RSS

Hakikat Ilmu

Hakikat Ilmu

“Ya Allah, sesungguhnya aku berlindung kepada Engkau dari ilmu yang tidak berguna, hati yang tidak pernah khusyu’ (tenang), do’a yang tidak didengar, dan dari nafsu yang tidak pernah puas.” Begitulah bunyi salah satu do’a yang diajarkan Rasulullah ketika kita hendak mencari ilmu. Namun ilmu yang bagaimanakah yang dimaksud Rasulullah tidak berguna itu?

Mu’adz bin Jabal, salah seorang sahabat, meriwayatkan bahwa Rasulullah pernah bersabda, “Pelajarilah ilmu, sebab mencari ilmu karena Allah adalah kebaikan, menuntutnya adalah ibadah, mempelajarinya tasbih, mengkajinya adalah jihad, dan mengajarkannya adalah sedekah. Dengan ilmu, seorang hamba sampai pada kedudukan orang-orang baik dan tingkatan paling tinggi. Memikirkannya setara dengan berpuasa dan mengkajinya sama dengan menegakkan shalat. Dengannya Allah ditaati, disembah, diesakan, dan ditakuti. Dengannya pula tali silaturrahim diikatkan. Ilmu adalah pemimpin dan pengamalan adalah pengikutnya. Dengannya, Allah mengangkat bangsa-bangsa, lalu Dia menjadikan mereka pemimpin, penghulu, dan pemberi petunjuk pada kebajikan, karena ilmu adalah kehidupan hati dari kebutaan, cahaya dari kedzaliman, dan kekuatan tubuh dari kelemahan.”

Dalam hadits lain, Rasulullah bersabda, “Aku bertanya pada Jibril, ‘Apakah kepemimpinan itu?’ Jibril menjawab, ‘Akal.’.”

Saat ini, ilmu pengetahuan telah berkembang dengan amat pesat. Berbagai cabang ilmu pun banyak dipelajari orang. Kita bahkan dapat dengan mudah mengikuti perkembangan dunia hanya dengan duduk di depan televisi. Namun apakah dengan adanya berbagai penemuan itu, hidup menjadi mudah, tenang, dan damai? Bukankah salah satu tujuan memperdalam ilmu agar kualitas hidup meningkat?

Kenyataannya di mana-mana masih terlihat berbagai kasus, mulai kelaparan, kemiskinan, bunuh diri, hingga penyakit fisik seperti AIDS, kanker, chikungunya, flu burung, demam berdarah, maupun penyakit mental seperti penyimpangan perilaku seksual, misalnya pemerkosaan, hemofili, dan homoseksual. Juga munculnya berbagai masalah dunia seperti peperangan, isu nuklir, pemanasan global, krisis energi, hingga adanya perubahan iklim, rusaknya lapisan Ozon, naiknya permukaan dasar laut, yang semuanya itu sebagai akibat dari pencemaran udara disebabkan gas buang kendaraan dan pabrik, dieksploitasinya perut bumi secara berlebihan, dan juga musibah banjir yang disebabkan penebangan liar serta pembuangan sampah yang sembarangan, kemudian juga ekonomi yang tidak berpihak kepada kaum lemah. Lalu di manakah manfaat ilmu mereka itu?

Allah SWT menciptakan manusia sebagai khalifah bumi dan sebagai konsekwensinya ia harus mempertanggungjawabkan segala perbuatannya itu kepada Sang Pemberi Mandat. Dan dengan demikian, manusia juga adalah sekaligus hamba Allah. Sebagai khalifah bumi, ia diberi kebebasan untuk mengelola dan memanfaatkan bumi agar hidupnya menjadi mudah dan tenang, dengan syarat tidak merusak keseimbangan alamnya. “Dan janganlah kamu berbuat kerusakan di (muka) bumi. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang berbuat kerusakan.” (QS. Al-Qashash [28] : 77).

Untuk itulah manusia memerlukan ilmu. Hanya dengan akal dan keimanan sajalah manusia akan berhasil menggali ilmu yang menuju kebenaran. “Allah akan meninggikan orang-orang yang beriman di antaramu dan orang-orang yang diberi ilmu pengetahuan beberapa derajat.” (QS. Al-Mujadillah [58] : 11).

Al-Ghazali mengingatkan, seseorang hendaknya menuntut ilmu tidak hanya sekedar kebutuhan, melainkan harus hingga tuntas, hingga sampai kepada hakekat atau inti ilmu tersebut. Karena hanya dengan inti ilmu inilah seseorang akan mencapai suatu tingkat penyingkapan akan rahasia dan kebesaran Sang Maha Pencipta, Allah Azza wa Jalla. Itulah keutamaan ilmu, karena puncak ilmu adalah pengenalan Allah SWT. Rasulullah bersabda, “Barangsiapa yang bertambah ilmunya tetapi tidak bertambah petunjuknya, maka ia akan bertambah jauh dari Allah.”

Ilmu yang hanya dimaksudkan untuk memperoleh kekuasaan, harta, dan pangkat, tidak akan sampai kepada hakekat hidup yang sebenarnya. Islam bukanlah sekedar agama yang menghubungkan antara manusia dengan Tuhannya sebagaimana kebanyakan agama, melainkan ia adalah nafas kehidupan yang memperlihatkan segala yang ada di alam semesta, termasuk hubungan antar manusia dan hubungan antara manusia dengan alam. Islam adalah juga sains.

“Dan apakah orang-orang yang kafir tidak mengetahui bahwasannya langit dan bumi itu keduanya dahulu adalah suatu yang padu, kemudian Kami pisahkan antara keduanya. Dan dari air Kami jadikan segala sesuatu yang hidup. Maka mengapakah mereka tiada juga beriman?” (QS. Al-Anbiya [21] : 30).

“(Yaitu) pada hari Kami gulung langit seperti menggulung lembaran-lembaran kertas. Sebagaimana Kami telah memulai penciptaan pertama, begitulah Kami akan mengulanginya. Itulah suatu janji yang pasti Kami tepati. Sesungguhnya Kamilah yang akan melaksanakannya.” (QS. Al-Anbiya [21] : 104).

Kedua ayat di atas dalam dunia sains membuktikan akan kebenaran teori “Big Bang” dan “Big Crunch”, yaitu awal penciptaan alam semesta dan kebalikannya, yakni akhir dari alam semesta atau kiamat. Itu semua terjadi atas kehendak Allah SWT, atas izinNya. “Allah, Dialah yang mengirim angin, lalu angin itu menggerakkan awan dan Allah membentangkannya di langit menurut yang dikehendakiNya, dan menjadikannya bergumpal-gumpal; Lalu kamu lihat hujan ke luar dari celah-celahnya, maka apabila hujan itu turun mengenai hamba-hambaNya yang dikehendakiNya, tiba-tiba mereka menjadi gembira.” (QS. Ar-Rum [30] : 48).

“Kemudian Dia menuju langit dan langit itu masih merupakan asap, lalu Dia berkata kepadanya dan kepada bumi, “Datanglah kamu keduanya menurut perintahKu dengan suka hati atau terpaksa.” Keduanya menjawab, “Kami datang dengan suka hati.”.” (QS. Al-Fushilat [41] : 11).

Itulah hukum alam atau sunnatullah, ia tunduk-patuh kepada perintahNya. Jadi, bila saat ini alam memperlihatkan kemurkaannya dengan terjadinya berbagai bencana, hal ini sudah pasti, karena manusia tidak lagi memegang amanah yang dipikulkan kepadanya, yaitu untuk memelihara dan menjaga keseimbangan alam, tidak malah merusaknya sebagaimana tersirat dalam ayat 77 surat Al-Qashash di atas dan banyak lagi ayat lain dalam Al-Qur’an. Maka atas izinNya-lah akibatnya harus kita terima. Pada akhirnya, ilmu yang sedemikan canggih pun tidak memberikan manfaat pada manusia. Rasulullah bersabda, “Manusia yang paling keras siksaannya pada hari kiamat adalah seorang alim yang Allah tidak memberikan manfaat pada ilmunya.”(http://kotasantri.com)

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: