RSS

Senjanya Guru Sejati

Senjanya Guru Sejati
Oleh : Salwinsah

opini1OMBAK krisis, termasuk moral anak bangsa di negeri ini terus mendera. Keteladanan figur seorang guru, sebagai pemangku moralitas generasi muda, sangat dibutuhkan. Guru takkan pernah mengeluh dan berputus asa. Karena guru adalah guru, yang tak pernah lelah mengajar dan mendidik sepanjang masa tanpa peduli dunia ini seperti apa. Itulah naluri suci seorang guru sejati.
Kesuksesan siswa sangat tergantung pada guru. Dalam menjalankan perannya, guru harus membekali diri dengan kualitas, memiliki multi kompetensi pedagogik, sosial dan profesional. Berwawasan global, karena mereka akan melahirkan SDM yang cerdas, tangkas, mandiri dan bermoral. Benteng terakhir, guru selalu bermartabat di hadapan siswanya bahkan saat berada di tengah-tengah masyarakat, dan religius. Jika tidak, mereka akan menjadi kambing hitam ketika dunia pendidikan terpuruk.
Guru adalah komponen penting dalam pendidikan. Di pundak siswanya, guru menggantungkan harapan terhadap pelajaran yang disampaikan. Benci atau sukanya siswa terhadap suatu pelajaran bergantung pada bagaimana metode guru mengajar. Banyak orang mengatakan bahwa guru adalah ujung tombak dalam sistem pendidikan. Sebagai ujung tombak, orangtua sangat berharap kepada peran guru yang kharismatik dan teladan bagi anak-anak mereka.
Memilih Jadi Guru
Profesi guru telah eksis sejak sejarah peradaban manusia ada. Guru dipercaya sebagai salah satu penjamin keberlangsungan peradaban itu sendiri. Minat yang begitu besar menjadi guru saat ini tentu sebuah kegembiraan. Apalagi hal itu dikaitkan dengan kurangnya tenaga guru, terutama di daerah terpencil. Tetapi apakah minat besar itu berdampak kepada lahirnya generasi berkualitas? Yakinkah ambisi itu muncul dari keinginan merubah nasib dan masa depan bangsa? Yang menjadi kekhawatiran, tingginya minat orang menjadi guru dikarenakan kebijakan sertifikasi guru yang telah dijalankan pemerintah, bukan karena kesejatian jiwa sebagai guru.
Jika pilihan menjadi guru telah diangankan dalam waktu lama hingga sekarang, inilah yang bijak, karena setiap orang pada hakikatnya ingin bertahan dengan pilihan itu. Bertahan pada satu kecintaan untuk mengabdi dan mencari kesejahteraan jiwa. Namun statemen itu telah terkontaminasi seiring makna besar dunia pendidikan.
Sekarang menjadi guru bukan lagi pilihan utama sebagai abdi, melainkan sebuah pilihan yang prestisius. Presitius, karena di tengah sulitnya mencari lahan pekerjaan, profesi guru lalu jadi incaran. Jika dulu guru berjalan dalam kesunyian, jauh dari keramaian, kini guru berjalan dengan tegak busungkan dada, di tengah keramaian, seolah ingin berikrar, “Saya adalah guru.”
Sungguh pendidik sejati, seperti jiwa guru-guru kita dulu, telah memudar. Niat suci mengantarkan siswa menuju gerbang kesuksesan benar-benar merekat pada mereka. Filosofi itu telah menyatu sejak mereka bercita-cita jadi guru, tanpa menghiraukan berapa finansial yang dihasilkan. Mereka tetap berdiri di depan kelas, apakah ruang itu nyaman atau tidak. Atau di ruang belajar yang atapnya bocor, diintip terik matahari di siang bolong, atau terpercik air ketika hujan, di gedung yang hampir ambruk atau bangunan sekolah yang bertengger di lahan persengketaan. Persetan semua itu. Guru sejati tetap mengajar. Mengajar dan mendidik adalah jiwa mereka. Seperti halnya roh yang tidak akan terlepas dari raga. Merekalah insan-insan yang tetap beranggapan bahwa uang dan material bukanlah segala-galanya.
Mereka tidak mengenal apa sertifikasi guru apalagi berhasrat ingin memiliki sertifikat itu. Mereka juga tidak berkeinginan bergaji besar jika kualitas murid hasil bimbingannya lulus asal-asalan. Filosofi luhur itulah yang kini tergores oleh arus deras konsumerisme pendidikan. Embel bergaji besar menyebabkan banyak orang yang ingin jadi guru, dan memaksakan diri berjiwa guru tanpa panggilan nurani.
Merindukan Keteladanan
Kekeliruan besar, saat terjadi misorientasi memilih profesi guru. Berlomba-lomba ingin jadi guru, tapi tidak diiringi dengan keinginan mulia, sebagai pendidik sejati. Guru yang sejati, harus dibekali ilmu batin. Bukanlah guru yang baik jika tidak memiliki ilmu penguasaan diri, ilmu kesabaran, ilmu menahan nafsu, ilmu kelemahlembutan dan ilmu kasih sayang.
Orientasi yang keliru memilih profesi guru akan berdampak pada hasil pendidikan. Di saat pemerintah memberikan penghargaan materi, meningkatkan kesejahteraan guru, di saat itu pula orang berlomba-lomba menjadi guru, maka akan lahirlah guru yang mengajar tanpa filosofi. Kita tau, mengajar bukanlah sebuah sinetron, drama atau stand up comedy yang materinya mengikuti selera pemirsa, walau harus melanggar norma dan menjatuhkan harga diri, dirinya bahkan harga diri orang lain.
Kita harus berani mengakui bahwa guru berperan besar dalam menjadikan sebuah materi pembelajaran di sekolah, menarik atau membosankan siswa untuk mempelajarinya. Fakta membuktikan sebagian guru muda tidak punya motivasi dan semangat untuk mengajar di kelas. Entah karena malas (baca: tidak berminat jadi guru) atau kurang menguasai materi pembelajaran, sering guru tidak hadir di kelas dan kalaupun hadir tidak memberikan pelajaran sesuai dengan materi dan waktu yang tersedia. Waktu pelajaran di kelas dihabiskan dengan mencatat ataupun mengerjakan tugas tanpa siswa diberi motivasi dan wawasan secukupnya tentang materi tersebut.
Sungguh, kita rindu akan sosok guru yang mengajar kita masa lalu, berusaha untuk menjadi suri tauladan yang baik bagi orang sekitarnya, menjaga tutur kata yang santun, prilaku terpuji dan kesederhanaan di tengah gelombang hiruk-pikuk dan tajamnya perputaran roda kehidupan. Menjadi pohon rindang, meneneduhkan siapapun bernaung di bawahnya, menjadi kapal penyelamat bagi orang-orang yang terhampar di lautan, menjadi air pereda dahaga bagi yang kehausan, bagai lilin yang bersinar merelakan diri binasa asal orang bisa menikmati kegelapan. Kini mereka hanya termangu di rumah, tak berdaya lagi untuk berdiri di depan kelas, terhalang perputaran waktu.
Sebagai penerus cita-cita suci mereka mampukah kita mengembalikan citra guru sejati, seperti guru-guru kita dulu, di usia kita yang juga semakin senja?
(Penulis Guru SMAN Titian Teras Jambi)

 

Komentar ditutup.

 
%d blogger menyukai ini: