RSS

Cerdas dan Kreatif Mengolah Sampah

Cerdas dan Kreatif Mengolah Sampah
Oleh Rima Novisca Jasmadi
TINDAKAN penyelamatan bumi yang saat ini sudah mengalami pemanasan global akibat ulah tangan manusia, tidak bisa ditawar-tawar lagi harus dilakukan. Bumi terlihat indah penuh sahabat seperti zaman nenek moyang kita dulu, mesti dikembalikan ke habitatnya.
Kemajuan zaman lengkap dengan atribut hasil industrinya hari ini banyak produk yang tidak ramah, dapat merusak lingkungan karena banyak bahan beracun yang sangat berpotensi mengusik kenyamanan alam sekitar. Life style pun berpengaruh terhadap lingkungan. Katakanlah pemakaian AC, kendaraan bermotor, kantong plastik dan sebagainya.
Untuk partisipasi itu di lingkungan sekolah kami telah membentuk wadah bernuansa kepedulian terhadap lingkungan yakni The Green Club. Melihat kondisi alam yang semakin memprihatinkan kami terpanggil untuk aktif melakukan berbagai kegiatan dalam rangka mendukung pelestarian lingkungan. Serangkaian program baik jangka pendek maupun jangka panjang tertuang dalam visi yang telah dirumuskan. Visi yang dicanangkan adalah melalui kegiatan peduli lingkungan yang bertema “Sekolahku, rumahku tercipta lingkungan sekolah yang bersih, indah dan nyaman”.
Sampah
Menabur aroma ‘tak sedap, menjijikkan penuh kerumunan lalat, tidak berguna lagi, bertebaran dimana-mana, karena dibuang seenaknya, meresahkan masyarakat, dan banyak kata lain sefamili dengan itu untuk mendiskripsikan yang namanya sampah. Sehingga orang sedunia tidak ada yang tidak mengenal sampah, terkecuali orang yang memiliki ‘keganjilan’.
Anggapan kebanyakan masyarakat memaknai sampah sebagai benda tidak bisa dimanfaatkan lagi, telah dimentahkan oleh sebagaian masyarakat yang lain. Dengan tangan-tangan kreatif, sampah dari berbagai jenis bisa disulap menjadi barang bagus, bisa digunakan, berharga hingga mampu membantu menambah keuangan keluarga.
Mengelola sampah ternyata tidak sesulit yang kita bayangkan. Asal tau ilmunya, ada kemauan, tekun dan sabar maka sampah gampang diolah dan akan memiliki nilai pakai dan tidak menjadi sia-sia. Tergantung pada diri masing-masing.
Kegiatan pengelolaan sampah terbagi menjadi dua bagian yakni sampah anorganik dan sampah organik. Tingginya aktifitas harian siswa dari belajar pagi, siang, sore dan malam hari berdampak pada meningkatnya produksi sampah di lingkungan sekolah maupun asrama.
Bank Sampah
Tabungan sampah adalah salah satu cara untuk mengubah sampah yang dianggap barang tidak berguna menjadi barang berguna atau bahkan menjadi uang. Kegiatan tersebut sekaligus dapat menjaga kebersihan lingkungan dari berbagai jenis sampah dengan cara memanfaatkan kembali. Menabung sampah berarti kita telah memperpanjang umur tempat tinggal kita, habitat kita yakni bumi.
Bank sampah adalah sebuah cara yang dibangun untuk menampung sampah kemasan plastik maupun yang lain dari lingkungan sekitar, untuk dimanfaatkan kembali. Pemanfaatan itu dapat berupa Reuse, Recycle dan Reduce. Seluruh siswa, guru dan staf di lingkungan sekolah akan menabung sampah dengan cara seperti menabung uang di bank. Nasabah sampah datanng ke bank sampah dengan membawa sampahnya untuk ditimbang dan dicatat di buku rekening oleh petugas bank sampah (teller). Petugas bank sampah adalah kami, para siswa yang memiliki kepedulian terhadap lingkungan dan mau bekerja sebagai relawan. Mereka tergabung dalam kelompok siswa yang peduli terhadap lingkungan.
Dalam kurun waktu beberapa bulan sejak dirintis Bank Sampah, tumpukan sampah terutama sampah kering (anorganik) mulai berkurang. Dengan keikhlasan bekerja karena dalam jiwa tertanam motivasi dan pandangan positif bahwa mengelola sampah adalah tugas mulia dan dapat membawa berkah, telah menampakkan hasil. Sampah yang biasanya hanya dibuang, kini dapat diuangkan. Sampah yang menggunung, mengganggu keindahan dan kebersihan lingkungan kini dapat dimanfaatkan kembali untuk didaur ulang. Lingkunganpun menjadi bersih dan asri.
Dengan adanya bank sampah di sekolah, menjadi pembelajaran bagi siswa untuk menjaga lingkungan, mengurangi resiko polusi udara, karena dengan dipilih dan dipilahnya sampah non organik dapat mengurangi kegiatan pembakaran. Bank sampah menjadi salah satu cara untuk mengurangi sampah dan lebih dari itu menambah pendapatan, walau berawal sekedar menambah-nambah uang jajan.
Sampah Organik
Sampah organik adalah sampah yang mudah terurai oleh alam (lingkungan). Biasanya sampah organik digunakan sebagai pupuk. Hasil pengolahan dari sampah organik ternyata laku dijual, artinya juga dapat menambah pendapatan masyarakat. Jika kita hendak menjual pupuk-pupuk organik kepada masyarakat maka pupuk yang dihasilkan harus yang berkhasiat tinggi. Bagaimana caranya ?
Sekarang telah ditemukan inovasi baru dalam mengelola sampah organik. Untuk menghasilkan pupuk sampah organik dapat dilakukan dengan menggunakan bantuan alat pembusukan sampah organik (bioreaktor), alat ini dapat membantu proses pembusukan sampah organik, sehingga dapat menghasilkan pupuk sampah organik yang dapat dijual kepada masyarakat. Bisa saja di sebuah desa, warga desa iuran untuk membeli alat ini, nanti hasilnya dapat dinikmati bersama-sama. Pengelolaan sampah organik ini mengurangi bau yang tidak sedap yang dihasilkan oleh sampah organik, misalnya nasi yang membusuk. Menjadikan bahan organik sebagai kompos juga dapat membantu, dan hasilnya dapat dinikmati sendiri dapat dijadikan sebagai pupuk bagi tanaman.
Di berbagai daerah juga sudah banyak pengolahan pupuk tanaman kelapa sawit menjadi kompos. Kelapa sawit yang sudah diambil buahnya dan tinggal ampasnya (sisa) saja, ampas tadi dibiarkan membusuk dan akhirnya dapat digunakan sebagai pupuk kelapa sawit. Hal ini setidaknya bisa menambah tingkat kesuburan bagi pohon sawit sendiri.
Dari beberapa opini tertera di atas, dapat disimpulkan bahwa banyak cara yang dapat digunakan untuk mengelola sampah. Yakinlah setiap masalah ada penyebabnya dan pasti ada solusinya. Termasuk sampah. Siapakah yang menemukan solusi itu? Tentu saja kita, sebagai generasi penerus bangsa, yang akan menentukan arah dan keberhasilan bangsa ini.
“Lestarikan alam lingkungan kita, demi masa depan bersama, demi anak cucu kelak. Go green, keep our earth.” (Rima Novisca Jasmadi adalah siswa, pengurus The Green Club SMAN Titian Teras H. Abdurrahman Sayoeti Jambi).

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: