RSS

Guru Sejati Terbawa Senja

Guru Sejati Terbawa Senja
(Refleksi Usia Guru ke-68)
Oleh Lilik Mulyana, S.PdI
KEBERHASILAN transfer ilmu kepada peserta didik ditentukan oleh guru. Peran besar guru tersebut harus ditopang dengan kualitas, memiliki multi kompetensi, baik pedagogik, sosial maupun profesional. Dirinya harus dibekali wawasan global, berkemampuan melahirkan Sumber Daya Manusia yang cerdas, mandiri dan bermoral. Benteng terakhir, guru harus memiliki moralitas dan religius. Jika tidak, guru akan menjadi pihak yang paling sering disalahkan ketika kondisi pendidikan berada pada posisi yang mengecewakan masyarakat.
Sentuhan Tangan Guru
Menabur benih karakter bangsa butuh ruang peristiwa. Bagi peserta didik sekolah adalah ruang peristiwa itu. Sekolah mesti menjadi oase di tengah padang kehidupan yang minimnya nilai peradaban. Gurulah harapan utama pencipta oase itu agar benih karakter bisa tumbuh subur menghijaukan permukaan bumi, sebagai tempat bernaungnya kehidupan generasi selanjutnya.
Pendidikan yang memberdayakan hidup, membuat manusia kian berbudaya dan bermartabat, harus berangkat dari pemberdayaan realitas kehidupan. Di akhir proses pembelajaran, guru dan peserta didik menentukan disposisi kehidupan batiniyah sebagai kristalisasi pergulatan realitas kehidupan tadi. Disposisi itu mesti menerbitkan ruang eksplorasi hidup bernilai tinggi guna melahirkan idealisme yang santun.
Ketika guru berjuang agar peserta didiknya memiliki rasa cinta tanah air, bangga pada alamnya yang kaya nan subur, beragam suku dan budaya terpatri dalam satu kebangsaan, namun moralitas anak bangsa terus merosot. Saat seperti inilah, guru terpanggil untuk terus menyelamatkan bahtera negeri ini. Dibutuhkan guru yang berani menjadi manusia unggul, merdeka, bebas dari belenggu pencitraan dan ragam pergulatan politis dan birokratis, demi menciptakan ruang istimewa untuk tumbuhnya benih calon pemimpin tangguh masa depan, terlahir dari peserta didik, hasil sentuhan guru bertangan dingin berjiwa sejati. Menggatikan estafet kepemimpinan yang telah jenuh, jauh dari keberpihakan kepada rakyat.
Memilih Profesi Guru
Beragam alasan mengapa orang memilih profesi sebagai guru. Jika pilihan itu telah dijalani dalam waktu lama hingga sekarang, lumrah, karena setiap orang pada hakikatnya ingin bertahan dengan pilihan itu. Bertahan pada satu kecintaan yang dilematis antara mengabdi dan mencari kesejahteraan. Tapi statemen itu telah dimentahkan seiring makna besar dari dunia pendidikan. Sekarang menjadi guru bukan lagi pilihan yang dilematis melainkan sebuah pilihan yang prestisius. Jika dulu guru berjalan dalam kesunyian, kini guru berjalan dengan tubuh tegak berdiri, penuh percaya diri, seolah ingin berikrar, “Saya adalah guru.” Presitius, karena di tengah sulitnya mencari lahan pekerjaan, profesi guru lalu jadi incaran.
Guru adalah profesi yang telah eksis sejak sejarah peradaban manusia ada. Guru dipercaya sebagai salah satu penjamin keberlangsungan peradaban itu sendiri. Minat yang begitu besar menjadi guru saat ini tentu saja sebuah kegembiraan. Apalagi hal itu dikaitkan dengan kurangnya tenaga guru di daerah. Akan tetapi, apakah minat besar itu berdampak kepada lahirnya generasi berkelas? Bukankah minat besar itu lahir dari keinginan merubah nasib dan masa depan? Yang menjadi kekhawatiran, tingginya minat orang menjadi guru karena kebijakan sertifikasi guru yang telah dijalankan pemerintah, bahwa gaji guru yang telah bersertifikasi akan dinaikan dua kali lipat. Bukan karena kesejatian jiwa sebagai guru.
Tidak jadi bahan perbincangan lagi soal gelapnya kesejahteraan guru, karena matahari telah menampakkan sinar terangnya. Di balik kemerlap sinar itu, pertanyaan pun mengiang, sudah sejauh mana perubahan peradaban generasi muda sekarang, nota bene hasil didikan guru terimingi sertifikasi?
Guru Sejati Telah Senja
Sungguh jiwa mengajar sejati, milik guru-guru kita ‘tempo doeloe’. Sayang, mereka telah berusia senja. Namun tetap memiliki jiwa pendidik sejati. Satu kalimat singkat yang merekat di hati mereka, murid harus berhasil. Filosofi itu telah menyatu sejak mereka bercita-cita jadi guru, tanpa menghiraukan berapa pendapatan yang dihasilkan. Mereka tetap berdiri di depan kelas, apakah ruang itu nyaman atau tidak. Atau di ruang belajar yang atapnya bocor diintip terik matahari di siang bolong, atau terpercik air tat kala hujan, di gedung yang hampir ambruk atau bangunan sekolah yang bertengger di lahan persengketaan. Persetan semua itu. Guru sejati tetap mengajar.
Tidak memperdulikan full atau minimnya sarana, mengajar dan mendidik adalah nomor satu. Mengajar dan mendidik adalah jiwa mereka. Seperti halnya roh yang tidak akan terlepas dari raga. Merekalah insan-insan yang mampu menepis anggapan bahwa uang dan material bukanlah segala-galanya.

Mereka tidak mengerti apa itu sertifikasi guru, apalagi berhasrat ingin memiliki sertifikat itu. Mereka juga tidak berkeinginan bergaji besar jika kualitas murid hasil bimbingannya lulus asal-asalan. Filosofi luhur itulah yang kini tergores oleh arus deras konsumerisme pendidikan. Embel bergaji besar menyebabkan banyak orang yang ingin jadi guru, dan memaksakan diri berjiwa guru tanpa panggilan nurani.
Kekeliruan besar, saat terjadi misorientasi memilih profesi guru. Berlomba-lomba ingin jadi guru, tapi tidak diiringi dengan keinginan mulia, sebagai pendidik sejati. Guru yang sejati, harus dibekali ilmu batin. Seorang guru tidak akan pernah menjadi guru yang baik jika tidak memiliki ilmu penguasaan diri, ilmu kesabaran, ilmu menahan nafsu, ilmu kelemahlembutan dan ilmu kasih sayang.
Orientasi yang keliru memilih profesi guru akan berdampak pada hasil pendidikan. Di saat pemerintah memberikan penghargaan materi, meningkatkan kesejahteraan guru, di saat itu pula orang berlomba-lomba menjadi tenaga pendidik, maka akan lahirlah tenaga pendidik yang mengajar tanpa filosofi. Istilah ’kejar tayang’ akan menggejala dalam proses pembelajaran. Kita tau, mengajar bukanlah sebuah sinetron, yang materinya mengikuti selera pemirsa, walau harus melanggar norma dan menjatuhkan harga diri, dirinya bahkan harga diri orang lain.
Lalu, mampukah kita mengembalikan citra guru sejati, seperti guru-guru kita dulu, di usia kita yang juga semakin senja? (Lilik Mulayana Guru SD 90/IX Kecamatan Mestong Kabupaten Muaro Jambi)

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: