RSS

Menikah tanpa Ridha Orang Tua

Menikah tanpa Ridha Orang Tua

Masalah ini bisa kita bedakan dari dua sisi. Pertama, dilihat dari sisi akhlaq. Kedua, dilihat dari sisi hukum hitam putih.
Secara akhlaq, sungguh merupakan sebuah tindakan yang amat menyakitkan, bila seorang anak melakukan tindakan yang tidak berkenan di hati orang tua. Apalagi bila tindakan itu sebuah pernikahan. Secara akhlaq, tidak pada tempatnya seorang anak yang sejak kecil dilahirkan, diasuh, dijaga, dididik dan dibesarkan oleh orang tuanya, dengan sepenuh hati, berkorban jiwa raga, tiba-tiba melakukan hal-hal yang membuat orang tua sakit hati. Atau malah mengecawakannya.

Dari sisi akhlaq, anak yang tega menyakiti atau menentang kehendak orang tuanya adalah anak yang durhaka, tidak tahu balas budi dan kurang ajar. Buat apa sejak kecil diurusi, kalau setelah besar tidak mau hormat dan menjaga perasaan orang tua? Kemudian seenaknya mau mengatur diri sendiri, sampai menikah tanpa mendapat restu dan ridha dari orang tuanya.

Anak yang begini kelakuannya, hingga menyakiti hati orang tuanya, boleh dibilang akan sengsara hidupnya. Jalannya akan tidak lurus, kehidupannya akan sepi dari keberkahan, meski sekilas hartanya berlimpah, rumahnya bertingkat, gajinya berlipat, mobilnya mengkilat, badannya sehat.

Tapi kalau dengan orang tua kualat, jiwanya akan sekarat, jalannya akan sesat, hidup jadi tidak nikmat, tidak punya semangat.
Baik anak laki-laki atau pun perempuan, sebisa mungkin jangan sampai menikah tanpa restu dan ridha orang tua. Sebab kalau untuk membalas jasanya tidak mampu kita lakukan, paling tidak sekedar tidak menyakiti hati mereka, sudah merupakan nilai tersendiri.

Dari Sudut Pandang Hukum
Sedangkan bila kita lepaskan masalah bakti atau kualat dengan orang tua, bila ada seorang laki-laki menikah, memang tidak memerlukan peran orang tuanya sebagai wali. Sebab pernikahan seorang laki-laki memang tidak membutuhka wali.

Sebaliknya, seorang wanita tidak boleh menikahkan diri sendiri. Yang menikahkannya harus ayah kandungnya sebagai wali. Dirinya sendiri justru tidak punya peran apa-apa dalam akad nikah, sehingga kalau pun tidak hadir dalam pernikahannya sendiri, secara hukum nikahnya tetap sah.

Maka seorang wanita yang menikah tanpa izin, restu dan ridha dari ayah kandungnya, secara hukum nikahnya tidak sah, selain itu dia juga mendapatkan dosa atas ulahnya yang kualat terhadap orang tuanya.
Wallahu a”lam bishshawab, dari berbagai sumber

 

137 responses to “Menikah tanpa Ridha Orang Tua

  1. Aini

    23 Mei 2011 at 10:11 am

    Tapi jika keadaanya memeng harus melakukan pernikahan tanpa restu dari orang tua pria itu terpaksa bagaimana?
    Kronologisnya: pada awalnya orang tua pihak pria sudah melamar/meminang ke pihak wanita, namun pada suatu saat terjadi salah faham antara pria & wanita itu, kemudian tanpa diniati si wanita melepas cincin pertunangan dengan harapan si pria bisa berubah karena sudah waktunya dia belajar mandiri & bertanggung jawab agar bisa terbiasa dalam menjadi kepala rumah tangga (selama ini kehidupan sang pria itu selalu diatur oleh orang tuanya, sampai2 untuk bicara ke orang tua tidak berani kalau tidak ditanya namun untuk mengemukakan apa yang diingin itu tidak bisa karena perintah orang tua mau tidak mau harus dilakukan oleh anaknya dalam kata lain kata orang tua itu mutlak tidak boleh ditolak). Mengetahui perbuatan si wanita tersebut orang tua pria tersebut tanpa memberi kesempatan langsung memutuskan kalau si wanita ini berkelakuan buruk dan mencari-cari kesalahan si wanita tanpa memandang kebaikannya sama sekali jadi intinya yg di lihat adalah keburukannya saja. Si wanita sudah berusaha untuk menemui orang tua pria tersebut tapi hasilnya tetap nihil. Hingga akhirnya si pria memutuskan menikah dengan si wanita tersebut tanpa memberi tahu ke dua orang tuanya.

     
    • salwintt

      25 Mei 2011 at 9:48 am

      Perjalanan hidup akan lebih banyak dijalani oleh sepasang suami isteri dan keturunannya. Dengan niat yang baik, dan ingin mencapai perubahan hidup yang lebih baik boleh-boleh saja melakukan itu. Tapi yakinkan dalam hati suatu ketika nanti kita akan buktikan pada keluarga bahwa apa yang dilakukan hari ini tidak salah. Tidak bisa dipungkiri, dalam menjalani hidup terkadang kita harus bertentangan dengan orangtua. Tapi orangtua adalah raja segala raja yang tidak boleh dilawan. Oke sekarang kita melakukan pelanggaran, namun nanti pada saat yang tepat kita kembali bertemu raja, minta maaf dan sekali lagi buktikan, bahwa kita berjalan di jalan yang lurus. Ingat… sebuas-buas macan di hutan belantara, tidak pernah memangsa anaknya… Wallahu a’lam…

       
  2. fawzi

    3 Juli 2011 at 10:35 pm

    apa dalil2 nya??

     
    • salwintt

      6 Juli 2011 at 7:18 pm

      nnt kt cr y

       
  3. Hamba Allah

    30 Oktober 2011 at 12:29 pm

    Assalamu’alaikum ustadz,

    adik perempuan saya mengakui bahwa pernah khilaf dan berzina dengan pacarnya, kemudian mereka saling menjaga jarak karena takut perbuatan tsb terulang kembali. beberapa bulan kemudian, si pria meminta izin pada keluarganya untuk menikahi saudara saya dengan alasan untuk bertanggung jawab dan takut melakukan dosa/berzina lagi. tetapi orang tua dan keluarganya menolak dengan alasan bahwa saudara perempuan saya tidak sekufu (bukan dari keluarga berada & bukan keturunan orang terpandang), selain itu mereka juga masih kuliah semstr 6 dan belum bekerja.
    hampir 1 thn si pria melobby orang tuanya, tetapi tak kunjung direstui. mereka justru menyuruh pria tsb untuk segera meninggalkan adik saya dan kelak menikahi perempuan lain. karena si pria merasa tidak cocok dengan jalan pemikiran keluarganya, dia nekat meninggalkan rumah dan melamar adik saya sendirian. tetapi orang tua kami belum ‘mengiyakan’ karena tidak ada satupun pihak keluarga si pria yang ikut melamar. pacar adik saya juga bercerita bahwa dia dianggap sebagai anak durhaka karena tidak menuruti keinginan orang tuanya. di sisi lain dia juga merasa harus bertanggung jawab pada adik saya.
    adik saya sering curhat pada saya sambil menangis, dia merasa takut ditinggalkan pacarnya. tetapi dia juga tidak tega karena pacarnya dianggap sbg anak durhaka. si pria juga mengatakan bahwa dia bingung, jika tidak segera menikah mereka akan terus-terusan tergoda untuk berzina (durhaka pada Allah SWT). tetapi jika dia tetap memaksa menikah, dia durhaka pada orang tuanya.
    menurut ustadz, apa yang sebaiknya mereka lakukan?
    terus terang sebagai kakak, saya juga merasa serba salah dan bingung dengan kondisi yang dialami adik saya.
    terima kasih sebelumnya

    wassalamu’alaikum wr.wb.

     
    • salwintt

      2 November 2011 at 9:57 pm

      Waalaikumsalam warahmatullahi wabarkatuh…
      Terima kasih pertanyaannya, suatu kasus yang dari dulu sampai sekarang selalu terjadi seperti ini. Kalau dari keluarga laki-laki yang menjadi masalah tidak terlalu rumit. Karena yang menikahkan adalah orangtua yang perempuan. Seorang anak perempuan tidak syah perkawinannya tanpa dinikahkan oleh orangtua kandungnya sendiri yang masih hidup, kecuali berhalangan. Bayangin kalau dari keluarga pihak perempuan yang tidak setuju, tidak mungkin keduanya bisa menikah tanpa ada kesepakatan. Demi keselamatan adik saudara dan “temannya” sebaiknya segera dinikahkan. Karena demi menghindari perzinaan, hukum nikah segera dilakukan. Masalah ketidaksetujuan pihak keluarga si laki-laki, suatu ketika nanti lambat laun akan dingin sendiri. Yang penting kita harus menghargai rasa tanggung jawab teman adik saudara itu. Karena pergaulan mereka jika ditinjau dari segi agama dan hukum adat, mereka memang sudah wajib dinikahkan. Masalah masih kuliah, juga tidak jadi masalah, rezeki sudah diatur oleh Allah SWT…. demikian, semoga bermanfaat, terima kasih wassalamualaikum warahmatulaahi wabarkatuh

       
  4. Delisa

    31 Oktober 2011 at 10:50 am

    assalamu’alaykum..afwan sy mau tanya.
    Bagaimana jika kondisinya sudah ada khitbah, laki-laki sudah mengkhitbah wanita yang disaksikan oleh keluarga besar kedua belah pihak. Namun setelah khitbah tersebut, ternyata ibu dr pihak laki-laki tiba2 tidak merestui karena masalah harta. Bagaimana hukumnya jika tetap memperlangsungkan pernikahan?

     
    • salwintt

      20 Januari 2012 at 11:36 pm

      wa’alaikum salam ww…
      Hukum nikahnya syah, jika memenuhi rukun dan syaratnya. Masalah keluarga bisa diselesaikan dikemudian hari, apalagi masalahnya hanya tentang harta.

       
  5. mauliya

    17 November 2011 at 7:47 am

    Assalamu’alaikum ustad..
    jika seandainya orangtua dari perempuan merestui akan tetapi kurang ikhlas dikarenakan si pria bukan berasal dari kelauarga yang berada,,alias sederhana..dan si perempaun menjadi takut di do’akan yanga jelek..bagaimana ustad apa yang harus dilakukan ???

     
    • salwintt

      5 Desember 2011 at 8:01 am

      Waalaikum salam ww… usaha pertama yang terpenting adalah orangtua mau menikahkan, perjalanan selanjutnya dibuktikan bahwa kita sebagai anak yang baik, patuh pada orangtua mampu membina keluarga sakinah, waddah dan rahmah. Insya Allah orangtua akan merestui perkawinan kita.

       
  6. wita

    27 Desember 2011 at 4:11 am

    assalamualaikum pak ustadz
    bagaimana jika seorang laki2 ingin menikah sedangkan kedua orang tuanya sudah meninggal..wali penggantinya sudah tentu abangnya. tapi abangnya yg paling besar tidak setuju dengan pilihan si laki2 itu sendiri sedangkan abang yg lainnya setuju2 aja,abangnya ingin adik nya dengan wanita yang hafiz alquran dan wanita bercadar.sedangkan pilihan si laki2 hanya berjilbab saja ustadz ..bagaimana pak ustadz, dosakah jika si laki2 meninggalkan abagnya dan menikah tanpa restu abang kandungnya yang pertama..satu lagi pak ustadz..dalam islam kan tidak ada yang namanya paksaan..bagaimana hukumnya keluarga calon laki2 menyuruh si calon wanita harus memakai cadar klo mau nikah sama adiknya…bagaimana ini pak ustadz…masa gara2 cadar dan tidak hafizh alquran tidak di setujui…

     
    • salwintt

      11 Januari 2012 at 8:18 pm

      Wa’alaikum salam ww… Urutan Wali, ayah kandung, kakek dari ayah, saudara laki2 kandung, saudara laki-laki seayah dst… kalau ayah dan kakek sudah tidak ada lagi yang jadi wali otomatis saudara laki-laki kandung. Tapi ingat wali yang dimasksud adalah dari pihak perempuan bukan laki-laki. Karena yang menikahkan itu adalah wali dari perempuan.
      Keinginan abang si-laki-laki, yang “dianggap” terlalu berlebihan, harus seorang hafizah dan mengenakan cadar, hal ini bisa diabaikan. Sudah memakai jilbab bagi muslimah yang tinggal di negara kita sudah memadai sebagi seorang wanita yang baik dipandang dari segi busana. Nikah saja dengan wali saudara laki-laki yang lain, masalah yang paling tua atau yang paling muda tidak jadi masalah, yang penting ada persetujuan. Yang penting masa2 berikutnya jalin kembali silaturahim dengan semua keluarga, insya Allah lambat laun akan kembali ahrmonis…

       
  7. Hamba Alloh

    27 Desember 2011 at 5:29 pm

    Asslkum…
    Kalo orgtua wanita nya yg tidak setuju, akan tetapi mereka sdh melkukan hubungan yg diluar batasan, lalu sang laki2 mau bertanggung jawab dengan menikahkan, sudah pernah mau menikah akan tetapi digagalkan oleh ibu nya sang perempuan karena sang laki2 dirasa nya tidak pantas untuk anaknya.dan sang anak sekarang merasa depresi, dan merasa hidupnya sudah tak ada artinya lagi..mohon di bantu pak ustad

    wassalamuaikum

     
    • salwintt

      11 Januari 2012 at 7:54 pm

      Wa alaikum salam ww… kalau maksud melakukan hubungan di luar batas itu, hub suami isteri, utk menebus dosa besar itu harus nikah. Perkara orangtua setuju atau tidak bisa dimusyawarahkan dikemudian hari. Upayakan ayah kandung perempuan sebagai wali mau menikahkannya. Suatu ketika kita memang harus berani “melawan” orangtua dalam jangka waktu yang sesingkat-singkatnya, tp tidak berniat untuk memusuhi. Suatu ketika kita harus berani menceritakan perbuatan salah kita kepada orangtua, apapun resikonya, sebagai akibat perbuatan kita tersebut. Kalau dibiarkan berlarut-larut, perasaan yang menakutkan terus bersarang di dada. Suatu ketika kita harus mendengar secara terpaksa amarah orangtua terhadap kita. Itu akan lebih baik dari pada dipendam. Yakinlah setelah itu secara berangsur-angsur akan reda. Asal kita sebagai anak, tidak pernah berniat durhaka. Ingat pepatah, sekejam-kejamnya macan di hutan belantara, tidak pernah memangsa anaknya sendiri.
      Seakarang…Tentukan sikap, cari waktu yang tepat untuk mengemukakan segala2nya pada orangtua, dan siap-siap menerima resiko apapun. Hidup harus berani dan tegas…. Diiringi Usaha (ikhtiar) dan do’a (ibadah) kemudian tawkkal (hasilnya diserahkan kepada Allah) insya Allah permasalahan ini bisa teratasi. Mohon maaf jika tidak mengena. trims

       
  8. Hamba Alloh

    27 Desember 2011 at 5:30 pm

    Asslkum…
    Kalo orgtua wanita nya yg tidak setuju, akan tetapi mereka sdh melkukan hubungan yg diluar batasan, lalu sang laki2 mau bertanggung jawab dengan menikahkan, sudah pernah mau menikah akan tetapi digagalkan oleh ibu nya sang perempuan karena sang laki2 dirasa nya tidak pantas untuk anaknya.dan sang anak sekarang merasa depresi, dan merasa hidupnya sudah tak ada artinya lagi..mohon di bantu pak ustad

    wassalamuaikum

     
    • salwintt

      30 Januari 2012 at 8:18 am

      Waalaikum salam… ‘melakukan hubungan diluar batas’ yang dimaksud tidak tau persis spt apa, namun kalau yg dimaksud itu sdh melakukan hub suami isteri, sebaiknya segera nikah. Kalau ditunda, atau nikah dengan orang lain, permasalahannya nanti akan menjadi tambah rumit. Masalah perselisihpahaman dengan ortu, nanti insya Allah perlahan-lahan kembali akan harmonis, asal si anak punya inisiatif untuk sll mencintai ortunya, dgn cr pendekatan. trims

       
  9. anonim

    28 Desember 2011 at 7:20 pm

    bagaimana kalau orang tua menikahkan hanya sebagai ambisi agar memiliki menantu yg dipilih?bagaimana jika akhlak&kelakuan dr orang yg dipilih orang tua jauh lebih buruk daripada orang yg dpilih oleh anaknya?yang merasakan kecocokan kan anak,lagipula lahir,jodoh,mati kan hak mutlak Tuhan,orang tua berkewajiban menikahkan,urusan masa depan biarkan diatur oleh jalan Tuhan.justru orang tua yg menghalangi keinginan suci anaknya adalah orang tua EGOIS.

     
    • salwintt

      11 Januari 2012 at 7:27 pm

      ya begitulah dramatika kehidupan, yang jelas tidak syah nikah tanpa wali, biar orangtua tidak setuju, tp beliau mau menikahkan, aman. tapi kejadian spt zaman siti nurbaya, kawin paksa, banyak persepsi penyelesaiannya. yang penting jangan samapi durhaka pd orangtua. semoga anda kelak mampu menjadi orangtua yang tdk egois…!

       
  10. okky dokky part II

    11 Januari 2012 at 1:55 pm

    assalamu’alaikum,sya perempuan tinggal merantao luar negara.mau tanya.saya mau menikah di luar negara,tapi orang tua calon imam saya tidak merestui karna status sosial.apa boleh saya tetap melangsungkan pernikahan itu?dan apa pula hukum nya.trimakasih.wassalam.

     
    • salwintt

      11 Januari 2012 at 7:12 pm

      wa alaikum salam ww, tidak syah nikah jika tanpa wali, (urutan wali, ayah kandung, kakek dari ayah, saudara laki-laki kandung, saudara laki-laki seayah, anak lk2 dr saudara lk2 kandung…. sampai ke-12. saudara lk2 dr kakek, seayah dgn kakek) kalu smua itu tidak ada lagi baru wali hakim. Boleh nikah jika semua wali di atas tidak ada, nikahnya dengan wali hakim, trima ksh

       
  11. nana

    14 Januari 2012 at 6:46 pm

    bgmn kl orang tua tdk setuju krn calon suami beda kewarganegaraan, ttp orrg tua sudah 3X menolak proposal calon2 sebelumnya krn beda tingkat pendidikan. sedangkan sy sudah umur 30thn. terimakasih sebelumnya

     
    • salwintt

      19 Januari 2012 at 11:31 pm

      Begitulah… orangtua memang punya hak “veto” terhadap anak2nya. Melawan? takut kita durhaka. Menuruti 100%? Apakah menjamin kebahagian kita? Harus bijak menyikapi sifat orangtua seperti ini, jangan sampai tersinggung dan sakit hati. Perlahanlah untuk memberikan pengertian pada orangtua, sabar, ikhtiar, do’a dan tawakkal. Insaya Allah nanti orangtua kita akan mengerti apa yang terbaik untuk anaknya. Namun jika anda berani untuk membuktikan bahwa apa yang dilakukan itu adalah benar, dan yakin akan mendatangkan kebahagian, silahkan saja mencari jalan sendiri, mengingat umur. Tapi jangan lupa jalinan silaturahim ikat kembali, terutama kepada orangtua….

       
      • nana

        20 Januari 2012 at 12:11 am

        insyaalloh masih ttp bersabar dan berdoa uztad. Kadang ibu terlihat membenci sy krn calon sy itu, tp jg kadang spt sayang banget sm sy. Sy tau, ibu sy begitu krn takut nanti bila kami anak2 menikah, akan lupa beliau. Apalagi beda negara, tp insyaalloh kami tdk spt itu, krn calon sy memiliki pemahaman yg baik ttg agama.
        mohon doanya uztad spy jalan kami di mudahkan…..

         
      • salwintt

        20 Januari 2012 at 11:21 pm

        amiiiin… alhamdulillah… semoga sukses….

         
  12. nana

    31 Januari 2012 at 9:06 pm

    terimakasih …ustadz…..:)

     
  13. aurel

    6 April 2012 at 12:57 pm

    ass..wr..wb
    ustadz, saya mau tanya…
    saya ingin sekali menikah dg laki2 yg saya sukai.. menurut saya dia laki2 dewasa dan tanggung jawab sm keluarganya… tapi ibu saya tidak setuju dengan alasan tidak cocok dengan keluarganya.. 2 kali dia berusaha meminta restu pada ibu saya tapi selalu ditolak…
    sampai akhirnya karena takut kehilangan saya dia hampir saja berbuat nekat ingin menggauli saya… tetapi belum sempat terjadi hal yang dilarang itu,karena saya menolaknya… dia sudah minta maaf kepada saya karena khilaf… saya maafkan dia, saya bener2 tidak bisa dan tidak tega meninggalkan dia.
    karena dalam hati saya ingin secepatnya menikah denga dia, takut kalau kami sampai khilaf melakukan hal yang dilarang itu, tetapi sampai saat ini keluarga saya terutama ibu saya tidak setuju sampai2 ibu saya sakit karena memikirkan saya.
    yang saya tanyakan, apa yang harus saya lakukan? apakah saya harus menurut pada ibu saya, atau saya mempertahankan laki2 yang saya sukai itu? tetapi saya takut terjadi sesuatu hal yang mengganggu kesehatan ibu saya…
    terima kasihh…
    wass..wr..wb

     
    • salwintt

      7 April 2012 at 11:37 am

      Waalaikum salam wawa….
      Terima ksh pertanyaannnya. Sebelum berkeluarag org yg paling dihormati adalah seorang ibu. Setelah menikah org yg paling dihormati adalah suami. Status anda belum menikah, artinya wajib menghargai ibu sbg org nomor satu. Dalam hal mencari jodoh kita tidak bisa mengemyampingkan pendapat kedua orgtua, karena pernikahan harus mendapat restu orangtua.
      Tapi kasus anda, terhalang tidak restunya orangtua, walau jalinan sudah berjalan serius, sampai2 khawatir terjadi hal yg tdk diinginkan. Salut terhadap anda mampu membentengi diri, tidak masuk ke jurang itu, dan teruslah dipertahankan, dan beri sll pengertian pd teman anda utk tdk mengulang2 ajkn itu, mudharatnya besar.
      Banyak pertanyaan senada dengan anda, cb bc komentar2 sblumnya di bwh artikel ini. Artinya kasus serupa, bkn hnya menimpa anda, tpi bnyk tmn lain yg memiliki kisah serupa. Smua mencri ti2k temu, dan ujungnya jls berbd antr satu sm lainnya. Kasihan ibu anda smpi2 hrs sakit hnya memikirkan calon jodoh putrinya. Begitulah ksh syng seorng ibu terhdp sang anak, tntu menginginkan anknya hdup sejahtera d ms yg akn datang. Tp kdg orgtua belum percya sepenuhnya kpd ank utk mencari clon suaminya, ya itu td, khwatir hdiupnya klk menderita. Padahal yg tau persis adalah kt yg bkl menjalaninya. Tp ingat jg, orgtua jauh lbh bnyk pengalamanny dr kita sbg anak.
      Jd intinya adalah kekhawatiran. Perlu jg di renungkan bahw hukum nikah itu wajib, haram, sunah, makruh, mubah. Wajib, jika pnya keinginan, sudah mampu dan takut berbuat zina. Haram, jk diserta niat yg jelek, sunah, jk ada kemauan, mampu dan siap lahir bathin, mudah, belum mampu tp khawatir teledor, mubah adalah hukum asala pernikahan.
      Penyelesaian 1. Jika cinta pd orgtua, tdk mau dia menderita lahir dan bathin, cari jodah yg lain
      Penyelesaian 2. Jika khawatir terjadi hal yg tdk diinginkan td, dan secepatnya mampu membuktikan pd orgtua bhw pilihan anda tdk salah, mampu membw kebahagian berkeluarga besar anda, yakin tdk berlarut2 orgtua anda kcw, yakiiin,,, menikahlah dgn pilihan anda sekarang.
      Wallahu a’lam bissawab… Wassalam WW

       
  14. aurel

    22 April 2012 at 9:01 am

    terima kasih atas sarannya pak ustadz,,,
    yang menjadi pikiran saya saat ini, teman laki-laki saya itu tidak mau meninggalkan saya, padahal saya sudah memutuskan untuk menurut pada ibu saya..
    berkali-kali saya jelaskan ke dia, tetap saja dalam waktu 2-3 bulan kedepan teman laki-laki saya itu masih ingin berusaha meyakinkan ke ibu saya lagi…
    sikap apa yang harus saya ambil… ap saya harus menjauhi dia dan benar-benar memutuskan untuk tidak berkomunikasi dengan dia lagi…
    atau saya memberi dia kesempatan untuk meyakinkan ibu saya?
    mohon sarannya pak ustadz…
    Wassalam WW

     
  15. nana

    29 April 2012 at 6:36 pm

    assalamualaikum
    Uztadz, alhamdulilah Alloh memberikan petunjuk bagi saya….membukakan tabir yg selama ini sy tidak ketahui, dan itulah mengapa mungkin sebab org tua sy tidak menyetujui.
    Setelah kami berpacaran Indonesia-malaysia, tyt…dia masih punya istri…
    Alhamdulillah sy tidak berbuat yg lebih jauh lg….
    Alangkah baiknya para tmn2 yg hubungannya dg org tua, sebaiknya mempertimbangkan saran org tua…Insyaalloh, feeling org tua ada benarnya…
    Semoga kita semua dilindungi dr org2 yg berniat keji…
    terimakasih

     
    • salwintt

      8 Juni 2012 at 12:03 am

      Wa’alaikum salam ww…
      Anak yang mengabdi kepada kedua orangtua, balasannya adalah surga. Anak yang durhaka tidak bisa mencium bau surga. Mencium baunya saja, tidak bisa, apalagi mau bermukim di dalamnya. Semoga keputusan anda adalah yang terbaik… Amiiin…!

       
  16. Nurani

    25 Mei 2012 at 12:11 pm

    Assalamualaikum wr.wb
    Pak ustadz , saya adalah seorang wanita yang menjalin suatu hubungan dengan pacar saya , tetapi semua anggota keluarga saya tak merestui , terutama orang tua saya pak ustadz. Karena ini :

    1. alasan kita berdua dalam aturan jawa bertemu 25 jika dalam jumlah weton dan orang tua saya bisa meninggal jika saya menikah.

    2. alasan yang kedua kakak laki-laki saya kan sudah menikah ,dan istrinya itu tinggalnya satu kampung dengan pacar saya, jadi kita berdua tidak boleh menikah karena kakak saya sudah mendapatkan istri dari kampung pacar saya.

    Menurut saya , orang tua saya kan terlalu kolot dalam dunia itu pak ustadz.
    Percuma saja mereka semua tidak percaya akan adanya Alloh . Bagi saya semua hari baik kan pak ustadz …?
    Mati , jodoh ,dan rejeki Alloh sudah atur.
    Tapi kenapa orang tua saya bilang seperti itu. Saya tidak bisa terima alasan itu pak ustadz.

    Hingga mertua kakak saya akan menceraikan istri dari kakak saya jika saya menikah dengan pacar saya. Karena mertua kakak saya tidak mau anaknya meninggal. Padahal kakak saya sudah mempunyai 2 anak.

    Keluarga saya yang tak mau menerima penjelasan saya dan orang tua saya yang suka main tangan , kakak saya sering juga main tangan dengan saya jika ingin bertemu pacar saya. Mereka semua berniat akan memisahkan kami berdua karena alasan itu.

    Saya minta tolong solusinya pak ustadz
    Terima kasih .
    Wassalamualaikum wr.wb

     
    • salwintt

      7 Juni 2012 at 11:55 pm

      Wa’alaikum salam ww…
      Memang pemahaman dan kefanatikan orang Indonesia, khususnya Jawa, terhadap tradisi, budaya dan kepercayaan lama tidak mudah pudar dari kehidupan mereka. Semua itu terpengaruh dari budaya Hindu dan Budha yang terlebih dahulu berakar dalam tradisi kehidupan nenek moyang kita, sebelum Islam masuk. Padahal presentasi kebenaran keyakinan itu tidaklah sebesar kenyataan yang terjadi, walau tidak selamanya meleset. Karena sebagian kebenaran itulah, akhirnya selalu menjadi momok yang selalu menghantui bayangan kehidupan mereka.
      Sulit memang memposisikan diri, bagi kita yang hidup di alam modern dengan pemikiran pluralis, jika berhadapan dengan permasalahan ini. Satu sisi kita berhasrat untuk membuktikan bahwa kepercayaan-kepercayaan lama tidak akan terbukti. Tapi belum itu terkabul, kita dihadapkan dengan ancaman berat dan mengelisahkan diri kita sendiri. Sama halnya kasus anda.
      Harus direnungkan kembali, kehidupan kita tidak bisa terlepas dari jalinan kekeluargaan. Salah satu tujuan berumah tangga adalah mempererat rasa kekeluargaan antara kedua belah pihak. Kalau anda berani dan yakin, jika meneruskan hubungan dengan kekasih sampai titik pernikahan, ancaman dan keyakinan keluarga tidak akan terjadi sesuai dengan apa yng mereka yakini, dan anda bisa membuktikan bahwa anda berdua bisa hidup rukun dan damai serta kelak bisa menyatukan keluarga dengan baik, saran saya, teruskan hubungan anda. Tapi kalu ragu-ragu, kalau-kalau apa yang dikhawatirkan bisa terjadi dan hubungan anda belum terlalu “jauh”, dengan alasan demi keluarga, anda juga bisa pikir-pikir.
      Bagaimanapun keputusan final anda di tangan anda. Apapun yang diambil, yakinlah itulah petunjuk yang baik yang diberikan Allah SWT. Cukup yaa…!

       
  17. ninani

    23 Juli 2012 at 2:17 pm

    Pak Ustadz,
    Saya sedang menjalin hubungan dengan seorang pria, tapi Ibu saya belum memberikan restu. Sebelumnya sy pernah menjalin hubungan dg orang lain dan ibu saya tidak setuju karena berbeda agama, maka sy pikir wajar ibu tdk setuju. Untuk yg satu ini sekarang sudah satu agama dan sejauh ini pun baik kepada saya dan keluarga. Sy dan orang tua tinggal di kota yg berbeda. Ibu tidak setuju tanpa alasan yg jelas, sy pernah tanya tapi alasan ibu selalu berubah2. Ibu pernah bilang karena masalah materi di mana pasangan sy memiliki penghasilan di bawah sy, tp sy bilang rejeki bisa dicari dan diusahakan. Kemudian ibu juga bilang karena sy dan pasanganberbeda suku. Sebelumnya ibu sangat marah dg sy bahkan sampai sy telp juga tidak diangkat. Sekarang ibu sudah membaik kepada sy tp masih tidak menyetujui hub sy dengan pasangan dan tdk mau bertemu pasangan sy. Padahal adik laki2 sy sangat merasa cocok dengan pasangan sy juga. Pasangan sy tahu kalau ibu sy tdk menyetujui hub kami, tapi dia msh bersikap baik pada ibu sy dan percaya suatu saat nanti ibu pasti merestui. Akan tetapi pertimbangan sy adalah saat ini usia sy sudah tdk muda juga. Sudah hampir 30 tahun dalam hitungan bulan. Sy tdk tahu sampai kapan harus menunggu restu sementara usia sy sudah tdk muda lagi. Oya ibu sy pun pernah bilang bahwa dia takut sy tdk bahagia meskipun dia sndiri pun tdk yakin apakah pemikirannya itu benar atau tidak. Bagaimana ya ustadz apa yg hrs sy lakukan?

     
    • salwintt

      25 Juli 2012 at 12:07 am

      Terima kasih,
      Menikah lain agama jelas tidak syah, sebelum calon pasangan masuk agama kita. Pilihan tepat jika orangtua kita melarang hubungan seperti ini. Yang kurang arif, membedakan status, apakah itu ekonomi, keluarga, dsb. Benar kata anda, rezeki bisa dicari di kemudian hari dan sudah diatur oleh Tuhan. Kasus yang anda alami juga banyak dirasakan oleh orang lain. Senada saja saya sampaikan, kalau posisinya sudah seperti ini, saya menyarankan lanjutkan saja hubungan anda pada jenjang pernikahan, asal di mata anda pasangan ini adalah terbaik, bertanggung jawab, bisa dibuktikan kepada keluarga, terutama ibu anda. Jangan lupa pendekatan kepada orangtua terus dirajut, nanti Insya Allah dia akan baik pada anda dan lama-kelamaan senang pada pasangan anda. Kita harus banyak bersabar menghadapi orangtua. Karena walau kita lahir dari rahimnya, pendapat dan keinginan pasti beda-beda. Tujuannya sangat suci, tidak mau melihat anaknya hidup menderita, tapi mendabakan kebahagiaan. Padahal kita tau, mencapai kebahagian tidak semata-mata dinilai dari materi. Kunci kebahagian itu berada pada rasa kasing sayang, cinta dan saling pengertian. Selagi tujuan kita baik, tidak untuk melawan dan menentang, ada ikhtiar untuk membujuk hatinya agar bisa mengerti, maka apa yang akan anda lakukan…., lakukanlah! Wallahu a’lam bissawab…!

       
  18. umar

    3 November 2012 at 2:31 pm

    assalammualaikum ustad…..
    saya ingin menikah ustad, tetapi orang tua (ibu) pacar saya tidak setuju dgn alasan yang kurang saya pahami…..( kata pacar saya beliau tidak setuju jika anaknya menikah dgn orang bagian timur, tepatnya pacar saya anak ngawi dan saya orang banyuwangi, takut jika tidak bahagia ), yang saya mau tanyakan, apakah kami akan menjadi anak durhaka karena tidak taat sama orang tua? apakah kami akan hidup sensara jika menikah tanpa ridho ortu? terima kasi ustad

     
    • salwintt

      6 November 2012 at 8:49 am

      waalaikum salam… terima kasih pertanyaannya… karena pertanyaannya senada dengan penanya2 sebelumnya silahkan baca penjelasan di bawah tulisan ini, insya Allah terjawab, tksh

       
  19. Hamba allah

    27 April 2013 at 3:35 pm

    Asalamualaikum ustaz,,
    saya ingin hubungan saya ini diterima oleh ibu saya,,
    tapi saya masih bingung cara pendekatan kepada ibu saya,, sebab ibu saya orang yang pendiam dan saya pun kalau berbicara kadang seperlunya,,
    mohon sarannya pak ustaz?
    Wasalamualaikum

     
    • salwintt

      24 Juli 2013 at 10:29 pm

      wassalam ww, tkah, kalu blum mendesak sbr2 sj dlu, tnggu reaksi ibu. itu tndanya ibu sangat sayang dngn anda.

       
  20. wira

    6 Mei 2013 at 11:22 am

    asslam ustad…..saya mau bertanya,saya seorang pria umur 29 thn,saya ingin menikah dgn seorang wanita….tetapi kedua orang tua saya tidak stuju,dkarnakan dia mantan narapidana….saya sangad mncintai pacar saya,niat saya baik…ingin merubah kehidupan ke jalan lbih baik,tetapi orang tua saya tidak merestui dgn alasan pacar saya org tidak baik,,,minta tolong jawabannya pak ustad,smoga dapat jalan yg diridhoi allah dan kedua orang tua saya…trima kasih…asslam…

     
    • salwintt

      24 Juli 2013 at 10:25 pm

      wassalam kalau dr pihak lki2 g trllu jd masalah, krn yg menikahkan suatu perkawinan adalah ayah kandung si wanita. tp pikir2 dlu sebelum melangkh, jngn sampi gr2 pernikahan ptus hub kelg. tp klu tdk memungkinkan, nikah sj, lmbt laun jalinan kelg nnt baik kembali insy Allah.

       
  21. debi maulana

    9 Mei 2013 at 8:19 am

    asslm,,,,
    jd ksimpulanya prempuan tdk bsa nikan tnpa ortu laki2 kndung,jd sya hrus gmna pak,kmi ttap hrus nikah,

     
    • salwintt

      24 Juli 2013 at 10:20 pm

      wassalam ww hrus cri org ke3 agar orngtuanya mau membuat surat wali hakim

       
  22. lisa

    13 Mei 2013 at 8:09 am

    asslamnualaikum,,
    saya mau tanya ustad,, kpan waktu yang tepat ngobrol ma orang tua untuk menyakinkan bhwa calon saya itu pantas buatku?

     
    • salwintt

      24 Juli 2013 at 10:18 pm

      wassalam ww, sptnya anda yg lebih tau karakter orgtua kpn saat pling tpat

       
  23. devitahermawan

    25 Juni 2013 at 8:25 pm

    asalamualaikum
    sya mo menanyakan sah/tdk pernikahan apabila BPK dr pihak wanita tdk setuju dgn berbagai alasan,sedangkan IBU dr pihak wanita setuju…karna kesal IBU dari pihak wanita memberikan jln keluar utk KAWIN LARI…
    alasan BPK dr pihak wanita tdk MERESTUI karena
    1.sya orang jauh?
    2.jabatan kurang tinggi?(PNS gaji 3jt/bln)
    3.dari keluarga miskin!?
    yg ingin ditanyakan
    1.apakah sah nikah hya direstui ibu dr pihak wanita?
    2.krna largan tsb sdh sering mlakukan hub.suami istri!siapa yg salah?

     
    • salwintt

      21 Juli 2013 at 9:45 pm

      Salah satu rukun nikah ada wali. Wali dimaksud adalah orgtua si calon wanita. Walilah yang meningkahkan suatu perkawinan. Kalau wali tidak mau menikahkan, boleh wali hakim (diwakilkan) dgn catatan ada izin tertulis dari wali pertama (ayah si wanita). Kalau tdk memenuhi itu tidak sah pernikahannya.

       
  24. hasibuan

    5 Juli 2013 at 6:20 pm

    orangtua saya melarang saya menikahi wanita yang saya sukai, alasannya hanya karena dia anak angkat dan sedikit lebih tua dari saya dan jugaayah saya bilang kalau saya di dukun2 i calon saya, sangking tidak setujunya ayah saya sampai2 ayah saya mengancam jika saya tetap menikahi dia di kota tempat saya tinggal,maka saya juga calon istri saya akan di bunuh oleh tangan ayah saya sendiri, setelah itu saya berniat untuk menikahi calon istri saya di luar kota tempat saya tinggal(kabur), dalam hal ini apakah saya salah, dan apakah saya berdosa,,,,? dan apa yang mesti sya lakukan, karena saya benar2 tidak bisa meningalkan dia, dan kami saling menyayangi,

     
    • salwintt

      24 Juli 2013 at 10:16 pm

      wallahu a’lam bish-shawab, cari ketenangan dulu, dekatkan diri pada Allah, insya Allah akan ada jalan keluarnya

       
  25. dhintaaa

    2 Juni 2014 at 5:28 pm

    asslamua’laikum

    pa ustadz say a mnta sarannya..

    saya seorng wnita brumur 24 th,
    sejak lulus Dr sma sya mnjalin hubungan DG laki-laki yg masih satu kmpung DG sya..bhkan adiknya puns shbat say a sndiri..
    hubungan kmi sudah brjln 6th..sbg prempuan yg sdh mtang dr sisi umur dan mlhat lmanya hubngan kami..kami sma 2 memiliki niat utk msnyempurnakan hubungan INI mnjadi lbh bail DG pernkhan tapi psangan sya d bingungkan DG ke khwatiran ortunya yg d khwatirkan TDK terlalu suka jika anaknya mnikah DG satu kmpung krna kk Dr psangn sya tu jga mnkah DG org Dr satu kmpung dilihat bnyak mmberikan kekecewaan…
    yg sya pikirkan adalh knpa sya dianggap sma jga..apa yg hrs kami lakukan..

    sbelumnya trimaksih

     
    • salwintt

      10 Juni 2014 at 10:27 pm

      waalaikumsalam ww… kalau sudah ada kecocokan silahkan saja menikah. Belajarlah menghilangkan mitos2. Kalau kita terus memikirkan itu, kapan mau maju. terima kasih

       
  26. kahar mirza

    21 Juni 2014 at 2:19 pm

    Assalamu’alaikum.
    Saya mohon saran,
    Saya adalah lelaki berumur 25 tahun, mengenal seorang gadis berumur 21 tahun dari tempat saya bekerja. Saat berkenalan saya ada ketertarikan kepada gadis itu, dan diapun juga. Awalnya saya tertarik dengannya karena fisiknya, dana dia seorang gadis non-muslim (katholik) berdasar omongan salah satu teman kerja. Saat itu saya mulai urungkan niat untuk mengenalnya lebih jauh, namun hati ini mendorong saya untuk melihat fotonya di jejaring sosial… dan saya tertegun melihatnya memakai hijab. Dan tidak jarang dia mengucap salam, dan alhamdulillah, juga toleran dengan aktivitas ibadah saya wktu d tempat kerja. Setelah itu, saya beranikan untuk mengenalnya lebih jauh, apakah dia punya ketertarikan dalam Islam. Setelah beberapa minggu saya beranikan bertanya kepadanya tentang keimanannya dan keluarganya, ternyata dia berasal dari keluarga broken home, ibunya seorang mualaf dan ayah kandungnya beragama islam, ayah kandungnya sudah men talaq berkali2, namun tidak menceraikannya dengan baik-tetapi meminta harta sebagai syarat utk cerai. Sejak kecil ayahnya tidak membimbing ibunya tentang islam, dan sejak kelas 3 SD si gadis ini mengikut kakek nenek yg beragama katholik sampai selesai SD, dan tinggal sendiri (kos) sejak SMP sampai Kuliah (gadis ini belum dibaptis&berktp islam) dan hanya pulang ke rumah ibunya, sedangkan hub dgn ayahnya tidak harmonis dan tidak mengakuinya sebagai anak kandung. Si gadis ini sebenarnya tertarik dengan islam sudah lama, namun bingung karena kondisi keluarga dan takut tidak dibimbing dengan baik. Dia semakin tertarik dalam bbrp bulan terakhir, karena ibunya dan adik mulai belajar islam dengan ayah angkatnya. Si gadis pun, mengutarakan ketertarikannya denganku, dan bersedia menjadi mualaf asalkan saya bimbing dengan baik dan berkeinginan membina keluarga denganku kelak.. hatiku sangat bahagia saat itu, dan sempat berucap kepadanya bahwa aku akan menikahinya, dan dalam hati ini sangat ingin membimbingnya dalam nikmat iman dan Islam. Setelah pisah tempat kerja, kami hub jarak jauh lewat telpon, kadang dia tanya2 soal Islam dan shalat, namun dia saat saya tanya kapan akan mengucap syahadat? Dia menjawab, ingin lebih memantapkan hati.. dan sebenarnya dia takut bila ibuku tidak setuju dan dia hanya inginkan aku sebagai imamnya kelak.
    Perasaan dan hati ini semakin gundah, saat aku utarakan kedekatanku dengan gadis ini terhadap ibuku, ibuku langsung tidak merestui dengan dasar melihat latar belakang agama gadis ini, latar belakang keluarga, pekerjaan,tempat tinggal dan juga ekonomi.. aku berasal dari keluarga yg terpandang d kotaku, alm. ayahku adalah seorang yg aktif dalam dakwah dan agamis, dan aku seorang dokter sedangkan dia yg aku dekati adalah seorang perawat. Ibuku takut kalau di tengah jalan dia berubah iman, takut diduakan oleh anak (saya adalah anak paling akhir), dan takut kehidupanku akan bermasalah dengan keluarga perempuan (pdhl dari org tua, bahkan kakek neneknya merestui hub kami), dan takut malu akan cibiran org lain.
    Dalam hati ini gundah antara memilih menikahi gadis ini dan berjuang di jalan-Nya untuk memantapkan Islam dalam diriku dan dirinya dengan memilih ibuku yg sudah byk berkorban sejak ayahku meninggal..
    Aku sudah shalat istikharah, mohon petunjuk selama 7 hari… namun hati ini tetap berniat menikahinya karena ingin menjadi imam yg baik untuknya, akan tetapi ibu tetap tidak setuju, ibuku cemburu saat aku mengenal gadis ini, ibadahku semakin giat(hal ini aku lakukan karena ingin menjadi imam yg baik baginya kelak)….ibu mempertimbangkan pengalaman dan omongan org lain, menganggap mualaf itu bisa kembali murtad sewaktu2, dan menganggapku hanya dimabuk cinta.

    Apa yang harus saya lakukan? Durhaka kah saya bila tetap ingin menikahi perempuan ini dan menjadikannya mualaf yg baik? Dalam hati ini, saya ingin membuktikan kepada ibuku, bahwa setiap org dpt berubah asal ada niatan yg kuat dan baik…
    Apakah bila saya mengkhitbah perempuan ini sebelum menjadi mualaf tanpa sepengetahuan ibu saya, dianggap sah?
    Bagaimanakah cara meluluhkan hati ibuku agar mengerti tujuan dan keinginanku menikahinya, ibuku selalu memasang harga mati… pilih dia atau ibu..

    Terima kasih,
    Wassalam.

     
    • salwintt

      10 Juli 2014 at 8:20 pm

      wassalam ww… tidak bisa dipungkiri hingga hari ini masih banyak orangtua kita masih mendikte masa depan anaknya yang sudah dewasa, termasuk masalah jodoh. saya salut dengan teman dan kepribadian mas kahar mirza (km). semoga Allah dalam waktu dekat memberikan petunjuk terbaik. menurut hemat saya kalau memang niat suci mas km ingin menjadi imam terbaik untuk isteri dan keluarga, niat ini terus dipertahankan dan diperjuangkan. masalah hubungan dengan orangtua, kalau nanti terbukti mas km dan isteri harmonis insya Allah akan membaik kembali. niat suci untuk menikah walau bukan pilihan orangtua, tidak membuat anak durhaka, selagi kita terus mendekati dan mengabdi kepadanya, nikah yang syah adalah sesama islam, maka islamkan dulu. selalu mendekat, sopan santun, bisa membuktikan apa yang diniatkan dan diucapkan, ibu suatu ketika akan luluh juga. trims smg bermanfaat.

       
  27. Daffa

    22 Juni 2014 at 3:25 am

    Assalamu alaikum.. Saya menjanlin hubungan dengan seorang gadis (IR) karena dia menjadi perantara dalam 5x istikhoroh saya dalam hal rencana kuliah. IR sebenarnya adalah teman SMA namun selama SMA hanya mengenal nama saja. Setelah rangkaian istikhorohitu, saya memberanikan diri untuk mengenal IR lebih jauh. 3,5 tahun dekat, saya berniat meminangnya tapi IR menyarankan agar saya menyelesaikan kuliah dulu. Sambil nunggu saya lulus, IR mengambil kursus bahasa di Kediri. Sejak di Kediri, komunikasi kami berkurang hingga muncul berbagai masalah yang mengancam hubungan kami. Istikhoroh sudah kita lakukan. Saya yakin tetap melanjutkan hubungan. Sedangkan istikhoroh IR menyarankan agar minta pendapat ibu IR. IR cerita pada ibunya tentang saya yang berencana meminangnya. Lalu ibunya menyarankan agar saya menyelesaikan kuliah dulu, kata IR. Setelah itu IR memutuskan hubungan kami. Saya menghadap ibunya IR untuk bertanya langsung. Dan secara implisit beliau meminta saya melanjutkan hubungan. Setelah kedatangan saya, ternyata ada pria (PIL) yang juga datang meminang IR. Ternyata ibu IR menceritakan kedatangan saya kepada bapak IR. Lalu bapak IR berisikhoroh dan meminta 2 orang ustadz untuk istikhoroh juga. Semua istikhoroh itu memilih saya. Tapi IR sudah terlanjur yakin pada PIL. IR menolak hasil istikhoroh dan tidak mau melaksanakan nasihat orang tuanya agar memilih saya sebagai pendampingnya. Seiring waktu, sikap IR semakin keras dalam menolak perminataan orang tuanya. IR googling dan mencari dalil2 agama tentang “hukum menikah karena terpaksa” dan yakin bahwa nikah tanpa seizin gadis yang bersangkutan hukumnya adalah batal. Saya sudah menasihati IR tapi IR menolak semua pendapat yang bertentangan dengan pikirannya sekarang. Itu yang membuat saya khawatir IR nekat melakukan hal buruk. Apa yang harus saya lakukan? Mempertahankan IR atau melepaskannya? Apakah hasil istikhoroh bisa dikatakan sebagai jodoh? Terima kasih atas perhatian ustadz, saya mohon bimbingannya.

     
    • salwintt

      10 Juli 2014 at 8:27 pm

      wassalam ww… terima kasih dan salut terhadap kepedulian anda terhadap teman. selama ini kasusnya saling cinta, tpi terkendala ketidaksetujuan orangtua. yang anda alami si teman yang kurang simpatik terhadap anda. ya silahkan tidak perlu diperpanjang, biarkan dia mencari jalan hidupnya sendiri, istikhorah bukan survey perjodohan, wallahu ‘alam. trims

       
  28. none

    24 Juni 2014 at 12:10 am

    Assalamualaikumm pak ustad,, saya ingin menanyakan tentang pernikahan tanpa restu orang tua,, saya dan pasangan sudah menjalani hubungan selama hampir 4 tahun,, namun pihak keluarga saya tidak merestui saya untuk menikah padahal pasangan saya sudah beberapa kali meminta saya kepada orang tua saya,,dan pasangan saya ingin segera mengesahkan hubungan ini dikarenakan dia ingin bertanggung jawab dng apa yg slama ini telah kami perbuat dan menghindarkan kami dari dosa yg terlalu jauh,, dikarenakan selama ini kami selalu melakukan hubungan layaknya suami istri,,dan orang tua saya telah mengetahui semua itu,,namun keluarga saya tetap tidak mau merestui dikarenakan pasangan saya bukan orang kaya dan mereka menganggap saya seharusnya mendapat yg setara dengan keluarga saya,, namun saya tetap ingin menikah dengan dia dan diapun ingin melaksanankan tanggung jawabnya,,bahkan saya pernah kabur dengannya dan ayah saya menjanjikan juka saya pulang maka akan segera dinikahkan,,namun setelah sekian lama saya menagih janji tersebut ayah saya justru mengancam akan membunuh ibu pasangan saya,,sedangkan orang tua psangan saya tinggal satu2nya,,bahkan ibu saya pun pernah mengatakan saya seperti seorang purel;;,, bgaimana saya harus bersikap dalam hal ini??

     
    • salwintt

      10 Juli 2014 at 8:34 pm

      wasslam, masya Allah…. jika menyimak begitu dalamnya hubungan dengan teman anda, maka menikahlah dan hormati rasa tanggung jawab teman anda. hubungan dengan orangtua lambat laun insya Allah akan membaik selagi anda terus melakukan pendekatan. buktikan anda selalu harmonis, karena suatu ketika jika anda tidak harmonis, bumerang lebih dahsyat akan terjadi. wallahu ‘alam bissawab trims.

       
  29. hamba allah

    3 Juli 2014 at 10:39 am

    Assalamu alaikum..
    Pak z seorg ank permpuan,,z mempunyai calon org yang z zyank,,alhamdulillah z dan k’luarga.y dekat,,tp orang tua z yaitu ibu zy tdk mnyukainya,,kbtulan z org jawa,,namun calon z org dri suku lain,,ibu z tdk mnyukai suku laki” plihan z dgn alsan krn kta.y lw suku lki” plhan z org.y gni” dll,,tp mnurut z zmw suku sm pak trgntung dri pribadi.y masing”sj mw bgmn,,n alhamdulillah laki” plhan z akhlak.y baik dri k’luarga yg baik n taat beribdah,,tp d sisi lain z tdk ingn durhaka trhdap ibu z apa yg hrus z lkukan ?? N ibu z maunya punya menantu dri org militer smntra z zndri dk suka dgn org yg punya kerjaan sprti itu,,apa yg hrus z lkukan pak ?
    Trus pak ibu z org.y keras,,sebaik appun org i2 lw dia tw qt dri suku berbeda dia lgsung tdk mnyukai.y tnpa mndkati org i2 dlu n mngnal.y,,tp wlaupun org i2 ru d kenal tp lw sesama suku zy ibu zy lgsung suka,,apa yg hrus z lkukan pak ? Z jg ingn mnikah dgn org yg z zyank,,z ingn mnikah dgn restu ortu z tlong jwbn.y pak..
    Wassalamu alaikum wr.wb

     
    • salwintt

      10 Juli 2014 at 9:04 pm

      wassalam…. memang sulit memutuskannya lantaran z adalah anak perempuan. oke jika dilanjutkan ke jenjang pernikahan bisa hidup rukun dan harmonis dengan suami, jika tidak, tentu tekanan batin akan bertambah. dan perlu diingat tipe orangtua seperti ibunya z tidak sedikit di zaman sekarang ini. posisi sebagai anak serba salah, diikuti, tidak sesuai dengan hati dan tertekan batin. tidak diikuti, takut jadi anak durhaka. yang terbaik minta petunjuk Allah, shalat malam banyak2, nanti akan terbuka sendiri jalan mana yang harus ditempuh. memilih jodoh tanpa restu orangtua, tidak dikategorikan anak durhaka. tetapi seorang anak perempuan yang akan nikah yang akan menjadi walinya adalah bapak kandungnya, jika berhalangan baru saudara laki2nya, datuknya, dsb. bagaimana si gadis mau menikah sementara bapak kandungnya tidak mau menikahnya (menjadi walinya)…? wallahu a’lam bissawab, trims

       
  30. none

    14 Juli 2014 at 8:02 pm

    Sejak pulangnya saya setelah saya pergi dari rumah tersebut saya telah melakukan semua yg orang tua saya mau,, saya menuruti segala perintahnya dgn maksid supaya orang tua saya luluh,, bahkan pasangan saya tersebut sudah mencari pekerjaan yg layak,, alhamdulillah dgn gaji 3jt/bln insaallah cukup untuk kebutuhan sehari* ,, namun orang tua saya tetap tdk mau karena psangan saya blm menjadi bos dan hanya bekerja pada orang lain,,sedangkan ibu saya pernah bersumpah tidak akan menerimanya sebelum dia menjadi bos besar,, bagi sy rzqi sudah ada yg mngatur,, namun org tua saya sllu menentang bahkan pergi ke dukun untuk memisahkan saya,, memang dikeluarga saya agama bukanlah hal yg harus dan wajib di jalankan dan bukan menjadi panutan mereka dalam bersikap,,bahkan yg mengajarkan saya sholat pun adalah pasangan saya,,

     
  31. none

    14 Juli 2014 at 8:08 pm

    Lalu bagaimana dengan wali saya pak ustad?? sedangkan ayah saya pun tidak mau menikahkan saya,, kaka laki* saya juga tidak berani menjadi wali saya karena dia sendiri belum menikah dengan alasan yg sama,, yaitu tidak di restui,, tentang ayah saya bukankah seorang muslim yg mninggalkan shalat dalam jangka waktu tertentu adalah seorang kafir?? Dan secara otomatis hak perwaliannya batal??

     
  32. hamba Allah

    14 Juli 2014 at 10:33 pm

    assalamualaikum ustad..saya mau bertanya..
    dulu sebelum menikah ortu saya g mnyetujui kami utk mnikah..padahal niat saya menikah utk menuntun suami saya yg dulu seorang pemabuk..saya kasih tahu niat saya mnikah utk itu & mnghindari hal” yg mngandung dosa..tapi tetap saja ortu tdk setuju walopun pada akhirnya pas hari H menikah itu ayah sya mau jadi wali.kadang saya merasa kalo saya ini amat sangat durhaka ke ortu saya..karena baru kali ni saya g nurut mereka.mohon pencerahannya ustad bagaimana caranya kita utk mmperoleh ampunan dr Allah..stiap ingat tentang RIDHO ALLAH ITU RIDHO ORTU..saya merasa takut..tapi alhamdulillah sekarang ortu sudah mulai mnerima pernikahan kami..tapi hati ini tetep aza masih merasa bersalah

     
    • salwintt

      26 Juli 2014 at 11:23 am

      wassalamu ‘alaikum wb wb alhamdulillah pada diri anda mencerminkan pengabdian yang tinggi kepada orangtua. usaha saja terus menerus untuk mendekati orangtua. sadari sesungguhnya apapun yang dilakukan kedua orangtua hanya demi anak” dan keluarganya. selalu bercerita tentang kebahagian rumah tangga anda, jangan menceritakan yang jelek”. apalagi nanti kalau putra anda lahir selalu dekatkan pada mereka, insya Allah hubungan keluarga akan harmonis kembali. untuk saat ini lebih perbanyak ibadah, zikir, tafakkur, baca qur’an dan do’a. obat mujarab bagi penyakit hati (gundah gulana) adalah membaca al-qur’an, karena al qur’an adalah ash-shifa’ (obat penawar). terima kasih, wallahu a’lam….

       
  33. seera

    25 Juli 2014 at 11:55 am

    Assalamuailaikum wr wb..ustadz saya ingin bertanya…si A (perempuan) menikah dg si B (laki laki)..mereka melakukan pernikahan secara siri..si A dijadikan istri ke 2,,pada saat si A menikah,A meminta diwalikan dg org lain sbagai wali nikahnya padahal orang tua khususnya ayah si A masih hidup..menurut ustadz bagaimana hukum pernikahan mereka?..

     
    • salwintt

      26 Juli 2014 at 11:00 am

      Wa’alaikum salam ww… Urutan Wali, ayah kandung, kakek dari ayah, saudara laki2 kandung, saudara laki-laki seayah dst… kalau ayah dan kakek sudah tidak ada lagi yang jadi wali otomatis saudara laki-laki kandung. Tapi ingat wali yang dimasksud adalah dari pihak perempuan bukan laki-laki. Karena yang menikahkan itu adalah wali dari perempuan. tidak boleh melangsungkan pernikahan jika diwalikan pada orang lain tanpa sepengetahuan (izin) wali yang syah. terima ksih.

       
  34. Pru Beni Subianto

    26 Juli 2014 at 12:21 am

    assalamualaikum ustadz.. saya Beni umur 26 jalan…
    saya sudah lama kenal dengan ikhwat saya smnjak kuliah kira” hampir 3 thunan,, alhamdulillah kami bisa saling menjaga dari zina fisik (senggama) yaa wlw terkadang sering tak terlewat dari zina mata, lisan dan hati. calon saya sudah lulus kuliah dan saya msh dalam kuliah tapim kami 1 angkatan yg sma dan umur kami beda 3 tahunan.. keterlambatan saya untuk lulus kuliah karena saya terlalu sering berjibaku dalam dunia bisnis dan sering lalai dengan kuliah saya,,, tapi saya tetap meelanjutkan kuliah saya sampe selesai karena saya sadar itu akan jadi kado terindah untuk ortu saya nanti.
    calon saya ingin cepet menikah dan saya pun begitu karena terlalu lama berkenal dan zina” kecil yang tak terhindarkan… saya berniat untuk melamar dia dan menikah cepet kemudian agr tak ada lagi dosa kecil yang kami lakukan.. hanya saja orantua saya mengharuskan kuliah selesai dulu baru setelah itu terserah,, tabungan untuk memberikan cincin sebagai mahar in.allah seidikit lagi tercapai karena calon ikhwat tidak terlalu meminta macem” (tidak neko”). calon saya menganjurkan untuk menikah secara agama dulu (nikah siri).
    tapi saya bingung dengan kondisi orantua saya gimana,,, pertanyaan saya :

    1. bagaimana saran ustadz jka saya dan ikhwat saya menikah siri tanpa saya memberitahu dahulu ortu saya.. (keluarga dari ikhwat menganjurkan kami cepat menikah)???
    2. bagiamna saya harus bertindak ya ustadz dalam situasi ini..?? saya terus istikharah kpd Allah..
    3. durhaka kah saya yang menikah tanpa izin ortu dulu (tapi ortu saya sudah kenal dan ketemu dengan calon ikhwat saya)??

    mohon nasihat nya ustadz,, saya bener” dilema,,
    Semoga Allah selalu memurahkan rizky nya kpd ustadz. amiinn…

     
    • salwintt

      26 Juli 2014 at 10:44 am

      wasslam, terima kasih, tidak jauh berbeda. dulu saya juga ingin cepat menikah dengan alasan serupa. saya menikah umur 23 th semester vii. dua tahun kemudian anak pertama kami lahir dan waktu itu saya belum memiliki pekerjaan. betul masalah rezeki Allah yang mengaturnya, alhamdulillah kehidupan kami biasa2 sj bahkan ketika anak kami berusia 7 bulan ibuny pun berhasil menyelesaikan kuliahnya. dalam situasi seperti itu jika dilandasi rasa cinta yang benar” datang dari dalam qalbu, semua liku” kehidupan terbawa indah. apalagi kita sebagai seorang laki” yang bakal menajd pemimpin rumah tangga wajib mampu mengendalikan perahu yang kita bawa. jika posisi anda sebagai seorang wanita memang agak rumit, karena yg menikahkannya adalah wali (orangtua kandungnya), sementara kasus ini malahan keluarga mereka yang mendesak agar anda segera menikah. ya lanjutkan saja ke jenjang pernikahan resmi g’ usah pakai siri” segala. masalah hubungan dengan orangtua, karena dilandasi rasa cinta, patuh pada agama dan niat untuk membangun keluarga sakinah mawaddah dan rahmah, yakinlah suatu ketika insya Allah tidak hubungan keluarga akan harmonis kembali, dan terhindar dari kedurhakaan. SEMOGA! wallahu a’lam bissawab terima kasih

       
  35. deni

    2 Agustus 2014 at 1:28 am

    Assalamu’alaikum pa ustad
    nama saya deni laki2…… umur saya 39thn,
    saya mempunyai seorang pacar dan saya sdh berpacaran slama 2thn, sy ingin sekali melamarnya, dan dia juga ridho dg lamaran saya, kami saling mencintai, kami sdh tdk mau berpisah lagi, saya dan dia ingin beribadah sungguh2, kami ingin menikah, jujur kami sdh sering melakukan berbuat zinah, kami sdh tdk sanggup lg melawan godaan zinah, kami ingin bertobat dg cara menikah, pcr sy anak yatim, dia mempunyai kaka laki2 dua, tapi permasalahannya seluruh kluarga dia tdk setuju dg sy, dg alasan umur yg jauh, materi, tampang, dll, malah kluarganya pnh mengancam ingin membunuh saya, bahkan kakanya pnh mengajak sy berantem, sy sering di fitnah, di caci maki, dihina, dihujat, diancam keselamatan sy oleh kluarganya, pdhl scara sosial kluarga sy jauh lbh baik dri kluarganya, kluarga sy kluarga berada, terpandang, kluarga dia sering ke dukun, rentenir, tdk paham agama, bahkan ibunya suka mencaci maki anak kandungnya sendiri, keluarganyapun dipandanh tetangganya jelek, ternyata kluarganya bkn ke saya aja menghujat, memaki, menghina, memfitnah, kpd org lain yg mrk tidak senangi akan berbuat hal yg sama, didalam kluarganya kata2 kotor, binatang udah menjadi hal biasa, sebenarnya juga termasuk pacar sy, suka memaki sy, menghina saya, tapi sy berpendapat mungkin setelah menikah dan hdp dg saya, sy ada niat tulus ingin membimbing dia ke arah yg benar, prilaku kluarganya sangat jauh dg prilaku kluarga saya, skr kami sedang menunggu surat dari Pengadilan Agama utk wali adhol, saya ingin meminta nasehat dari pa ustad ttg hal ini, apakah saya tetep harus menikahi dia atau tidak, tapi kami saling mencintai….sebelum nya sy ucapkan terima kasih, Wassalamu alaikum wr wb

     
    • salwintt

      8 Agustus 2014 at 10:04 pm

      Wassalamualaikum WW…! Terima kasih. Hukum nikah itu wajib, sunah, mubah, makruh dan haram sesuai kondisinya. Melihat kasus anda, mampu, usia sudah matang, tidak bisa menahan nafsu maka hukumnya wajib nikah. Apalagi, masya Allah… anda dengan jujur menceritakan telah melakukan hubungan suami isteri. Maka sebagai rasa pertanggungjawaban anda terhadap pasangan anda dan kepada Allah SWT maka sebaiknya anda segera menikah. Masalah-masalah dengan keluarga teman anda diabaikan dulu. Nanti setelah menikah baru dilakukan pendekatan secara baik-baik dan penuh kesabaran. Yakinlah jika nikah diiringi niat ingin ibadah, taubat, dan menciptakan keluarga sakinah, mawaddah dan rahmah, Allah akan selalu memberi petunjuk dan suatu ketika keluarga di antara kedua pihak akan harmonis kembali. Wallahu a’lam bishshawab…!

       
  36. hamba Allah

    3 Agustus 2014 at 1:32 am

    Assalamualaikum ustadz…
    Sudah 3 tahun saya menjalin hubungan dengan seorang pria.. jujur saja dia seorang duda beranak 1. Akhir tahun ini kami berencana menikah.kebetulan ayah saya sudah meninggal dunia…yang menjadi permasalahan…
    Ibu saya adalah seorang janda . Beliau suka berpakaian seksi dan keluyuran malam … hal itu pula yang membuat calon suami saya membenci ibu saya… dengan alasan ibu saya bukan ibu yang baik. Apakah salah jika saya menikah dengan nya ustadz? Masalah yang ke 2 calon suami saya berencana melamar saya dengan uang seadanya…namun ketika saya mhon izin dengan ibu saya. Beliau menolak dengan alasan tidak cocok dg suami saya. Dan memberi syarat yg mengharuskan membawa uang lamaran yang banyak. Hal itu tentu saja membuat saya terpukul..beliau bilang jika ingin membahagiakan dia tolong jadikan resepsi pernikahan..tapi kalau saya tidak melakukan resepsi pernikahan ibu saya bilang …saya anak yang tidak bs membahagiakan org tua. Apa yg hrs saya lakukan? Sedangkan calon pendamping sy org yg sederhana…saya benar2 bingung.apa kah saya berdosa jika saya tetap menikah tanpa restunya?

     
    • salwintt

      8 Agustus 2014 at 9:47 pm

      Wassalamualaikum ww… terima kasih. Jika terpenuhi rukun dan syarat nikah maka syahlah nikah itu. Tidak pernah ada kewajiban untuk mengadakan resepsi pernikahan. Resepsi hanya sekedar saksi kepada keluarga dan teman-teman bahwa kita telah menikah. Menyimak kasus anda memang suatu dilema yang perlu diselesaikan secara serius. Tetapi melihat kondisi ibu anda jangan terlalu dikhawatirkan, dalam artian anda tetap sopan dan patuh padanya. Bagaimanapun, dia adalah ibu anda. Tentang larangan agar anda tidak menikah dengan teman anda, abaikan dulu, karena alasannya tidak terlalu mendasar. Jika anda yakin akan bahagia jika menikah, silahkan menikah dengan sederhana saja sesuai kemampuan dan kesepakatan. Dengan catatan ibu anda terus didekati secara perlahan, insya Allah suatu saat nanti akan membaik. Menikah dengan tujuan suci, tidak berniat menyakiti dan meninggalkan orangtua, Insya allah tidak tergolong dosa, sesuai kasus yang anda alami. Semoga dengan pernikahan anda nanti ibu anda mendapat hidayah, meninggalkan kebiasan seperti yang anda ceritkan, endingnya terciptalah keharmonisan keluarga besar anda dari kedua belah pihak. Wallahu a’lam bissawab.

       
  37. Jery Marisa

    26 Agustus 2014 at 12:44 pm

    Assalamualaikum Ustad..
    Saya seorang wanita berumur 23 tahun dan seorang yatim. Tepatnya 1.5 tahun yang lalu saya dilamar seorang pria yang dijodohkan oleh ibu saya dan si ibu mengiyakan dengan mahar tertentu. Sedangkan saya dan keluarga tahu bahwa saya sudah menjalin hubungan dengan teman lain yang saya ridhoi baik fisik maupun batinnya.
    Sekarang tepatnya 2 minggu yang lalu, Teman lelaki saya melamar kepada wali saya (kakak ayah) saya dan merestui jalan kami. Kami sudah melakukan berbagai upaya untuk meluluhkan hati ibu saya. Bahkan dengan niat mengganti mahar tersebut yang sudah diberikan oleh laki-laki lain kepada saya.
    Yang mau saya tanyakan pak Ustad apakah saya berdosa apabila saya tetap ingin menikah dengan pilihan saya sendiri sedangkan ibu tidak merestui karena ibu memandang hal duniawi yang saya dan calon saya belum sanggup menyangupinya. Sedangkan kami ingin terhindar dari zina.
    Maaf pak Ustad saya sudah menanyakan ke banyak ulama di tempat saya tapi mereka menyarankan untuk tetap melanjutkan pernikahan. Hanya saja pa Ustad yang mengganjal adalah kata-kata ibu saya bila saya menikah tanpa restunya beliau menghardik saya adalah anak yang durhaka dan celaka dunia akhirat.

    Wss.. Thanks

     
    • salwintt

      30 Agustus 2014 at 1:59 am

      waalaikum salam…. terima ksh. banyak pertanyaan sejenis. coba2 baca2 jawaban sy ats pertanyan2 sebelumnya di artikel ini, semoga bs terjwb. trimaksih

       
  38. NN

    13 Maret 2015 at 10:13 am

    Ass, pak ustad. Apakah kalo seorang janda menikah tanpa wali bs dikatakan sah

     
    • salwintt

      14 Maret 2015 at 12:42 am

      waalaikum salam. Tidak sah

       
  39. NN

    17 Maret 2015 at 7:39 am

    Tapi ada jg beberapa sumber saya baca kalo mengatakan sah. Bagaimana pak ?

     
  40. Seorang Wanita

    15 Juli 2015 at 11:01 am

    assalamuallaikum
    saya menemukan lelaki yang luar bisa agamanya serta attitudenya dia juga bisa menuntun saya menjadi lebih baik tetapi dia adalah aliran tertentu yg mengharuskan saya ikut di dalamnya bila saya menjadi pendampingnya. Awal saya merasa optimis ini semua untuk saya kedepannya. Awal orang tua saya tidak setuju dan menentang keras karena lelaki saya belum jelas masa depannya dan beraliran bukan seperti masyarakat pada umumnya serta PLAYBOY. Mengapa bisa lelaki yg lulusan pondok dan bagi saya hebat beragama bisa PLAYBOY, saya juga kurang paham hehe. Kita sudah 3th bersama serta sudah “LAMARAN”. Tapi mendekati lamaran hati saya menjadi ragu dan bimbang. Saya takut tidak mampu dengan segala ajarannya dan takut berkisah seperti MARSHANDA. Dan juga saya takut untuk perekonomian keluarga saya kedepan, saya dari keluarga yang Alhamdulillah selalu berkecukupan sementara saya meragukan lelaki saya bisa menafkahi saya secara lahir. Selama ini saya diam saja dan berusaha menutup mata telinga tentang ke PLAYBOY an. Malam setelah acara lamaran saya baru mengungkapkan semua apa yg saya ketahui tentang ke PLAYBOY annya kepada calon saya. Mengapa saya ungkapkan pada malam dimana paginya kita di ikat dalam ikatan pertunangan? Mungkin ini dimana cinta saya sudah tidak lagi buta tuli dan bisu. Saya mulai berpikir ataukah ini keraguan sebelum menikah. Bila hanya mempermasalahkan PLAYBOY nya rasanya tidak adil, karena kebaikannya beribu ribu dan juga dia memutuskan melamar saya itu hal yg luar biasa baik. Tapi kembali kepada topik RIDHA ORANG TUA, ternyata orangtua saya kurang RIDHA walaupun meng”iyakan” lamaran lelaki saya. Mereka ming”iyakan” karna melihat saya yang bersikeras serta menceritakan segala kebaikannya tidak bercacat. Pihak keluarga lelaki saya bisa dikatakan beda dengan keluarga saya ini hal yang pada umumnya memang maka dengan kekerasan hati saya saya tidak memperdulikannya. Saya menyadari sifat buruk saya, saya keras kaku tetapi pada lelaki saya saya luluh lantak, saya takut sifat keras kaku saya muncul pada saat saya lelah ditekan dalam bahtera rumah tangga nanti dan terjadi hal yg tidak pernah diingankan dalam pernikahan. Saya mencoba konsultasi kepada siapapun, dan jawaban yg menohok ini ada kedua kemungkinan Pertama ini cobaan sebelum pernikahan Kedua ini jawaban atas doa doa orang tua saya yg TIDAK RIDHA. Saya mengungkapkan kepada kedua orang tua saya untuk mengundur pernikahan terlihat ekpresi yg sangat senang, Kedua orang tua saya berniat setelah lebaran silaturahmi kepada pihak lelaki saya untuk menyampaikan hal ini, tapi sebelumnya lelaki saya sudah diberitahukan terlebih dahulu oleh ibu saya, dan lelaki saya sekarang juga memandang ragu terhadap saya. Ibu saya sempat berucap lebih baik menganggap lelaki saya sebagai anak saja tidak sebagai mantu. Sementara saya meragukan diri saya untuk sanggup bersama dengannya tapi saya masih sangat menyayanginya dengan segala apa yg sudah kita lewati bersama. Apa yang harus saya lakukan?

     
    • salwintt

      17 Juli 2015 at 11:25 pm

      Wa’alaikusalam ww… Terima kasih. Tidak tau aliran apa yang dianut calon pasangan anda. Menelaah alur cerita, orangua yang kurang restu, kemudian hati anda mulai bimbang, mumpung sebelum terjadi ikatan resmi sebagai suami isteri, pikir-pikir kembali untung diurungkan. Pernikahan tidak untuk sementara, tetapi untuk selamanya. Mestinya berusaha untuk saling menyayangi lahir dan batin antara kedua belah pihak, pun keluarga dari keduanya. Wallahu a’lam. terima kasih

       
    • salwintt

      18 Agustus 2015 at 11:49 pm

      Waalaikum salam WW. Terima kasih. Ceritanya cukup jelas. Cuman kurang jelas aliran yang dianut si laki-laki. Lulusan ponpes bukan hanya bisa jadi playboy, membunuh dengan cara bom bunuh diri pun mereka bisa. Oleh karena itu harus hati-hati.
      Mumpung belum sampai ke jenjang ijab kabul, jika dihantui keragu-raguan, pertimbangkan untuk mengikuti keinginan orangtua. terima kasih

       
  41. ibe

    27 Juli 2015 at 1:11 am

    Assalamu’alaikum.. saya seorang pria dan sudah berpacaran selama 5 thn… niat saya utk menikah sudah kuat sekali karna wanita yg jdi pacar saya ini rajin ibadah… tapi ibu saya tidak setuju saya menikah dengan nya hanya karna alasan suku… meskipun sudah saya jelaskan berulangkali tapi tetap tidak mendapat restu…
    Mohon nasehat nya agar bagaimana sebaik nya langkah saya menyikapi ini…

     
    • salwintt

      18 Agustus 2015 at 11:35 pm

      Waalaikum salam ww. Terima kasih. Inilah dilema kita hidup di zaman serba canggih dan modern. Masih ada orangtua yang menghalang-halangi pernikahan putra-putri mereka dengan alasan ‘sepele’ beda suku. Padahal Rasulullah SAW memberikan pedoman mencari jodoh itu 1) Raut wajahnya (ketampanan atau kecantikan), 2) Hartanya (kekayaan), 3) Keturunannya dan 4) Agamanya. Sahabat bertanya. Diantara kriteria itu, mana yang lebih utama ya Rasulullah? Rasul dengan tegas menjawab, agamnaya. Tidak masalah beda suku.
      Jadi bagaimana dengan kasus anda? Karena sudah lama (5 th) pacaran, orangnya pun rajin ibadah, sepertinya anda harus punya senjata lebih ampuh untuk ‘meluluhkan’ ibu. Saya bantu do’a dech. Terima kasih.

       
  42. sang ikhwan

    27 Juli 2015 at 11:32 pm

    assalamualaikum wr wb,,ustad mau bertanya,apabila ikhwan sudah merasa cocok dg seorang wanita namun kelurga wanita masih setengah hati karena jrak tempuh ikhwan rumahnya jauh,bagaimana solusi dan langkah yg terbaik untuk dilakukan menurut ustad

     
    • salwintt

      18 Agustus 2015 at 11:24 pm

      Waalaikum salam WW. Terima kasih. Untuk zaman sekarang sepertinya jarak tidak menjadi kendala. Berjuang aja bagaimana jarak yang jauh bisa jadi dekat. OK?

       
  43. Pembaca

    2 Agustus 2015 at 12:04 pm

    Assalamualaikum Bapak Ustadz,
    Saya seorang pembaca yang kebetulan lewat di blog Bapak. Saya tidak bermaksut untuk menanyai Bapak mengenai masalah pernikahan saya, karena sepertinya sudah cukup membaca dari komentar pembaca sebelumnya yang Bapak balas.

    Betapa senang hati saya melihat Bapak adalah seorang ustadz yang “melek teknologi”, peka terhadap perkembangan zaman dengan mempunyai blog. Akhirnya kita melihat bahwa banyak diluar sana, saudara-saudara kita sesama muslim memiliki permasalahan hidup yang rumit, tidak tahu harus bertanya pada siapa hingga mencari-cari jawaban hidup dari internet. Mungkin berbeda sekali dengan masa lalu, dimana orang mencari jawaban atas permasalahan hidup dari buku/kitab/ustadz yang ditemui secara langsung.
    Sebagai pembaca saya salut, Bapak berpikiran tebuka, menunjukkan kemauan yang kuat untuk terus menghadapi zaman meski sepertinya sudah tidak muda lagi, hehehe.

    Terutama, yang saya salutkan adalah, Bapak bersedia membalas komentar satu per satu (meskipun ada yang terlewat). Menunjukkan bahwa Bapak memiliki kepedulian yang besar dengan saudara sesama muslim terutama yang sedang dilanda masalah. Tidak banyak orang seperti itu, Bapak. Terlebih, setelah saya tracing, sepertinya posting Bapak ini Bapak publish pada Mei 2011 dan komentar terus berdatangan, Bapak setia membalas hingga pertengahan tahun 2015.

    Sekali lagi, saya salut dan berterimakasih pada Bapak, karena sudah bersedia menolong saudara-saudara saya sesama muslim, yang sering saya lupa bahwa saya bersaudara dengan mereka. Dari sini, saya yakin sekali Bapak adalah sosok yang luar biasa.

    Salam untuk keluarga di rumah, Bapak. Semoga selalu istiqomah, dirahmati Allah dimanapun berada. Bila tiba suatu masa Bapak tidak berminat lagi untuk meneruskan kegiatan positif ini, mohon diingat selalu niat baik Bapak. Mungkin sebagai tambahan, mohon diingat selalu komentar saya ini (hehehe), bahwa ada orang-orang yang tidak terlihat, tidak berjumpa, tidak mengenal, namun mendukung Bapak dari jauh.

    Salam,

    Pembaca

     
    • salwintt

      18 Agustus 2015 at 11:14 pm

      Waalaikumsalam ww. Terima kasih. Waduh sanjungannya membuat saya terbuai-buai nich. Terus terang saya juga tidak menyangka, tulisan sesederhana ini tapi komentarnya luar biasa. Puluhan bahkan ratusan pertanyaan masalah ini belum sempat terjawab. Kekurangan waktu atau jawabannya harus mencari sumber dulu, inilah penyebab keterlambatan itu.
      Karena itu saya minta maaf. Semoga bisa menjalin silaturahim, keakraban kita sesama muslim, saling mendo’akan dan semoga dikabulkan Allah SWT. Yang jelas, saya tidak setua yang anda bayangkan. hehehehee… Sekali lagi terima kasih.

       
  44. hamba Allah

    9 Agustus 2015 at 2:12 am

    assalamualikum wr wb pak ustad.. saya ingin bertanya, seorang ayah berpesan ke anak sulungnya agar nanti adik-adik dari si sulung ini jangan sampai ada yang menikah dengan orang yang berbeda suku, dan sekarang ayah tersebut sudah meninggal.. pesan tersebut tidak di ketahui oleh saudara2 si sulung tadi..
    kasusnya begini, ternyata anak bungsu (laki-laki) sudah menjalin hubungan dengan orang dari luar suku mereka dan berniat akan segera menikahinya.. mengetahui hal tersebut si anak sulung tadi tidak setuju dan mengungkapkan pesan almarhum ayahnya dulu..
    yang ingin di tanyakan, apakah si bungsu (laki-laki) ini harus mentaati pesan almarhum ayahnya tersebut??? lobby sudah tidak mungkin di lakukan mengingat sang ayah sudah tiada.. jadi apakah durhaka jika si bungsu ttp melangsungkan pernikahan dengan orang dari luar suku mereka?? apa hukumnya ustad..
    terimakasih, wassalam…

     
    • salwintt

      18 Agustus 2015 at 11:03 pm

      Waalaikumsalam ww. Terima kasih. Lanjutkan saja rencana itu. Wasiat (pesan orangtua sebelum meninggal) jika tidak terlalu sakral terutama menyangkut akidah (agama) bisa dipertimbangkan di kemudian hari. Apalagi menikah harus dengan satu suku. Insya Allah dengan niat baik dan direstui Allah, Si Bungsu tidak menjadi anak yang durhaka, malahan sebaliknya menjadi anak yang shaleh. Amiiiin…!

       
  45. fhitryah akhirani

    11 Agustus 2015 at 8:16 pm

    F.A.
    Asslmkm pak ustad. Sya seorng prmpuan, sya prnh mnjln hbngn dngn seorng llki. Dan sya tlh khilaf kmi prnh mlkkan hbngn yg tidak slyaknya kmi lkkan, krna sya sngt menyangi dia. Skrng sya benar2 sngt mnyesl. Sudh 5tn kmi brpcrn, ortu sya dan ortu pcr sya sdh ok2 sja. Bhkn ortu sya sngt menyayangi dia, krna dia ank yg baik, jjr, dan brtnggungjwb. Dia jga brjnj akn brtnggungjwb ats apa yg tlh kmi prbuat. Dan skrng sya lagi mrntau. Dhlu smnjk sya tggl d kmpng, tdak spnhnya shalat sya jlnkan. Msh ada yg blong. Dan skrng alhmdulillh mta hti sya sudh trbka. Skrng sholat sya lngkap bhkan bsa lbh. Skrng sya sdr akn dosa yg tlh sya prbuat. Sya sudh brtobt dan brjnj tidak akn mngulangi prbuatn itu lgi. Mslh skrng ni, sya mngnal seseorng dan kmi sling mncntai, dan menyayangi, dan dia juga agma islam. Dan skrng kmi tlh mnkah d prntauan. Sya mrntau sudh 2thn. Dan slma 1thn sya hdp brsma dy. Ortu dan pcr sya yg dkmpng blm tahu klau sya sdh mnkah dsni. Sya mnkah dngn dia dngn alsn sya tdak mau mngulangi kslhn yg lalu, kmi sling mncntai, dan mmang sya benr2 ingn mnkah. Sblm sya mnkah sya prnh brtnya dngn orng tua sya. Apkh sya blh mnkah dprntauan. Ortu sya tdk mngiznkan dngn alsn krna mrka ingn skali mlht sya mnkh dkmpung dan smua orang mngetahuinya, biar tdk mnjdi ftnh nntinya. Sya tlh bnyk brbuat dosa pak ustad trutama dngn orangtua sya. Sya mau mnta maaf dan mhn ampun sma ortu sya. Dan psngn sya brjnj bila sya blik kmpng nnti, dia akn brjnj akn mncrtkn smuanya dan mmnta restu untk mrstui kmi,dan kmi jga nnti akn mnkah dkmpng, bgtu jga sbliknya, krna kdua ortu kmi jga blm mngthui. Psngn sya yg saat ini mmng sngt mnyyangi sya, dia baik, dwsa, tnggungjwb, jjr, dan sllu mngingtkn sya jika trkdng sya trlmbt untk sholat. 1 sisi sya tlh mmbuat 2 orng kcwa skligus. Ortu dan pcr sya yg dkmpung. Sya bner2 mau mnta maaf dngn mrka. Tpi sya prnh blng sma pcr sya yg dkmpng, jngn tggu sya, krna msh bnyk prmpuan yg jauh lbh baik dri sya. Dan mgkin sya bkn wnta yg baik buat kamu, sya mnta maaf. Dan dia jga jwb iya. Sya tau dia psti kcwa sngt. Tapi sya ngelakuin ini sbb sya tak mau mmbuat dia skt hti lbh dlm lgi. Krna sya tau apa yg sya lkukn ini slh, dan sngt mnyakiti hti dia.jhat bngt sya ya pak ustad, ttpi yg sya tahu cinta itu bolh dtang kpn saja, dmna sja, dan dngn siapa sja. Tpi sya jga hrus mmlh slh stu diantara kduanya. Dan skrng sya mrsa bhgia dngn psngn sya yg skrng. Dan sya sdh mmtskan untk hdp brsma dia. Sya bner2 mrsa sngt brslh pak ustad dngn ortu dan pcr sya, dya bner2 mnta maaf. Sya jga udh brjnj bila sya blik nnti sya dan psngn sya akn mncrtkn smuanya dan jga akn mnta maaf. Krna kmi tau, apa yg kmi lakkn itu mmng slh. Dan kmi jga akn siap dan ikhlas untk mnrma appun resikonya. Sbb, brni brbuat brni brtnggungjwb. Yg mau sya tnykn sma pak ustad adlh:
    1) apkh dia sah mnjdi suami sya???
    2) mmnta maaf dan mhon ampun. Slain itu aplgi yg hrus kmi lkkn pak ustad??? Mhon dbntu ya pak ustad. Sya sngt mghrpkn jwbn dri pak ustad. Trmaksh. Wasslmkm wr.wb
    Hnya dngn allh dan pak ustad sya bolh mngdu. Sya mngdu dngn allh, spaya allh mmberikn kmdhn dn jln trbaik untk mnylsaikn mslh ini. Dan dngn srn pak ustad untk sya bsa lbh prcya diri dan smngat untuk mnjli smuanya. Sbb sya tahu nggk mdh untk mlwti smua ini. Tpi kmi ykn, kmi bsa. Krna nggk ada mslh yg nggk bsa dslsaikn, smua psti ada jln klwrnya.

     
    • salwintt

      18 Agustus 2015 at 10:55 pm

      Waalaikumsalam ww. Terima kasih. Alhamdulillah kadar iman anda membaik dan mudah-mudahan selalu membaik. Pengalaman masa lalu adalah guru terbaik. Dari pengalaman-pengalaman itulah kita berusaha untuk memperbaiki diri, untuk mencapai kebahagaian dunia, terlebih di alam akhirat kelak.
      Saya tidak tau persis siapa yang menikahkan anda, apakah resmi terdaftar di kantor KUA atau hanya nikah siri. Syarat sah nikaha salah satunya ada wali yang menikahkan. Urutan Wali, ayah kandung, kakek dari ayah, saudara laki-laki kandung, saudara laki-laki seayah dst… Misal ayah dan kakek sudah tidak ada lagi yang jadi wali adalah saudara laki-laki kandung. Tapi ingat wali yang dimasksud adalah dari pihak perempuan bukan laki-laki. Karena yang menikahkan itu adalah wali dari perempuan.
      Terhadap pacar anda di kampung, tidak jadi masalah, apalagi dia laki-laki. Yang selalu jadi masalah jika yang berbuat ‘serong’ itu laki-laki. Sekarangkan anda perempuan.Sama orangtua pacar anda juga sepertinya bisa diselesaikan. Toh anda hanya sebatas pacaran, belum jadi suami isteri.
      Tinggal lagi terhadap kedua orangtua anda. Pun menurut hemat saya bisa diselesaikan dengan baik. Apalagi hidayah Allah sudah turun pada anda ditandai dengan rajinnya ibadah. Saran saya hubungi segera orangtua dan ceritakan apa adanya, tentang kondisi anda saat ini. Dengan penuh keyakinan, dan memohon kepada yang Maha Kuasa, Insya Allah orangtua anda akan menerima dengan lapang dada. SEMOGA! Terima kasih.

       
  46. nanda

    15 Agustus 2015 at 12:09 pm

    Asslmkm warahmatullahi wabaraktu
    Ustadz . Saya sudah mnikh tanpa restu org tua. Smpai sekrg merka tdk mngetahui saya sudah mnikah saya dinikahkan oleh wali hakim atau pengurus k.u.a. tujuan saya mnikah krna saya tkut menumpuk dosa krna perbuatan jahiliyah saya. Sampai.sekrg mereka.tdk merestui hubungan saya .yg mereka msh anggap org lain. Tetpi dia.adlh suami saya. Apakah pernikahan sya tdk sah?? Sementara pernikahan sy sudah tercatat di kua.?? Saya sangat takut.

     
    • salwintt

      18 Agustus 2015 at 10:26 pm

      waalaikumsalam ww. karena sudah tercatat di lembaga resmi (KUA) pernikahan anda sah. Tujuan anda menikah juga bagus. Tindakan selanjutnya secara perlahan dekati orangtua dan beri pengertian secara arif dan biaksana. Mengambil suatu keputusan di luar jalur memang harus ditebus dengan resiko berupa perasaan was-was, takut dan lain-lain. Berlandaskan niat yang baik dan suci, yakinlah suatu kelak anda akan meraih suatu kebahagian. Amiiinnn

       
  47. ally djafar

    20 Agustus 2015 at 3:16 am

    assalamualaikum . sa dan pacar saya ini dari luar, pulau jawa, kami kuliah disini atas niat tanpa biaya dari org tua, krn ayah saya uda tua dan tdk bisa membiayai saya lgi. kalau dgn pacar saya, saya yg mengajaknya kejakarta untuk kuliah dan supaya kami bisa bersama sama walau saya harus menanggung semua biaya hidup dia dsni krn org tua dia jg krg mampu. alhamdulillah selama d jkrta 4 thun saya sdh bisa hidup di kota ini dgn usaha saya dan bisa membiayai pacar saya kuliah dan keperluannya yg lain. semua saya yg biayai .. kami ingin sekali menikah untuk jdi halal dan menghindari kmi dri zina, krn jujur kmi sdh pern melakukannya. dan saya yakin saya bisa menghidupi dia di kota ini . kami bersama sudah krg lebih 7 tahun. pertanytaannya ; niat saya menikah sudah 1000% dan si perempuan juga bgitu alsan kami untuk menghindri zina lgi dan keyakinan kami sdh mampu hidup berumah tangga. umur saya 25 si cewe 21. mslhnya suatu hal yg tak mgkin terjdi jika kami hrus kembali ke sulawesi untuk menikah.di karenakan org tua si perempuan pasti melarang krn dia belum selesai kuliah. padahal kan dia akan tetap sa kuliahkan sampai selesai walau kami sudah berumah tangga,. bagaimana jika kami menikah di jakrta tnpa restu org tua si cewe.. krn kami sudah tidk mau lgi melakukan zina, kmi sudh ingin bertobat,, haruskah niat baik kami terhalang karna keinginan org tuanya yg tak mengerti tujuan kami baik.. apakah saya harus menunggu +- 2 thun lgi agar bisa menikahinya di kmpung saat dia sdh selesai kuliah,?? apakah kami hrus menunggu selama itu semetara kami masih sering melakukan zina .. kami takut umur kami ngg oanjang lagi dan kami belum sempat bertobat.. mohon jawabannya . makasih

     
    • salwintt

      21 Agustus 2015 at 10:05 pm

      Waalaikum salam ww. Terima kasih. Luar biasa perjuangan saudara Ally Djafar. Saya sampaikan hukum-hukum nikah, 1) Wajib (apabila punya keinginan dan mampu, takut berzina), 2) Haram (jika pernikahan diserta niat yang jelek), 3) Sunah (punya keinginan, mampu dan siap lahir batin), 4) Makruh (belum punya keinginan, dikhawatirkan teledor), dan 5) Mubah/Jaiz (itulah hukum asal pernikahan). Menilik penjelasan saudara Ally Djafar maka bagi saudara wajib menikah. Yang jadi masalah wali yang akan menikahkan diprediksi tidak akan bersedia dengan argumentasi yang saudara ungkapkan di atas. Itukan prakiraan, maka tindakan yang tepat saudara hubungi dulu orangtua teman saudara dengan baik-baik, utarakan maksud suci saudara, apa-apa yang telah terjadi di anatara saudara berdua, karena pernikahan adalah sakral tidak untuk main-main dan menyangkut kehidupan masa depan. Bagaimanapun seorang anak (terutama perempuan) jika ingin menikah wajib sepengetahuan orangtuanya, karena orangtuanya adalah wali. Hentikan perbuatan yang saudara lakukan terhadap teman anda selama ini. Itu akan membuat Allah SWT murka, jika sudah menikah secara sah apapun boleh saudara lakukan terkecuali untuk maksiat. Wallahu a’lam. terima kash.

       
  48. gandhi

    20 Agustus 2015 at 7:43 pm

    asalamualaikum…saya sudah menikah 5 tahun. istri saya seorang mualaf (sudah mualaf sebelum menikah) berdasarkan wali nasb yang berhak adalah pamannya (beragama islam). namun dikarenakan tempat tinggalnya jauh( melebihi jarak qashar) dan hubungan yang kurang baik antara keluarga istri saya dengan pamannya(kecuali pamannya semua keluarga istri saya non muslim) akhirnya pihak KUA memutuskan menggunakan wali hakim. pertannyaan saya sah kah nikah kami tanpa pemberitahuan dan izin dari pamannya (bukankah menikah tanpa izin wali tidak sah) lalu apa yang harus kami lakukan..sebagai gambaran dari kecil istri saya hampir tidak pernah berkomunikasi dengan pamannya (menjadi tanda tanya juga apakah pamannya peduli dengan pernikahan kami ditambah masalah keluarga istri dengan pamannya) dan kondisi waktu menikah satu satunya cara meminta izin adalah mendatanginya(telkomunikasi susah)dan karena keterbatasan ilmu waktu itu akhirnya kami memutuskan menerima keputusan KUA yang menggunakan wali hakim

     
    • salwintt

      21 Agustus 2015 at 9:42 pm

      Waalaikum salam ww. Terima kasih. Kantor Urusan Agama (KUA) adalah lembaga resmi yang mengurusi bidang keagamaan, termasuk pernikahan. Jika Mas Gandha sudah menceritakan duduk perkaranya, dan meminta solusi kepada KUA maka itu adalah sebuah tindakan yang tepat. Insya Allah pernikahannya sah, karena sudah tercatat di KUA. Jangan bimbang, binalah keluarga Mas Gandha dengan baik semoga menjadi keluarga yang sakinah, mawaddah warahmah. Amin ya Rabbal ‘alamin.

       
    • salwintt

      24 Agustus 2015 at 10:49 pm

      Waalaikumsalam ww. Terima kasih. Karena yang menikahkan saudara resmi pihak KUA, dan KUA adalah lembaga resmi mengurus pernikahan, maka Insya Allah pernikhan saudara sah. Semoga menjadi keluarga yang sakinah mawaddah warahmah. amiiiin

       
  49. fhitryah akhirani

    23 Agustus 2015 at 11:38 am

    Asslmkm pak ustad. Ma’af mengganggu lagi. Sya ingin bertnya lgi. Insyaallh prtngahan bln 10 nnti atau awl bln 11 sya nak balik kmpung. Mslh skrng ni, di stu sisi sya tak smpai hti nak tgglkn suami sya seorang di prntauan. Tpi disisi lain sya juga tak nak mmbuat kcwa kdua ortu sya. Sbb, sya dah jnj nak blik. Udh ckp pak ustd dngn kbhngn yg sya prbuat ini. Sya tak nak lgi brbuat dosa. Krna jika sya tdk blik,itu mmbuat mrka skt hti dan kcwa. Dan itu suatu dosa bgi sya, sbb sya dah skti hti mrka. Sya ingin skli bwa suami sya blik k kmpung sya. Tpi mslh skrng ni tak blh. Sbb dia tak dpt cuti. Jngnkan ikt k kmpng sya, nak blik k kmpng dy aja ssh. Sbb tak dpt cuti pnjng. Kbtlan sya dngn suami sya berbeda ngra pak ustad. Bgaimna mnrt pak ustad? Dan apa yg hrus sya lkkan. Dan dngn jwbn pak ustad kmrin, itu bsa mmbuat sya tnang dan prcya dri. Tpi sya rsa, sya akn mmbicrknnya jika sya blik nnti. Sbb sya rsa tngggung, skjb lgi kan sya nak blik. Tlong ya pak ustad jwbnnya.
    Sblmnya sya ucpkan trma ksh. Wassalamualaikm wr.wb

     
    • salwintt

      24 Agustus 2015 at 10:29 pm

      Waalaiku salam ww. Terima kasih. Tak apa, tak ganggu tak. Baguslah saudari pulang kampung saja, kan tak lama lagi, sekitar 1 setengah bulan sja lgi. Biar lebih afdhal cerita langsung saja semua kisah saudari pada orangtua nanti di kampung, lebih seronok daripada lewat telfon. Masalah suami, minta izin sja, kan tak lama-lama pulang kampunya. Tujuan dan maksud pun baik, untuk bertemu orangtua. Saya yakin suami saudari bisa maklum. Saya gembira titik masalah yang saudari hadapi akan ketemu penyelesaiannya. Artinya niat yang baik, akan menghasilkan yang baik pula. Ok itu sahaja dulu, terima kasih semoga berjaya.

       
  50. wilin

    23 Agustus 2015 at 3:21 pm

    assalamualikum wr wb pak ustad

    saya laki laki berumur 30 tahun dan seorang mualaf

    saya berencana untuk melangsungkan pernikahan dan terkendala ijin dari orang tua saya..untuk syarat menikah terkendala tanda tangan pihak kelurahan / kepala desa karena orang tua saya tidak mengijinkan dan telah meminta pihak kelurahan untuk tidak mengeluarkan surat dalam bentuk apapun kepada saya..juga permintaan dari kelurahan untuk menyerahkan Kartu Keluarga asli dimana hal tersebut pun tidak boleh dipinjam dari orang tua..

    yang saya tanyakan :
    1. apakah saya bisa mendaftar ke KUA tanpa tanda tangan pihak kelurahan / kepala desa??
    2. ataukah saya ke pengadilan agama untuk mencari surat rekomendasi untuk KUA agar bisa dibuatkan surat pengantar nikah?
    3. atau ada solusi lain yang bisa dilakukan agar pernikahan bisa tetap dilaksanakan??

    terima kasih

    Wassalamualaikm wr.wb

     
    • salwintt

      24 Agustus 2015 at 10:43 pm

      Waalaikum salam ww. Terima kasih. Alhamdulillah saudara telah mendapat hidayah (petunjuk) dari Allah SWT sebagai mualaf. Saya kurang tau apakah orangtua saudara juga mualaf atau tidak, dan apa alsan mereka menghalang-halangi rencana pernikahan ini. Terlepas dari itu semua, saran saya silahkan saudara pergi ke KUA, ceritakan semua kronologis, Insya Allah di sana akan diberikan solusinya. Karena tugas KUA salah satunya mengurusi perkara-perkara seperti yang saudara alami. Itu saja sementara ini, terima kasih

       
  51. gunawan arita

    31 Agustus 2015 at 9:47 am

    assalamualaikum ustad,
    saya laki-laki umur 25 thn,
    saya ingin bertanya tadz, saya punya pacar umurnya lebih dari cukup untuk menikah, tetapi orang tua pacar saya (ibu) tidak merestui, sedangkan ayahnya merestui, tapi takut dengan istri/orang tua perempuan (ibu), saya sempat tanya pada orang tua pacar saya (ibu) tentang alasanya melarang anaknya menikah dgn saya itu apa? padahal saya juga sudah bekerja, tetapi tidak menjawab dan memberikan alasan yang berbelit-belit, semua alasan juga tidak masuk akal menurut kita dan juga orang” di sekitar kita, orang tua saya pun juga sudah melamarnya, sampai pacar saya keluar rumah dan ikut kakaknya itu, dia juga pernah di pukul oleh orang tua (ibu) pacar saya karena ingin menikah dan berujung pertengkaran, padahal ibunya dulu juga pernah minta waktu selama 2 tahun untuk hub. qta, pada waktu hari H tetapi ibunya tidak kunjung memberi putusan, apa yang harus kita lakukan tadz..
    mohon bantuanya

     
    • salwintt

      1 September 2015 at 9:43 pm

      Wa’alaikum salam ww. Terima kasih. Begitulah sifat suci orangtua, tidak mau menyaksikan anaknya kelak hidup tidak bahagia. Di mata si ibu, sepertinya saudara belum cukup meyakinkan untuk mampu mensejahterakan putrinya. Itu sebenarnya yang tersurat di pikiran ibu teman saudara. Tidak perkara mudah memang. Karena pernikahan adalah ibadah, sakral, meneruskan keturunan tentu dengan niat untuk seumur hidup, seyogyanya harus persetujuan dan restu dari kedua belah pihak. Tapi kasus saudara ada yang mengganjal. Bahkan dengan sabar harus menunggu 2 tahun tanpa ada keputusan yang pasti.
      Kalau saudara berdua benar-benar saling cinta, sudah seiya sekata, memiliki kesamaan persepsi, bahkan sudah bertunangan, dengan niat yang suci dan ikhlas untuk membina keluarga sakinah, mawaddah dan rahmah, ingin membahagiakan kedua orangtua dari kedua pihak, silahkan berkompromi kepada orangtua laki-laki teman saudara untuk melanjutkan ke jenjang pernikahan. Perkara ibu Insya Allah nanti berangsur-angsur akan membaik, dengan catatan saudara dan teman saudara selalu berupaya selalu melakukan pendekatan, dengan arif dan bijaksana. Wallahu a’lam bissawab.

       
  52. neko nezumi

    2 September 2015 at 6:44 am

    Aslm pak ustad
    sy seorg gadis berusia 41 thn. sy sdh ada rencana menikah awal nov ini dgn kekasih sy yg berusia 28 thn. Awalnya, pihak orang tua pacar sy telah setuju, tp awal agustus kmrn tiba2 pihak org tua pacar sy membatalkan pernikahan kami dgn alasan beda usia terlalu jauh, padahal kami sdh saling mencintai dan perasaan kami sdh sangat mendalam dan kami pun takut terjerumus dalam zinah. Diam2 kami msh terus berpacaran. Haruskah kami tetap menikah tanpa ridho org tua?

     
    • salwintt

      2 September 2015 at 10:47 pm

      Waalaikumsalam WW. Terima kasih. Kita manusia hanya bisa berencana. Semua keputusan berada di tangan Allah SWT. Karena perubahan pikiran orangtua teman saudari baru satu bulan yang lalu, coba lihat dulu perkembangan beberapa minggu ke depan. Masih terlalu prematur untuk menetapkan keputusan. Lakukan pendekatan, beri pengertian secara arif dan bijaksana, mudah-mudahan si ibu, kembali pada pikiran semula. Wallahu a’lam bishshawab…!

       
  53. faris

    2 September 2015 at 10:50 am

    assalammualaikum ustad

    begini ustad saya adalah pria umur 26 th…mgkn agak aneh tapi saya mencintai pembantu d rumah saya…dan juga sebaliknya pembantu…sejak mengenalnya saya lbh dekat ke jalan Allah…dmna saya jadi rajin sholat 5 waktu dan hampir tidak pernah ketinggalan…kemudian jg saya yg orangnya keras kepala dan kadang suka brantam sama orang tua saya…tapi dengan seringnya dia menasehati saya dan selalu mengingatkan jangan sampe menyesal klo kematian sudah memisahkan….d situ saya sadar bahwa saya tidak mw menyesal seumur hidup akibat sering melukai hati ortu saya….sehingga sekarang saya sudah hampir tidak pernah bertengkar lg dgn ortu saya…saya jd lbh sayang sama ortu saya….kemudian ustad krn akhirnya kami sama2 saling sayang…dan kami ingin menghindari zina dan dosa2 lainnya….saya beranikan diri bicara pada orang tua saya bahwa saya ingin menikahi pembantu saya yg mana dia adalah gadis berumur 19th….namun hal sudah saya duga terjadi saya DI TOLAK mentah2….dan ortu saya bilang saya akan bikin malu keluarga klo saya menikahinya…di situ ortu saya sampe bilang apa saya mw membunuh ortu saya…krn mereka bener2 shock dgn yg saya katakan….apa lg ortu saya mau saya sama orang yg status dan pendidikannya sederajat dengan saya….namun dari pihak keluarga si wanita mereka meridhoi klo kami menikah…cuman ortu perempuan tetap ingin meenunggu ridho dr keluarga saya….krn takutnya nantinya keluarga si cewe kenapa2….d sini ustad apa yg saya harus lakukan…dia bener2 tulus mencitai saya tanpa niat yg lain2…krn dia walaupun pas d tolak sama ortu saya…ortu saya bener2 marah besar…dan dia hanya bisa menangis….walaupun begitu…sampe skrg dia selalu menanyakan kabar ortu saya dan segera meminta maaf atas tindakan saya yg telah membuat ortu saya shock…tapi d satu sisi ustad kami sama2 depresi dan selalu menangis….bingung dgn keadaan yg kami alami…mohon ustad apa yg harus saya lakukan ??????

    terima kasih sblmnya atas jwbannya ustad

     
    • salwintt

      2 September 2015 at 10:37 pm

      Waalaikumsalam WW. Terima kasih. Kisah saudara bagaikan sebuah sinetron, sebuah sandiwara yang bila difilmkan akan banyak pemirsanya. Tapi bagi saudara ini adalah kisah nyata. Betul kata orangtua saudara, jika menikahi pembantu akan menurunkan harga diri dari sisi pandangan masyarakat. Tapi jika dipandang dari segi agama, itu adalah perbuatan mulia. Saya tidak tau persis sudah sejauh mana hubungan saudara dengan si pembantu. Semoga masih masih batas wajar. Coba buka mata, perdalam wawasan tentang di luar sana. Sepertinya saudara ketika di rumah selalu bersama pembantu, saling cerita, curhat dan akhirnya terpikat. Itu lumrah dan wajar-wajar saja. Begini saja, jika ingin membuat orangtua tidak kecewa, tapi sebaliknya ingin membuat mereka senang dan bahagia, pikir-pikir dululah untuk menikah dengan pembantu dimaksud. Usianya juga masih terlalu muda. Belajar menjaga jarak, beri pengertian atas ketidakrestuan orangtua dan sebagainya… Memang sulit dan sepertinya menyakitkan, tapi demi kebahagian orangtua, kita harus berkorban lahir dan batin demi orangtua. Wallahu a’lam bishsawab.

       
  54. fhitryah akhirani

    9 September 2015 at 1:53 pm

    Asslmkm pak ustad. Maaf pak ustad sya mengganggu lgi. Ada 1 hal yg ingn sya tnyakn dngn pak ustad. Apkah kami slh jika kami hdp d dunia hnya mmikirkan kpntingn akhirat? Maksudnya bgni, ada seorng klwrga yg mmfitnh klwrga sya, dan seorng klwrga itu trnyta kakak ipar dri ayh sya. Dia ckp dngn orng yg bkn2. Pdhl apa yg mrka ckp kan itu tak ssuai dngn knytaan nya. Sya sdh pak ustad knpa orng2 tga brbuat sprti itu kpda kmi. Pdhl sdkt pun klwrga kmi tdk prnh kcau khdpn orng. Bila kami ssh kmi akn mncri sndri dan kmi tak mnyushkn orng lain. Knpa saudra kmi sndry yg mmusuhi klwrga sya. Sya tak tau dmna letak kslhn klwrga sya pak ustad. Orang lain aja mampu mnilai klwrga sya, klau klwrga sya bkan sprti apa yg mrka ktakan. Saudara yg shrusnya mmberi smngt kpda kmi, tpi ini tidak mlh mreka yg mmusuhi kmi. Dri kmi tdk mmpunyai apa2 pak ustad smpai skrng kmi bsa mmbngun rumh dngn hsl jeri pyah kmi sndri, sikap mrka tak prnh brbh pak ustad. Bahkan ini lgi teruk. Mrka sllu mncri kslhn kmi. Kmi diam bkn brarti kmi klah. Tpi kami tak mau ada kributan dlm klwrga kmi.malu bila orng tau pak ustad. Mmang dri awl spertinya saudara dri klwrga ayh sya tdk ska dngn klwrga kmi. Apa dan knpa sbbnya kmi tdk tau. yg jls kmi tdk prnh kacau khdpn orng lain. Bila kmi ada rezki lbh, kmi tdk prnh lpa dngn saudra2 kmi.trmsuk saudra ayh. Ttpi bila kmi ssh, kmi akn cri sndry, tak prnh kmi mmnta dngn orang. Tpi 1 hal yg sllu sya ktakn dngn mama pak ustad. Bila ada orang yg nak berbuat jhat dngn kita, tak perlu dbls. Sbb allh tahu apa yg hmba2nya lakkan. Stiap prbuatn smua itu pasti ada tnggungjwbnya. Kta hdp bkan d dunia ini shja. Msh ada khdpn kdua nnti d akhrat. Biarkn orang nak brbuat apa. Fhitry ykn allh msti akn mlndungi kita. Sya tahu pak ustad prsaan k2 orang tua sya. Tpi sya ykin, orng tua sya psti mmpu mlwati ini smua.. sbb orang tua sya adlh orang yg pnybar. Dan tidak pndendam. Wlau sbruk apapun perlkuan orang trhdp klwrga kmi. Sya sllu brdoa spya allh mnjauhkan kmi dri fitnh. Fitnh dunia dan fitnah akhirat.dri prasangka bruk orang trhdp kmi, dan allh jga mnjga dan mmbimbing kmi k jln yg lrus, spya kmi tdk slh dlm mlngkah. Aminnn ya robbal alamin. Bgaimna mnrt pak ustad.apkah slh yg kmi lkkan ini. Sblmnya sya ucpkn trma ksih. Wassalamualaikum wr.wb

     
  55. hamba Allah

    14 September 2015 at 6:58 pm

    assalamualaikum . .
    saya perempuan . saya sudah berpacran hampir 3th . dan kami serg melakukan zina . . tp kami punya niat untuk menikah agar tidak berzina lagi . . . dari orangtua laki2 menyutujui . .tapi dari pihak ayah saya . tidak menyetujui menikah muda . . . saya harus bgaimana??? dan apakah pantas ayah saya yang sering memaki saya dngan kata2 kotor dan menyebut saya dngan perkataan kotor menjadi wali saya ?? dan ayah saya tidak pernah menjalankan sholat dan puasa . ?

     
    • salwintt

      17 Oktober 2015 at 8:21 am

      Wassalam wawa… Terima kasih. Masya Allah…! Segeralah bertaubat ya anak manis. Allah melarang keras mendekati zina, apalagi melakukannya. Hentikan perbuatan yang membuat murka Allah itu. Mintalah kepada ayah untuk dinikahkan, jelaskan sejujurnya apa yang telah terjadi pada dirimu. Bagaimanapun ayahmu adalah orangtuamu yang berkewajiban menjadi wali, saat ijab kabul. Atau hubungi dulu kantor KUA, minta solusi terbaik. Yang jelas saran saya kamu segera menikah, untuk menghindari perzinahan yang selalu berlarut-larut. terima kasih.

       
  56. Karin AK

    5 Oktober 2015 at 3:25 pm

    Assalammualaikum,
    jadi pak, hukum menikah direstui tetapi ortu belom ikhlas masih sah ya pak? Dan apakah saya termasuk anak durhaka jika masih ingin melangsungkan pernikahan itu?
    Terima kasih

     
    • salwintt

      17 Oktober 2015 at 8:06 am

      Wassalam ww. Menikah sah, jika terpenehi rukunya, 1) Pengantin lelaki (Suami), 2) Pengantin perempuan (Isteri), 3) Wali, 4) Dua orang saksi lelaki dan 5) Ijab dan kabul (akad nikah). Anda insya Allah tidak durhaka, asal tidak melawan orangtua secara terus menerus. Yang penting restu dulu, ikhlasnya nanti menyusul, tat kala sudah melahirkan cucunya yang mungil dan menggemaskan, ikhlas biasanya akan datang. terima ksh

       
  57. ridwan mappiasse

    14 Oktober 2015 at 4:01 am

    Ass..sy laki2 berusia 42 thn tlah menjalin hubgn dgn muslimah usia 31 thn selama 9 tahun lamanya…sy tdk d restui oleh kedua orgtua nya dgn alasan pekerjaan yg tdk mapan..sy sdh prnh datang justru sy d tlpn spy sy tdk kerumahnya dan sy diharamkan utk menginjak rmhnya…dan orgtuanya bersumpah tdk akan pernah merestui smp kapanpun smp kiamat skalipun…kami berdua berencana ke KUA utk menempuh jln melalui wali hakim utk menikah bgmn menurut uztad? tp keterangan uztad diatas hrs ada izin tertulis dr wali perempuan smntara wali perempuan bersikeras dan bersumpah tdk akan memberikan restunya…mhn sarannya Uztad…Jazakalloh….

     
    • salwintt

      17 Oktober 2015 at 7:48 am

      Wassalam ww. Maaf sedikit kesibukan lama tidak buka blog. Saya katakan izin wali harus tertulis, karena saat melapor ke kantor KUA, mereka akan meminta penjelasan ketidakhadiran wali, supaya bukti otentik tidak ada tuntutan dikemudian hari harus ada hitam di atas putih. Menelaah usia dan lamanya mas Ridwan berteman dengan si muslimah, niatan untuk menikah sepertinya sudah waktunya dilakukan. Hemat saya hubungi saja dulu kantor KUA tempat domusili si muslimah, terangngkan niat dan kendala mas Ridwan pada mereka, jalan apa yang harus ditempuh. Insya Allah akan ada solusinya. terima kasih.

       
  58. ridwan mappiasse

    16 Oktober 2015 at 9:54 am

    lama ya responnya….

     
    • salwintt

      17 Oktober 2015 at 7:49 am

      maaf sudah saya beri solusi

       
  59. widya

    23 Oktober 2015 at 11:05 pm

    Assalamuaaikum Ustad. Masyaallah artikelnya bagus
    Responnya netizen jg bagus.
    Ternyata permasalahnnya banyak yg lbh kompleks dr saya
    Alhamdulillah alla kulli hal 😀
    Niatnya saya mau bertanha ustadz. Namun sudah byk pertanyaan yg hampir
    Nyerempet pmsalahn saya.
    Alhamdulillah lagi gak jdi tanya.
    Saya doakan semoga ilmu ustadz barokah
    Diberikan kesabaran dan kemudahan fidunnya wal akhirot😍🙌

     
    • salwintt

      1 November 2015 at 12:09 am

      Waalaikum salam ww… Terima kasih. Saya juga tidak mengira, artikel yang sangat sederhana ini, ternyata banyak sekali dikomentari pembaca. Saya jadi kewalahan. Seratusan pertanyaan minta solusi tentang maslah ini, belum saya jawab. Oleh karena itu saya minta maaf. Betul, ternyata banyak sekali kasus rencana pernikahan (bahkan sudah menikah) tanpa restu dan ridho orangtua. Mengapa ditanyakan? Karena Ridho Allah berada di ridho orangtua. Surga berada di telapak kaki ibu. Semoga anda bisa memilih sikap dari permasalahan yang dihadapi. Wallahu a’lam bissawab.

       
  60. slamet suyono

    24 Oktober 2015 at 2:27 am

    Assalamualaikum, Wr,Wb. Saya sebagai orang tua dari anak-anak kami, mempunyai rencana membangun ekonomi untuk masa depan anak-anak kami, yaitu dengan membuka usaha di Bandung, dan kota Bandung adalah pilihan anak saya yang pertama, dari modal awal anak berdagang di Bandung saya juga menabung ke rekening anak yang pertama dari 4 anak kami, harapan kami selaku bapak dari anak-anak agar uang yang saya tabungkan ke anak pertama bisa untuk memperbesar usaha, kalau usahanya bisa jalan biar anak yang pertama bisa ajak adik-adiknya untuk berusaha/berdagang atau juga bisa di belikan rumah yang layak agar adik-adiknya kalau kuliah di bandung tidak perlu kost lagi, tapi setelah 3 tahun berjalan anak saya yang di Bandung membeli rumah RSS tanpa memberi tau saya selaku orang tuanya dan juga memaksa kalau anak saya yang pertama minta izin untuk menikah secepatnya, saya kecewa karena rencana saya berantakan dan anak saya tidak berunding dulu sama orang tua dalam memutuskan sesuatu. Dan anak saya memaksa meminta ke saya untuk melamar dan segera menikah. Saya kecewa dalam hal ini. Menurut Pak Uztad .. bagaimana sikap saya mohon di arahan,nya.

     
    • salwintt

      1 November 2015 at 12:01 am

      Waalaikum salam ww… Terima kasih Bapak, mohon maaf agak telat karena baru sekarang buka blog ini. Manusia hanya bisa berencana, hasilnya Allah yang menentukan. Itu dulu yang jadi pedoman kita. Rencana dan niat Bapak yang begitu mulia demi masa depan anak-anak, ternyata harus menghadapi kenyataan seperti ini. Telaah dulu Pak, seperti apa calon isteri anak Bapak, sudah sejauh mana hubungan mereka, mengapa bisa ada keputusan seperti ini. Jika sudah mengetahui masalah ini, baru kita bisa mengambil keputusan. Jika mereka harus menikah? Dinikahkan saja. Jika masih bisa ditunda? Ditunda saja. Wallahu a’lam bissawab…!

       
  61. ay

    27 Oktober 2015 at 5:44 am

    pak sy mnta tlg bntuan untuk diberi solusi. sy akhwt usia 23 tahun dan pnya pcr usia 25 tahun. sy sdh pcrn 2,5 tahun sejak kuliah d pulau j. rmh sy d pulau b. slma pcrn itu sy backstreet krna org tua sy blm mngijinkan pcrn. jd saat sy bru wisuda sy sdh diijinkan dan sy mngenalkan pd ibu. pcr sy blm wisuda msh proses skripsi. jd trnyata respon ibu tdk mnyenangkan dia saat dtg tdk diberi apa2 dan diabaikan. dan stlh plg ibu blg ibu tdk stuju smpai tdk ridha krna alasan fisikx buruk dan tdk pantas utk sy. kluarga sy mmng polisi. sy tdk tau pastix bgmn tp mgkin ibu gengsi. pdhl anakx soleh. baik pintar dan sabar. sngt pngrtian dn bnyak pngorbananx slma ini tp knp ibu sy tdk suka mslh fsik. malah dikatakan tdk mslh sma yg pnting enak dliat. sy hrus bgmn pak. sy disuruh ptus pdhl sy ingin menikah dgn dia. dia sudah serius. bpak dan adik sy jg katax gak suka. sbg informasi bpk sy adlh bpak tiri n adik sy adik kandug. mhon solusix pak.

     
    • salwintt

      31 Oktober 2015 at 11:46 pm

      Terima kasih. Banyak pertanyaan serupa yang dilontarkan dalam tulisan ini. Solusi pun berbeda-beda sesuai usia, kadar hubungan dan mempertimbangkan masa depan. Melihat kondisi anda, saya sarankan untuk meninjau kembali rencana anda, demi keharmonisan hubungan keluarga, tidak mengecewakan orang yang melahirkan kita. Menempuh masa depan dengan ridho dan restu orangtua saja kadang-kadang penuh liku dan tantangan. Apalagi tanpa restu mereka. Wallahu a’lam.

       
  62. ay

    2 November 2015 at 9:38 am

    tp apa tdk bisa diusahakan dgn cara lain pak? dia jg sudah berniat mncari kerja d tmpt tinggal sy krna ibu sy ingin agar ay ttp d rumah.

     
  63. Cha

    16 Mei 2016 at 1:32 pm

    Tuhan melahirkan seorang anak untuk menjalankan perintah allah swt, bukan perintah orang tua. Bila anak menyakiti hati orang tua yang saleh, laknatlah anak itu. Apabila ank menyakiti hati orang tuanya yang tidak saleh untuk menjadi org saleh dan tidak mengikuti keinginan orang tuanya menjual dirinya untuk pria atau wanita hanya untuk sebuah derajat, gengsi dan alasan yang tidak sesuai akidah. Anaknya yg laknat atau orang tuanya.
    Orang tua yang bijaksana dan memiliki kasih sayang dan agama yang baik tidak akan berbicara seperti anda saat ini. Smw harus ditilik dari sebab musabab kenapa anak menikah tanpa restu orang tuanya.
    Lebih baik durhaka pada orang tua drpd durhaka pada allah swt. Trimakasih.

     
    • salwintt

      20 Mei 2016 at 1:12 pm

      masya allah, syukran

       
  64. merry

    14 Juni 2016 at 4:32 pm

    assalamualaikum..
    saya ingin minta solusi , nama saya merry dan saya mempunyai tunangan bernama jaka , kami sudah menjalin hubungan 2thn pacaran lalu pada akhirnya saya di lamar oleh pacar saya saat ini sudah berjalan 4 tahun tunangan dan 2 tahun pacaran total jadi 6 tahun saya hubungan dengan dia . pada awal pacaran ibunya seperti menunjukkan tidak suka terhadap saya , tetapi kami masih terus menjalin hubungan dengan maksud untuk memperkenalkan saya dan kepribadian saya terhadap ibunya , sebelum saya dilamar sempat saya mendengar bahwa ibunya berkata saya tipe orang pemalas , dan ibunya berkata jika bibir saya tipis nanti saat menjalin rumah tangga saya di bilang akan banyak omong / cerewet dan ibunya juga berkata jika face muka saya face muka jahat / judes . saya sudah berkali2 mengambil hati mertua saya tetapi sampai saat ini mertua saya tetap menunjukan jika dia tdk suka terhadap saya . dan saat malam setelah saya dilamar dengan santainya ibu mertua saya bilang jika nanti saya dan jaka tidak jadi menikah , ibu mertua saya tidak akan minta cincin tunangannya kembali , dan serentak setelah mendengar itu saya menangs , karna saya berfikir jika ibu mertua saya seperti menginginkan jika saya tidak jadi menikah .. pada awal tunangan kami memutuskan jika di tahun itu akan menikah tetapi saat itu ada musibah kakak dari ibu saya meninggal dan akhirnya saya tdk jadi menikah dan tanggal pernikahan di undur , saat sudah di tentukan kembali sodarah dari jaka juga meninggal dan pada akhirnya kami juga harus mengundurkan ulang untuk menikah suatu saat cincin tunangan saya melekat di jari tetapi saat saya pulang dari mall tiba2 cincin yang saya pakai hilang , dan saat kami menentukan tanggal pernikahan ternyata ibu mertua saya kedapatan hamil dan melahirkan dan pada akhirnya kami gagal menikah lagi .. dan setiap hari minggu saya di suruh ke rumah mertua saya untuk membersihkan seluruh rumah , padahal saat itu saya belum sah menjadi menantunya dan saat saya sakit dan tetap di suruh ke rumahnya untuk membersihkan rumah , saya hanya bisa mencuci piring . setelah itu ibunya pulang dan marah2 karena saya seharian hanya mengerjakan cuci piring saja sepontan ibu mertua saya bilang jika saya memang pemalas ,

    saya sangat amat mencintai calon suami saya , tetapi entah kenapa sampai saat ini saya merasa ada sesuatu yang membuat saya tidak nyaman jika meneruskan hubungan . dan pada akhirnya saya keluar dengan seorang teman cowok , niat saya hanya ingin bercerita , kami ketemu di salah satu cafe , kami duduk satu meja seperti sahabat yang ingin menceritakan masalah , lalu calon suami saya mempergoki saya .karna saya keluar tanpa sepengetahuan dia , lalu calon suami saya memutuskan hubungan tanpa mendengarkan penjelasan dai saya , keesokan harinya saya menemui calon suami saya dengan maksud menjelaskan dan akhirnya kami pun baikan . tetapi ibu mertua saya bialng jika hubungan saya dengan anaknya tidak bisa di teruskan , karna saya sudah melakukan kesalahan dengan keluar berdua dengan sahabat laki2 saya , saya di tuduh selingkuh dan dia tetap tidak akan merestui saya meskipun saya sudah menjelaskan dan sudah bersama kembali dengan calon suami saya . apakah saya harus meneruskan hubungan saya dengan calon suami saya ? atau saya mengiklaskan jika memang kami tidak akan perna bersama tanpa restu ibu mertua saya ?

     
    • salwintt

      20 Juni 2016 at 12:48 pm

      Waalaikumsalam Warahmatullahi Wabarkatuh. Terima kasih. Tunangan tidak mesti berakhir dengan pernikahan. Walau masa kenalan yang cukup lama, 6 tahun, mbak merry dan mas jaka tentu sudah saling kenal satu sama lain. Mudah-mudahan tidak pernah terjadi hal yang belum layak dilakukan sebelum ijab kabul. Menelaah calaon ibu mertua mbak merry yang sangat bisa ‘menilai’ prilaku calon menantunya, bahkan dari bentuk bibir, dengan penialian negatif, tapi anehnya butuh juga tenaga calon menantunya untuk bersih-bersih rumah, padahal masih status tunangan. Salah satu tujuan nikah menambah keluarga, tentu menuju keluarga yang harmonis dari kedua belah pihak, suami dan isteri. Mendengar pengakuan mbak merry yang selalu dituding calon ibu mertua, masa tunangan yang cukup lama, 4 tahun, sampai-sampai cincin tuangannya hilang, dituduh selingkuh pula, dan sebagainya. Pikirkan kembalilah mbak. Kalau memang cinta dan yakin akan hidup sejahtera lahir dan batin bersama mas jaka, nanti hidup mandiri pisah rumah dengan orangtua, ciptakan keluarga kecil yang bahtera, baru secara perlahan dekati orangtua, dan buktikan mbak merry dan mas jaka bisa membina keluarga sakinah, mawaddah, warahmah dan menjalin silaturahmi dengan keluarga besar kedua belah pihak, lanjutkan ke pernikahan, tapi jangan menunggu lama. Karena masa-masa tunangan cobaan selalu banyak mencabar. Jika cenderung tidak akan harmonis lantaran selalu dipengaruhi dan diatur pihak ketiga, juga renungkan kembali untuk merubah haluan. Semau keputusan sepenuhnya berada di hati mabak merry. Semoga mendapat solusi terbaik. Terima kasih, wallahu a’lam bissawab.

       
  65. rs

    15 Juni 2016 at 1:57 pm

    Assamualaikum ustd.

    saya wanita berusia 23thn,
    jadi gini ust saya sdh 2x berturut2 mengalami hal yang menurut saya menyedihkan ttg hubungan.

    1. saya berpacaran 2thn lebih,kami beda suku (jakarta-sunda) tpi dia bekerja dan kos di jakarta,orang tua saya mengenal dia & niat baik nya untuk menikahi saya sudah ada diniat nya, al hasil sebelum dia mengatakan ke orang tua saya untuk serius,saya yg menceritakan terlebih dahulu ttg niat baik nya. ibu saya merestui tpi ayah tidak alesan (bkn asli jakarta n lum mapan). akhir nya saya menceritakan ke pasangan saya, bukan untuk dia down tpi untuk qt cari solusi bersama.
    hari demi hari qt masih lum dapet solusi, sebagai pasangan saya selalu support dia tpi 2bln sebelum hari dmna dia ingin memberanikan diri untuk bicara ke orang tua saya, ternyata dia selingkuh dengan alesan dia yg sudah tak suka dengan saya hanya krna orang tua saya yang tak menerima dia apa ada nya,. tapi di situ saya coba buat terima kenyataan & menceritakan kepada ibu sya. beliau hanya jawab “brrti dia bukan yang terbaik”
    dan setahun saya intopeksi diri

    2. saya di pertemukan oleh laki2 usia nya 7thn diatas saya, sesuai dengan doa saya, baik,pengertian,deket sama kluarga,sayang sma ibu nya,tpi dia gak pernah solat(masa lalu sebagai anak jalanan,krna dari krcil dia di tinggal ayahnya).
    tapi karna keseriusan dia untuk kenal dengan saya n kluarga,akhir nya saya kenalkan dia ke merka. alhamdulillah orang tua saya semua setuj&disitu dia mulai rajin salat,krna tutur kata nya tpi hampir sama dengn yg pertama ayah setuju asal dia py pekerjaan ttp (tdk mesti kaya).
    akhir nya saya ceritakan ke dia disitu saya mulai lagi, bersama dengan laki2 yg kurang mapan,selalu saya suport,tapi ttp aja dia selalu di tolak di perusaahan mana pun sampai2 saya menemani dia tdk bekerja selama 1thn lebih,awal kenal dia masih bekerja tpi penghasilan nya yg tdk mencukupi setelah risegn dia mulai mencari pekerjaan tapi 1thn lebih ttp menganggur. disitu mulai kegelisahan,mulai jarang dtng kermah saya,mulai jarang kasih saya kabar jarak qt hanya (jakbar-jaktim),mulai berubah semua. tapi hati saya masih ttp yakin, orangtua saya pun terutama ibu selalu menanyakan nya,ibu nya pun sering selalu tanya saya napa saya jarang krmah nya. hati saya mulai gelisah krna hampir 7bln qt tdk ketemu,saya beranikan diri untuk silahturahmi kerumah nya,alhamdulillah masih di sambut baik sma kluarga si cowo,dan ibu nya bilang dia sudah bekerja n dapet pekerjaan yg slma ini di inginkan tpi ibu nya malah tanya ke saya,napa kalian putus? saya kaget,sedih,bingung. pdahal qt tdk putus n ibu nya berkata saya putuskan&dia pernah bawa wanita laen krmah sekitar 1bln yg lalu(walau ibu nya tdk merestui dia dket dngn wanita itu). di situ saya bingung harus apa.
    dan si cowo saya itu jadi lbh sibuk n jarang pulang&hilang komunikasi dngn saya.
    tapi hati kecil saya hanya berkata (mungkin bukan saya yg terbaik or saya memang selalu bawa apes setiap laki2 yg deket dengan saya).
    saya ceritakan semua ke ibu saya.
    ibu sllu jawab ini ujian dri allah, kalo dia jodoh pasti kembali.

    dan minggu2 ne ada laki2 yg mau menikahi sya,karna tmen saya yg memperkenal kan nya.
    tpi orang tua saya tdk ada yg setuju 1pun & hati saya pun masih lum yakin.

    maaf ustd sya hanya mau tanya.
    apa kah yg terjadi sma saya karna ada dosa besar di saya,selama saya pacaran zina tangan,hati,mata dll?
    or dosa besar di masa lalu orang tua saya karna orang tua saya pernah bercerai n rujuk kembali?
    dan saya harus apa ke laki2 yang saat ini mau menikahi saya?

    tolong masukannya ustd.
    terimakasih

    assalamualaikum

     
    • salwintt

      20 Juni 2016 at 12:22 pm

      Wassalamu’alaikum Warahmatullahi Wabarkatuh. Terima kasih. Alhamdulillah mbak reshy memiliki orangtua yang arif, terutama ibu yang selalu merespon keluh kesah anaknya dan memberi solusi bijaksana, seperti kalimat belum jodoh, sabar dengan cobaan Allah. Untuk diketahui permasalahan mbak reshy belum serumit yang selalu disampaikan pembaca lainnya. Silahkan saja simak kembali respon dan pertanyaan dari artikel ini, macam-macam dan rumit-rumit. Oleh karena itu diusia yang masih relatif muda, pikirkan kembali untuk menentukan pasangan hidup yang niatnya sehidup semati, senasib sepenanggungan. Pelajari asal muasal keluarganya, agamanya, ketampanannya, serta kemapanan untuk memenuhi hidup. Karena sebagaian besar orang tidak berhasil meneruskan bahtera rumah tangga disebabkan faktor ekonomi. Ekonomi perlu cukup, karena nanti lahir anak perlu sekolah dan banyak kebutuhan lainnya. Jadi banyak yang harus dipertimbangkan. Masalah mbak reshy, bukan lantaran kesalahan dan dosa masa lalu apalagi menyangkut kesalahan orangtua, tetapi Allah memberikan gambaran bahwa untuk mencari pasangan yang paling tepat butuh perjuangan dan pemikiran yang matang. Terima kasih. Wallahu a’lam bissawab…!

       
  66. rya

    17 Juni 2016 at 3:07 pm

    Assalamualaikum, Wr,Wb. Pak saya ingin bertanya dan sedikit cerita, saya pria usia 28 alhamdulilah des 2015 kemarin saya sudah lamaran dgn pasangan saya, dan rencana kita menikah akhir juli 2016 tahun ini, tetapi terjadi kendala di bulan feb 2016 ada nya timbul masalah dimana salah satu dari kel perempuan saya menghina orang tua saya, dan pertengahan feb 2016 juga saya beserta kel inti membatalkan pernikahan tersebut dan pihak perempuan tidak menerima pembatalan tsb, tapi sampai detik ini kami (saya dan pasangan) msh tetap berhubungan baik layak nya tdk ada masalah, dan saya di berikan deadline oleh keluarga prempuan untuk kepastian nya menjadi menikah / tdk. di satu sisi saya ingin tetap melanjutkan pernikahan ini, tetapi saya melihat orang tua saya sudah tdk respect (tidak ingin melanjutkan) dgn apa yg terjadi, jadi apakah bila saya melanjutkan pernikahan ini rumah tangga saya tidak akan harmonis (karena sudah ada luka / tidak ada restu dari org tua saya), dan bagaimana cara saya meyakinkan ke orang tua saya bahwa ini pilihan saya dan membuat kedua belah pihak (ke 2 keluarga ) akan baik2 saja. Terima kasih. Wassalammualaikum

     
    • salwintt

      20 Juni 2016 at 12:03 pm

      Wassalamualaikum warahmatullahi wabarkatuh… maaf saya tidak tau persis penghinaan seperti apa yang dilontarkan pada pihak orangtua mas ryan, dan disebabkan oleh apa. Menurut hemat saya sumber permasalahan bukan dari kedua orang tua pihak perempuan, tapi salah satu pihak keluarganyanya. Selain dimusyawarahkan lagi dengan baik dan secara kekeluargaan, rencana suci dan niat mas ryan yang baik itu dilanjutkan saja. Insya Allah perjuangan yang berliku untuk menuju keluarga sakinah, mawaddah dan rahmah akan menyertai mas ryan, terima kasih. Wallahu a’lam bissawab…!

       
      • tari

        7 Juli 2016 at 9:58 pm

        Afwan, tulisan anda maupun saran2 anda tdk menyertakan dalil yg jelas, ini brdsrkan syariat islama ataukah fildafat anda saja? Skian banyak saya ikut kajian, ada sebab orangtua haram melarang anak menikah yaitu yg tdk sesuai dg syariat, misal kekurangan fisik calon, msh kuliah, dll, smntra akhlak n agama si calon insya Allah baik.

         
      • salwintt

        15 Juli 2016 at 9:32 pm

        Terima kasih. Insya Allah menurut kajian Islam. Namun memang banyak pendapat para ulama yang berbeda antara satu sama lainnya, tergantung kasus yang terjadi. Disiplin ilmu yang mereka miliki juga sangat mempengaruhi pendapat-pendapat mereka, ada ulama tradisional ada ulama modern. Namun argumentasi mereka tetap berdasar pada landasan hukum fiqh. Jadi tergantung pemahaman kita mau mengikuti penjelasan yang mana. trims.

         
      • gphotograph

        14 Juli 2016 at 10:43 am

        Saya seorang mualaf yang dulunya saya beragama hindu. Saya berpindah agama mungkin juga dikarenakan saya mendapat sesuatu yang dikatakan orang sebuah hidayah yang saya dapat. Mungkin pertanda itu juga saya dapati mulai dari kecil yg suka ikut2an berpuasa di bulan ramadan,walaupun tidak pernah tau niatnya. Dan juga saya memaksa orang tua saya untuk berkhitan/sunatan,dan akhirnya saya pun sunat waktu masih kelas 6 SD. Dimasa remaja pun saya sering meyanyikan syair2 sholawatan sampai hampir banyak yang saya hafalkan.

        Dan sekarang di usia 25th saya tiba2 ingin sekali masuk islam dgn tanpa paksaan dari siapapun walaupun saya yg dulunya bersikukuh bahwa saya tidak akan pernah berpindah agama. Sampai saya beranikan datang ke sebuah pondokan dikota saya,dan saya belajar tentang islam, dalam tempo 1minggu saya beranikan dan saya mantapkan keinginan saya untuk masuk islam dan saya pun didukung penuh oleh seseorang teman saya. Dan akhirnya sayapun dikenalkan dengan ulama terkenal di kota situbondo,dan akhirnya saya juga diberi masukan jika memang keinginan saya sudah benar2 mantap,saya disuruh berikrar didepan ulama terkenal juga di kota saya. akhirnya niat itupun saya wujudkan, dan ikrar pertamapun sudah saya lakukan. setelah saya resmi masuk islam secara agama,saya masih belum berani untuk mengutarakannya kepada keluarga saya terlebih orang tua saya sendiri.

        Tapi tidak lama kemudian, sayapun memberanikan diri untuk memastikan bahwa saya mualaf kepada orang tua saya, ketika dihari pelamaran calon istri saya yg beragama islam. Orang tua sayapun tidak terima dengan keputusan saya itu. Orang tua saya mengira, kalau saya berpindah agama hanya demi cinta. Padahal sebetulnya saya pindah agama sebelum saya berhubungan dengan calon istri saya tersebut. Sampai sempat terucap dari mulut mama saya tertuju ke papa saya “udahlah pa, lepasin saja anak laki satu2nya kita, anggap saja kita udah tidak punya lagi anak laki2” dan juga terucap yang ditujukan kepada saya “ya sudah kalau memang itu keputusanmu,yasudah kamu juga bukan lagi urusan papa mama, dan papa mama tidak lagi memberikan fasilitas apapun ke kamu, mama serahkan kamu ke mertuamu”. Dan akhirnya mertua sayapun mendengarkan sendiri semua ucapan tersebut. Setelah hari itu sayapun tidak lagi pulang kerumah,dan saya segera mempercepat pernikahan itu semampu yang saya punya,karena memang keluarga istri dengan keluarga saya berbalik 180′. Mertuapun hanya sanggup mempersiapkan apa yg diperlukan dirumah untuk acara pernikahan saya. Akhirnya dengan semua pertaruhan,sayapun bisa melangsungkan pernikahan saya walaupun sebelumnya pengurusan persiapan pernikahan cukup sulit saya urus,karena papa saya juga bisa dibilang orang terpandang dikota saya.

        Setelah pernikahan itu saya putuskan untuk pindah ke rumah kontrakan seadanya,agar sayapun leluasa untuk lebih belajar lebih dalam tentang islam. Dan masih ada lagi permasalahan yang timbul. Saya kebingungan untuk mengurus surat2 kelengkapan keluarga kecil saya, termasuk KK,KTP,dan lagi yang terpenting saya juga butuh mendaftarkan istri saya untuk BPJS. Masalah ini sangat sulit saya temukan jalan keluarnya, sedangkan satu2nya surat yang saya butuhkan adalah KK asli kluarga saya untuk merubah semua status saya,dan juga untuk memperlancar semua urusan surat keluarga saya. Tapi orang tua saya tidak mau memberikan KK tersebut kepada saya,dan tetap menyuruh saya untuk kembali ke agama asal. Sedangkan Lurah tempat sayapun tidak berani mengambil keputusan karena dulu sebelum saya nikah juga sempat kena teguran dari papa saya karena sudah menyetujui surat pindah nikah saya.

        #Saya sangat butuh saran/tindakan apa yang harus saya lakukan untuk menyelesaikan masalah tersebut, sedangkan saya harus punya kelengkapan surat2 keluarga tersebut.

         
      • salwintt

        15 Juli 2016 at 9:23 pm

        Terima kasih… Alhamdulillah hidayah Allah SWT telah turun kepada antum. Semoga antum menemukan makna hidup sesungguhnya di bawah lindungan Allah SWT dengan bimbingan agama Islam. Masalah surat-menyurat silahkan hubungi ahlinya Dinas Kependudukan dan Catatan Sipil. Antum bisa bertanya pada ketua RT/RW, Lurah atau camat. Insya Allah mereka akan memberikan solusi. Terima kasih Wassalamualaikum warahmatullahi wabarkatuh.

         
  67. tari

    7 Juli 2016 at 9:53 pm

    Afwan, penjelasan diatas. Ga ada satupun dalil yg dsebutkan? Ini brdsrkan kaca mata islam atau filsafat anda saja?

     
    • salwintt

      15 Juli 2016 at 9:34 pm

      Terima kasih. Insya Allah dari kaca mata Islam.

       
  68. zaka

    12 Juli 2016 at 4:59 pm

    Assalamualaikum, Wr,Wb…
    ada kasus teman saya pak, lantas dia bertanya, jadi pertanyaannya begini bagaimana “menghadapi orang tua yang tidak senang terhadap istri kita, dan saya sudah meminta maaf jika ada salah namun orangtua tidak merespon, dan si anak sebagai suami sekaligus anak juga sudah meminta maaf” jadi apakah si anak salah atau durhaka ketika menghadapi orang tua seperti itu,,mohon tanggapannya..tks

     

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
Ikuti

Kirimkan setiap pos baru ke Kotak Masuk Anda.

Bergabunglah dengan 50 pengikut lainnya

%d blogger menyukai ini: