RSS

Kedisiplinan, Kendali Diri Tanpa Paksaan

Kedisiplinan, Kendali Diri Tanpa Paksaan
Oleh Drs. Edy Purwanta, M.Pd*
PESERTA didik adalah orang yang terlibat langsung dalam dunia pendidikan. Dalam perkembangan kepribadiannya tentu melalui proses belajar, termasuk didalamnya belajar mengenal diri orang lain dan lingkungan sekitar. Ini dilakukan agar peserta didik mampu memposisikan dan mengendalikan diri di tengah-tengah masyarakat.
Sifat pengendalian diri harus ditumbuh-kembangkan pada diri peserta didik dalam artian, suatu kondisi dimana seseorang dalam perbuatannya selalu dapat menguasai diri. Sehingga daya kontrol dari berbagai keinginan yang terlalu berlebih-lebihan bisa dikendalikan. Artinya dalam sifat pengendalian diri terkandung keteraturan hidup dan kepatuhan akan segala peraturan. Dengan kata lain perbuatan peserta didik selalu berada dalam koridor disiplin yang akan melahirkan ketertiban. Bila demikian akan tumbuhlah rasa kedisiplinan mereka untuk selalu mengikuti setiap peraturan, baik yang berlaku di sekolah maupun di masyarakat.
Masalah kedisiplinan peserta didik menjadi sangat berarti bagi kemajuan sebuah satuan pendidikan. Di sekolah yang tertib dan disiplin akan selalu menciptakan proses pembelajaran yang baik dan kondusif. Sebaliknya pada sekolah yang tidak tertib kondisinya akan jauh berbeda. Pelanggaran-pelanggaran yang terjadi sudah dianggap hal biasa dan untuk memperbaiki keadaan yang demikian tidaklah semudah membalikkan telapak tangan. Hal ini diperlukan kerja keras dari berbagai pihak untuk mengubah sehingga berbagai pelanggaran terhadap disiplin dan tata tertib sekolah perlu dicegah dan ditangkal.
Kedisiplinan bertujuan untuk penurutan terhadap suatu peraturan dengan kesadaran sendiri untuk terlaksananya peraturan itu. Selanjutnya kedisiplinan merupakan pengembangan dan pengarahan diri tanpa pengaruh atau kendali dari luar. Perannya juga sebagai pelatih batin yang tercermin dalam tingkah laku yang bertujuan agar orang selalu patuh pada peraturan. Dengan adanya kedisiplinan diharapkan peserta didik mendisiplinkan diri dalam mentaati setiap peraturan sekolah sehingga proses pembelajaran berjalan dengan lancar dan memudahkan pencapaian tujuan pendidikan.
Lebih dari itu kedisiplinan akan memberi kenyamanan pada peserta didik, guru dan elemen sekolah serta menciptakan lingkungan yang asri dan sejuk untuk belajar serta perkembangan dari pengembangan dan pengarahan diri berjalan secara alami tanpa terkontaminasi kendali dari luar.
Fungsi dan Pengaruh Kedisiplinan
Fungsi penerapan kedisiplinan; 1. Menata kehidupan bersama. Kedisiplinan sekolah berguna untuk menyadarkan siswa bahwa dirinya perlu menghargai orang lain dengan cara menaati dan mematuhi peraturan yang berlaku, sehingga tidak akan merugikan pihak lain dan hubungan dengan sesama menjadi baik dan lancar. 2. Membangun kepribadian. Pertumbuhan kepribadian seseorang biasanya dipengaruhi oleh faktor lingkungan. Disiplin yang diterapkan di masing-masing lingkungan memberi dampak bagi pertumbuhan kepribadian yang baik. Oleh karena itu, dengan disiplin seseorang akan terbiasa mengikuti, mematuhi aturan yang berlaku dan kebiasaan itu lama kelamaan masuk ke dalam dirinya serta berperan dalam membangun kepribadian yang baik. 3. Melatih kepribadian. Sikap, perilaku dan pola kehidupan yang baik dan berdisiplin terbentuk melalui latihan. Demikian juga dengan kepribadian yang tertib, teratur dan patuh perlu dibiasakan dan dilatih. 4. Pemaksaan. Kedisiplinan dapat terjadi karena adanya pemaksaan dan tekanan dari luar, misalnya ketika seorang siswa yang kurang disiplin masuk ke satu sekolah yang berdisiplin baik, terpaksa harus mematuhi tata tertib yang ada di sekolah tersebut. 5. Hukuman. Tata tertib biasanya berisi hal-hal positif dan sanksi atau hukuman bagi yang melanggar tata tertib tersebut. 6. Menciptakan lingkungan yang kondusif. Kedisiplinan berfungsi mendukung terlaksananya proses dan kegiatan pendidikan agar berjalan lancar dan memberi pengaruh bagi terciptanya sekolah sebagai lingkungan pendidikan yang kondusif bagi kegiatan pembelajaran.
Faktor yang dapat menyebabkan timbulnya masalah yang dapat mengganggu terpeliharanya kedisiplinan di sekolah diantaranya; 1. Tipe kepemimpinan guru atau sekolah yang otoriter yang senantiasa mendiktekan kehendaknya tanpa memperhatikan kedaulatan peserta didik. Perbuatan seperti itu mengakibatkan peserta didik menjadi berpura-pura patuh, apatis atau sebaliknya. Hal itu akan menjadikan siswa agresif, ingin berontak terhadap kekangan dan perlakuan yang tidak manusiawi yang mereka terima. 2. Guru yang membiarkan siswa berbuat salah, lebih mementingkan mata pelajaran daripada siswanya. 3. Lingkungan sekolah yang tidak menyenangkan bagi siswa.
Hal-hal yang dianggap sebagai perilaku pelanggaran disiplin peserta didik dapat digolongkan dalam lima kategori umum, yaitu; 1. Agresi fisik (pemukulan, perkelahian, perusakan, dan sebagainya). 2. Kesibukan berteman (berbincang-bincang, berbisik-bisik, berkunjung ke tempat duduk teman tanpa izin). 3. Mencari perhatian (mengedarkan tulisan-tulisan, gambar-gambar dengan maksud mengalihkan perhatian dari pelajaran). 4. Menantang wibawa guru (tidak mau nurut, memberontak, memprotes dengan kasar, dan sebagainya), dan membuat perselisihan (mengkritik, menertawakan, mencemoohkan). 5. Datang terlambat, membolos, atau ‘kabur’, mencuri, tidak berpakaian sesuai dengan ketentuan, merokok, menkonsumsi narkoba atau minuman keras.
Aspek kedisiplinan yang perlu diperhatikan pada pembinaan peserta didik meliputi; pertama sikap mental (mental attitude) yang merupakan sikap taat dan tertib sebagai hasil pengembangan dari latihan, pengendalian pikiran dan pengendalian watak, kedua, pemahaman yang baik mengenai sistem peraturan perilaku, norma, kriteria dan standar yang sedemikan rupa, sehingga pemahaman tersebut menumbuhkan pengertian yang mendalam atau kesadaran, bahwa ketaatan akan aturan. Norma dan standar tadi merupakan syarat mutlak untuk mencapai keberhasilan, ketiga sikap kelakuan yang secara wajar menunjukkan kesungguhan hati, untuk mentaati segala hal secara cermat dan tertib.
Jika kedisiplinan sudah menyatu dalam perilaku, maka sikap atau perbuatan yang dilakukan bukan lagi sebagai beban, bahkan sebaliknya akan membebani dirinya bilamana ia tidak berbuat sebagaimana lazimnya.
(Penulis Kepala SMAN Titian Teras H. Abdurrahman Sayoeti Jambi)

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: