RSS

Menanti Menang Atau Kalah

opin1Menanti Menang Atau Kalah
Oleh Salwinsah*
PERHELATAN akbar lima tahunan Pemilihan Kepala Daerah (Pilkada) Gubernur, Bupati/Walikota beserta wakilnya secara serentak dilaksanakan hari ini. Komisi Pemilihan Umum (KPU) mengagendakan ada 260 Pilkada kabupaten/kota serta sembilan provinsi seluruh Indonesia. Nasib pasangan calon (Paslon) berada di tangan masyarakat yang ada di DPT (Daftar Pemilih Tetap), DPTb-1 (Daftar Pemilih Tetap Tambahan Satu), DPTb-2 (Daftar Pemilih Tetap Tambahan Dua) dan DPPh (Daftar Pemilih Pindahan) yang datang ke Tempat Pemungutan Suara (TPS) dan menggunakan hak pilihnya. Semua menanti hasil “quick count” (hitung cepat) dengan penuh penasaran, dan akan muncul pemenangnya, tanpa harus menunggu keputusan KPU. Pertanyaannya siapkah para paslon menerima kekalahan?
Adalah manusiawi jika merasa pedih dan kecewa ketika mengalami kekalahan. Tapi jika dihayati lebih mendalam dia akan berbuah manis. Orang yang memaknai kekalahan sebagai bentuk kegagalan, inilah kepahitan. Namun memaknai kegagalan sebagai bentuk kemenangan yang tertunda, ada harapan akan berbuah manis. Dalam kontestasi politik kesiapan menerima kekalahan akan menjadi salah satu tuluk ukur berhasil atau tidaknya proses demokrasi yang tengah berlangsung, dan hari ini dipertaruhkan.
Kalah dalam suatu kompetisi adalah hal yang biasa. Tapi kekalahan sejati adalah ketika tidak mampu bangkit dari kekalahan, tidak mau mencoba untuk berbenah diri dan melanjutkan perjuangan. Inilah makna dari kekalahan yang sebenarnya. Jika hal ini sudah menggerogoti pikiran dan jiwa, maka kita tinggal menunggu kekalahan selanjutnya. Semua tergantung sikap dan mentalitas dalam menyikapinya. Kalau kekalahan memicu kemarahan, membawa keputusasaan, selain menghancurkan citra sendiri, juga merusak tatanan sosial dan akan menuai kekalahan lebih parah lagi.
Kekalahan bukanlah akhir segala-galanya, tapi itu adalah awal menuju sebuah kesuksesan. Tidak ada orang yang ingin kalah, tapi kalau memang kita harus kalah, terimalah itu dengan lapang dada dan berjiwa besar. Karena hakekat menang atau kalah itu Sunnatullah. Sama halnya ada kaya dan miskin, siang dan malam, pasang dan surut. Kekalahan atau kemenangan merupakan perguliran waktu di antara manusia.
Walau disadari dalam kompetisi itu tujuannya untuk menang, tetapi bukan dalam bentuk konsep harus menang. Konsep menang kalah sama-sama terhormat yang selalu disepakati peserta sebelum pelaksanaan pilkada, hal ini hendaknya bukan hanya di atas kertas, tetapi juga dalam pelaksanaannya. Konflik dalam pilkada sangat tergantung dari perilaku dan tindak tanduk elite, yang menjadi figur panutan di mata rakyat pendukungnya, Partai politik (parpol) pengusung, tim sukses (timses) dan seluruh keluarga. Mereka harus menerapkan etika berpolitik santun, satya wacana dan jujur dalam menyikapi komitmen bersama. Figur sportif yang berjiwa besar dalam menyikapi hasil penghitungan suara, diharapkan mampu menjadi teladan bagi pendukungnya dan magnet bagi rakyat untuk lebih berpartisipasi dalam pelaksanaan pilkada berikutnya.
Setiap paslon, saat mengadakan deklarasi damai, selalu menyatakan siap kalah dan menang. Mereka selanjutnya bergandengan tangan, berpelukan dan menegaskan siap menerima kekalahan dan kemenangan dengan lapang dada. Siapa pun yang terpilih dan dipilih rakyat harus dihargai. Dengan kata lain, walaupun tidak dipilih dalam kontestasi pilkada, kebersamaan dan semangat perjuangan dalam membangun daerah harus terus ditunjukkan. Jangan ada yang menunjukkan kekecewaan dalam bentuk-bentuk anarkisme, destruktif, merusak ketertiban umum, apa lagi menghancurkan fasilitas publik.
Pilkada secara esensi berupaya mewujudkan suara rakyat. Tentunya, siapa pun yang terpilih sebagai pemimpin, harus mengemban amanah rakyat dengan penuh tanggung jawab. Paslon yang kalah, harus diartikan rakyat sesungguhnya belum memberi kesempatan kepadanya. Dalam demokrasi, ada semangat untuk menghargai serta menjunjung tinggi kepentingan rakyat seutuhnya. Di sana juga ada nilai-nilai suci yang memang tidak bisa diukur dengan uang, apalagi ditakar dengan banyaknya biaya yang dikeluarkan dalam proses pilkada.
Pihak paslon, timses atau parpol pengusung yang tidak dapat menerima proses maupun hasil pilkada harus bersikap arif dan bijaksana. Mereka diminta menghindari sikap anarkis dan aksi-aksi mengintimidasi mengarah pada kekerasan ketika tidak bisa menerima kekalahan. Sebaliknya dalam menyikapi kekalahan, paslon bisa mempedomani Undang-Undang yang memberikan ruang untuk menempuh jalur hukum, pun diatur secara detail. Pihak yang menimbulkan kegaduhan dan merusak adalah pihak yang tidak mencintai daerahnya sendiri.
Proses pemilihan harus diikuti dengan baik, benar dan seksama sesuai dengan tahapannya. Pilkada harus dimaknai sebagai sebuh proses panjang tidak langsung merujuk pada hasil penghitungan suara. Paslon harus dewasa dalam menyikapi semua tahapan demokrasi yang telah dan sedang berlangsung.
Elemen yang bekerja keras hari ini Kelompok Penyelenggara Pemungutan Suara (KPPS), saksi paslon, pengawas lapangan di TPS, dituntut berlaku profesional, netral, independen dan kredibel, guna meminilisir kecurangan dalam penyelenggaraan pilkada ini. Kalau tidak, pihak yang kalah akan mencari-cari kesalahan penyelenggara sampai titik darah penghabisan, dan mereka yang telah bekerja keras akan menjadi kambing hitam.
Evaluasi Diri
Ketika mengalami kekalahan, langkah yang seharusnya dilakukan adalah mengakui kelebihan lawan. Ini adalah wujud dari jiwa besar yang kita miliki. Akuilah bahwa memang lawan lebih baik dari kita. Banyak menyampaikan alasan adalah orang yang tidak bisa menerima kekalahan dengan jiwa yang besar. Berbagai alasan yang diutarakan hanya untuk menutupi kekurangan yang ia punya. Hal ini tentu bukanlah mental yang dimiliki seorang politisi sejati, pemimpin idaman yang dielu-elukan masyarakat.
Hal penting lainnya saat menerima kekalahan adalah dengan melakukan evaluasi diri, bisa dilakukan dengan banyak cara. Misalnya dengan merenung (introspeksi diri), meminta masukan, menerima kritik dan saran dari orang lain. Evaluasi diri ini akan menjadikan kita lebih peka terhadap kelemahan diri dan selalu berupaya untuk memperbaiki kelemahan tersebut. Jadi pemenang sejati sesungguhnya adalah berjiwa besar mengakui kekalahan dan berhati lapang menerima kemenangan orang lain! (Penulis adalah Guru SMAN Titian Teras Jambi)

 

Komentar ditutup.

 
%d blogger menyukai ini: