RSS

Ya, Allah Turunkan Hujan Rahmat-Mu

04 Sep

asap(Khutbah di Masjid Nururrahman, Kota Baru Jambi, 4 September 21015)
Wahai umat Islam yang ada di tanah suci. Wahai umat Islam yang ada di belahan bumi bagian timur dan barat, utara dan selatan. Kaum muslimin yang berada di Rumah Allah yang mulia ini, mari kita bertakwa kepada Allah SWT, taat kepada-Nya, bertaubat dan memohon ampunan kepada Rabb yang Maha Suci.
“Dan pakaian takwa itulah yang paling baik”. (Al-A’raf : 26)
“Sesungguhnya orang yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah ialah orang yang paling bertakwa di antara kamu.” (Al-Hujurat : 13)
Barangsiapa yang menginginkan kejayaan dan keberuntungan, menghendaki kebaikan dan keshalihan, mengharapkan bimbingan dan kesuksesan, ia harus bertakwa kepada Allah SWT. Takwa adalah jalan keluar dari segala kesulitan dan celah keselamatan dari segala himpitan. Takwa kepada Allah adalah pengaman dari bencana dan penyelamat dari petaka. Takwa kepada Allah SWT adalah pelindung dari fitnah dan pembebas dari musibah. Sesungguhnya Allah SWT menciptakan jin dan manusia untuk tujuan sangat penting dan perkara yang sangat besar, yaitu mengabdi kepada-Nya.
“Dan Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka menyembah-Ku.” (Adz-Dzariat: 56).
Sesungguhnya Allah melimpahkan nikmat-Nya kepada hamba-hamba-Nya agar dapat membantu mereka dalam beribadah dan mendekatkan diri kepada-Nya. Tapi jika mereka menggunakannya untuk durhaka kepada-Nya, mengabaikan hak-hak-Nya, melalaikan perintah-perintah-Nya, dan meremehkan larangan-larangan-Nya, Allah akan mengubah keadaan mereka, sebagai balasan yang setimpal. Dan Allah tidak pernah berlaku zalim kepada hamba-hamba-Nya.
Sesungguhnya Allah tidak merubah keadaan suatu kaum sehingga mereka merubah keadaan yang ada pada diri mereka sendiri. Dan apabila Allah menghendaki keburukan terhadap suatu kaum, maka tak ada yang dapat menolaknya; dan sekali-kali tak ada pelindung bagi mereka selain Dia. (QS. Ar-Ra’du: 11).
Yang demikian (siksaan) itu adalah karena sesungguhnya Allah sekali-kali tidak akan merubah suatu nikmat yang telah dianugerahkan-Nya kepada sesuatu kaum, pada diri mereka sendiri, dan sesungguhnya Allah Maha Pendengar lagi Maha Pengetahui. (QS. Al-Anfal: 53)
Jika manusia merubah ketaatan dengan kemaksiatan, kebenaran dengan kebatilan, kebaikan dengan kemungkaran maka Allah akan merubah kekayaan mereka dengan kemiskinan, kemuliaan dengan kehinaan, kekuatan dengan kelemahan dan kekalahan, ilmu pengetahuan dengan kebodohan, keamanan dengan ketakutan, kebahagiaan dengan kegelisahan dan kerisauan, kenikmatan dengan hukuman, hujan dengan kekeringan, kemudahan dengan kesulitan.
Setiap bencana yang turun dari Allah tentu akibat perbuatan dosa, kelalaian dalam menjalankan kewajiban, kedurhakaan kepada Allah, dan memperturutkan hawa nafsu.
Dan apa saja musibah yang menimpa kamu maka adalah disebabkan oleh perbuatan tanganmu sendiri, dan Allah memaafkan sebagian besar (dari kesalahan-kesalahanmu). (Q.s. Asy-Syuraa: 30)
Musibah yang menimpa kita hari ini adalah kurangnya hujan, keringnya sumber air, kekeringan di sana-sini, harga kebutuhan pokok melambung, daya beli hasil masyarakat menurun drastis, akhirnya sulit memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari. Semua ini terjadi tidak lain disebabkan karena dosa-dosa kita sendiri. Maraknya kemaksiatan dan kezaliman, banyaknya kemungkaran dan tindakan-tindakan dosa lainnya, maka kesulitan, bencana, kekeringan yang menimpa sulit untuk dihindarkan, termasuk kemarau yang berkepanjangan, dan kabut asap yang pekat yang menimpa daerah kita sekarang ini.
Banyak sekali nikmat diberikan oleh Allah, akan tetapi kenikmatan itu digunakan untuk jalan yang salah. Kita mendapatkan hujan justru dengan hujan itu kita bermaksiat, kita mendapatkan hujan justru dengan hujan itu membuat kita semakin jauh dari Allah SWT. Biasanya hadir ke Majelis Ta’lim, mendengar pengajian menjadi tidak hadir karena hujan yang lebat, biasanya beribadah di rumah Allah datang ke masjid, menjadi berhalangan dengan alasan takut basah karena hujan.
Karena itulah Allah SWT beri ujian kepada kita, memutus hujan tidak turun dalam kurun waktu dua bulan yang lalu dan entah berapa waktu ke depan, untuk kita renungkan akan kesalahan-kesalahan yang telah kita perbuat selama ini.
Allah SWT telah menurunkan dua macam hujan kepada manusia. Pertama adalah hujan hati dan ruhani. Yaitu dengan menurunkan wahyu kepada Rasulullah SAW. Hujan ini adalah sumber kehidupan hati dan kejernihan ruhani, di samping menjadi penentu kebahagiaan hidup di dunia dan akhirat. Hujan inilah yang sejatinya dari diri manusia sekarang. Bahkan kebutuhan mereka akan hujan ini jauh lebih penting dan lebih besar dibanding hujan jenis kedua, yaitu hujan air turun ke bumi.
Sesungguhnya sudah sepatutnya kita lebih memperhatikan hujan hati dan ruhani. Karena hujan jenis inilah yang menentukan kebahagiaan hidup kita di dunia dan di akhirat, serta keberhasilan kita mendapatkan hujan yang lain.
Jikalau sekiranya penduduk negeri-negeri beriman dan bertakwa, pastilah Kami akan melimpahkan kepada mereka berkah dari langit dan bumi. (QS. Al-A’raf : 96).
Terhentinya kuncuran air dari langit antara lain disebabkan karena kelalaian manusia dalam menjalankan ketaatan kepada Allah, kekerasan hati mereka akibat tumpukan noda-noda dosa dan maksiat, ketidak seriusan mereka dalam menunaikan iman dan takwa, serta kealpaan mereka dalam menunaikan shalat dan zakat. Hal ini yang menghambat turunnya hujan adalah keengganan banyak orang untuk bertaubat dan memohon ampun kepada Allah. Taubat dan memohon ampunan, kedua hal ini merupakan faktor terpenting yang memudahkan turunnya hujan.
Maka aku katakan kepada mereka, “Mohonlah ampun kepada Rabb-mu, sesungguhnya Dia adalah Maha Pengampun, niscaya Dia akan mengirimkan hujan kepadamu dengan lebat, dan membanyakkan harta dan anak-anakmu, dan mengadakan untukmu kebun-kebun dan mengadakan (pula di dalamnya) untukmu sungai-sungai. (QS. Nuh : 12).
Dan (dia berkata), “Hai kaumku, mohonlah ampun kepada Rabb-mu, lalu tobatlah kepada-Nya, niscaya Dia menurunkan hujan yang sangat deras atasmu, dan Dia akan menambahkan kekuatan kepada kekuatanmu, dan janganlah kamu berpaling dengan berbuat dosa”. (QS. Hud : 52)
Meminta hujan tidak bisa dilakukan hanya dengan mengandalkan hati yang lalai dan akal yang alpa. Upaya ini menuntut adanya pembaharuan kontrak dengan Allah, pembukaan lembaran kehidupan yang baru yang dipenuhi ketaatan dan jauh dari kemaksiatan, serta perbaikan menyeluruh dalam segala aspek kehidupan. Karena kebutuhan umat untuk meminta pertolongan melalui perbuatan dan karya nyata tidak lebih kecil dari pada kebutuhannya untuk meminta pertolongan melalui ucapan dan doa.
Maka dari itu jangan sampai dengan kemaksiatan, kita menjadi lengah dan lalai, kita diberi nikmat sementara kita bermaksiat, kita harus sadar jika Allah memberikan kita nikmat sementara kita bermaksiat bisa saja itu menjadikan kita terjerumus ke dalam api nerka, akan tetapi kita berusaha di dunia untuk mendapatkan ampunan dari Allah, dan agar kita mendapatkan nikmat yang sesungguhnya, termasuk hujan yang kita mohon, semoga akan turun hujan rahmat yang sesungguhnya, rizki kita penuh berkah, kehidupan kita semakin nyaman.
Tetapi meskipun ada banyak kecerobohan yang dilakukan, ampunan Allah sangatlah luas. Rahmat Allah meliputi segala sesuatu dan ampunannya meliputi semua orang yang bertobat. Setiap ada perkara yang sempit, Allah selalu menyediakan jalan keluar darinya. Dan setiap ada masalah yang berat, Allah selalu menyediakan peluang untuk meringankannya. Allah selalu mengundang kita untuk bertobat dan kembali ke jalan yang benar. Dan dia selalu meminta kita untuk memanjatkan doa dan memohon ampun.
Akhirnya mari kita memohon kepada Allah agar Allah SWT menurunkan hujan yang penuh rahmat, menyirami bumi yang gersang, tanah yang tandus sehingga menjadi subur, tanaman pun tumbuh subur. Anak-anak bersekolah kembali, karena mereka haus akan ilmu untuk meniti masa depan. Penderita ispa (sakit pernapasan) segera sembuh dan tidak ada lagi penderita-penderita selanjutnya. Ekonomi pulih, rupiah stabil sehingga kebutuhan kita sehari-hari terpenuhi dengan baik, sehingga kita bisa khusu’ dan tawadhu’ dalam menjalankan ibadah-ibadah kepada Allah SWT, meraih kejayaan dunia, kesuksesan akhirat.

 
Tinggalkan komentar

Ditulis oleh pada 4 September 2015 in Uncategorized

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: