RSS

Kupu-kupu Indah Itu Akan Berterbangan

Kupu-kupu Indah Itu Akan Berterbangan
Oleh Salwinsah*
win22Daur hidup seekor kupu-kupu terlahir sebagai telur, membalutkan diri secara kokoh pada daun, hingga lahir sebagai larva. Makhluk kecil yang sangat rakus, melumat setiap daun yang dilaluinya. Ulat yang menjijikkan itu menggemukkan diri dengan memperturutkan nafsu semaunya. Namun siapa menduga kalau larva (ulat) kemudian mengeluarkan hormon ajaib, untuk melanjutkan hidupnya berubah menjadi kepompong terbungkus rapi dalam anyaman Ilahi. Yang tersisa di dalam kepompong hanyalah enzim yang sangat kaya akan nutrisi yang berguna untuk mengahantarkan dirinya menjadi kupu-kupu yang indah.
Ramadhan ibarat proses ulat menjadi kepompong dalam metamorfosis kupu-kupu. Maka sosok manusia yang tidak bisa terelakkan dari dosa, karena dianugerahkan hawa nafsu, saatnya berusaha untuk instropeksi diri, tampil menjadi makhluk yang baik.“Semua amal anak Adam dapat dicampuri kepentingan hawa nafsu, kecuali shaum (puasa). Maka sesungguhnya shaum itu semata-mata untuk-Ku dan Aku sendiri yang akan membalasnya.” (HR Bukhari Muslim).
Puasa Ramadhan adalah satu sarana yang selalu Allah berikan kepada manusia setiap tahunnya. Siapa mampu memanfaatkan dengan baik, tidak mustahil akan menjadikan dirinya sebagai orang termulia. Di bulan pelatihan ini membentuk pribadi menjadi bersih lahir dan batin, sabar menahan amarah, peduli pada sesama, menjaga pandangan, pendengaran, ucapan, perbuatan bahkan bisikan-bisikan hati yang senantiasa memperkeruh jiwa dan raga. Inti dari ibadah Ramadhan adalah melatih diri agar dapat menguasai hawa nafsu, “Dan adapun orang-orang yang takut kepada kebesaran Tuhannya dan menahan diri dari keinginan hawa nafsunya maka sesungguhnya syurgalah tempat tinggalnya.” (QS An Nazi’at : 40-41). Muara dari itu semua untuk mencapai hamba yang selalu bertakwa kepada Allah SWT.
Kembali pada proses metamorfosa ulat, ditamsilkan ke dalam kehidupan manusia, maka sesungguhnya manusia dapat menjelma menjadi insan yang jauh lebih indah. Momen seakan terlahir kembali untuk mencapai kesucian adalah ketika berada di bulan suci Ramadhan ini. Bila masuk ke dalam ‘kepompong’ Ramadhan, dan segala aktivitas menyesuaikan dengan kaidah metamorfosis Sunatullah, niscaya akan mendapatkan hasil yang mencengangkan yakni manusia yang berderajat muttaqin, bertenggernya akhlakul karimah yang didamba semua orang.
Di luar Ramadhan mungkin merasa sulit mengendalikan hawa nafsu. Karena pada diri manusia terdapat pelatihan lain yang ikut membina hawa nafsu ke arah kemurkaaan Tuhan. Syetan, itulah sang pelatih dimaksud. Ia sangat aktif mengendalikan hawa nafsu lantaran, itu memang sudah menjadi tugas pokoknya sehari-hari. Tanpa kontrol, dua dimensi yang sama-sama gaib ‘tak terlihat ini, bisa saja sejalan menjerumuskan manusia ke limbah nista. “Sesungguhnya syetan itu adalah musuh yang nyata bagimu, maka anggaplah ia sebagai musuhmu karena syetan itu hanya mengajak golongannya supaya menjadi penghuni neraka yang menyala-nyala.” (QS Fathir : 6).
Patut bersyukur karena pada bulan Ramadhan ini Allah SWT mengikat erat syetan terkutuk sehingga manusia diberi kesempatan sepenuhnya untuk bisa melatih diri mengendalikan hawa nafsunya. Kiranya kesempatan seperti ini jangan disia-siakan. Caranya kualitas ibadah shaum harus senantiasa ditingkatkan. Tidak hanya shaum menahan diri dari hawa nafsu perut dan seksual, tetapi semua anggota badan lainnya agar mau melaksanakan amalan yang digariskan oleh Allah SWT. Jika hawa nafsu sudah bisa dikendalikan, walau kelak syetan dilepas kembali, mereka sudah ‘tak berdaya lagi menggoda, mereka akan tunduk pada keinginan manusia.
Lulus dari proses metamorfosis ini akan menjadikan pribadi yang baru. Seperti terlahir kembali laksana bayi yang baru lahir dari rahim sang bunda. Kehadirannya, dinanti, disambut senyum bahagia, dipeluk, dicium, digendong, disayang dan dicinta semua orang. Laksana perjuangan ulat memperbaharui diri agar menjadi lebih baik, ketika ia sukses menjalani semua ujian yang telah ditetapkan, ulat itu terlahir kembali menjadi kupu-kupu yang indah membuat semua orang terpana ketika memandangnya.
Untuk menjadi pribadi yang dicintai oleh semua kalangan, pribadi yang berwibawa, sholeh, selalu berkata benar dari yang sebelumnya pembohong, pembela agama dari sebelumnya memusuhi agama Allah, tidak bisa dilakukan dengan instan, lantas menjadi seperti yang diinginkan. Semua itu butuh proses panjang dan harus menghadapi ujian demi ujian.
Kepompong menghimpit raga sang ulat. Menghisap cairan sampai saripatinya. Membelenggu kaki tangannya dalam nestapa. Kepompong mengalirkan cairan, membentuk badan kupu-kupu yang aerodinamis. Membentangkan sayapnya dengan simetris, mengalirkan zat pewarna yang indah tiada taranya. Ternyata kepompong adalah hadiah terindah Dari Sang Pencipta.
Untuk kehidupan Ramadhan laksana kepompong. Menghimpit raga lewat lapar dan dahaga. Menghisap energi melalui prilaku menahan pandang. Membelenggu sukma melalui ucapan lisan. Kepompong Ramadhan mengalirkan energi takwa. Menempa pribadi menuju akhlak mulia. Menggembleng jiwa dalam keyakinan menegakkan kebenaran. Itulah modal bahagia seorang hamba menuju ridha Tuhannya.
Semua proses ulat menjadi kepompong hingga menjelma seekor kupu-kupu memperlihatkan tanda-tanda Kemahabesaran Allah SWT. Menandakan betapa teramat mudahnya bagi Allah Azza wa Jalla, mengubah segala sesuatu dari hal yang menjijikkan, jelek dan tidak disukai, menjadi sesuatu yang indah dan membuat orang senang memandangnya. Semua itu berjalan melalui suatu proses perubahan yang sudah diatur. Aturannya pun ditentukan oleh Allah SWT, baik dalam bentuk aturan atau hukum alam (sunnatullah) maupun berdasarkan hukum yang disyariatkan kepada manusia berupa Al-Qur’an dan Al-Hadits.
Semoga setiap jiwa kita kembali kepada fitrahnya menuju kesucian. Menjadi pribadi yang semakin baik setelah menempuh ujian dalam kepompong Ramadhan tahun ini. Dan tinggal beberapa hari lagi kepompong akan menetas dan melahirkan makhluk baru yang menawan, bernama kupu-kupu.
Kupu-kupu indah itu pun akan berterbangan kesana kemari menghiasi angkasa milik Penciptanya, penuh warna-warni mempesona sembari berucap “Minal ‘Aidil Walfa’izin Mohon Maaf Lahir dan Batin”.
(Penulis Guru SMAN Titian Teras H. Abdurrahman Sayoeti Jambi)

 

Komentar ditutup.

 
%d blogger menyukai ini: