RSS

Di Balik Sukses Siti Paizah Sang Peraih Mendali Emas Dunia

24 Mei

salwin oke“SAYA malu. Saya malu,” kata-kata itu yang selalu terucap dari mulut Siti Paizah, saat disambut di bandara Sultan Thaha Jambi minggu 11 Mei 2014 lalu. Penulis mencari tau dan langsung bertanya, “Kenapa malu, nak?” Dengan polos dia menjawab, “Prestasi Icha belum seberapa, kenapa disambut seperti ini. Icha malu, Icha malu.”
Icha, sapaan Siti Paizah telah mengukir sejarah baru bagi provinsi Jambi khususnya bidang pendidikan. Secara mengejutkan dia meraih mendali emas di ajang International Science Project Olympiad (ISPrO), sebuah kompetisi penelitian tingkat international di bidang sains terapan, yang berkonsentrasi pada isu-isu lingkungan yang berkaitan dengan ilmu biologi, kimia dan fisika, dengan batas usia dari 14 hingga 19 tahun. Kegiatan berlangsung di Jakarta dari tanggal 4-10 Mei 2014 diikuti 24 negara, diprakarsai atas kerja sama Direktorat Pembinaan Sekolah Menengah Atas, Direktorat Jenderal Pendidikan Menengah, Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan RI dengan Pasifik Ulkeleri Ile Sosyal ve Iktisadi Dayanisma Dernegi (PASIAD).
Anak desa berpenampilan polos lahir tanggal 31 Mei 1997, tumbuh dan besar di Lambur I Kecamatan Muara Sabak Timur Kabupaten Tanjung Jabung Timur, bahkan menamatkan pendidikan TK, SD dan SMP di desa tercintanya. Anak semata wayang berasal dari keluarga sederhana, ibunya Apriyanti seorang guru SDN 101 Lambur I sedangkan ayahnya, Adam berkebun dan berdagang. Keluarga sangat mendukungnya dalam pendidikan, namun tidak pernah menuntut yang muluk-muluk. “Bapak dan Ibu tidak pernah menuntut harus rangking, yang penting jangan di DO (Drop Out).” Begitu Siti Paizah pernah bercerita. Maklum dia adalah siswa kelas XI IPA, SMA Negeri Titian Teras H. Abdurrahman Sayoeti Jambi yang menerapkan sistem DO jika siswanya tinggal kelas.
Walau demikian dia merasa harus selalu memberikan yang terbaik untuk kedua orangtuanya. “Jadi, prestasi ini sebagai penghargaan kepada orangtua. Apa yang bisa diberikan seorang anak seusia Icha, kalau bukan sebuah prestasi. Mau ngasih yang lainnya? Nggak mungkin,” tuturnya. “Semoga saja di masa yang akan datang Icha kembali mampu mempersembahkan yang terbaik bagi kedua orangtua.”
Keikutsertaan Siti Paizah di ajang ISPrO, karena pada Olimpiade Penelitian Siswa Indonesia (OPSI) tingkat nasional Oktober tahun 2013 lalu dia juga meraih mendali emas, dan dilanjutkan ke tingkat internasional. Perjuangan Siti Paizah kembali ditaruhkan. Naskah berjudul ‘Karakteristik dan Arsitektur Sarang Burung Manyar’ yang tadinya berbahasa Indonesia harus diterjemahkan ke dalam bahasa Inggris. Komunikasi yang pas-pasan, memaksanya terus belajar dan berlatih dengan guru-guru bahasa Inggris di sekolahnya, atau pada guru lain yang mampu berbahasa Inggris, tanpa peduli waktu dan tempat.
“Icha tidak perduli, apakah Bapak atau Ibu Pamong bosan sama Icha. Yang terpenting, Icha bisa bersaing dengan anak-anak se-dunia. Dan tampil tidak memalukan,” tekad Siti Paizah. Dia juga mengakui kesulitan mencari literatur berbahasa Inggris tentang burung manyar, karena riset tentang burung jenis granivora (pemakan biji-bijian) ini minim sekali. Akhirnya kembali bersama guru biologi dan guru lainnya, Siti Paizah meminta bantuan.
Begitulah perjuangan Siti Paizah, selalu meninggalkan kelas ketika teman-teman sedang belajar, melafalkan bahasa Inggris di sudut-sudut sekolah, di kamar –ketika sebayanya telah tertidur pulas–, di kamar mandi, depan cermin dan sebagainya. Sehingga hari-hari Siti Paizah di sekolah boarding school itu, bagaikan burung manyar yang ke sana ke mari membuat sarangnya, demi hasrat menyandingkan mendali emas nasional dan internasional di lehernya.
Siti Paizah Setekad Itu?
Ide penelitian Siti Paizah muncul karena sarang burung manyar selalu jadi mainan, waktu dia masih kecil di kampung halamannya. Sarang burung yang tidak asing lagi bagi penduduk setempat, dipandang tidak punya keanehan dan keunikan bagi masyarakat Muara Sabak, Kabupaten Tanjung Jabung Timur. Tetapi ternyata banyak hikmah yang bisa dipetik dari proses penelitian itu. Lihat saja perjuangan yang ulet penuh kesabaran saat burung manyar membuat sarangnya. Dari perencanaan yang matang, pemilihan bahan, peletakan pondasi, hingga proses penganyaman helai demi helai untuk menghasilkan sarang yang indah, arsitektur bernilai tinggi.
Burung manyar sangat piawai membuat rancang-bangun, mencari dan memilih material bermutu untuk membangun sarangnya. Material tersebut dikumpulkan sehelai demi sehelai dan kemudian menganyamnya secara teliti. Kerumitan dan keunikan bentuk sarangnya, dan memiliki perbedaan waktu dan desain antara sarang burung jantan, betina dan burung manyar gabungan, semua dikerjakan penuh kehati-hatian, ketelitian dan kesabaran.
Belajar dari karakter burung manyar, Siti Paizah benar-benar terharu dan terhanyut dalam proses penelitian ini. Menyadari sepenuhnya untuk mencapai suatu kesuksesan butuh tekad yang bulat, keyakinan yang tinggi, jujur dan sabar. Dan yang terpenting jangan sampai patah semangat. Burung manyar saja harus mengulang dari awal, ketika sarang yang ia buat terjatuh ditiup angin dan berserakan.
Siti Paizah benar-benar menjiwai watak dan sifat burung manyar dalam proses perjuangannya yang tidak pernah menyerah, putus asa demi sebuah hasil kreasi yang indah. Usaha gigih yang diiringi dengan do’a dan tawakal, insya Allah keberhasilan akan selalu menyerta.
Bersama kepakkan burung manyar Muara Sabak, penghargaan tertinggi mendali emas ISPrO 2014 telah bertengger kokoh di SMA Negeri Titian Teras. “Manyar, kepakkan sayapmu, terbang lebih tinggi! Kunanti.” (Penulis Guru SMA Negeri Titian Teras H. Abdurrahman Sayoeti Jambi)

 
Tinggalkan komentar

Ditulis oleh pada 24 Mei 2014 in Uncategorized

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: