RSS

Pemuda dan Perjuangan Islam (Khutbah Jum’at)

28 Okt

Menjelang keberangkatan Rasulullah SAW dan para sahabat ke medan perang Badar, datanglah seorang remaja menghadap Rasulullah SAW. Usianya masih 13 tahun. Ia datang dengan membawa sebilah pedang yang panjangnya melebihi panjang badannya. Setelah dekat kepada beliau dia berkata, “Saya bersedia mati untukmu, wahai Rasulullah! Izinkanlah saya pergi jihad bersamamu, memerangi musuh-musuh Allah di bawah panji-panjimu.”
Rasulullah gembira dengan dan takjub dengan remaja itu. Tetapi, beliau tidak mengizinkannya untuk berperang karena usianya yang masih sangat muda. Remaja itu pun kembali, dengan kesedihan yang mendalam, niatnya untuk memperjuangkan Islam belum bisa dilaksanakan. Sementara itu, ibunya yang dari tadi melihat dari kejauhan, tidak kalah sedihnya. Sebab, putranya belum mendapat kesempatan membela Islam.
Tapi mereka tidak menyerah. Cita-cita remaja itu tidak melemah, bahkan semakin kuat. Demikian pula ibunya. Untuk mencapai angan-angan anaknya yang begitu besar, si ibu menghubungi kerabat-kerabatnya untuk menyampaikan tekad putranya, berkontribusi untuk Islam dalam bidang lain yang lebih besar peluangnya untuk diterima. Mereka pun menghadap Rasulullah SAW.
“Wahai Rasulullah! Ini anak kami. Dia hafal tujuh belas surat dari kitab Al-Qur’an. Bacaannya betul, sesuai dengan yang diturunkan Allah kepadamu. Di samping itu dia pandai pula baca tulis Arab. Tulisannya indah dan bacaannya lancar. Dia ingin berbakti kepadamu dengan keterampilan yang ada padanya, dan ingin pula selalu mendampingimu. Jika engkau berkenan dan menghendaki, silakan mendengarkan bacaannya.” Pinta salah seorang pamannya.
Selepas Rasulullah SAW mendengar bacaannya, beliaupun menyuruh remaja itu untuk mempelajari bahasa Ibrani. Dalam waktu singkat ia berhasil, dan diangkat sebagai sekretaris Rasulullah ketika berinteraksi atau berkomunikasi dengan orang-orang Yahudi. Remaja itulah yang membacakan surat Yahudi dan menuliskan surat Rasulullah SAW untuk mereka.
Rasulullah SAW kemudian menyuruhnya untuk belajar bahasa Suryani. Dalam waktu singkat ia pun berhasil, dan tugasnya bertambah. Ia pula yang menjadi sekretaris saat Rasulullah SAW berinteraksi atau berkomunikasi dengan orang-orang berbahasa Suryani.
Setelah Rasulullah SAW benar-benar yakin dengan kemampuan, kompetensi dan syakhsiyah Islamiyah-nya, remaja itu pun diangkat menjadi sekretaris wahyu. Setiap kali ayat Al-Qur’an turun, ia segera dipanggil Rasulullah SAW untuk menulisnya dan meletakkannya dengan urutan sebagaimana yang diperintahkan Rasulullah SAW. Siapakah gerangan remaja itu. Ia adalah Zaid bin Tsabit, penulis ayat-ayat Al-Qur’an pertama kali ketika kitab suci umat Islam ini akan dibukukan.
Demikian profil pemuda yang diinginkan Islam. Pemuda yang tidak hanya menikmati keislamannya seorang diri tetapi juga memiliki komitmen untuk memperjuangkan Islam ke tengah- tengah masyarakat.
Lima belas abad silam, seluruh muslim yang ikut dalam kafilah Haji Wada bersama Rasulullah SAW pada tahun ke-10 Hijrah, hanya berjumlah 100.000 sampai 125.000 jiwa. Jumlah itu setara 1 per 1000 dari total penduduk bumi ketika itu, yang berjumlah sekitar 100 juta jiwa. The Pew Forum on Religion and Public Life baru-baru ini mempublikasikan data bahwa jumlah umat Islam sekarang sebanyak 1,57 milyar orang. Jika perbandingan antara penduduk Muslim dengan penduduk bumi di zaman Rasulullah SAW adalah 1 per 1000, maka perbandingannya hari ini adalah 1 per 5 sampai 1 per 4. Subhaanallah, Allaahu akbar! Jumlah yang sangat banyak dan perkembangan yang sangat pesat, yang patut untuk kita syukuri.
Secara kuantitas kaum muslimin memang luar biasa. Tetapi itu belum mampu untuk membuat umat Islam kembali memperoleh kemuliaannya. Izzul Islam wal Muslimin. Sementara tujuan perjuangan Islam itu adalah :
Dan perangilah mereka, supaya jangan ada fitnah dan supaya agama itu semata-mata untuk Allah… (QS al-Anfal : 39)
Lalu bagaimana realita hari ini? Islam justru dicurigai, dipenuhi dengan stigma negatif, sebagai sarang teroris, bahkan dianggap terbelakang dan tidak mampu menjawab tantangan zaman. Umat Islam yang banyak itupun ternyata sebagian besarnya baru sebatas berislam dalam identitas, KTP belum mengaplikasikan Islam dalam kehidupannya. Sedangkan Allah SWT memerintahkan:
Hai orang-orang yang beriman, masuklah kamu ke dalam Islam keseluruhan, dan janganlah kamu turut langkah-langkah syaitan. Sesungguhnya syaitan itu musuh yang nyata bagimu. (QS. Al-Baqarah : 208)
Melihat ketimpangan antara realita dan cita-cita Islam ini, kita memerlukan para pemuda untuk mengubahnya. Mengapa para pemuda? Sebab pemudalah yang memiliki empat karakter yang diperlukan untuk mewujudkan itu. Empat karakter itu adalah iman, ikhlas, semangat, dan amal. Hasan Al-Banna dalam Majmu’atur Rasail berucap:
Sesungguhnya, sebuah pemikiran itu akan berhasil diwujudkan manakala kuat rasa keyakinan kepadanya, ikhlas dalam berjuang di jalannya, semakin bersemangat dalam merealisasikannya, dan kesiapan untuk beramal dan berkorban dalam mewujudkannya. Sepertinya keempat rukun ini, yakni iman, ikhlas, semangat, dan amal merupakan karekter yang melekat pada diri pemuda, karena sesungguhnya dasar keimanan itu adalah nurani yang menyala, dasar keikhlasan adalah hati yang bertaqwa, dasar semangat adalah perasaan yang menggelora, dan dasar amal adalah kemauan yang kuat. Itu semua tidak terdapat kecuali pada diri para pemuda. (Risalah Ila Syabab)
Itulah mengapa Al-Qur’an mengisahkan para pemuda yang memperjuangkan agama-Nya; diantaranya ada Ibrahim, Musa, Ashabul Kahfi. Itulah mengapa sejarah Islam juga diwarnai oleh para pemuda. Sebagian dari assaabiquunal awwalun yang ditarbiyah Rasulullah SAW di rumah Arqam bin Abi Arqam ternyata adalah pemuda. Da’i yang ditugaskan Rasulullah SAW untuk berdakwah di Madinah dan mengislamkan setiap rumah adalah Mush’ab bin Umair, seorang pemuda. Komandan perang sekaligus khalifah yang mampu menaklukkan Konstantinopel ternyata juga seorang pemuda; Muhammad Al-fatih namanya.
Maka, para pemuda Islam sekarang sudah saatnya untuk menjadi seperti Zaid bin Tsabit dalam kisah di awal khutbah ini. Miliki komitmen untuk memperjuangkan Islam, dan jika kita menolong memperjuangkan agama, niscaya Allah akan menolong kita.
Hai orang-orang beriman, jika kamu menolong (agama) Allah, niscaya Dia akan menolongmu dan meneguhkan kedudukanmu. (QS Muhammad : 7)
Tidak mungkin Islam ini memperoleh kembali kejayaannya, jika umat Islam hanya diam dan pasrah dengan kondisi yang ada. Sementara para pemudanya hanya berfoya-foya dan terjatuh dalam budaya hedonisme, bebas dan membolehkan segala-galanya yang telah dikembangkan Barat. Umat Islam, khususnya para pemuda haruslah menjadi seperti hawariyyin yang difirmankan Allah SWT:
Hai orang-orang yang beriman, jadilah kamu penolong (agama) Allah sebagaimana Isa ibnu Maryam telah berkata kepada pengikut-pengikutnya yang setia: “Siapakah yang akan menjadi penolong-penolongku (untuk menegakkan agama) Allah?” Pengikut-pengikut yang setia itu berkata: “Kamilah penolong-penolong agama Allah”, lalu segolongan dari Bani Israil beriman dan segolongan lain kafir; maka Kami berikan kekuatan kepada orang-orang yang beriman terhadap musuh-musuh mereka, lalu mereka menjadi orang-orang yang menang.(QS. Ash-Shaf : 14)
Memperjuangkan Islam pada saat ini harus disesuaikan dengan kompetensi, kemampuan dan bidang kita masing-masing. Sebagaimana Zaid bin Tsabit yang berjuang dengan ilmunya, Khalid bin Walid dengan kemampuan strategi perangnya, Umar bin Khattab dengan keberanian dan ketegasannya, Utsman bin Affan dengan hartanya, dan lain sebagainya. Maka, bagi kita yang memiliki harta, gunakanlah harta itu untuk memperjuangkan Islam. Bagi kita yang memiliki kemampuan menulis gunakanlah ia untuk memperjuangkan Islam. Bagi kita yang memiliki kompetensi di bidang pendidikan, teknik, kedokteran, ekonomi, kebumian, politik dan lain-lain, gunakanlah itu semua sebagai sarana memperjuangkan Islam.
Semoga momentum 28 Oktober 2016, hari sumpah pemuda jatuh pada hari ini, membangkitakan kembali gelora para pemuda Indonesia untuk berjuang melawan musuh dalam bentuk apapun yang bisa menghancurkan negeri tercinta Indonesia, menghancurkan masa depan pribadinya sendiri, yang selalu mengintai di sekitarnya.
Bahaya penyalahgunaan narkoba yang telah melebihi ambang batas kewajaran, pengaruh budaya Barat yang luar biasa menusuk melalui media komunikasi internet, peradaban, gaya hidup dan model-model pakaian yang jauh dari ajaran-ajaran agama, semua serba transparan, membangkitkan gelora syahwat, sewaktu-waktu dimana dan kapan pun siap ditelan mentah-mentah tanpa pandang usia dan strata kehidupan. Dan semua itu siap menghancurkan masa depan generasi Islam, sebagai penerus kehidupan kita di masa mendatang.
Dengan bermodalkan Islam dan meneladani pemuda-pemuda pejuang Islam tempo dulu, Insya Allah kita akan selamat dari semua godaan dan cobaan yang selalu mengintai di hadapan kita. Amin ya rabbal ‘alamiiin. (Salwinsah)

 
Tinggalkan komentar

Ditulis oleh pada 28 Oktober 2016 in Uncategorized

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: