RSS

Memaknai Pemimpin dan Kepemimpinan

Memaknai Pemimpin dan Kepemimpinan
Oleh Drs. Edy Purwanta, M.Pd*
PEMIMPIN dan kepemimpinan adalah suatu ilmu, seni dan profesi seseorang yang dapat dipelajari. Karena itu masalah pemimpin dan kepemimpinan merupakan hak setiap individu tergantung dari kemampuan penyerapan ilmu yang ditekuni, di samping kesanggupan aplikasi dan improvisasi dalam kewenangan yang diemban.
Manusia adalah makhluk sosial, tidak bisa hidup layak dengan cara isolatif. Karena itu manusia selalu diikat dan dituntut oleh hasrat hidup dan bekerja sama di bawah bimbingan, tuntunan dan pengamatan suatu kepemimpinan tertentu, untuk mencapai tujuan bersama. Senada Ordway Tead dalam bukunya The Art of Leadership mengagendakan makna kepemimpinan sebagai suatu kegiatan untuk mempengaruhi orang-orang agar suka bekerja sama dalam upaya mencapai cita-cita atau tujuan yang diinginkan.
Tidak bisa terelakkan. Kepemimpinan sangat dibutuhkan dalam setiap tempat dan waktu demi terwujudnya situasi yang aman dan sejahtera. Tanpa adanya kepemimpinan di suatu lingkungan masyarakat atau komunitas tertentu, akan mudah terjadi kegoncangan bahkan kekacauan. Dalam posisi ini seorang pemimpin dituntut memiliki kemampuan dan kesanggupan serta kewibawaan dalam mengimplementasikan taktik kepemimpinannya.
Kewibawaan sesungguhnya bukanlah pimpinan yang dipaksakan untuk diikuti, semata-mata karena kewenangan dan kekuasaan yang dimiliki, tetapi justru timbul dari pengamatan dan pengakuan pihak lain atas kepuasan hatinya terhadap sikap dan perbuatan serta caranya memimpin.
Kepemimpinan mengandung tiga unsur utama yang akan menimbulkan kewenangan dan kekuasaan seseorang, yakni; Pertama tradisional, yaitu kepemimpinan yang diperoleh seseorang secara turun temurun. Para anggota yang dipimpinnya mengikuti kepemimpinan berdasarkan kebiasaan-kebiasaan yang hidup dan berkembang sejak nenek moyang. Kedua jabatan, yaitu kepemimpinan yang diperoleh karena jabatan seseorang. Kemudian khalayak ramai menilai sebagai kepemimpinan formal atau kepemimpinan fungsional. Karena itu kepemimpinan yang diperoleh karena jabatan atau fungsi yang dipangkunya senantiasa didasari dengan pengangkatan secara resmi oleh atasan yang berwenang. Dan ketiga kharismatik, yaitu kepemimpinan yang diperoleh dari pengakuan secara ikhlas dari para pengikutnya dan bukan karena keturunan atau kekuasaan formal, tetapi berdasar sikap hidup dan perbuatan seseorang yang teramati secara terus menerus. Kepemimpinan jenis ini biasanya berjalan secara alami di tengah-tengah masyarakat.
Sifat-sifat kepemimpinan yang menjadi tuluk ukur bagi seorang pemimpin stidak-tidaknya memiliki kejujuran sebagai perpaduan dari keteguhan moral dan moril yang luhur berdasarkan rasa kebenaran dan keadilan, serta kejujuran terhadap Tuhan, sesama manusia dan diri sendiri. Sementara unsur keberanian pada hakekatnya merupakan manifestasi tentang pengakuan adanya rasa ketakutan dan kekhawatiran terhadap kemungkinan timbulnya bahaya dan cercaan pihak lain, sehingga timbul kesamaptaan diri untuk menghadapi sekaligus upaya mengatasinya.
Dalam situasi genting dan penting secara otomatis menuntut pemimpin memiliki kemampuan untuk mengambil keputusan yang cermat dan bijaksana dalam pemecahan suatu permasalahan, kemampuan menyatakan pendapat mengenai tindakan-tindakan yang dilaksanakan secara cepat dan tepat sehingga menumbuhkan kepercayaan, ketaatan dan kepatuhan dari orang-orang yang dipimpin. Pengakuan dapat dipercaya atas suatu kepastian pelaksanaan tugas dan kewajiban yang dibebankan, pun nanti akan mengalir dengan sendirinya.
Selanjutnya ketauladanan adalah sikap seorang pemimpin berperan aktif dalam upaya mempengaruhi masing-masing pribadi yang dipimpinnya dalam rangka menjadikan dirinya sebagai panutan. Prinsip-prinsip ketauladanan yang dapat diciptakan iklim panutan itu adalah pada sistem among yang meliputi ing ngarso sung tulodo, ing madya mangun karso dan tut wuri handayani. Tindakan tahan uji adalah sikap dan perbuatan seorang pemimpin yang menunjukkan kesanggupan tidak pernah mengenal menyerah dan putus asa, tahan dalam menghadapi segala penderitaan, menghadapi setiap bentuk cobaan dan ujian, kesulitan dan hambatan dalam rangka melaksanakan tugas dan kewajiban.
Yang tidak kalah pentingnya adalah menanamkan sifat tidak mementingkan diri sendiri. Hal ini merupakan sikap dan perbuatan seorang pemimpin yang mencerminkan hasrat untuk berbakti, berkorban dan berjuang demi kepentingan bersama dengan kesadaran bahwa kepentingan bersama yang diaplikasikan, tanpa disadari ia juga termasuk kepentingan pribadi pemimpin. Sifat ini umumnya akan diiringi dengan sikap rendah hati merupakan sikap dan perbuatan seorang pemimpin yang bersahaja, hormat dan sopan terhadap siapapun yang dihadapi, tidak rendah diri, senantiasa memperhatikan integritas dan harga diri. Selanjutnya sikap rendah hati akan dapat menumbuhkan rasa solidaritas sosial yang demokratis, kritis dan obyektif dalam kekeluargaan, terbuka dan saling toleran.
Jika ditelaah dari segi pelaksanaan kepemimpinan akan diperoleh tuntutan dengan cara persuasi. Artinya membawa orang-orang yang dipimpin kepada kesadaran dalam melakukan kewajiban, sehingga benar-benar dirasakan sebagai bagian dari liku kehidupannya. Sisi lain yang mesti dilakukan adalah mengadakan dialog dengan mereka dan memberikan harapan-harapan yang masuk akal dan yang mungkin dapat dikerjakan (implikasi). Sementara cara sugesti mengajak orang-orang yang dipimpin kepada sasaran tugas tertentu disertai memberikan harapan tertentu pula.
Dalam realitanya kepemimpinan bisa sebagai profesi seseorang, yaitu kepemimpinan yang berstatus sebagai pemimpin formal selama jabatan tertentu, atas dasar legalitas formal berdasarkan penunjukkan pihak yang berwenang (yang memiliki legitimasi). Kepemimpinan yang berstatus sebagai pemimpin informal, kepemimpinannya berlangsung selama kelompok atau golongan yang terkait masih mau mengakui dan menerima dirinya.
Kepemimpinan suatu ketika juga bisa sebagai ilmu dalam artian pengetahuan tentang kepemimpinan yang dapat dipelajari oleh setiap orang untuk dapat melakukan kepemimpinan secara baik. Sebagai ilmu maka suatu kepemimpinan itu senantiasa menyangkut masalah kewenangan dan kekuasaan seseorang untuk memimpin, menkoordinasikan, memerintah untuk menyampaikan program yang harus dilakukan oleh anggota yang dipimpin dengan penuh kebijakan dan keyakinan akan kebenaran tujuan yang akan dicapai.
Dengan memahami pemaknaan pemimpin dan kepemimpinan dalam pemikiran ini tidak secara otomatis memaksakan seseorang untuk jadi pemimpin. Namun setidak-tidaknya bisa menilai apakah pemimpin kita sudah memiliki kreteria seperti ini?
(Penulis Kepala SMAN Titian Teras H. Abdurrahman Sayoeti Jambi)

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: