RSS

Struktur Asosiasi Agama

STRUKTUR ASOSIASI AGAMA
A. Pendahuluan
Manusia merupakan makhluk yang memiliki keinginan untuk menyatu dengan sesamanya serta alam lingkungan di sekitarnya. Dengan menggunakan pikiran, naluri, perasaan, keinginan dan sebagainya manusia memberi reaksi dan melakukan interaksi dengan lingkungannya. Pola interaksi sosial dihasilkan oleh hubungan yang berkesinambungan dalam suatu masyarakat.
Manusia memiliki banyak budaya dan adat istiadat yang berhubungan dengan masyarakat dan agama. Dari berbagai budaya yang ada, dapat dikaitkan hubungannya dengan agama dan masyarakat dalam melestraikan budaya. Agama mempunyai hubungan yang erat dengan budaya sebagai patokan utama dari masyarakat untuk selalu menjalankan perintah agama dan melestarikan kebudayaannya. Selain itu masyarakat juga turut mempunyai andil yang besar dalam melestarikan budaya, karena masyarakatlah yang menjalankan semua perintah agama dan ikut menjaga budaya agar tetap terpelihara.1

Selain itu ada juga hubungan lainnya,yaitu menjaga tatanan kehidupan. Maksudnya hubungan agama dalam kehidupan jika dipadukan dengan budaya dan masyarakat akan membentuk kehidupan yang harmonis, karena ketiganya mempunyai keterkaitan yang erat satu sama lain.
B. Pengertian Masyarakat
Berikut adalah beberapa pengertian masyarakat dari beberapa ahli sosiologi dunia.
____________________________
1. http://rafiqamalyah.blogspot.com (diakses 28 September 2011)
1. Menurut Selo Sumardjan masyarakat adalah orang-orang yang hidup bersama dan menghasilkan kebudayaan.
2. Menurut Karl Marx masyarakat adalah suatu struktur yang menderita suatu ketegangan organisasi atau perkembangan akibat adanya pertentangan antara kelompok-kelompok yang terbagi secara ekonomi.
3. Menurut Emile Durkheim masyarakat merupakan suatu kenyataan objektif pribadi-pribadi yang merupakan anggotanya.
4. Menurut Paul B. Horton & C. Hunt masyarakat merupakan kumpulan manusia yang relatif mandiri, hidup bersama-sama dalam waktu yang cukup lama, tinggal di suatu wilayah tertentu, mempunyai kebudayaan sama serta melakukan sebagian besar kegiatan di dalam kelompok manusia tersebut.
Menurut Soerjono Soekanto alam masyarakat setidaknya memuat unsur sebagai berikut ini :
1. Berangotakan minimal dua orang.
2. Anggotanya sadar sebagai satu kesatuan.
3. Berhubungan dalam waktu yang cukup lama yang menghasilkan
Manusia baru yang saling berkomunikasi dan membuat aturan-
aturan hubungan antar anggota masyarakat.
4. Menjadi sistem hidup bersama yang menimbulkan kebudayaan serta
keterkaitan satu sama lain sebagai anggota masyarakat.
Kriteria Masyarakat yang Baik
Menurut Marion Levy diperlukan empat kriteria yang harus dipenuhi agar sekumpulan manusia bisa dikatakan sebagai masyarakat.
1. Ada sistem tindakan utama.
2. Saling setia pada sistem tindakan utama.
3. Mampu bertahan lebih dari masa hidup seorang anggota.
4. Sebagian atau seluruh anggota baru didapat dari kelahiran atau
reproduksi manusia.2

C. Penggolongan Masyarakat
Menilik kenyataan di lapangan,suatu kelompok masyarakat dapat berupa suatu suku bangsa. Bisa juga berlatar belakang suku.Dalam pertumbuhan dan perkembangan suatu masyarakat, dapat digolongkan menjadi masyarakat sederhana dan masyarakat maju (masyarakat modern).
1. Masyarakat Sederhana
Dalam lingkungan masyarakat sederhana (primitif) pola pembagian kerja cenderung dibedakan menurut jenis kelamin. Pembagian kerja berdasarkan jenis kelamin, nampaknya berpngkal tolak dari kelemahan dan kemampuan fisik antara seorang wanita dan pria dalam menghadapi tantangan alam yang buas pada saat itu. Kaum pria melakukan pekerjaan yang berat-berat seperti berburu, menangkap ikan di laut, menebang pohon, berladang dan berternak. Sedangkan kaum wanita melakuakan pekerjaann yang ringan-ringan seperti mengurus rumah tangga, menyusui dan mengasuh anak-anak ,merajut, membuat pakaian, dan bercocok tanam.
2. Masyarakat Maju
Masyarakat maju memiliki aneka ragam kelompok sosial, atau lebih dikenal dengan kelompok organisasi kemasyarakatan yang tumbuh dan berkembang berdasarkan kebutuhan serta tujuan tertentu yang akan dicapai.
_________________________
2. http://organisasi.org (diakses 28 September 2011)

Organisasi kemasyarakatan tumbuh dan berkembang dalam lingkungan terbatas sampai pada cakupan nasional, regional maupun internasional. Dalam lingkungan masyarakat maju, dapat dibedakan sebagai kelompok masyarakat non industri dan masyarakat industri.
3. Masyarakat Non Industri
Secara garis besar, kelompok nasional atau organisasi kemasyarakatan non industri dapat digolongkan menjadi dua golongan yaitu :
a. Kelompok Primer
Dalam kelompok primer, interaksi antar anggota terjalin lebih intensif, lebih erat, lebih akrab. Kelompok primer ini juga disebut kelompok “face to face group”, sebab para anggota sering berdialog bertatap muka. Sifat interaksi dalam kelompok primer bercorak kekeluargaan dan lebih berdasarkan simpati. Pembagian kerja dan tugas pada kelompok menenerima serta menjalankannya tidak secara paksa, namun berdasarkan kesadaran dan tanggung jawab para anggota secara sukarela.
Contoh-contohnya: keluarga, rukun tetangga, kelompok agama, kelompok belajar dan lain-lain.
b. Kelompok Sekunder
Antaran anggota kelompok sekunder, terpaut saling hubungan tak langsung, formal, juga kurang bersifat kekeluargaan. Oleh karena itu sifat interaksi, pembagian kerja, antar anggota kelompok diatur atas dasar pertimbangan-pertimbangan rasiomnal dan objektif.
Para anggota menerima pembagian kerja atau tugas berdasarkan kemampuan dan keahlian tertentu, di samping itu dituntut pula dedikasi. Hal-hal tersebut dibutuhkan untuk mencapai target dan tujuan tertentu yang telah di flot dalam program-program yang telah sama-sama disepakati. Contohnya: partai politik, perhimpunan serikat kerja atau buruh, organisasi profesi dan sebagainya. Kelompok sekunder dapat dibagi dua yaitu : kelompok resmi (formal group) dan kelompok tidak resmi (informal group). Inti perbedaan yang terjadi adalah kelompok tidak resmi tidak berststus resmi dan tidak didukung oleh Anggaran Dasar (AD) dan Anggaran Rumah Tangga (ART) seperti lazim berlaku pada kelompok resmi.
c. Masyarakat Industri
Durkheim mempergunakan variasi pembagian kerja sebagi dasar untuk mengklarifikasikan masyarakat, sesuai dengan taraf perkembangannya, tetapi ia lebih cenderung mempergunakan dua taraf klarifikasi, yaitu sederhana dan yang kompleks. Masyarakat yang berada di antara keduanya diabaikan (Soerjono Soekanto, 1982 :190).
Jika pembagian kerja bertambah kompleks, suatu tanda bahwa kapasitas masyarakat bertambah tinggi. Solidaritas didasarkan pada hubungan saling ketergantungan antara kelompok-kelompok masyarakat yang telah mengenal pengkhususan. Otonomi sejenis juga menjadi cirri dari bagian atau kelompok-kelompok masyarakat industri dan diartikan dengan kepandaian atau keahlian khusus yang dimiliki seseorang secara mandiri, sampai pada batas-batas tertentu.
Laju pertumbuhan industri-industri berakibat memisahkan pekerja dengan majikan menjadi lebih nyata dan timbul konflik-konflik yang tak terhindarkan, kaum pekerja membuat serikat-serikat kerja atau serikat buruh yang diawali perjuangan untuk memperbaiki kondisi kerja dan upah. Terlebih setelah kaum industralis mengganti tenaga manusia dengan mesin.3
__________________________
3. http://dimazmarham.blogspot.com (diakses 28 September 2011)

D. Sekte dan Kepercayaan
Dalam sosiologi agama, sekte umumnya adalah sebuah kelompok keagamaan atau politik yang memisahkan diri dari kelompok yang lebih besar, biasanya karena pertikaian tentang masalah-masalah doktriner. Dalam sejarah, penggunaannya di lingkungan agama Kristen mengandung konotasi penghinaan dan biasanya merujuk kepada suatu gerakan yang menganut keyakinan atau ajaran yang sesat dan yang seringkali menyimpang dari ajaran dan praktik ortodoks.
Secara etimologi kata sekte berasal dari istilah bahasa Latin secta (dari sequi, mengikut), yang berarti (1) suatu langkah atau jalan kehidupan, (2) suatu aturan perilaku atau prinsip-prinsip dasar, (3) suatu aliran atau doktrin filsafat. Sectarius atau sectilis juga merujuk kepada pemotongan, namun makna ini, berlawanan dengan pandangan umum, tidak terkait dengan etimologi kata ini. Sectator adalah pemimpin atau penganut yang setia.
Ada beberapa deskripsi sosiologis untuk istilah ini. Salah seorang yang pertama mendefinisikannya adalah Max Weber dan Ernst Troeltsch (1931). Dalam tipologi gereja-sekte mereka digambarkan sebagai kelompok-kelompok keagamaan yang baru terbentuk untuk memprotes unsur-unsur dari agama asalnya (biasanya suatu denominasi). Motivasinya cenderung terletak dalam tuduhan kemurtadan atau ajaran sesat dalam denominasi asalnya. Mereka seringkali memprotes kecenderungan-kecenderungan liberal dalam perkembangan denominasi dan menganjurkan umat untuk kembali ke agama yang sejati. Sosiolog Amerika Rodney Stark dan William Sims Bainbridge menegaskan bahwa “sekte-sekte mengklaim dirinya sebagai kelompok yang otentik dan bersih, sebagai versi dari iman yang telah diperbarui, yang daripadanya mereka memisahkan diri”. Lebih jauh, mereka menegaskan bahwa, berbeda dengan gereja, sekte memiliki tingkat ketegangan yang tinggi dengan lingkungan sekitarnya.4
____________________________________
4. http://id.wikipedia.org/wiki/Sekte (Diakses 7 Oktober 2011)
E. Perkembangan Sekte
Perkembangan aliran-aliran keagamaan dalam kekristenan itu dimungkingkan, karena Alkitab membuka peluang untuk dilakukannya proses itu. Bahkan konsep kunci tentang Trinitas misalnya, juga membuka peluang untuk ditafsirkan lagi. Begitu juga dengan Alkitab yang dalam pemahaman arus utama, hanya terdiri dari Perjanjian Lama dan Perjanjian Baru, juga menjadi lahan untuk ditafsirkan ulang.
Salah satu sekte yang dianggap melakukan interpretasi begitu melebar dari adalah Jesus Christ of Latter-Day Saint atau Gereja Yesus Kristus dari Orang-orang Suci Zaman Akhir. Orang biasanya menyebut Gereja Mormon karena mereka memiliki kitab Mormon selain Alkitab. Karena adanya kitab itulah mereka dianggap “menambahi” dari Alkitab sehingga dikategorikan sebagai aliran sesat. Begitu juga keyakinan terhadap Nabi baru, Joseph Smith. Bagaimana sesungguhnya kacamata teologis dan sosiologis digunakan untuk melihat perkembangan gereja Mormon? Mengapa tidak ada tindakan anarkis terhadap Gereja Mormon betapapun gereja ini dianggap keluar dari pakem? Untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan ini membutuhkan penafsiran mendalam yang akhirnya menimbulkan berbagai pemahaman pada umat.5
Dari perjalanan sejarah yang sangat panjang tersebut, Hinduisme sangat mudah dan secara terus menerus menyerap adat istiadat dan gagasan dari orang-orang dengan siapa mereka mengadakan hubungan. Sehingga dengan demikian, dalam Hinduisme akan sulit dirasakan untuk menemukan suatu bentuk-bentuk keseragaman yang dapat dianggap sebagai dari bentuk-bentuk yang demikian yang beraneka ini.
Jadi, agama Veda (Hindu) bukanlah agama tunggal dengan keyakinan terbatas. Ia lebih bersifat gabungan dari berbagai kepercayaan. Di dalamnya ditampung segala
__________________________
5. http://elsaonline.com (Diakses 7 Oktober 2011)

type manusia dan disediakan hidangan spiritual bagi setiap orang sesuai dengan kemampuan dan pertumbuhannya masing-masing. Agama Hindu bagaikan sebuah museum yang di dalamnya terdapat bermacam-macam ajaran dari kelompok filsafat Vedanta. Dan karena keuniversalan dan keluwesan Veda tersebut maka muncullah berbagai macam sekte dalam agama Veda (Hinduisme). Namun demikian, perbedaan di antara sekte-sekte di dalam Hinsuisme tidak lebih hanya pada permukaannya saja dan Hindu tetap saja merupakan satu unit kebudayaan dengan cirinya sendiri, dengan persamaan sejarah, kesusasteraan dan peradaban.6
Meskipun dilarang sekte akan tetap muncul seiring perkembangan pola pikir manusia. Pemikiran manusia akan rasa haus ketentraman akan terus diupayakan. Ketentraman ada dalam keselarasan rasa manusia itu sendiri. Ia berdiri sendiri dan tidak seorangpun dapat menyetuhnya. Andai ketentraman itu ada pada suatu keyakinan tertentu maka manusia akan meyakini dengan hatinya. Secara umum ketentraman adalah rasa aman dan nyaman dalam menjalankan aktifitas hidupnya. Rasa aman dan nyaman itu akan ada dan terwujud jika manusia satu dengan yang lainnya dapat hidup rukun, tanpa mengganggu, bersikap positif. Jika seorang manusia sudah memaksakan dirinya dan keyakinannya untuk diakui dan ataupun diikuti oleh orang lain, maka ia sudah mengganggu ketentraman. Pengakuan seseorang pada orang lain ataupun jika seseorang mengikuti keyakinan tanpa paksaan maka ketentraman akan tetap terjaga, sebab ia mengakui dan meyakini dengan kerelaan tanpa paksaan.
_____________________________
6. http://mangpur.blogspot.com (Diakses 7 Oktober 2011)

Dalam ada ungkapan Jawa: Ajining diri saka lathi , ajining raga saka busana. Tentunya hal tersebut yang menilai adalah orang lain bukan diri sendiri. Jika seseorang baik tutur kata dan busana maka tanpa diminta orang lain akan menghormati bahkan mengikutinya tanpa diminta ataupun terpaksa.7

___________________________
7. http://www.indonesiamatters.com (Diakses 7 Oktober 2011)

Sumber
1. http://rafiqamalyah.blogspot.com/2011/01/hubungan-agama-dengan- masyarakat.html
2. http://organisasi.org/pengertian-masyarakat-unsur-dan-kriteria-masyarakat-dalam-kehidupan-sosial-antar-manusia
3. http://dimazmarham.blogspot.com/2009/12/faktor-faktor-unsur-unsur-masyarakat-m.html
4. http://badaiblues.wordpress.com/2011/05/27/unsur-unsur-masyarakat
5. http://krisnawanadikusuma.blogspot.com/2009/12/hubungan-agama-dengan-masyarakat.html
6. http://id.wikipedia.org/wiki/Sekte
7. http://elsaonline.com/?p=326
8. http://www.indonesiamatters.com/1557/pelarangan-sekte-sekte-islam/
9. http://www.goethe.de/ins/id/lp/ges/phi/id4230156.htm
10. http://mangpur.blogspot.com/2011/05/latar-belakang-munculnya-sekte-sekte.html

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: