RSS

Tahun Hijriyah (Tinjaun)

By Salwinsah, S.Ag

ADALAH seorang pemuda gagah, tampan dan pemberani, Ali bin Abi Thalib, mengacungkan tangan mengajukan usul bahwa awal tahun Islam yang tepat diambil dari peristiwa hijrah Nabi Muhammad SAW beserta para sahabat dari Mekah ke Madinah, menggugurkan usulan-usulan lain yang juga patut diperhitungkan. Rapat istimewa yang dipimpin langsung Umar bin Khattab, sebagai figure pimpinan Islam kala itu,  berjalan alot, menegangkan penuh argumentasi, akhirnya palupun diketok, “Setujuuu…” sembari tepuk sorai menggema dalam gedung, menggangguk-anggukan kepala sebagai isyarat ide pemuda belia itu sungguh menakjubkan.

Lebih 14 abad silam, tatkala dunia Islam telah maju, perkembangan kian pesat, penganutnya pun semakin melesat, namun sayang seribu sayang belum memiliki tahun sendiri. Padalah penetapan tahun Islam itu sangat penting, bukan hanya untuk kepentingan pemerintahan, administrative dan sebagainya, lebih dari itu sebagai satu pedoman dan strategi dalam melancarkan perkembangan dan pembangunan Islam di masa-masa mendatang. Dengan pertimbangan itulah khalifah Umar bin Khatab merasa perlu memanggil staf pemerintahan dan para ahli dalam berbagai bidang untuk mengadakan pertemuan guna menetapkan tahun Islam. Rapat istimewa pun digelar dengan agenda tunggal penetapan tahun baru Islam.

Semua sepakat bahwa Islam harus punya kalender sendiri, namun kebingunan yang terjadi dari mana harus dimulai penanggalan tersebut. Usul demi usulan bermunculan. Ada yang berpendapat bahwa supaya dimulai dari hari kelahiran nabi Muhammad SAW sebagaimana halnya tahun  masehi dimulai dari hari lahirnya Nabi Isa As. Ada yang menyarankan agar dihitung dari hari pertama Rasulullah SAW menerima wahyu di Gua Hira. Ada pula yang mengusulkan ditetapkan dari hari wafatnya nabi Muhammad SAW, dan masih banyak lagi.

Dicelah-celah serunya perjalanan rapat, berdiri seorang pemuda dengan pancaran mata penuh semangat mohon izin turut bicara dan langsung mengajukan usul gemilang yang akhirnya menjadi kesepakatan. Hijrah, usulan Ali bin Abi Thalib-lah yang menjadi pilihan bersama. Ya, Islam telah memiliki kalender sendiri yang terkenal dengan nama Hijriyyah.

Tidak bisa dipungkiri peristiwa hijrah telah memancarkan semangat membara untuk memperjuangkan dan menegakkan Islam sehingga menjadi agama yang besar, berwibawa dan mengangkat harkat, martabat penganutnya menjadi umat yang tidak bisa dipandang sebelah mata.

Bayangkan Rasulullah SAW beserta para sahabat waktu itu hanya segelintir umat yang sedang diburu oleh kekuatan utuh dan siap memuntahkan peluru dari senjata muthair pada zaman itu, blok Barat (Romawi) dan blok Timur (Persia). Mereka juga beraliansi dengan penguasa-penguasa di Jazirah Arabia dengan sekutunya, dan benar-benar siap untuk memusnahkan Muhammad SAW dan membumihanguskan ajaran beliau. Berbagai cara dan upaya telah mereka lakukan dari yang halus sampai kepada yang kasar. Puncaknya adalah melakukan upaya pembunuhan terhadap Rasulullah SAW. Persiapan dan barisan untuk mengantisipasi berbagai kemungkinan yang bakal terjadi pun dipersiapkan secara cermat. “Bagaimanapun yang namanya Muhammad bin Abdullah bin Abu Thalib harus mati hari ini juga,” demikian tekad mereka.

Al-hasil keajaiban terjadi. Tidak masuk akal bagi kaum pemburu nabi, mereka terbelakak kaget, tidak percaya kalau junjungan rasul yang mulya itu ternyata telah sampai ke Madinah lengkap dengan sahabat-sahabatnya. Beliau telah hijrah (pindah) tanpa diketahui oleh pihak musuh. Maka selamatlah Nabi Muhammad SAW dari serangan maut.

Namun serangan ternyata tidak berakhir sampai di situ. Di Madinah beliau terus diserbu dan diserbu. Akan tetapi serangan demi serangan yang diluncurkan senantiasa gagal. Akhirnya kaum Anshar dari Madinah pun beramai-ramai masuk Islam, membantu pertahanan Islam dari serangan yang tidak henti-hentinya.

Di balik itu Rasulullah SAW terus menyebarkan Islam sampai benar-benar ramai pengikutnya. Setelah kondisi aman, beliau kembali ke Mekah. Pun di Mekah orang sudah tidak ragu-ragu lagi untuk menganut Islam secara berbondong-bondong. “Apabila datang pertolongan Allah dan kemenangan. Dan kamu lihat manusia masuk agama Allah dengan berbondong-bondong, maka bertasbihlah dengan memuji tuhanmu dan mohonlah ampun kepada-Nya…” (QS An-Nasyr:1-3).

Islam sudah benar-benar kokoh. Perpadauan dan persaudaraan antara penduduk Mekah dan Madinah tidak tertandingi lagi. Maka Islam sudah menjadi agama yang besar dan para penganutnya memiliki kepribadian tangguh untuk menjalankan syariat ajarannya.

Begitu besar hikmah yang terkandung dalam peristiwa hijrah itu, dari hidup yang penuh ancaman menuju hidup yang penuh ketentraman aman sentosa. Maka tidak ada seorangpun membantah jika awal tahun baru Islam itu dibukukan dari hari terjadinya peristiwa hijrah Nabi Muhammad SAW dan para sahabat dari Mekah ke Madinah.     Hijrah, memindahkan yang salah menjadi benar sebagaimana Umar bin Khattab berucap, “Peristiwa hijrah memisahkan antara hak dan bathil.”

Pesan-pesan Muharram menjadi penting dalam mengawali tahun baru Islam, ketika umat sadar dan mulai mempelajari kekeliruan masa lalu untuk membangun peradaban baru yang lebih bermoral dan bermartabat. Pesan moral ini memberi harapan kepada bangsa yang besar ini untuk melakukan hijrah (pindah) dari masa kekeliruan ke masa penuh harapan yang masih terbentang luas di hadapan kita.

Tetapi tetap disadari bahwa hijrah harus dilandasi dengan kesucian dan keikhlasan. Tanpa niat suci tak akan memperoleh apa-apa. Manusia hanya mendapatkan kepuasan dunia yang sangat mudah datang dan pergi. Maka standar peneladanan nilai hijrah bersentral pada niat. Apabila seseorang berhijrah dengan niat yang benar maka ia akan meraih pahala yang setimpal dengan perbuatnnya. Rasulullah SAW bersabda, “Sesungguhnya setiap perbuatan itu dengan niat dan setiap manusai dihisab sesuai dengan niatnya. Maka siapa saja yang berhijrah karena Allah dan rasul-Nya maka ia benar-benar berhijrah demi Allah dan rasul-Nya.”

Marilah kita kembali merenungkan nilai-nilai berharga yang terkandung dalam tahun hijriyyah ini dalam rangka memantapkan upaya dan langkah kita memanifestasikan kebenaran, nilai-nilai keadilan, kejujuran dan kemuliaan. Kita jadikan peristiwa ini sebagai momentum berharga untuk membangun bangsa Indonesia yang kita cita-citakan bersama. Tentunya di tangan para generasi muda yang sedang dibina oleh ‘tangan-tangan dingin’ para guru se-antero nusantara, terus kita tularkan nilai-nilai hijrah kepada mereka sebagai estafet penerus bangsa, negara dan agama.

Akhirnya selamat tinggal 1430 H, semoga poing-poing kezaliman dan kemaksiatan yang terkandung dalam dirimu turut tertinggal tak berbekas. Selamat tiba 1431 H, semoga engkau membawa aroma harum semerbak kepada seluruh rakyat kami dan pembawa berkah agar kami para guru benar-benar menyandang prediket professional dengan mengantongi sertifikasi secara adil dan merata. SEMOGA!

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: