RSS

Plotinus vs Suhrawardi (Tinjaun Pemikiran)

PLOTINUS VERSUS SUHRAWARDI
(EMANASI DAN ILLUMINASI, SEBUAH TINJAUAN)
Oleh Salwinsah

A. SEKILAS PLOTINUS
Plotinus dilahirkan pada tahun 205 M di Lykopolis di Mesir (tapi ada juga yang menyebutkan Plotinus lahir pada tahun 204 M) yang pada waktu itu dikuasai oleh Roma dan meninggal di Minturnea, Italia pada tahun 270 M. Orang tuanya berasal dari Yunani. Ia tidak mau menjadi orang yang terkemuka pada waktu itu, dan menolak semua tukang patung yang bermaksud membuatkan patung dirinya. Plotinus terkenal dengan kesederhanaan hidupnya.
Mulanya ia mempelajari filsafat dari ajaran Yunani, terutama dari buah tangan Plato. Akan tetapi ia merasa pengetahuannya belum cukup mendalam. Ia ingin memperdalamnya dengan mempelajari mistik dari Persia dan India. Untuk itu ia pergi sendiri ke sana.
Dan kebetulan kaisar Roma, Gordianus, menyusun tentaranya untuk menyerbu ke Persia. Plotinus menawarkan diri dalam laskar Gardianus. Namun, laskar Gardianus menderita kekalahan besar dan Plotinus hanya dapat melarikan diri. Sesudah gagal pergi ke Persia dan India, ia berangkat menuju Roma. Satu tahun menetap di sana untuk mengajarkan filsafat. Di antara murid-muridnya ada orang-orang besar, namun karena sikapnya yang sederhana, orang – orang besar itu menghormatinya, bahkan ada juga yang mendewakan dirinya. Pada hari tuanya, ia selalu sakit-sakit dan karena itulah ia berhenti mengajar filsafat. Ia mngundurkan diri dan bertapa. Pada tahun 270 M, ia meninggal di Minturnea dalam usia 65 tahun. (Ahmat Tafsir, 1990)
Plotinus hidup di abad kedua, kurang lebih empat abad setelah Plato. Di zaman itu, agama kristen sudah berkembang di daerah Timur Tengah dan Eropa. Plotinus sendiri tinggal di daerah Mesir, dekat dengan salah satu pusat agama Kristen, Alexandria. Ia juga berguru pada seorang yang bernama Ammonius Saccas, yang mengajarkan padanya filsafat. Kemudian ia sempat pergi ke Persia dan bersentuhan dengan budaya timur di sana. Semuanya ini membuat filsafat Plotinus yang merupakan analisis serta kritik dari aliran filsafat yang berkembang di waktu itu, dari ajaran Plato, Kristen, Filsafat Timur, Epikurean dan Stoa, serta Gnostik. Kedekatannya pada ajaran Plato kemudian mengimbuhkan label Neoplatonisme pada ajaran Plotinus. (Hendi Susendi, 2008)
Plotinus tidak semata-mata seorang filsuf. Ia adalah seorang mistikus, mungkin terpengaruh dari Kristen atau Filsafat Timur. Sebagai seorang mistikus, ia bukan hanya merumuskan metafisika, melainkan mengacu kepada kembali ke Sang Asal, sumber dari segala sesuatu, sesuatu yang tidak ditemui pada ajaran Plato.
B. SEKILAS SUHRAWARDI
Nama lengkap Suhrawardi adalah Abu al-Futuh Yahya bin Habash bin Amirak Shihab al-Din as-Suhrawardi al-Kurdi, lahir pada tahun 549 H/1153M di Suhraward, sebuah kampung di kawasan Jibal, Iran Barat Laut dekat Zanjan. Ia memiliki sejumlah gelar, Shaikh al-Ishraq, Master of Illuminationist, al-Hakim, ash-Shahid, the Martyr, dan al-Maqtul.
Sebagaimana umumnya para intelektual muslim, Suhrawardi juga melakukan perjalanan ke berbagai daerah untuk mengembangkan wawasannya. Wilayah pertama yang ia kunjungi adalah Maragha yang berada di kawasan Azerbaijan. Di kota ini ia belajar filsafat, hukum dan teologi kepada Majd al-Din al-Jili. Untuk memperdalam kajian filsafat ia juga berguru pada Fakhr al-Din al-Mardini. Tampaknya tokoh terakhir ini merupakan guru filsafat yang sangat berpengaruh bagi Suhrawardi.
Pengembaraan ilmiahnya kemudian berlanjut ke Isfahan, Iran Tengah dan belajar logika kepada Zahir al-Din al-Qari. Dia juga mempelajari logika dari buku al-Basa’ir al-Nasiriyyah karya Umar ibn Sahlan al-Sawi. Dari Isfahan ia melanjutkan perjalanannya ke Anatolia Tenggara dan diterima dengan baik oleh pangeran Bani Saljuq. Setelah itu pengembaraan Suhrawardi berlanjut ke Persia yang merupakan “gudang” tokoh-tokoh sufi. Di sini ia tertarik kepada ajaran tasawuf dan akhirnya menekuni mistisisme. Dalam hal ini Suhrawardi tidak hanya mempelajari teori-teori dan metode-metode untuk menjadi sufi, tetapi sekaligus mempraktekkannya sebagai sufi sejati. Dia menjadi seorang zahid yang menjalani hidupnya dengan ibadah, merenung, kontemplasi, dan berfilsafat. Dengan pola hidup seperti ini akhirnya dalam diri Suhrawardi terkumpul dua keahlian sekaligus, yakni filsafat dan tasawuf. Dengan demikian ia dapat dikatakan sebagai seorang filosof sekaligus sufi. (Amruni Drajat, 2001)
Perjalanannya berakhir di Aleppo, Syria. Di sini ia berbeda pandangan dengan para fuqaha sehingga akhirnya ia dihukum penjara oleh gubernur Aleppo Malik al-Zahir atas perintah ayahnya Sultan Salahuddin al-Ayyubi di bawah tekanan para fuqaha yang tidak suka dengan pandangannya. Akhirnya Suhrawardi meninggal pada 29 Juli 1191 M/578 H dalam usia 36 tahun (kalender Shamsiyyah) atau 38 tahun (kalender qamariyyah). Namun demikian penyebab langsung kematiannya tidak diketahui secara pasti, hanya menurut Ziai ia mati karena dihukum gantung. Kematiannya yang tragis ini merupakan konsekuensi yang harus ia terima atas pandangannya yang berseberangan dengan para tokoh pada masa itu.
C. EMANASI-NYA PLOTINUS
Plotinus mula-mula tidak bermaksud akan mengemukakan filosofinya sendiri. Ia hanya ingin memperdalam filosofi Plato yang dipelajarinya. Oleh sebab itu, folosofinya sering disebut orang dengan Neoplatonisme. Sistem metafisika Plotinus ditandai oleh konsep transendens. Menurut pendapatnya, di dalam pikiran terdapat tiga realitas: The One, The Mind, dan The Soul. The One (Yang Esa) yaitu suatu realitas yang tidak mungkin dapat dipahami melalui metode sains dan logika. Ia berada di luar eksistensi, di luar segala nilai. Yang Esa itu adalah puncak semua yang ada dan siapa saja yang memiliki pengetahuan keilahian juga tidak akan dapat merumuskan apa sebenarnya Yang Esa itu.
The One tidak dapat didekati melalui peginderaan dan juga tidak dapat dipahami lewat pemikiran logis. Kita hanya dapat menghayati adanya; Ia itu tidak dapat dipikirkan seperti kita memikirkan sesuatu yang ada definisinya. Ia itu prinsip yang tidak dapat dilambangkan dengan suara atau huruf. Realitas kedua ialah Nous, suatu istilah yang dapat juga disebut Mind. Ini adalah gambaran tentang Yang Esa dan di dalamnya mengandung idea-idea Plato. Kandungan Nous adalah benar-benar kesatuan. Untuk menghayatinya kita mesti melalui perenungan. The Soul adalah realitas ketiga dalam filsafat Plotinus.
Sebagai arsitek semua fenomena yang ada di alam ini, Soul itu mengandung satu jiwa dunia dan banyak dunia kecil. Jiwa dunia dapat dilihat dalam dua aspek, ia adalah energi di belakang dunia, dan pada waktu yang sama ia adalah bentuk-bentuk alam semesta. Jiwa manusia juga mempunyai dua aspek: yang pertama intelek yang tunduk pada reinkarnasi, dan yang kedua adalah irasional. Yang irasional ini mungkin sama dengan moral pada Kant; yang intelek itu kelihatannya sama dengan akal logis. Teori tentang tiga realitas ini mengingatkan pada teologi Trinitas yang dianut oleh Kristen, tampak sekali persamaannya. Teologi Trinitas itu pada masa Plotinus memang sedang dalam proses pembentukannya, atau katakanlah sedang dalam perumusannya. (Moh Hatta, 1986)
Plotinus mendasarkan ajarannya kepada yang baik yang meliputi segala-galanya, ajaran Plotinus berpokok kepada yang satu. Yang satu adalah pangkal segala-galanya. Filsafa Plotinus berpangkal pada keyakinan bahwa segala ini, yang asal itu, adalah satu dan tidak ada pertentangan di dalamnya. Yang asal itu bukan kualitas dan bukan pula yang terutama dari segala keadaan dan perkembangan dalam dunia. Segalanya datang dari, yang asal. Yang asal itu adalah sebab kuantita, akal bukan jiwa, bukan suatu yang bergerak bukan pula yang terhenti, bukan dalam ruang dan bukan dalam waktu. Yang satu itu tidak dapat dikenal, sebab tidak ada ukuran untuk membandingkannya. Yang baik menunjukan apa artinya yang baik itu untuk mahluk yang lain, bukan apa itu baginya sendiri. Hanya satu saat positif yang tidak boleh tidak ada padanya, yaitu yang asal itu adalah permulaan dan sebab yang pertama dari segala yang ada.
Plotinus merasakan sendiri kesulitan yang dihadapinya sebagai kelanjutan logikanya. Untuk mengatasi kontradiksi itu, ia mengemukakan dasar kausalita Tuhan. Yang satu itu adalah semuanya, tetapi tidak mengandung di dalamnya satu pun barang yang banyak itu. Yang satu adalah semuanya berarti bahwa yang banyak itu ada padanya. Di dalam yang satu, yang banyak itu tidak ada, tetapi yang banyak itu datangnya dari dia. Karena yang satu itu sempurna, tidak mencari apa-apa dan tidak memerlukan apa-apa. Alam ini terjadi dari yang melimpah atau mengalir dari yang asal dan yang mengalir itu tetap bagian dari asalnya tadi. Bukan Tuhan derada dalam alam, melainkan alam berada dalam Tuhan. Jalannya sebab dan akibat serupa dengan air yang mengalir dalam mata air, seperti panas dalam api. Dalam ajaran Plotinus, yang satu itu adalah dalam keadaan sempurna. Oleh sebab itu, bertambah banyaknya yang tidak sempurna hanya bisa terjadi dalam bertambah banyaknya yang berbagai rupa, pembagian dan perubahan – perubahan. (Theo Huijbers, 1982)
Dari yang satu datang “mahluk” yang pertama yaitu akal (dunia pikiran). Dari akal datang jiwa dunia, yang pada gilirannya melahirkan materi. Semua itu datang dari yang satu, tetapi semua itu terus langsung berhubungan dengan yang satu tersebut. Demikanlah cara Plotinus menyusun suatu sistem filosofinya, yang sebelum itu tidak terdapat dalam alam pikiran Yunani. Yang paling dekat dengan Tuhan, yang satu ialah akal. Sebagai sesuatu yang dihasilkan oleh yang satu, sudah tentu akal itu kurang sempurna dan karena itulah ia adalah suatu “yang banyak”. Akan tetapi “yang banyak” itu bukanlah yang banyak jumlahnya, bahkan masih banyak hubungannya dengan yang satu. Sebagaimana yang asal melahirkan akal, demikian juga akal melahirkan jiwa dunia. Lahirnya jiwa dunia adalah suatu emanasi dari akal. Namun pemikiran jiwa itu kurang sempurna. Jiwa itu mempunyai dua habungan. Hubungan ke atas kepada akal, yang lebih sempurna dan hubungan ke bawah kepada benda, yang kurang sempurna. Jiwa mempunyai tugas, yang semestinya melahirkan sesuatu yang berupa materi, benda.

D. ILLUMINASI-NYA SUHRAWARDI
Sejarah membuktikan bahwa perkembangan filsafat di dunia Islam terinspirasi dari pemikiran para filosof Yunani yang telah mendominasi ranah intelektual manusia jauh sebelum agama Islam diturunkan. Secara umum, pemikiran para filosof muslim (filsafat Islam) merupakan sintesa sistematis antara ajaran-ajaran Islam, Aristotelianisme, dan Neo-Platonisme baik yang berkembang di Athena maupun di Alexandria (Nashr, 1964:411). Sintesa yang dilakukan pada dasarnya bertujuan untuk mengharmoniskan hubungan antara filsafat dengan ajaran Islam.
Upaya untuk mengharmoniskan hubungan filsafat dengan agama diawali oleh al-Kindî. Menurutnya, filsafat adalah pengetahuan yang benar (knowlwdge of truth) dan agama juga diwahyukan untuk menyampaikan kebenaran. Oleh karena filsafat dan agama menjadikan kebenaran sebagai tujuan, maka keduanya tidak mungkin bertentangan antara satu dengan lainnya. Lebih jauh dari itu, al-Kindî juga menyatakan bahwa orang yang menolak filsafat adalah orang yang menolak kebenaran sehingga dapat juga dikategorikan sebagai orang yang mengingkari agama. Dalam pandangan Islam, orang yang menolak agama disebut dengan orang kafir (Ridah, 1950:103-104).
Dalam aspek metafisika, pemikiran al-Kindî dipengaruhi oleh ajaran-ajaran Aristoteles. Sebagaimana halnya dengan Aristoteles, ia juga menjuluki metafisikanya dengan nama filsafat pertama. Dalam salah satu pokok pemikirannya dinyatakan bahwa filsafat yang termulia adalah filsafat pertama yaitu ilmu tentang Yang Benar Pertama yang menjadi sebab bagi segala yang benar. Dalam bahasa al-Kindî, yang dimaksud dengan Yang Benar Pertama adalah al-haqq (Tuhan). Konsep al-haqq yang dikemukakan al-Kindî tersebut merupakan gagasan orisinil aristoteles tentang penggerak pertama yang tidak digerakkan (Atiyeh, 1983:17).
Filsafat emanasi yang dikembangkan oleh kedua filosof muslim tersebut memberikan dampak yang cukup luas di kalangan filosof muslim yang muncul kemudian. Sebagai bentuk sintesis terhadap pemikiran ini, sebagian filosof muslim mencoba memperkenalkan wacana teosofi (gabungan filsafat dan tasawuf). Wacana teosofi klasik dalam dunia Islam pertama sekali diperkenalkan oleh Abû Yazîd al-Busthâmî. Nuansa filsafat yang mewarnai pemikiran sufistiknya terlihat dari gagasannya mengenai konsep ittihâd (penyatuan). Menurutnya, sufi akan sampai pada penyatuan dengan Tuhan melalui fanâ’ al-nafs (“penghancuran diri”) dan baqâ’ (hidup terus menerus) yaitu kesadaran diri terhadap hilangnya wujud jasmani, namun tetap disadari kekalnya wujud ruhani. (al-Taftazânî, 1983:106).
Kosep hulûl yang diprakarsai oleh al-Hallâj kemudian disistematisasikan oleh Ibn ‘Arabî dengan kosep wahdat al-wujûd (unity of existence). Dalam terminologi Ibn ‘Arabi, nasût diubah menjadi al-khalq (makhluk) dan lahût menjadi al-haqq (Tuhan). Pemikiran ini timbul dari paham yang menyatakan bahwa Tuhan ingin melihat diri-Nya di luar diri-Nya dan oleh karena itu ia menciptakan alam. Di kala Ia ingin melihat diri-Nya, maka ia melihat alam karena tiap-tiap makhluk hidup yang ada di alam terdapat sifat ketuhanan. Dengan demikian, alam merupakan cermin bagi Tuhan. Dalam cermin itu diri-Nya kelihatan banyak, tetapi sebenarnya hanya satu. Di sinilah muncul paham kesatuan. (Ali, 1997:50).
Usaha untuk mencari relasi filsafat dengan tasawuf ternyata tidak hanya didominasi oleh Ibn ‘Arabî dan para pengikutnya. Tetapi, usaha tersebut juga dirintis oleh para filosof lain dengan metode dan pendekatan yang berbeda. Salah satu di antara para filosof itu adalah Suhrawardî. Ia memperkenalkan filsafat iluminasi (al-isyrâqiyat) yang bersumber dari hasil dialog spritual dan intelektual dengan tradisi-tradisi dan agama-agama lain. Suhrawardî memperkenalkan diri sebagai penyatu kembali apa yang disebutnya sebagai hikmat al-ladûnniyat (kebijaksanaan ilahi) dan al-hikmat al-’âtiqat (kebijaksanaan kuno). Ia yakin bahwa kebijaksanaan ini adalah perenial (abadi) dan universal yang terdapat dalam berbagai bentuk di antara orang-orang Hindu, Persia, Babilonia, Mesir Kuno dan orang-orang Yunani sampai masa Aristoteles (al-Taftazânî, 1983:195).
Sikap kompromistik Suhrawardî terhadap agama-agama lain menimbulkan kritik keras di kalangan pemikir muslim. Bahkan sebagian di antaranya menuduh bahwa Suhrawardî anti Islam. Penilaian semacam ini tentu saja salah kaprah. Di mata Suhrawardî, agama-agama lain bukanlah musuh yang harus dijauhi atau dilawan, tetapi adalah teman yang harus didekati untuk diajak berdialog. Agama-agama lain itu tidak merusak dan menyimpangkan Islam. Tetapi sebaliknya, agama-agama lain itu dapat memperkaya pemahaman tentang Islam. Di sinilah terletak universalitas Islam karena Islam sangat luas, mencakup agama-agama lain dalam pengertian ajaran-ajaran esoteriknya. Kebijaksanaan perenial dalam agama-agama lain adalah kebijaksanaan perenial dalam Islam. Oleh karena itu, Islam dapat melakukan dialog yang sejati dengan agama-agama lain tanpa kehilangan identitas dirinya.
Di samping berhasil melakukan dialog dengan berbagai agama, Suhrawardî pun berhasil mengadakan dialog dengan berbagai pemikiran filsafat, khususnya filsafat peripatetik yang banyak diikuti oleh para filosof muslim. Model dialog yang dirancang Suhrawardî adalah berupa kritik sistemik terhadap sejumlah pemikiran filsafat peripatetik (Nashr, 1968:329).
Secara umum, sistematika Hikmat al-Isyrâq terbagi ke dalam dua bagian utama. Bagian pertama mengulas sejumlah kritik terhadap pemikiran peripatetis terutama terhadap konsep epistemologi. Bagian kedua membahas konsep cahaya dengan berbagai dimensinya.
Dengan konsep al-Isyrâq-nya, Suhrawardî menyatakan bahwa seluruh alam semesta merupakan rentetan dari intensitas cahaya. Gradasi sinar dari sumber cahaya berakhir pada kegelapan. Semua kajian dalam bagian kedua membentuk bangunan teosofi berupa perpaduan antara filsafat dan tasawuf. Oleh karena itu, Suhrawardî dianggap sebagai pencetus dan pelopor konsep kesatuan iluminasi (wahdat al-‘isyrâq). Hal ini dikarenakan usaha Suhrawardî untuk mengoptimalkan proses iluminasi sebagai ilustrasi holistik dari kesatuan wujud (wahdat al-wujûd) yang dikembangkan Ibn ‘Arabî (Netton, 1994:258).
Gagasan mengenai kesatuan iluminasi yang diajarkan oleh Suhrawardî merangsang munculnya sikap protes dan anti pati dari kalangan ahli fiqh (islamic jurisprudence). Karena dianggap sesat dan mendatangkan keresahan dalam masyarakat, para ahli fiqh itu kemudian mengadili Suhrawardî serta menjatuhkan hukuman mati (hukuman gantung) kepadanya. Meskipun dengan berat hati, Suhrawardî menerima keputusan itu demi mempertahankan pemikiran yang diyakininya sebagai kebenaran paling hakiki. (Ziai, 1990:22).
E. KESELARASAN PEMIKIRAN
Dari berbagai unsur pemikiran para filosof, Neoplatonisme adalah salah satu yang paling berpengaruh dalam system falsafah Islam. Neoplatonisme sendiri merupakan falsafah kaum musyrik (pagans) dan rekonsiliasinya dengan suatu agama wahyu menimbulkan masalah besar. Namun sebagai ajaran yang berpangkal pada pemikiran Plotinus, sebenarnya Neoplatoisme mengandung unsure yang memberi kesan tentang ajaran tauhid. Sebab Plotinus yang diperkirakan sebagai seorang Mesir hulu yang mengalami Hellenisasi di Kota Iskandaria itu mengajarkan konsep tentang “yang Esa” (the One) sebagai prinsip tertinggi atau sebagai sumber penyebab (sabab, cause).
Dokrin Plotinus menyatakan bahwa akal (nous) adalah sesuatu yang lebih tinggi dari semua jiwa. Kegiatan kognitif akal berbeda dari kegiatan indrawi karena obyeknya yaitu wujud akali yang immaterial identik dengan tindakan akal yang menjangkau wujud. Gabungan unsure itu menjadi serasi dalam bentuk hypotase atau prinsip di atas materi yaitu, yang Esa atau yang Baik, Akal atau Intelek dan Jiwa. Neoplatoisme secara tidak langsung cukup banyak mempengaruhi falsafah Islam melalu buah pikirannya yang terpancar bukan hanya di Barat tapi juga di belahan Timur. Tetapi sebenarnya Neoplatoisme yang sampai ke tangan-tangan orang muslim berbeda dengan yang sampai ke Eropa sebelumnya karena sudah ada campur tangan pemikiran Aristoteles. Walau sesungguhnya di mata Islam sneidri memandang bahwa Aristoteles adalah “guru pertama” yang mempengaruhi jalan pikiran para filosof muslim. (M.Solihin, 2007, hal. 55, 56, 57).
Sementara gagasan utama Suhrawardi yang terkenal dengan istilah Isyraqiyyah atau illuminasionisme yang berarti filsafat cahaya. Ide Isyraqiyyah muncul sebagai respon terhadap kecenderungan filsafat peripatetik yang sangat populer di kalangan sarjana Islam saat itu. Peripatetisme sendiri adalah corak filsafat yang berasal dari tradisi Aristotelian. Masuknya peripatetisme ke dunia Islam adalah akibat langsung dari persentuhan dan ditaklukkannya sejumlah wilayah yang merupakan pusat-pusat pengembangan filsafat peripatetik dan Yunani secara umum. Al-Baqir menyebut ada gairah yang sangat besar saat itu dalam penerjemahan karya-karya Yunani. Karya-karya itu diterjemahkan dari bahasa Yunani ke bahasa Suryani. Kemudian dari bahasa Suryani ke bahasa Arab.
Ulil Abshar-Abdalla menambahkan bahwa peripatetisme di dunia Islam begitu berpengaruh dan penting. Pada masa-masa awal penaklukan Islam. Orang-orang Arab (Muslim) bertemu dengan masyarakat menaklukan peradaban pengetahuan yang sangat tinggi. Para filsuf peripatetik berhasil memberi landasan filosofis bagi ajaran Islam, sehingga mereka tidak perlu merasa terbelakang berhadapan dengan peradaban-peradaban tinggi yang mereka taklukkan.
F. KESIMPULAN
Teori emanasi Plotinus diawali dengan pemikiran yang menyatakan bahwa semua makhluk yang ada, bersama-sama merupakan keseluruhan yang tersusun sebagai suatu hirarki. Pada puncak hirarki terdapat “Yang Satu” (to hen) yaitu Allah. Dari “Yang Satu” dikeluarkan akal budi (nus). Akal budi merupakan suatu intelek yang memikirkan dirinya sendiri. Jadi, akal budi tidak satu lagi karena di sini terdapat dualitas yaitu pemikiran dan yang dipikirkan. Dari akal budi itu kemudian muncul jiwa dunia (psykhe). Akhirnya, dari jiwa dunia dikeluarkan materi (hyle) yang bersama dengan jiwa dunia merupakan jagat raya.
Suhrawardi, memiliki keunggulan jika dibandingkan dengan para filosof teosofi muslim lainnya. Harmonisasi filsafat lintas agama dan lintas aliran pemikiran yang dipeloporinya menunjukkan sikap objektif dan bebas nilai yang patut dicontoh oleh setiap pemikir. Meskipun sarat dengan kritikan dan hujatan, pemikiran Suhrawardî tetap perlu untuk dikontekstualisasikan terutama untuk menyejukkan suasana keberagamaan manusia di alam modern saat ini. Di samping itu, rekonstruksi terhadap pemikiran Suhrawardî dapat dijadikan sebagai sarana untuk memperkuat bangunan pemikiran metafisika filsafat Barat yang dinilai sedang mengalami krisis spritualitas.
Titik tengkar utama kisruh kaum peripatetik dan tradisi Isyaraqi yang dibawa oleh Suhrawardi adalah pada klaim kebenaran. Kaum Isyraqi dan sufi secara umum mengandaikan bahwa ajaran mereka berpusat pada metafisika. Jika para filsuf, terutama peripatetik Aristotelian, mengandalkan analisa, maka para sufi menyandarkan diri pada kontemplasi intuitif. Ibn Sina berusaha melukiskan realitas, oleh karenanya disebut hushuli. Sementara Suhrawardi berupaya merefleksikannya atau musyahadah, ilmunya yang disebut hudluri.

DAFTAR PUSTAKA
• Ahcmadi, Asmoro, Filsafat Umum, 2005, Jakarta, PT RajaGrafindo Persada.
• C.Solomon, Robert dan Kathleen M. Higgins, Sejarah Filsafat, 2003, Yogyakarta Bentang Budaya.
• Hatta, Mohammad, Alam Pikiran Yunani, 1986, Jakarta, Tintamas.
• Huijbers, Theo, Filsafat Hukum Dalam Lintasan Sejarah, 1982, Yogya, Kanisius.
• Syadali, Ahmad dan, Mudzakir, Filsafat Umum, 1997, Bandung, Pustaka Setia.
• Solihin, M, Perkembangan Pemikiran Filsafat dari Klaik Hingga Modern, 2007, Bandung, Pustaka Setia.
• Tafsir, Ahmad, Filsafat Umum, 2007, Bandung, PT. Remaja Rosdakarya.
• Susendi Hendi, Filsafat Umum dari Metologi Sampai Teofilosofi, 2008, Pustaka Setia. Bandung.
• Tafsir Ahmad, Filsafat Umum Akal dan Hati Sejak Thales Sampai James, 1990, Bandung, PT Remaja Rosdakarya.
• Wikipedia.com

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: