RSS

Berserah Diri

TERLIHAT seorang anak sedang bermain dengan mainannya. Saat asyik-asyiknya bermain, seketika mainannya itu rusak. Dia pun mencoba untuk membetulkannya sendiri, tapi usahanya dari tadi sia-sia. Akhirnya dia pun menyerah, dan mendatangi ayahnya meminta diperbaiki mainan tersebut.
Sembari memperhatikan ayahnya memperbaiki mainannya, si Anak selalu memberikan komentar kepada ayahnya, “Ayah, coba lihat bagian kiri, mungkin di situ rusakannya.” Ayahnya menuruti, tapi ternyata belum ditemukan juga kerusakannya.
Ia berkomentar lagi, “Oh, bukan di situ yah, mungkin yang sebelah kanan, coba lihat lagi deh, Yah.” Kali ini ayahnya juga menurutinya, tapi lagi-lagi mainannya itu belum betul.
“Kalau begitu coba yang di bagian depan yah, kali aja masalahnya ada di situ.” Kali ini ayahnya marah, “Sudah, kalau kamu memang bisa, mengapa tidak kamu kerjakan sendiri saja? Jangan ganggu Ayah lagi! Ayah masih banyak kerjaan lain,” ujar sang Ayah sambil berlalu pergi meninggalkan anaknya.
Tapi setelah mencoba beberapa saat untuk memperbaikinya lagi, ternyata si Anak masih belum juga berhasil. Akhirnya ia kembali lagi kepada ayahnya sambil merengek, “Tolonglah, Yah. Aku mau main lagi. Tapi rusak seperti ini, bagaimana? Tolong Ayah betulkan supaya bisa jalan lagi?”
Karena tidak tega mendengar rengekkan anaknya, si Ayah akhirnya menyerah, “Baiklah, Nak. Ayah akan memperbaiki mainanmu, asal kamu berjanji tidak boleh memberitahu Ayah apa yang harus Ayah lakukan. Kamu duduk saja dan perhatikan Ayah bekerja. Tidak boleh berkomentar.”
Ketika ayahnya sedang memperbaiki mainannya, si Anak mulai berkomentar lagi, “Jangan yang itu yah, kayaknya bagian lain yang rusak.”
Mendengar hal itu, kali ini ayahnya berkata, “Kalau kamu berkomentar lagi, mainan ini akan ayah lepaskan dan silahkan kamu berusaha sendiri.” Karena takut ayahnya akan benar-benar melakukan apa yang dikatakannya, anak itu pun diam dan duduk manis sambil melihat ayahnya memperbaiki mainannya sampai bisa berjalan lagi tanpa mengeluarkan komentar apa pun.
Seperti anak kecil itu, kita pun sering kali berserah kepada Allah SWT tapi masih ingin mengatur-Nya bagaimana sebaiknya jalan hidup kita. Jika saja kita bisa sepenuhnya pasrah kepada kehendak Allah SWT, maka niscaya sungguh Allah SWT yang Maha Tahu dan sangat mencintai kita akan memberikan apa-apa yang terbaik, lebih dari apa yang kita pikirkan dan do’akan. Percaya sepenuhnya tanpa ada keraguan dalam menyerahkan semua urusan kita kepada Allah SWT. Itulah kuncinya. Wallahu a’lam bissawab…!

 

Komentar ditutup.

 
%d blogger menyukai ini: