RSS

Kisah Pengingkaran dan Sifat Lupa Adam

Kisah Pengingkaran dan Sifat Lupa Adam

Pengantar

Para ahli purbakala pada zaman ini menelusuri kota-kota yang lenyap dan sisa-sisa umat terdahulu agar mereka mengenal kehidupan nenek moyang, mengetahui keadaan dan kondisi mereka. Disamping minimnya informasi yang berhasil mereka gali, ia juga ilmu yang tidak murni sehingga tidak menampakkan hakikat dan tidak menyisir kabut kelam yang menyelimutinya. Ia tidak kuasa menyibak tabir masa lalu yang dalam dengan kepastian. Lain halnya dengan wahyu Allah yang membawa berita tentang orang-orang terdahulu. Hal itu merupakan kekayaan tak ternilai harganya, karena ia menyuguhkan sesuatu yang nyata dalam keadan bersih dan murni. Ia adalah ilmu yang diturunkan dari Dzat Yang Maha Mengenal lagi Maha Mengetahui, di mana tidak sesuatu pun di langit dan di bumi yang samara dari-Nya.

Sebagian ilmu ini tidak mungkin ditembus dengan jalan selain wahyu. Di antaranya, sebagian berita tentang bapak kita, Adam a.s., tentang sebagian tabiat dan ciri-cirinya yang kita warisi darinya. Sebagaimana beliau menyampaikan kepada kita sebagian syariat untuknya dan anak cucu sesudahnya.

Teks Hadis

Tirmidzi meriwayatkan dalam Sunan-nya dari Abu Hurairah. Ia berkata bahwa Rasulullah Shallallahu Alahi wa Sallam bersabda, “Manakala Allah menciptakan Adam, Allah mengusap pungungnya, lalu dari punggung itu berjatuhan seluruh jiwa yang Allah akan menciptakannya dari anak cucunya sampai hari Kiamat. Dan Allah menjadikan di antara kedua mata masing-masing orang kilauan cahaya. Kemudian mereka dihadapkan kepada Adam. Adam berkata, ‘Ya Rabbi, siapa mereka?’ Allah menjawab, ‘Mereka adalah anak cucumu.”

Lalu Adam melihat seorang laki-laki dari mereka. Dia mengagumi kilauan cahaya yang memnacar di antara kedua matanya. Adam bertanya, ‘Ya Rabbi siapa ini? ‘Allah menjawab, ‘Ini adalah laki-laki dari kalangan umat terakhir dari anak cucumu yang bernama Dawud.’ Adam bertanya, ‘Ya Rabbi, berapa tahun usia yang Engkau berikan padanya?’ Allah menjawab, ‘Enam puluh tahun.’ Adam berkata, ‘Ya Rabbi, tambahkan untuknya dari umurku empat puluh tahun.’ Manakala umur Adam telah habis, dia didatangi oleh Malaikat Maut. Adam berkata,’ Bukankah umurku masih tersisa empat puluh tahun?’ Malaikat menjawab, ‘Bukankah engkau telah memberikannya kepada anakmu Dawud?’ Nabi Shallallahu Alahi wa Sallam bersabda, ‘Adam mengingkari, maka anak cucunya pun mengingkari. Adam dijadikan lupa, maka anak cucunya dijadikan lupa; dan Adam berbuat salah, maka anak cucunya berbuat salah.”

Abu Isa berkata, “Ini adalah hadis hasan shahih. Ia telah diriwayatkan tidak dari satu jalan dari Abu Hurairah dari Nabi Shallallahu Alahi wa Sallam.”

Tirmidzi juga meriwayatkan dari Abu Hurairah yang berkata bahwa Rasulullah Shallallahu Alahi wa Sallam bersabda, “Ketika Allah menciptakan Adam dan meniupkan ruh padanya, dia bersin, dia berkata, ‘Alhamdulillah,’ dia memuji Allah dengan izin-Nya. Maka Tuhannya berfirman kepadanya, ‘Semoga Allah merahmatimu, wahai Adam. Pergilah kepada para malaikat itu, sebagian mereka sedang duduk. Katakanlah, ‘Assalamu’alaikum.’ Mereka menjawab, ‘Wa alaikas salamu warahmatuh.’ Lalu Adam kembali kepada Tuhannya, dan Dia berfirman, ‘Sesungguhnya itu adalah penghormatanmu dan penghormatan anak–anakmu di antara mereka.’

Lalu Allah berfirman kepada Adam, sementara kedua TanganNya mengepal, ‘Pilih satu dari keduanya yang kamu kehendaki.’ Adam menjawab, ‘Aku meilih tangan kanan Tuhanku dan kedua Tangan Tuhanku adalah kanan yang penuh berkah.’ Kemudian Allah membukanya. Ternyata di dalamnya terdapat Adam dan anak cucunya. Adam bertanya, ‘Ya Rabbi, siapa mereka?’ Allah menjawab, ‘Mereka adalah anak cucumu.’ Ternyata umur semua manusia telah tertulis di antara kedua matanya. Di antara mereka terdapat seorang laki-laki yang paling cerah cahanya atau termasuk yang paling terang cahanya Adam bertanya, ‘Ya Rabbi, siapa ini?’ Allah menjawab, ‘Ini adalah anakmu Dawud dan Aku telah menulis umurnya empat puluh tahun.’ Adam berkata, ‘Ya Rabbi, tambahkan umurnya.’ Allah berfirman, ‘Itu yang telah Aku tuliskan untuknya.’ Adam berkata, ‘Ya Rabbi, aku memberikan umurku enam puluh tahun kepadanya.’ Allah berfirman, ‘Itu urusanmu.'”

Nabi Shallallahu Alahi wa Sallam bersabda, “Lalu Adam diminta tinggal di surga sekehendak Allah, kemudian dia diturunkan darinya. Maka Adam menghitung sendiri umurnya. Manakala malaikat maut datang, Adam berkata kepadanya, ‘Kamu telah tergesa-gesa. Aku telah diberi umur seribu tahun.’ Malaikat menjawab, ‘Tidak, tetapi kamu telah memberikan enam puluh tahun umurmu kepada anakmu Dawud.’ Lalu Adam mengingkari, maka anak cucunya mengingkari. Adam lupa, maka anak cucunya lupa. Dia berkata, ‘Sejak saat itu diperintahkan untuk menulis dan saksi-saksi.'”

Tirmidzi berkata, ‘Ini adalah hadis hasan gharib dari jalan ini. Ia telah diriwayatkan bukan dari satu jalan dari Abu Hurairah dari Nabi Shallallahu Alahi wa Sallam dari riwayat Zaid bin Aslam dari Abu Shalih dari Abu Hurairah dari Nabi Shallallahu Alahi wa Sallam.’

Takhrij Hadis

Hadis ini diriwayatkan oleh Tirmidzi dalam Sunan-nya dalam Kitab Tafsir, bab dari surat Al-A’raf, 4/267. Lihat Shahih Sunan Tirmidzi, 3/52, no. 3282.

Hadis kedua diriwayatkan oleh Tirmidzi di dalam Kitab Tafsir, bab dari surat Mu’awwidzatain, 4/453. Lihat Shahih Sunan Tirmidzi, 3/137, no.3607.

Penjelasan Hadis

Allah menciptakan Adam dalam keadaan sempurna dan lengkap. Tidak seperti yang diklaim oleh orang-orang yang tidak berilmu, bahwa manusia berevolusi dari hewan atau tumbuhan. Allah menciptakannya dari saat pertama dia diciptakan sebagai seorang yang berakal dan berbicara, dia memahami apa yang dikatakan kepadanya dan dia menjawab dengan benar.

Setelah ruh diciptakan kepadanya, Adam bersin, maka dia memuji Allah Subhanahu wa Ta’ala. Allah menjawabnya, “Semoga Allah merahmatimu, wahai Adam.” Allah memerintahkan Adam agar pergi ke sekumpulan malaikat yang sedang duduk dan mengucapkan salam kepada mereka. Para malaikat pun membalas penghormatannya dengan penghormatan yang lebih baik. Dan Allah memberitahukan kepadanya bahwa hal itu adalah penghormatannya dan penghormatan di antara anak cucunya. Adam berjalan, mendengar, berbicara, bersin, mengerti dan memahami perkataan.

Anda perhatikan dalam hadis, betapa besar perhatian Allah kepada hamba-Nya, Adam. Dia berfirman kepadanya manakala dia bersin, “Semoga Allah merahmatimu, wahai Adam.” Dan barangsiapa dirahmati oleh Tuhannya, maka dia mendapatkan perhatian, perlindungan dan kemulian-Nya. Oleh karenanya, Allah menerima taubatnya manakala dia terpeleset dari jalan lurus kemudian Adam kembali kepada-Nya. Allah juga memaafkan kelalaian kita dan mendukung kita dengan ruh dari-Nya.

Allah telah mensyariatkan untuk Adam ketika berada di surga dan anak cucunya agar ber-tahmid jika bersin dan didoakan rahmat jika telah mengucapkan tahmid. Dan Allah telah menjadikan salam sebagai penghormatan anak cucu dan keturunan sesudahnya.

Rasulullah Shallallahu Alahi wa Sallam menyampaikan kepada kita bahwa Allah mengusap punggung Adam, maka berjatuhanlah semua jiwa dari anak cucu Adam yang akan diciptakan darinya sampai hari Kiamat. Allah memegang itu dengan Tangan kanan-Nya dan Adam diberi pilihan antara kedua genggaman Tuhannya, maka dia memilih Tangan kanan Tuhannya dan kedua Tangan Allah adalah kanan yang penuh berkah. Manakala Allah membukanya, ternyata di dalamnya terdapat Adam dan anak cucunya.

Adam melihat anak cucunya yang akan diciptakan sesudahnya dan Allah telah menjadikan cahaya di antara kedua mata masing-masing. Adam juga melihat umur masing-masing telah tertulis di antara kedua mata mereka. Adam melihat seorang laki-laki dengan cahaya yang bagus. Dia bertanya tentangnya. Maka Allah memberitahukan bahwa dia adalah salah satu putranya yang akan muncul di sebuah umat sebagai salah satu umat terakhir. Putra itu bernama Dawud, yang diberi umur enam puluh tahun (dalam riwayat lain, empat puluh). Riwayat pertama lebih shahih. Adam merasa umur Dawud pendek, dia pun memohon kepada Allah agar menambah umur Dawud. Allah menyatakan bahwa itulah umur yang ditetapkan untuk Dawud. Lalu Adam memberikan sebagian umurnya kepada Dawud untuk menngenapinya menjadi seratus.

Nampak dari hadis tersebut bahwa Allah memberitahu Adam tentang umur yang ditulis untuknya, bahwa dia akan hidup seribu tahun. Manakala umurnya telah mencapai seribu tahun kurang empat puluh tahun, Malaikat maut datang kepada Adam untuk mencabut nyawanya. Adam pun menyangkal keinginan malaikat maut. Dia membantah malaikat yang hendak mencabut nyawanya sebelum ajalnya tiba. Nampak pula dari Hadis tersebut bahwa Adam menghitung sendiri umurnya tahun demi tahun. Maka Adam mengingkarinya karena lupa. Dan anak cucu Adam mewarisi sifat-sifat bapak mereka. Mereka mengingkari seperti Adam mengingkari. Mereka lupa seperti Adam lupa. Oleh karena itu, Allah memerintahkan penulisan dan kesaksian untuk mengantisipasi pengingkaran orang-orang yang ingkar dan kelupaan orang-orang yang lupa.

Pelajaran-Pelajaran dan Faedah-Faedah Hadis

1. Allah menciptakan Adam secara lengkap dan sempurna sejak awal penciptaannya. Tidak seperti yang diklaim oleh orang-orang sesat, bahwa Adam diciptakan tidak sempurna, kamudian berkembang menuju kesempurnaan dalam rentang waktu yang panjang. Rasulullah Shallallahu Alahi wa Sallam telah menyampaikan kepada kita bahwa di antara kesempurnaan penciptaan Adam, adalah diciptakannya dia dengan tinggi enam puluh hasta dan bahwa manusia setelah Adam terus menerus menyusut sampai pada ukuran manusia saat ini. Pada hari Kiamat Allah memasukkan orang-orang mukmin ke surga dengan bentuk penciptaan yang sempurna seperti penciptaan Allah terhadap Adam.

Bukhori dan Muslim meriwayatkan dalam Shahih masing-masing bahwa Rasulullah Shallallahu Alahi wa Sallam bersabda, “Allah menciptakan Adan dan tingginya adalah enam puluh hasta, kemudian Allah berfirman kepadanya, ‘Pergilah, ucapkan salam kepada para Malaikat itu. Dengarkanlah penghormatan mereka kepadamu, karena itu adalah penghormatanmu dan penghormatan anak cucumu.’ Maka Adam berkata, ‘Assalamu’alaikum.’ Mereka menjawab, ‘Assalamu ‘alaikum wa rahmatullah dengan tambahan ‘Warahmatullah’. Dan semua orang yang masuk surga dengan bentuk penciptaan Adam. Dan manusia terus menerus menyusut sampai saat ini.” (Diriwayatkan oleh Bukhori, 3/11, no.6277, no. 3326. Diriwayatkan oleh Muslim, 4/2183, no. 2841.) Kebenaran yang saya sebutkan di atas, bahwa Adam diciptakan secara sempurna sejak dihembuskannya ruh kepadanya ditunjukkan oleh hadis tersebut. Allah menciptakan Adam dalam bentuk penciptaan yang sempurna. Dia tidak berkembang dan tidak berubah dari satu bentuk ke bentuk yang lain. Lain halnya dengan anak cucunya, Allah menciptakan mereka di dalam rahim ibu dalam bentuk setetes air, kemudian segumpal darah, kemudian seonggok daging, kemudian setelah dihembuskannya ruh, Dia menumbuhkannya sebagai makhluk lain.

2. Mengetahui peristiwa-peristiwa yang terjadi pada bapak kita Adam, di antaranya adalah bersinnya Adam, ucapan ‘alhamdulillah’, jawaban Allah kepadanya, ‘rahimakallahu(semoga Allah merahmatimu),’ ucapan salamnya kepada para malaikat, juga jawaban malaikat kepadanya. Allah mengusap punggung dan peristiwa-peristiwa lain yang dikandung oleh hadis ini.

3. Orang yang bersin mengucapkan hamdalah. Orang yang mendengarnya mengucapkan, ‘rahimakallahu(semoga Allah merahmatimu)’ dan penghormatan salam termasuk syariat alami (internasional) yang dimiliki oleh seluruh syariat, tidak khusus untuk satu umat tertentu dan itu termasuk warisan bapak mereka, Adam a.s.

4. Penetapan takdir. Allah mengetahui hamba-hamba-Nya pada masa azali dan Dia menulis hal itu di sisi-Nya. Dia menunjukkan kepada Adam tentang anak cucunya sesudahnya, dan umur setiap orang telah ditulis di antara kedua matanya.

5. Penetapan dua Tangan bagi Allah dan Dia menggenggam keduanya, kapan Dia berkehendak dan bagaimana Dia berkehendak tanpa takyif (bertanya bagaimana) dan ta’thil(mengingkari). Tiada sesuatupun yang menyerupai Dia. Dia Maha Mendengar lagi Maha Melihat.

6. Keutamaan Nabiyullah Dawud dan besarnya iman yang dimilikinya dibuktikan dengan kuatnya cahaya di antara kedua matanya.

7. Kemampuan Adam berhitung. Dia menghitung tahun-tahun umurnya. Dia mengetahui umurnya yang telah berlalu dan yang telah tersisa. Dia membatntah Malaikat maut ketika hendak mencabut nyawanya sebelum ajalnya sempurna.

8. Keterangan tentang umur Adam. Dia hidup seribu tahun. Ini merupakan pelurusan terhadap keterangan Taurat, yang disebutkan di dalam Ishah kelima buku penciptaan bahwa umurnya adalah 930 tahun. Yang benar adalah yang disebutkan oleh Hadis. Hadis ini juga menjelaskan umur Dawud.

9. Tabiat Adam dan anak cucunya adalah pengingkaran dan kelupaan.

10.Disyariatkannya menulis dalam akad dan muamalat untuk mengantisipasi pengingkaran dan sifat lupa manusia.

Sumber: diadaptasi dari DR. Umar Sulaiman Abdullah Al-Asyqar, Shahih Qashashin Nabawi, atau Ensklopedia Kisah Shahih Sepanjang Masa terj. Izzudin Karimi, Lc. (Pustaka Yassir, 2008), hlm. 32-38.

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: