RSS

Hanya Melihat Hati, Tidak Yang Lain

18 Okt

ALLAH SWT tidak akan memberi apa yang kita harapkan. Dia hanya memberi apa yang kita perlukan. Kita merasa sedih dan perih bahkan kecewa dan terluka. Namun di balik perasaan duka itu, sesungguhnya Allah SWT tengah merajut sesuatu yang terindah hanya untuk kita.
Dalam menjalani hidup kita akan bertemu dengan hal-hal baru dengan dua sisi yang berbeda, baik atau buruk, untung atau rugi. Jika yang dihadapi itu keburukan dan mendatangkan kerugian, solusinya juga dua, bisa diatasi atau tidak. Andai tidak, disinilah awal datangnya keresahan jiwa.
Masalah yang selalu ditemui manusia selama dia masih menghirup udara segar di dunia ini, berkisar tentang kesehatan, keuangan, keluarga dan karir. Dan ia hadir silih berganti tak henti-hentinya dari dulu, sekarang dan besok. Maka suatu kewajiban bagi kita mencari jalan keluar terbaik, berusaha (ikhtiar), berdo’a (ibadah) dan pasrah atau ikhlas (tawakkal) akan hasil usaha yang telah dilakukan. Karena Allah SWT tidak akan memberikan suatu beban atau ujian di luar sesanggupan kita. Maka tujuan hidup meraih ketenangan, kesabaran dan ketentraman pun seyogyanya selalu ada dalam jiwa kita.
Tetapi menghadirkan ketentraman jiwa tidak segampang menulis sebuah puisi cinta di kertas putih. Di samping sulit dan perlu kesabaran tadi, masalah-masalah hidup yang datang dan pergi silih berganti, pun selalu membayangi ketenangan yang sedang dicari. Tujuan hidup tidak untuk menghindar dari masalah, tetapi bagaimana merajut benang-benang kusut untuk ditenun menjadi kain yang indah, dan akhirnya menjadi perhiasan di badan. Sungguh unik kehidupan manusia, seunik jiwa yang melekat di raganya.
Semua perilaku manusia hakekatnya disetir oleh jiwa. Tapi jiwa mempunyai banyak anggota (tentara) diantaranya hati, ruh, akal dan kehendak. Itulah sesungguhnya modal manusia untuk menata hidupnya di dunia. Tapi keberanekaan jiwa itulah, membuat manusia sulit menentukan arah hidupnya.
Nabi Muhammad SAW menjelaskan peran hati dalam hidup manusia sebagai aspek penentu hakekat kemanusiaan adalah segumpal darah (mudghah), yang disebut qalb (hati). ‘Gumpalan itulah yang menjadi penentu kesalehan dan kejahatan jasad manusia.’ (HR. Bukhari). ‘Karena begitu menentukannya fungsi hati itulah, Allah SWT hanya melihat hati manusia dan tidak melihat penampilan dan hartanya.’ (HR. Ahmad ibn Hanbal). Wallahuhu a’lam bishawab.

 
Tinggalkan komentar

Ditulis oleh pada 18 Oktober 2014 in Uncategorized

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: