RSS

Tahun Baru, Ajang Evaluasi Diri

17 Okt

(Khutbah Jum’at di Masjid Al Barokah Kota Jambi, 16 Oktober 2015)

Tahun hijriah berbeda dengan tahun masehi. Bila kita melihat dari penamaan bahasa saja, perbandingan dari masehi dan hijriah memiliki akar filsafat bahasa yang berbeda. Masehi diciptakan dari kata yang berarti mengusap karena salah satu mukjizat Nabi Isa adalah mengobati orang sakit dengan mengusap dan berhasil. Sedangkan asal kata hijriah adalah sebuah tindakan berpindah dari satu tempat ke tempat lain, tentu ke tempat yang lebih prestatif. Perbedaannya adalah masehi berbasis mukjizat dari nabi Isa, sedangkan hijriah berbasis prestasi dari usaha.
Pertanyaan yang timbul, seberapa besar mukjizat hadir dalam diri kita dibanding dengan usaha untuk menghasilkan sebuah prestasi? Tentu yang lebih dekat dengan kita adalah usaha, bukan mukjizat. Karena kita bukan nabi tetapi kita adalah manusia yang hidup di alam rasional yang pengaruh hukum sebab akibat lebih tinggi ketimbang hukum “khawarikul adat” yang langsung turun dari langit. Mukjizat bisa dikatakan sebagai sesuatu yang irrasional.
Dengan demikian, izinkan khatib dalam kesempatan minim ini untuk mengupas sedikit tentang hal tersebut dengan tema “Merayakan Tahun Baru Hijriah sebagai Upaya Memperbaiki Diri.
Merayakan tahun baru bukanlah merayakan harinya, tetapi merayakan kepribadian baru yang lebih mampu dan bersungguh-sungguh. Jika kita merayakan harinya tanpa melihat kepantasan diri untuk menjadi lebih baik, maka kita memasuki tahun baru dengan kemampuan yang sama dan mengulangi penderitaan dan kesalahan lama yang sudah disadari tidak baik bagi diri kita. Hari, dimana tahun baru datang, tidak penting karena setiap hari itu sama, tetapi momen memperbaiki dirilah yang utama dalam memeriahkannya.
Kenapa demikian? Karena tahun baru adalah tahun dimana kita membutuhkan transisi mental, tidak boleh kondisi mental tahun baru sama dengan mental tahun lalu yang telah berhasil membatalkan rencana, puas bermalas-malas, mentradisikan kemaksiatan dan menantang hukum-hukum Allah. Hari ini kita perbaiki mental, sehingga mental kita adalah mental yang benar-benar baru. Tapi ingat jangan melupakan mental lama. Yang terpenting adalah pembaharuan mental yang lebih positif dan diridhoi Allah.
Pergantian tahun baru hijriah mengingatkan kita bahwa jatah hidup kita di dunia ini semakin berkurang. Seorang ulama besar, Imam Hasan Al-Basri, mengatakan, ”Wahai anak Adam, sesungguhnya Anda bagian dari hari, apabila satu hari berlalu, maka berlalu pulalah sebagian hidupmu.” Dengan makna seperti itu, seharusnyalah kalau pergantian tahun justru mesti kita manfaatkan untuk mengevaluasi (muhasabah) diri diri kita masing-masing. Allah SWT berfirman :
”Wahai orang-orang beriman bertakwalah kalian kepada Allah, dan hendaklah setiap diri memperhatikan apa yang telah disiapkan untuk hari esok (akhirat), dan bertakwalah kepada Allah, sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa-apa yang kalian kerjakan.” (QS Al Hasyr 18).
Rasulullah SAW bersabda, ”Tidaklah melangkah kaki seorang anak Adam di hari kiamat sebelum ditanyakan kepadanya empat perkara: tentang umurnya untuk apa dihabiskan, tentang masa mudanya untuk apa digunakan, tentang hartanya dari mana diperoleh dan ke mana dihabiskan, dan tentang ilmunya untuk apa dimanfaatkan.” (HR Tirmidzi).
Terkait dengan usia itu, Rasulullah menjelaskan, ”Sebaik-baik manusia ialah yang panjang umurnya dan baik amal perbuatannya, sedangkan seburuk-buruk manusia adalah yang panjang umurnya tetapi buruk amal perbuatannya.” (HR Tirmidzi).
Ada tiga dimensi yang perlu kita telaah dalam menyongsong tahun baru, dimensi masa lalu, dimensi masa kini dan dimensi masa depan. Pertama dimensi masa lalu itu penting sebagai cermin. Kita hidup dibangun oleh masa lalu, dan tidak ada orang yang tidak lepas dari masa lalunya. Masa lalu adalah masa dimana kita telah mematangkan menjadi muslim yang baik, bahkan saking cepatnya waktu masa lalu datang, dua hari lagi, besok itu sudah jadi kemarin. Dengan demikian, jadikanlah masa lalu sebagai kaca spion untuk melihat ke belakang sehingga kenderaan yang kita kemudikan tidak menyenggol dan disenggol kenderaan lain, dan selamat ke tujuan.
Allah maha Pengasih, jika dimasa lalu masih ada dosa-dosa, kesalahan-kesalahan, maka perbaikilah. Allah itu maha Berkuasa dan saking berkuasanya, Dia berkuasa untuk menghapuskan dosa kita, bahkan Allah mampu menjadikan kita pribadi yang lebih baik walaupun orang-orang di sekitar kita tidak mengiranya. Tidak ada yang tidak mungkin bagi Allah untuk memuliakan setiap hamba-Nya. Hanya satu yang tidak mungkin bagi Allah, tidak mungkin Allah tidak menyayangi kita sebagai hamba-Nya yang ingin memperbaiki diri. Cara kita memandang Allah adalah melihat baiknya. Kalau kita senantiasa melihat burukNya, maka kita akan berhenti berharap, dan kita telah membatalkan sifat kemaha rahman dan kemaha rohiman Allah.
Kedua dimensi masa kini (sekarang) adalah awal kita memperbaiki diri. Jangan dikira hanya akhir yang penting, awal juga penting karena awal akan menentukan akhir. Awal yang baik dapat berakhir dengan baik walaupun akan diuji. Nabi Muhammad saja yang sudah dimaksum dari segala kesalahan, bahkan Allah melindungi dengan awan kemanapun beliau berjalan, masih membutuhkan sahabat. Dengan sahabat, beliau bahu membahu untuk mencapai tujuan dan harus melewati ujian yang berliku-liku dan silih berganti. Ujian selalu datang untuk meningkatkan kualitas pribadi kita.
Setiap kita berbuat baik, pasti akan diuji. Kita mencoba untuk sabar, maka tidak lama kesabaan kita akan diuji oleh orang lain. Kita mencoba untuk rajin bersedekah, berinfak dan sebagainya, maka ketulusan kita akan diuji untuk berbagi. Kita mencoba untuk untuk menghormati orang lain, tidak lama kemudian kita diuji dengan penghinaan orang terdekat dengan berbagai cemoohan.
Namun jika kita lulus dari ujian, maka Allah akan memberikan derajat yang tinggi. Kalau gagal, firman Allah: kaburo maktan indalloh, anta’kulu ma la ta’falun. “Allah sangat murka bagi mereka yang berbicara tidak sama dengan yang dilakukannya.”
Dengan demikian dimensi masa kini harus diisi dengan kebaikan, sehingga kita lupa untuk melakukan keburukan. Jangan terlalu berharap akan mendapatkan kebaikan dari kebaikan hari ini, karena menanam kebaikan akan membuahkan kebaikan dimasa yang akan datang. Besarkanlah nama kita dengan kebaikan, sehingga kita tidak punya waktu untuk menunda kebaikan. Jagalah hati kita untuk terus menata rencana yang baik hari ini, dan tinggalkan kemalasan. Kalau kita masih ingin malas-malasan hari ini, malaslah untuk berbuat maksiat dan dosa. Dengan malas berbuat maksiat dan dosa, otomatis kita akan segera berbuat kebaikan.
Dimensi ketiga adalah dimensi masa depan. Tidak ada yang tahu masa depan. Maka jadikanlah masa kini menjadi masa yang baik biar menjadikan masa depan yang baik, karena masa depan dibangun oleh masa kini. Rencanakanlah masa depan dengan bersungguh-sungguh agar kita tidak menyesal. Hidup kita tidak sementara, hidup kita sangat panjang. Yang sementara adalah hidup kita di dunia. Hidup di dunia adalah hidup yang pendek, dan akan disambung dengan hidup di alam akhirat yang panjang.
Tetapi pendeknya hidup di dunia akan menentukan kualitas hidup kita di akhirat kelak. Maka jadikanlah rencana masa depan di kehidupan pendek ini menjadi rencana yang bermartabat. Bermanfaatlah bagi kehidupan, karena harga seseorang akan dilihat seberapa besar kemanfaatannya bagi orang lain, bukan seberapa besar dapat mendapatkan manfaat dari orang lain. Masa depan adalah masa yang gaib, tetapi jelaskanlah masa depan itu dengan menjumlahkan kebaikan-kebaikan kita dari masa lalu dan masa sekarang agar masa depan kita menjadi lebih baik. Bukankah nabi pernah bersabda “Beruntunglah orang yang lebih baik hari ini daripada hari kemarin, rugilah orang yang sama hari ini dengan kemarin, dan celakalah orang yang lebih buruk dari hari kemarin”
Semangat Hijrah Nabi Muhammad SAW merupakan inspirasi dalam melakukan perubahan (move on) dalam kehidupan kita. Inspirasi yang bisa kita ambil dari peristiwa hijrah adalah: (a) perisitwa hijrah Rasululah dan para sahabatnya dari Makkah ke Madinah merupakan tonggak sejarah yang monumental dan memiliki makna yang sangat berarti bagi setiap muslim; (b) Hijrah mengandung semangat perjuangan tanpa putus asa dan rasa optimisme yang tinggi. Menegakkan aqidah di tengah budaya jahiliyah adalah perjuangan berat; (c) Hijrah mengandung semangat persaudaraan. Kaum Anshor Madinah dengan sepenuh hati menerima kaum Muhajirin Makkah, dan inilah contoh ukhuwah yang sejati.
Maka, Pergantian tahun mengingatkan manusia tentang pentingnya waktu. ”Siapa yang mengetahui arti waktu berarti mengetahui arti kehidupan. Sebab, waktu adalah kehidupan itu sendiri”. Dengan demikian, orang-orang yang selalu menyia-nyiakan waktu dan umurnya adalah orang yang tidak memahami arti hidup. Ulama kharismatik, Syekh Prof Dr Yusuf Qardhawi, dalam bukunya Al-Waqtu fi Hayat al-Muslim menjelaskan, tiga ciri waktu. Pertama, waktu itu cepat berlalunya. Kedua, waktu yang berlalu tidak akan mungkin kembali lagi. Dan ketiga, waktu itu adalah harta yang paling mahal bagi seorang Muslim.
Semoga dengan pergantian tahun baru hijrah 1437 H ini kita dapat memprogramkan diri dengan benteng keimanan dan mengamalkan nilai-nilai keislaman serta selalu muhasabah (evaluasi dan intropeksi) diri untuk menggapai Ridho Ilahi SWT. Amin… (Salwinsah, 16 Oktober 2015)

 
Tinggalkan komentar

Ditulis oleh pada 17 Oktober 2015 in Uncategorized

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: