RSS

UN Online, Mengapa Bingung?

20 Feb

onnUjian Nasional (UN) salah satu isu yang tidak pernah usang diperbincangkan bukan saja oleh praktisi pendidikan tetapi banyak elemen. Masalah ini selalu hangat untuk didiskusikan. Kemendikbud, dalam hal ini sebagai komandan pelaksana,  terus mengkaji reposisi pelaksanaan UN tahun 2015 secara online, setelah pernyataan itu diisukan ke masyarakat. Tujuannya adalah untuk mencari titik temu antara dua sisi pelaksanaan UN. Satu sisi, ingin memastikan bahwa peserta didik memiliki standar yang baik dan memadai. Tetapi di sisi lain, membuat proses ujian atau tes bukan sesuatu yang membebani, mengerikan, bahkan mengubah orientasi belajar.

Semisal siswa naik kelas VI (SD), IX (SMP), XII (SMA) seluruh kegiatan sekolah berhenti, kecuali latihan ujian. Orientasi belajar semacam ini tidak akan membuat peserta didik menjadi pembelajar (learning), tetapi hanya sekadar studying. Belajar untuk menghadapi tes kelulusan.

Kemendiknas dalam hal ini Dinas Pendidikan berperan sebagai pompa yang menolong dan memberdayakan peserta didik sejak dini, bukan sekadar penyaring yang menghakimi dan menghukumi siswa. Yang pasti, orientasinya bukan untuk kepentingan pemerintah, bukan juga penyelenggara pendidikan. Endingnya adalah mengubah perilaku belajar ke arah mandiri, agar kelak lahir SDM handal yang sangat dibutuhkan bangsa dan negara.

Oleh karena itu pemerintah terus menggodok mencari cara agar siswa memiliki standar yang baik dan memadai, tapi pada sisi lain pelaksanaan ujian tersebut bukan proses yang menakutkan, membebani dan mengubah orientasi belajar. UN merupakan evaluasi (penilaian) untuk melihat sejauh mana pencapaian hasil belajar pada proses pendidikan yang telah/sudah berlangsung.

Evaluasi tidak bisa hanya dilakukan oleh sekolah, karena UN bukan sekadar evaluasi apa yang telah didapat siswa selama sekolah, tapi untuk evaluasi apakah standar nasional telah dicapai atau belum oleh siswa. Dengan UN, diketahui ada sekolah yang telah melampaui standar, ada juga yang masih di bawah standar.

Perdebatan tentang pelaksanaan UN sah-sah saja. Namun pro-kontra saat ini sedikit bergeser bukan pada masalah payung hukum dan sah tidaknya pelaksanaan UN, tapi lebih mengerucut pada substansi proses evaluasi dan pemanfaatan dari hasil UN. Artinya mulai ada signal positif dari masyarakat.

Pro dan kontra tentang UN, sepatutnya kita hargai. Namun satu hal yang perlu dipertimbangkan adalah, jangan sampai perdebatan membuat para peserta didik di semua tingkatan jadi bingung dan tambah bingung. Karena apa yang bisa dihandalkan kepada generasi bangsa yang selalu dihantui kebingungan?

 
Tinggalkan komentar

Ditulis oleh pada 20 Februari 2015 in Uncategorized

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: