentukan karakter peserta didik sehingga mampu bersaing, beretika, bermoral, sopan santun dan berinteraksi dengan masyarakat.

Kertajaya mendefinisikan bahwa karakter adalah ciri khas yang dimiliki oleh suatu benda atau individu. Ciri khas tersebut adalah asli dan mengakar pada kepribadian benda atau individu tersebut dan merupakan mesin pendorong bagaimana seorang bertindak, bersikap, dan merespon sesuatu.

Berdasarkan pengertian ini dapat dipahami bahwa karakter dapat dikatakan sebagai tindakan refleks yang dilakukan seseorang tanpa butuh perenungan dan pemikiran terlebih dahulu yang merupakan buah dari kebiasaan-kebiasaan terdahulu, kebiasaan baik maupun buruk. Kebiasaan tersebut berakumulasi hingga menjadi karakter.

Mengais Karakter

Guru memang menempati posisi strategis sebagai aktor yang bisa menularkan virus-virus pendidikan karakter kepada peserta didik. Dalam penyampaian bahan pembelajaran bisa diselipkan pendidikan karakter. Mengajak siswa berlaku jujur, sopan, menghargai pendapat orang lain ini tanpa disadari merupakan upaya nyata menerapkan pendidikan karakter. Namun kita semua dengan latar belakang profesi yang berbeda pun sesungguhnya bisa berkontribusi dalam pendidikan karakter ini.

Pendidikan karakter adalah pendidikan budi pekerti, melibatkan aspek pengetahuan (cognitive), perasaan (feeling) dan tindakan (action). Tanpa ketiga aspek ini, pendidikan karakter tidak akan efektif. Pelaksanaannya pun harus dilakukan secara sistematis dan berkelanjutan. Pendidikan karakter akan mencerdaskan emosi seseorang. Kecerdasan emosi adalah bekal terpenting dalam mempersiapkan seseorang untuk menyongsong masa depan, karena dengan pengendalian emosi, seseorang akan berhasil menghadapi segala tantangan hidup.

Kepincangan sistem pendidikan belakanagn ini memunculkan berbagai krisis, ekonomi, politik, kepercayaan dan moral bangsa. Ironisnya, manusia terus mengembangkan iptek tanpa serius menjawab berbagai krisis tersebut. Manusia zaman ini seakan lupa bahwa besok masih ada generasi berikutnya yang akan hidup di bumi yang sama untuk berbagi, tidak hanya pada zaman ini, tetapi juga berbagi dengan zaman berikutnya.

Dalam mengimplementasikan pendidikan karakter, metodologi yang dipergunakan harus memiliki unsur pengajaran nilai keteladanan, pembangunan budaya serta refleksi evaluasi. Namun kunci utamanya adalah penghargaan atas kebebasan dan keberagaman, dimana ruang interaksi tercipta sehingga proses pembelajaran tidak terjebak menjadi suatu indoktrinasi nilai pengetahuan semata. Dalam suasana keterbukaan tersebut, kesediaan untuk mengevaluasi diri serta mengembangkan diri harus dimiliki oleh setiap individu. Usaha sekecil apapun dalam kerangka proses ini, harus dihargai. Dalam suasana seperti ini niscaya pendidikan karakter dapat berjalan menuju arah yang diharapkan.

Mengutip sebuah penelitian di Harvard University (AS), membuktikan bahwa kesuksesan seseorang tidak ditentukan semata-mata oleh pengetahuan dan kemampuan teknis (hard skill) saja, tetapi lebih oleh kemampuan mengelola diri dan orang lain (soft skill). Penelitian ini mengungkapkan, kesuksesan hanya ditentukan sekitar 20 persen oleh hard skill dan sisanya 80 persen oleh soft skill. Bahkan orang-orang tersukses di dunia bisa berhasil dikarenakan lebih banyak didukung kemampuan soft skill daripada hard skill. Hal ini mengisyaratkan bahwa mutu pendidikan karakter peserta didik sangat penting untuk ditingkatkan.

Derasnya arus globalisasi, turut menghanyutkan karakter bangsa. Kalau tidak ada kepedulian untuk mengaisnya, berarti kita mewariskan generasi sebagai penonton kesuksesan generasi orang lain. (*Penulis adalah Guru SD 90 Kecamatan Mestong Kabupaten Muaro Jambi)

 
Tinggalkan komentar

Ditulis oleh pada 19 Februari 2014 in Uncategorized

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: