RSS

Tanda Cinta Untuk Orangtua

PERNAHKAH membayangkan hidup tanpa didampingi ayah dan ibu? Saat itu tidak ada tempat mengadu, mengeluh, memohon belas kasih, tidak ada yang dimintai tolong dan juga dimintai uang. Itulah duka laranya. Tapi sekarang, kanapa saat kita masih didampingi oleh orang tua, justru kadang-kadang ada saja masalah yang kita keluhkan. Pendapat orang tua tidak oke, atau sarannya tidak nyambung, yang orang tua tidak pengertian, tidak gaul, suka mengatur dan lain sebagainya. Intinya menandakan kalau hubungan anda sama mereka kurang baik.
Sebagai seorang anak shaleh atau shalehah, kita harus selalu menjaga komunikasi dengan orang tua, agar senantiasa harmonis dan selalu kondusif. Bagaimana tidak? Bukankah Allah SWT telah menitipkan bahan cikal bakal kejadian kita pertama kali pada tulang rusuk ayah, lalu menitipkan janin pada rahim ibu. Yang kemudian, kita dipeliharanya selama sembilan bulan untuk selanjutnya dilahirkan ke dunia. Dan waktu terus berjalan, sementara kita masih terus dalam asuhan orang tua hingga sekarang. Itulah kasih sayang orang tua yang abadi sepanjang masa.
Pernahkah ada orang tua yang begitu membenci anaknya? Kalaupun ada, pastilah dia sedang dirasuki syetan. Kasih sayang orang tua hanya tercurahkan pada kita. Mereka senantiasa memberikan yang terbaik untuk kita, semua dilakukan tanpa pamrih, basa-basi dan mengharap imbalan sedikitpun. Hubungan kita dengan orang tua bukan cuma sebatas hubungan darah dan keturunan, tapi juga hubungan hati, emosi dan segenap perasaan. Oleh karena itu, Allah senantiasa mengingatkan untuk selalu menjaga hak orang tua. Allah juga memerintahkan kita untuk selalu cinta dan menghormati mereka, dengan cara berbuat baik dan sopan santun, berbakti dan berkorban demi mereka, serta menjunjung tinggi nama baiknya. Bahkan di dalam Alquran perintah patuh kepada orang tua diletakkan sesudah perintah taat kepada Allah SWT.
Disamping itu kita juga diperintah untuk membuktikan rasa cinta dengan memperlihatkan sikap serius dalam menuntut ilmu, tekun ibadah dan tawadlu, perilaku yang baik. Dengan demikian, berarti kita sudah mampu memberikan yang terbaik untuk ayah dan bunda. Karena kalau itu benar-benar kita lakukan, maka sesungguhnya jerih payah dan amal perbuatan kita, juga dicatat sebagai amal ibadah dan jerih payah orang tua, pada hakikatnya adalah amal ayah ibu kita juga. Dan pahalanya akan dilipat gandakan sesuai dengan kadar jerih payah. Oleh karena itu, perbanyaklah beraktifitas, berpayah-payah dalam ibadah dan belajar, agar ayah bunda meraih sebanyak mungkin pahala. Dengan demikian kita dicatat sebagai anak yang berbakti, yang tahu diri, menghargai dan mampu balas budi pada orang tua, dan pastinya kelak anak-anak kita akan melakukan hal yang sama untuk kita di masa kita tua nanti. Wallahu a’lam bissawab.

 

Komentar ditutup.

 
%d blogger menyukai ini: